Selebritis Langit

Posted: Maret 20, 2011 in Adab
Tag:

”Jadilah kalian yang dikenali para penghuni langit namun kalian tidak dikenal para penghuni bumi.” (Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu’anhu dari Ibrahim bin Isa, Shifatush-Shafwah, 1/415)

Ali bin al Husain adalah seorang ulama dan imam besar, pemimpinnya para ulama tabi’in. Namun semasa hidupnya dia terkenal bakhil/pelit oleh keluarganya dan masyarakatnya. Keluarganya mengira dia hanya menumpuk dirhamnya saja tanpa pernah menyedekahkannya. Namun tatkala Ali bin al Husain meninggal dunia, maka terbukalah rahasia-rahasia yang ada pada dirinya.

Rahasia yang pertama, sejak meninggalnya Ali bin al Husain maka seluruh penduduk Madinah yang miskin tidak mendapatkan lagi santunan dari seseorang yang tidak dikenal setiap malamnya yang bisa mencukupi makannya dalam sehari. Mereka berkata, “Kami tidak pernah kehilangan shadaqah yang diberikan secara sembunyi-sembunyi hingga Ali meninggal dunia.”
Rahasia yang kedua adalah, ditemukannya bekas hitam pada pundaknya ketika mereka memandikan mayatnya. Dari ‘Amr bin Tsabit berkata, ”Tatkala Ali bin Husain meninggal mereka memandikan mayatnya lalu mereka melihat bekas hitam pada pundaknya, lalu mereka bertanya: ”Apa ini”, lalu dijawab: ”Beliau selalu memikul berkarung-karung tepung pada malam hari untuk diberikan kepada faqir miskin yang ada di Madinah.”

Muhammad bin Ishaq menuturkan, “Penduduk Madinah hidup dengan makanan itu, sementara mereka tidak tahu siapa yang telah memberikan makanan itu kepada mereka. Setelah Ali bin al Husain meninggal dunia, maka mereka tidak lagi mendapatkan makanan pada malam hari.”
Lihatlah bagaimana Ali bin al Husain menyembunyikan amalannya hingga penduduk Madinah tidak ada yang tahu, mereka baru tahu tatkala beliau meninggal karena sedekah yang biasanya mereka terima di malam hari berhenti, dan mereka juga menemukan tanda hitam di pundak beliau. Bahkan beliau dituduh oleh manusia sebagai orang yang bakhil, namun di mata Allah dia memiliki banyak rahasia antara dirinya dengan Rabb-nya.  Subhanallah….!

Ali bin al Husain pernah berkata, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu agar Engkau tidak memperindah penampilanku pada apa yang tampak mata, dan membuat buruk rahasiaku pada apa yang tampak mata.”

Dan beliau juga berkata, ”Sesungguhnya sedekah dengan tersembunyi memadamkan kemarahan Allah”. Ini merupakan hadits yang marfu’ dari Nabi , yang diriwayatkan dari banyak sahabat, seperti Abdullah bin Ja’far, Abu Sa’id Al-Khudri, Ibnu “Abbas, Ibnu Mas’ud, Ummu Salamah, Abu Umamah, Mu’awiyah bin Haidah, dan Anas bin Malik. Berkata Syaikh Al-Albani: ”Kesimpulannya hadits ini dengan jalannya yang banyak serta syawahidnya adalah hadits yang shahih, tidak diragukan lagi. Bahkan termasuk hadits mutawatir menurut sebagian ahli hadits muta’akhirin” (As-Shohihah 4/539, hadits no. 1908).

Mengenai kisah ini bisa dilihat di kitab Siyar A’lam an Nubala, jilid 4 hal.393.Sifatus Sofwah (2/96), dan Aina Nahnu hal. 9.

Al Auza’i meriwayatkan, bahwa Umar ibn Khaththab radhiyallahu ‘anhu keluar pada malam buta, yang kemudian Thalhah melihatnya dan membuntutinya. Umar terus berjalan dan memasuki sebuah rumah, lalu masuk lagi ke rumah yang lain. Ketika pagi tiba, Thalhah datang ke rumah yang dimasuki Umar. Ternyata rumah itu adalah rumah wanita tua yang buta dan tidak dapat berdiri. Thalhah bertanya kepada wanita itu, “Apa yang dilakukan orang yang mendatangimu semalam?”
Wanita tua itu menjawab, “Dia sudah menyantuni aku semenjak sekian lama. Dia datang kesini untuk memberikan apapun yang kubutuhkan, sehingga aku tidak lagi menderita.”
Thalhah berkata kepada dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Thalhah, mengapa engkau punya pikiran untuk membuntuti Umar?”
(Hilyat al Awliya, jil 1, hal. 48)

Rasulullah bersabda: ”Tatkala Allah menciptakan bumi, bumi tersebut bergoyang-goyang, maka Allah pun menciptakan gunung-gunung, kalau Allah lemparkan gunung-gunung tersebut di atas bumi maka tenanglah bumi. Maka para malaikatpun terkagum-kagum dengan penciptaan gunung, mereka berkata, ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhluk-Mu yang lebih kuat dari gunung?” Allah berkata, “Ada yaitu besi”. Lalu mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada dari makhluk-Mu yang lebih kuat dari besi?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu api.”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk-Mu yang lebih kuat dari pada api?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air”, mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk-Mu yang lebih kuat dari pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu air” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk-Mu yang lebih kuat dari pada air?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu angin” mereka bertanya (lagi), ”Wahai Tuhan kami, apakah ada makhluk-Mu yang lebih kuat dari pada angin?”, Allah menjawab, ”Ada yaitu seorang anak Adam yang bersedekah dengan tangan kanannya lalu dia sembunyikan agar tidak diketahui tangan kirinya”. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya 3/124 dari Anas bin Malik. Berkata Ibnu Hajar, ”Dari hadits Anas dengan sanad yang hasan marfu’” (Al-Fath 2/191).

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya: Zuhair bin Harb menuturkan kepadaku demikian juga Muhammad bin al-Mutsanna. Mereka semua menuturkan dari Yahya al-Qaththan. Zuhair mengatakan, Yahya bin Sa’id menuturkan kepada kami dari Ubaidillah. Dia berkata, Khubaib bin Abdurrahman mengabarkan kepadaku dari Hafsh bin ‘Ashim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari di saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. (salah satunya adalah)…Seorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak mengerti apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya…”

Berkata Abu Hazim Salamah bin Dinar “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.” (Berkata Syaikh Abdul Malik Romadhoni , “Diriwayatkan oleh Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (1/679), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/240), dan Ibnu ‘Asakir dalam tarikh Dimasyq (22/68), dan sanadnya s hohih”. Lihat Sittu Duror hal. 45)

*****

Tahukah engkau siapa Julaibib?

Kita harus merasa malu dan juga kecewa jika kita tidak mengenal sosok-sosok yang suka merahasiakan amal. Padahal, pada waktu yang sama kita dapat mengenali secara mendetail kisah orang-orang yang punya nama dari kalangan politikus, artis, pemimpin, tokoh sastra, seni dan lainnya.

Orang-orang yang terpilih yang memiliki keutamaan dalam beramal lebih pantas kita kenal. Sebab, dengan mengenal, megetahui, dan mengingat kehidupan mereka, hati kita pun menjadi hidup.

Julaibib adalah salah seorang shahabat Nabi yang berwajah buruk, kerdil dan berkulit hitam serta tidak dikenal oleh banyak orang, bahkan beliau merasa kesulitan ketika melamar seorang wanita.

Dari Anas bin Malik, katanya: Nabi pernah meminang seorang wanita Anshar untuk Julaibib –salah seorang sahabat yang berparas buruk. Beliau meminang lewat ayah si wanita, maka katanya: “Tunggulah sebentar, aku ingin minta pendapat dari ibunya”. “Baiklah kalau begitu”, kata Nabi. Maka si lelaki tadi mendatangi isterinya dan menyampaikan hal tersebut. Isterinya pun berkata: “Demi Allah, tidak bisa kalau begitu… apakah Rasulullah tidak mendapati lelaki lain selain Julaibib? Padahal kita telah menolak pinangan Si Fulan dan Fulan?” sementara itu, si gadis yang dimaksud mendengarkan di balik tirai. Sang Ayah pun akhirnya kembali menemui Rasulullah dan menyampaikan keberatan isterinya. Maka Si Gadis tadi berkata: “Apakah kalian hendak menolak perintah Rasulullah? Kalaulah Beliau telah meridhainya untuk kalian, maka nikahkan saja dia”. Ucapan Si Gadis seakan menyadarkan kedua orang tuanya, lantas mereka berdua berkata: “Kau benar”, lalu Sang Ayah kembali lagi kepada Rasulullah seraya berkata: “Bila Anda meridhainya, maka kami pun ridha terhadapnya”. “Ya, aku telah meridhainya”, kata beliau. Maka lelaki tadi menikahkannya dengan puterinya.

Tak lama berselang, warga Madinah dikejutkan oleh suatu serangan. Julaibib pun segera menunggangi kudanya dan terjun ke medan perang… usai peperangan, mereka mendapatkan Julaibib gugur setelah berhasil membunuh sejumlah orang musyrik di sekitarnya. Anas lalu mengisahkan: “Sungguh, aku melihat bahwa Janda Si Julaibib termasuk wanita Madinah yang paling banyak dipinang orang”.[HR. Ahmad dengan sanad shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim].

Imam Muslim juga meriwayatkan di dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah, dikisahkan bahwa kemudian Julaibib mengikuti suatu peperangan bersama Nabi. Saat ia syahid, Nabi begitu kehilangan. Kehilangan. Sangat kehilangan. Tapi beliau akan mengajarkan sesuatu kepada para shahabatnya. Maka beliau bertanya-tanya di akhir pertempuran, “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

Para shahabat menjawab, “Fulan, fulan dan fulan.”

Para shahabat menyebutkan sejumlah nama. Namun Julaibib tidak termasuk dalam yang mereka sebutkan. Sepertinya Julaibib memang tak beda antara ada dan tiadanya di kalangan mereka.

Nabi bertanya lagi, “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

Shahabat kembali menjawab, “Ya. Fulan, fulan dan fulan.”

Lagi-lagi beliau bertanya, “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

Dan selalunya shahabat menjawab, “Ya. Fulan, fulan dan fulan.”

Kemudian Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda dengan menghela nafasnya, “Tetapi aku kehilangan Julaibib. Carilah dia!”

Akhirnya, mereka berhasil menemukannya. Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di sekitar jasadnya menggeletak tujuh jasad musuh yang telah ia bunuh terlebih dahulu. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ia telah membunuh tujuh orang sebelum akhirnya mereka membunuhnya.”

Beliau dengan tangannya sendiri mengkafaninya. Beliau menshalatkannya secara pribadi. Dan kalimat beliau untuk Julaibib yang akan membuat iri semua makhluk hingga hari berbangkit adalah,

“Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam lalu meletakkan jasadnya di atas kedua lengan beliau, sementara lengan Julaibib tinggal satu. Beliau kemudian menggali kubur, meletakkan jasadnya di dalam kubur, dan tidak pernah menyinggung untuk memandikannya.

Di dalam hadits ini terkandung anjuran untuk mengenali orang-orang yang shalih semacam ini, yang suka merahasiakan amalnya.

Alangkah indahnya. Tidak dikenal oleh penduduk bumi, tapi dikenal oleh penduduk langit.

*****

Tahukah engkau siapa Hudair?

Dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ”Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirim satu pasukan yang di antara mereka ada seseorang yang dipanggil Hudair. Sementara tahun itu merupakan merupakan tahun paceklik dan kekurangan makanan, Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallam memberikan bekal kepada mereka semua, namun beliau lupa memberikan bekal kepada Hudair. Maka Hudair tetap berangkat dengan sabar dan mengharapkan ridha Alloh. Dia berada di barisan paling belakang sambil tiada henti mengucapkan ’la ilaha illallah wallahu akbar walhamdu lillahi wa subhanallah wa la haula wa la quwwata illa billah.’ Dia berkata, ’Sebaik-baik bekal adalah dzikir ini, wahai Rabbi.’ Dia tiada henti mengucapkannya.”

Ibnu Umar menuturkan, ”Lalu Jibril mendatangi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata kepada beliau, ’Sesungguhnya Rabb-ku mengutusku kepadamu untuk mengabarkan kepadamu, bahwa engkau telah memberikan bekal kepada rekan-rekanmu, sementara engkau lupa memberikan bekal kepada Hudair. Dia berada di barisan paling belakang sambil mengucapkan ’la ilaha illallah wallahu akbar walhamdu lillahi wa subhanallah wa la haula wa la quwwata illa billah.’ Dia juga berkata ’Sebaik-baik bekal adalah dzikir ini, wahai Rabbi.’ Jibril berkata lagi, ’Perkataannya itu merupakan cahaya baginya pada Hari Kiamat, yang ada di antara langit dan bumi. Maka kirimlah bekal baginya.’

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil seseorang dan menyuruhnya untuk menyerahkan bekal kepada Hudair dan juga memerintahkan agar dia tetap menjaga perkataannya itu ketika bekal sudah diterima. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada utusan itu agar menyampaikan pesan kepada Hudair, ’Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ’alayhi wa sallam menyampaikan salam kepadamu dan beliau lupa memberikan bekal kepadamu. Pesan beliau, ’ Allah Tabaraka wa Ta’ala mengutus Jibril kepadaku, mengingatkan dirimu dan memberitahukan keadaan serta posisimu.’

Hudair menjawab, “Segala puja dan puji bagi Allah serta shalawat atas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.” Setelah itu, dia berkata lagi, “Segala puji bagi Allah, Tuhan penguasa alam semesta, karena Allah telah mengingat aku dari atas langit yang ketujuh dan dari atas ‘Arsy-Nya, yang mengasihi rasa lapar dan kelemahan diriku. Ya Rabbi, sebagaimana Engkau tidak melupakan Hudair, maka buatlah hudair tidak lupa kepada-Mu.”
(Shifatush-Shafwah, 1/743)

Banyak orang yang dilupakan manusia, namun Allah subhanahu wa Ta’ala tidak melupakannya. Ini dikarenakan keikhlasan orang-orang seperti itu, yang banyak menyebut Allah secara sembunyi-sembunyi, jauh dari pandangan manusia.

*****

Tahukah engkau siapa Uwais al-qorni?

Dari Abu Hurairah , dia berkata, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang diciptakan-Nya, yang Pilihan, yang suka menyembunyikan amal, yang bajik, yang kusut rambutnya, yang berdebu mukanya, dan yang kelaparan perutnya. Jika mereka meminta izin kepada amir (pemimpin) untuk menghadap, maka mereka tidak diijinkan. Jika melamar wanita cantik, mereka tidak dinikahkan. Jika mereka tidak hadir, maka mereka tidak dicari. JIka mereka muncul, maka kedatangan mereka tidak disambut. Jika mereka sakit, mereka tidak dijenguk. Jika mati tidak dipersaksikan.” (Saya belum mendapat takhrij hadits ini-pent). Orang-orang bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah diantara kami yang seperti itu?”. Beliau menjawab, “Dia bernama Uwais Al Qarny.” Mereka bertanya, “Siapa Uwais Al Qarny itu?” Beliau menjawab, “Matanya kebiruan, mudah bergaul, bahunya lebar, perawakannya sedang, kulitnya sawo matang, memelihara jenggot hingga ke dada, selalu mengarahkan pandangan kearah sujudnya, meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri, banyak membaca Al Qur’an, menangisi diri sendiri, mempunyai dua kain yang lusuh dan dia tidak peduli terhadap kainnya itu, berselimut dengan kain dari wool dan sorban dari wool pula. Tidak dikenal diantara penduduk bumi, namun terkenal diantara penghuni langit. Yang sekiranya dia bersumpah atas nama Allah, tentu Dia akan mengabulkan apa yang dia ucapkan dalam sumpahnya. Ketahuilah, pada Hari Kiamat akan dikatakan kepada hamba-hamba, ‘Masuklah kalian kedalam Surga’. Sementara dikatakan kepada Uwais, ‘Berhentilah dan mintalah syafaat’. Maka Allah memberinya syafaat seperti untuk Rabi’ah dan Mudhar. ‘Wahai Umar, wahai Ali, jika kalian berdua bertemu dengannya, maka mintalah agar dia memintakan ampunan bagi kalian berdua, maka niscaya Allah akan memberikan ampunan kepada kalian berdua’.”

Abu Hurairah menuturkan, “Maka Umar dan Ali terus mencarinya selama sepuluh tahun tak ada hasil. Pada tahun terakhir sebelum Umar meninggal, dia berdiri di atas bukit Abu Qubais, lalu berseru dengan suara lantang, ‘Wahai orang-orang Yaman yang menunaikan haji, adakah diantara kalian yang bernama Uwais?’ Ada seorang lelaki tua dengan jenggot panjang berdiri, lalu berkata, ‘Kami tidak mengenal orang yang bernama Uwais. Tapi anak saudaraku ada yang biasa dipanggil Uwais. Namanya hampir tidak dikenal, hartanya sedikit dan keadannya sangat hina sekiranya kami harus membawanya kehadapanmu. Dia biasa menggembala unta milik kami dan hina di tengah kami.’ Umar bersikap seakan-akan tidak menghendaki orang itu. Dia bertanya, ‘Apakah anak saudaramu itu terkena sakit?’ ‘Ya,’ jawabnya. ‘Dimana dia berada?’ ‘Dia berada di Arafah.’ Maka Umar dan Ali segera pergi ke Arafah hingga mereka berdua menemukan seseorang sedang berdiri mendirikan shalat di dekat sebatang pohon, sementara sekumpulan unta berada di sekitarnya. Umar dan Ali menambatkan keledainya kemudian menghampiri orang itu, lalu mengucapkan salam, ‘Assalamu’alaikum wa rahmatullah.’ Orang itu mempercepat shalatnya dan seusai shalat dia menjawab, ‘Assalamu’alaikum wa rahmatullah.’ ‘Siapa engkau ini?’ Tanya Umar dan Ali. ‘Aku adalah seorang penggembala unta dan orang yang diupah orang-orang itu.’ jawabnya. ‘Kami tidak bertanya tentang penggembalaan dan upahan. Siapa namamu?’ ‘Aku adalah Abdullah,’ jawabnya, yang artinya hamba Allah. ‘Kami sudah tahu bahwa semua penghuni langit dan bumi adalah hamba Allah. Siapa nama yang diberikan ibumu kepadamu?’ ‘Apa sebenarnya yang kalian inginkan dariku?’ Tanya orang itu. ‘Muhammad memberitahukan kepada kami seseorang yang bernama Uwais Al Qarny. Kami sudah tahu mata yang kebiru-biruan dan rambut pirang. Beliau juga memberitahukan bahwa dibawah bahumu sebelah kanan ada warna putih yang cemerlang. Maka perlihatkanlah kepada kami bahumu. Kalau memang ada tanda itu, maka engkaulah yang dimaksudkan.’ Ketika orang itu memperlihatkan bahunya, maka tampak tanda putih yang cemerlang. Maka seketika itu pula Umar dan Ali memeluknya dan berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkaulah Uwais Al Qarny. Mohonkanlah ampunan bagi kami, semoga Allah memberikan ampunan kepadamu.’ ‘Apa yang khusus dengan istighfarku atau siapapun dari anak Adam, sementara di daratan dan lautan ada sekian banyak orang-orang mukmin laki-laki dan wanita, orang-orang muslim laki-laki dan wanita. Rupanya Allah telah memberikan tanda kepada kalian berdua tentang urusanku. Lalu siapa sebenarnya kalian berdua?’ Ali menjawab, ‘Ini adalah Umar Amirul Mukminin, sedangkan aku adalah Ali bin Abu Thalib.’ Seketika Uwais berdiri tegak dan berucap, ‘Assalamu’alaikum wahai Amirul Mukminin wa rahmatullahi wa barakatuh, begitu pula engkau wahai Ali bin Abu Thalib, semoga Allah melimpahkan kebaikan kepadamu bagi umat ini.’ Umar dan Ali berkata, ‘Dan engkau semoga Allah melimpahkan kebaikan kepadamu.’ Umar berkata kepada Uwais, ‘Tetaplah ditempatmu semoga Allah merahmatimu, hingga aku masuk Mekkah dan memberimu nafkah dari pemberianku dan kelebihan kainku. Tempat ini merupakan tempat yang dijanjikan antara diriku dan dirimu.’ Uwais berkata, ‘Tempat yang dijanjikan antara diriku dan dirimu, padahal aku tidak akan melihatmu lagi setelah hari ini. Beritahukan kepadaku apa yang harus kuperbuat terhadap nafkah dan kain itu? Apakah kau tidak melihat jubah dan kain dari wool ini? Kapan engkau tahu aku akan membakarnya? Apakah engkau tidak tahu sandalku yang sudah kujahit ini? Kapan aku akan membuatnya usang? Sesungguhnya aku sudah mendapatkan empat dirham dari pekerjaanku menggembala ini. Kapan kalian melihat aku meminta tambahan? Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dihadapanku dan dihadapanmu ada beban yang amat berat, yang tidak dapat dibawa kecuali oleh orang yang menganggapnya ringan. Karena itu, buatlah ia ringan, semoga Allah merahmatimu.’” (Shifatus Shafwah, 4/27).

Dalam riwayat lain, dari Usair bin Jabir, dia berkata, jika datang rombongan dari penduduk Yaman, maka Umar bin Al Khoththob bertanya kepada mereka, “Apakah diantara kalian ada Uwais bin Amir?” Hingga Umar bertemu dengan Uwais dan bertanya kepadanya, “Engkaukah yang bernama Uwais bin Amir?” “Ya,” jawabnya. “Apakah engkau dari Murad kemudian dari Qiran?” tanya Umar. “Ya,” jawab Uwais. “Apakah diantara kalian ada yang terkena penyakit kusta kemudian sembuh, kecuali hanya di satu tempat sebesar kepingan dirham?” tanya Umar. “Ya,” jawab Uwais. “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” tanya Umar. “Ya,” jawab Uwais. “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Akan datang kepada kalian orang yang bernama Uwais bin Amir bersama rombongan dari penduduk Yaman, dari Murad kemudian dari Qiran. Diantara mereka terkena penyakit kusta, lalu sembuh kecuali di satu tempat sebesar kepingan dirham. Dia mempunyai seorang ibu dan dia sangat berbakti kepada ibunya, yang sekiranya dia bersumpah atas nama Allah, tentu Allah akan mengabulkan baginya. Jika engkau mampu agar dia memintakan ampunan bagimu, maka lakukanlah.’” (Ditakhrij Al Hakim dalam Al Mustadrak, seperti yang ditakhrij Muslim dalam Fadha’il Uwais Al Qarny). Maka Umar meminta Uwais agar memintakan ampunan baginya, sehingga Uwais memintakan ampunan baginya. Umar bertanya, “Hendak kemana engkau?” “Ke Kufah,” jawab Uwais. “Bagaimana jika aku menulis surat kepada pejabat disana agar dia memberimu bantuan?” tanya Umar. Uwais menjawab, “Aku lebih suka berdebu bersama orang-orang.” Pada tahun berikutnya ada seseorang yang terpandang diantara penduduk Kufah yang menunaikan haji. Maka Umar bertanya tentang Uwais kepada orang itu, “Bagaimana keadaannya ketika engkau meninggalkannya?” Orang itu menjawab, “Aku meninggalkannya dalam keadaan kusut dan barang bawaannya hanya sedikit.” Maka Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Akan datang kepada kalian orang yang bernama Uwais bin Amir bersama rombongan dari penduduk Yaman, dari Murad kemudian dari Qiran. Diantara mereka terkena penyakit kusta, lalu sembuh kecuali di satu tempat sebesar kepingan dirham. Dia mempunyai seorang ibu dan dia sangat berbakti kepada ibunya, yang sekiranya dia bersumpah atas nama Allah, tentu Allah akan mengabulkan baginya. Jika engkau mampu agar dia memintakan ampunan bagimu, maka lakukanlah.” Setiba di Kufah, orang tersebut mendatangi Uwais dan berkata, “Mohonkanlah ampunan bagiku.” Uwais berkata, “Engkau tampak baru saja mengadakan perjalanan jauh untuk amal yang shalih (yaitu haji-pent), lalu meminta agar aku meminta ampunan? Apakah engkau bertemu Umar?” “Ya,” jawab orang itu. Maka Uwais memintakan ampunan baginya. Tak seberapa lama orang-orangpun tahu keberadaan Uwais, yang membuatnya langsung pergi (mengasingkan diri). (Lihat buku “Koreksi Dzikir Jama’ah M. Arifin Ilham,” oleh Abu Amsaka, cetakan Darul Falah).

*****

Pada masa Mu’awiyah terjadi kemarau panjang. Mu’awiyah lalu melaksanakan shalat istisqa’ bersama masyarakat. Setelah mereka melihat tempat shalat, Mu’awiyah pun berkata kepada Abu Muslim, “Tahukah engkau apa yang dirasakan manusia? Berdoalah kepada Allah.”

Abu Muslim menukas, “Aku akan berbuat menurut keterbatasan diriku.”

Lalu Abu Muslim berdiri. Ketika itu, dia mengenakan mantel yang memiliki kerudung kepala. Dia membuka kerudung kepalanya, kemudian menengadahkan kedua tangannya seraya berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon hujan kepada-Mu. Aku datang dengan dosa-dosaku kepada-Mu, maka janganlah Engkau kecewakan aku.”

Belum lagi orang-orang kembali, hujan pun turun sangat deras. Abu Muslim lalu berdoa lagi, “Ya Allah, sesungguhnya Mu’awiyah menempatkan aku pada posisi sum’ah. Kalau memang engkau mempunyai pilihan yang lebih baik bagiku, maka cabutlah nyawaku agar kembali kepada-Mu.”

Saat itu hari Kamis. Abu Muslim meninggal hari Kamis berikutnya. Dia khawatir sekiranya ada anggapan yang menyebar di kalangan manusia bahwa mereka mendapat hujan karena doa Abu Muslim. Dia lebih suka memilih mati karena takut ‘ujub (bangga) terhadap diri sendiri karena sum’ah (ingin di dengar oleh orang).
(Al Bilali, Minhaj at Tabi’in, hal. 111)

Itulah beberapa kisah tentang orang-orang shalih yang senang menyembunyikan amalan mereka. Mereka adalah orang-orang yang asing di bumi, namun nama-nama mereka sangat terkenal oleh para penduduk langit. Mereka memiliki banyak rahasia yang hanya diketahui oleh Allah dan diri mereka sendiri.

Abul Abbas al ‘Atha’ berkata, “Tanda-tanda wali itu ada empat macam: Menjaga rahasia antara dirinya dengan Allah, menjaga amalan anggota tubuhnya antara dirinya dengan perintah Allah, sabar dalam menghadapi siksaan antara dirinya dengan makhluk Allah, dan bergaul bersama manusia dengan keragaman akal mereka.” (Shifat ash Shafwah, jilid 2, hal. 287).

Al Junaid al Baghdadi menuturkan, bahwa dia pernah mendengar as Sirri ibn al Maghlas berkata, “Sesungguhnya di beberapa perkampungan di Baghdad ada wali-wali yang tidak banyak diketahui manusia.” (Shifat ash Shafwah, jilid 2, hal. 326).

Imam al Hasan al Bashri berkata, “Adakalanya seseorang sudah hafal Al Qur’an, sementara tetangganya tidak mengetahuinya. Adakalanya seseorang memiliki banyak pengetahuan, namun orang-orang tidak merasakannya. Adakalanya seseorang mendirikan shalat yang panjang, sementara di rumahnya ada beberapa orang tamu dan mereka tidak mengetahuinya. Kita mengenal beberapa orang yang melakukan amal shalih secara sembunyi-sembunyi selagi di dunia, namun kemudian pengaruh amalnya itu selalu tampak sepeninggalnya…” (Al Akhfiya’ al Manhaj wa as Suluk, oleh Walid ibn Sa’id Bahakam).

__________________________

By; Abu Fahd Negara Tauhid.
Artikel: http://www.gizanherbal.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s