Jika Belum Melaksanakan Aqiqah

Posted: Mei 11, 2011 in Fiqh
Tag:,

AQIQAH BAYI YANG MENINGGAL SEBELUM HARI KE-7
(Oleh: Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiah wal Ifta’)

SOAL:
Bayi yang meninggal sebelum hari ke tujuh apakah wajib aqiqah atau tidak?

JAWAB:
Kalau bayi meninggal sebelum hari ke tujuh maka dia diaqiqahkan pada hari ke tujuh. Kematiannya sebelum hari ke tujuh bukanlah suatu halangan untuk melaksanakan aqiqah pada hari ke tujuh. Karena dalil-dalil syar’i yang ada pada permasalahan aqiqah adalah penunjukan terhadap waktu pelaksanaannya.
Kami tidak mengetahui sedikitpun ada dalil yang menunjukkan gugurnya aqiqah jika bayi meninggal sebelum hari ke tujuh. Dalil-dalil tersebut dengan keumumannya menunjukkan bahwa aqiqah disyari’atkan dengan sebab kelahiran. Dan dilaksanakan pada hari ke tujuh. Dan keumuman ini mencakup gambaran dari permasalahan yang ditanyakan. Kami tidak tahu ada yang mengeluarkannya dari keumuman sebagaimana yang telah lewat.
Dan penentuan hari ke tujuh untuk pelaksanaannya tidaklah dipahami darinya bahwa syariat aqiqah tersebut dimulai pada hari ke tujuh. Karena kelahiran adalah sebab perintah aqiqah, dan hari ke tujuh adalah waktu yang paling utama untuk melaksanakan perkara yang syar’i ini. Karena itu kalaupun dia melaksanakannya sebelum hari ke tujuh maka sudah mencukupi sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim dan yang sepakat dengannya dari kalangan ahli ilmu.
Wa billah at taufiq wa shollallahu ‘ala nabiyina Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

***
Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiah wal Ifta’
Wakil Ketua: Asy Syaikh Abdurrozzaq Afifi
Anggota: Asy Syaikh Abdullah bin Ghudoyyan dan Asy Syaikh Abdullah bin Mani’

Alih Bahasa: Ayub Abu Ayub
Sumber:
Fatawa Al Lajnah (11/445-446)
Artikel:
http://ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=184

* * * * *

AQIQAH ANAK YANG SUDAH MENINGGAL
(oleh: Al-Ustadz Syahrul Fatwa)

TANYA:
Bagaimana hukumnya mengaqiqahkan anak yang sudah wafat? Apakah kewajiban orang tua belum gugur? Mohon dijawab terima kasih. Wassalamualaikum.
(Ardiansyah Permadi)

JAWAB:
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu. Alhamdulillah washshalatu wassalamu ‘alaa rasulillah.

Aqiqah termasuk sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dianjurkan. Berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak, diantaranya dari Samuroh bin Jundub radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى
Artinya: “Setiap bayi tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan kambing pada hari ke-7, dicukur rambutnya serta diberi nama” (HR.Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’iy, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Abdul Haq, lihat at-Talkhis 4/1498 oleh Ibnu Hajar)

Maksud tergadaikan di sini adalah tertahan dari suatu kebaikan yang seharusnya diperoleh jika ia diaqiqahi. Karena seorang bisa kehilangan memperoleh kebaikan karena perbuatannya sendiri atau karena perbuatan orang lain. (Lihat Tuhfatul Maudud,Ibnul Qayyim hal.122-123, tahqiq: Syeikh Salim al-Hilali)

Berdasarkan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits diatas maka tidak selayaknya meninggalkan aqiqah jika mampu. Bahkan kebiasaan para salaf mereka senantiasa melaksanakan aqiqah untuk anak-anak mereka.

Yahya al-Anshori rahimahullahu mengatakan: “Aku menjumpai manusia dan mereka tidak meninggalkan aqiqah dari anak laki-laki maupun perempuan”. (Al-Fath ar-Robbani, Ibnul Mundzir 13/124, lihat Ahkam al-Maulud hal.51, Salim bin Ali Rosyid as-Sibli dan Muhammad Kholifah Muhammad Robah)

Berhubungan dengan mengaqiqahi orang yang sudah meninggal maka tidak lepas dari tiga keadaan;

Pertama: Orang tua mengaqiqahi anak yang telah meninggal. Jika anak tersebut meninggal ketika sudah terlahir ke dunia, tetap disyariatkan untuk diaqiqahi.
Dan jika meninggalnya masih dalam kandungan dan sudah berusia 4 bulan maka disyariatkan aqiqah, jika kurang dari 4 bulan maka tidak disyariatkan.
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu mengatakan: “Apabila janin itu keguguran setelah ditiupkannya ruh maka janin tersebut dimandikan, dikafani, disholati dan dikubur di pekuburan kaum muslimin, serta diberi nama dan diaqiqahi. Karena dia sekarang telah menjadi seorang manusia, maka berlaku pula baginya hukum orang dewasa”. (Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah hal.90, Ibnu Utsaimin)

Kedua: Anak mengaqiqahi orang tua yang sudah meninggal. Hukumnya tidak disyariatkan, karena perintah aqiqah ditujukan kepada orang tua bukan kepada anak.

Ketiga: Mengaqiqahi seorang manusia yang telah meninggal. Jika ada seseorang yang meninggal dan dia semasa hidupnya belum diaqiqahi, maka tidak disyariatkan bagi ahli warisnya untuk mengaqiqahinya. Allohu A’lam. (Faedah ini kami dapat dari Syaikhuna Saami bin Muhammad as-Shuqair, murid senior dan menantu Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin, Jazaahullohu Khoiron).

***
Sumber:
http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com/2011/07/aqiqah-anak-yang-sudah-meninggal.html?m=0

* * * * *

HUKUM AQIQAH SETELAH DEWASA
(Oleh: Ustadz Ahmad Zainuddin)

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Saudaraku seiman…
Di bawah ini terdapat beberapa fatwa ulama tentang hukum aqiqah bagi anak yang belum diaqiqahi orangtuanya semasa kecil sehingga dewasa, apakah masih diaqiqahi, apakah boleh mengaqiqahi diri sendiri jika orangtua masih tidak mampu? ataukah boleh memberikan uang kepada orangtua agar mampu membeli kambing aqiqah?

Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata:

 [ إذا لم يعق عنك فعق عن نفسك وإن كنت رجلاً ].
“Jika belum diaqiqahi atasmu, maka aqiqahkanlah atas dirimu, meskipun kamu seorang lelaki dewasa.”
[Lihat Kitab Al Muhalla, 2/204 dan Syarh As Sunnah, 11/264]

Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata:

 [ عققت عن نفسي ببختية بعد أن كنت رجلاً ].
“Aku mengaqiqahkan atas diriku dengan seekor onta betina setelah aku dewasa.”
[Lihat kitab Syarah As Sunnah, 11/264]

ونقل عن الإمام أحمد أنه استحسن إن لم يعق عن الإنسان صغيراً أن يعق عن نفسه كبيراً وقال :[ إن فعله إنسان لم أكرهه ]
Dinukilkan dari Imam Ahmad bahwasanya ia lebih baik jika belum diaqiqahi seseorang dimasa kecilnya maka ia mengaqiqahkan atas dirinya ketika dirinya sudah besar, beliau juga berkata: “Jika dilakukan oleh seseorang maka aku tidak membencinya.”
[Lihat kitab Tuhfat Al Mawdud Bi Ahkam Al Mawlud, (hal. 69 Asy Syamela)]

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

وَإِنْ لَمْ يَعُقَّ أَصْلًا ، فَبَلَغَ الْغُلَامُ ، وَكَسَبَ ، فَلَا عَقِيقَةَ عَلَيْهِ . وَسُئِلَ أَحْمَدُ عَنْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ ، فَقَالَ : ذَلِكَ عَلَى الْوَالِدِ . يَعْنِي لَا يَعُقُّ عَنْ نَفْسِهِ ؛ لِأَنَّ السُّنَّةَ فِي حَقِّ غَيْرِهِ . وَقَالَ عَطَاءٌ ، وَالْحَسَنُ : يَعُقُّ عَنْ نَفْسِهِ ؛ لِأَنَّهَا مَشْرُوعَةٌ عَنْهُ وَلِأَنَّهُ مُرْتَهَنٌ بِهَا ، فَيَنْبَغِي أَنْ يُشْرَعَ لَهُ فِكَاكُ نَفْسِهِ . وَلَنَا ، أَنَّهَا مَشْرُوعَةٌ فِي حَقِّ الْوَالِدِ ، فَلَا يَفْعَلُهَا غَيْرُهُ ، كَالْأَجْنَبِيِّ ، وَكَصَدَقَةِ الْفِطْرِ .
“Dan jika belum diaqiqahi sama sekali lalu sang anak mencapai baligh dan berpenghasilan, maka tidak ada kewajiban aqiqah atasnya. Imam Ahmad ditanya tentang permasalahan ini, beliau berkata: “(Aqiqah) itu kewajiban orangtua, maksudnya adalah ia tidak (boleh) mengaqiqahi atas dirinya, karena menurut sunnah (mewajibkan) dalam hak selainnya.” Berkata Atha’, Al Hasan: “Ia (boleh) mengaqiqahi atas dirinya, karena aqiqah ini disyariatkan atasnya dan karena ia tergadaikan dengannya, maka semestinya ia menyegerakan pembebasan dirinya, dan menurut kami, bahwa aqiqah adalah disyariatkan pada kewajiban orangtua maka tidak boleh mengerjakannya selainnya, seperti orang lain dan seperti sedekah fitr.”
[Lihat Al Mughnni, (22/7 Asy Syamela)]

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata:

” الفصل التاسع عشر : حكم من لم يعق عنه أبواه هل يعق عن نفسه إذا بلغ ، قال الخلال : باب ما يستحب لمن لم يعق عنه صغيرا أن يعق عن نفسه كبيرا ، ثم ذكر من مسائل إسماعيل بن سعيد الشالنجي قال : سألت أحمد عن الرجل يخبره والده أنه لم يعق عنه ، هل يعق عن نفسه ؟ قال : ذلك على الأب .
“Pasal ke 19: Hukum siapa yang belum diaqiqahi atasnya kedua orangtuanya, apakah ia mengaqiqahi dirinya jika sudah baligh, berkata Al Khallal: “Bab Anjuran bagi siapa yang belum diaqiqahi atasnya semasa kecil, maka ia boleh mengaqiqahi atas dirinya sendiri ketika dewasa. Kemudian ia menyebutkan pertanyan-pertanyaan Isma’il bin Sa’id Asy Syalinji, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Imam Ahmad tentang seseorang yang orangtuanya memberitahukannya kepadanya bahwa ia belum diaqiqahi, apakah boleh untuk mengaqiqahkan dirinya sendiri? Beliau menjawab: “(Aqiqah) itu kewajiban bapak.
[Lihat kitab Tuhfat Al Mawdud Bi Ahkam Al Mawlud, (hal. 80 Asy Syamela)]

Syeikh Ibnu Baz rahimahullah berkata:

” والقول الأول أظهر ، وهو أنه يستحب أن يعق عن نفسه ؛ لأن العقيقة سنة مؤكدة ، وقد تركها والده فشرع له أن يقوم بها إذا استطاع ؛ ذلك لعموم الأحاديث ومنها : قوله صلى الله عليه وسلم : (كل غلام مرتهن بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه ويحلق ويسمى) أخرجه الإمام أحمد ، وأصحاب السنن عن سمرة بن جندب رضي الله عنه بإسناد صحيح ، ومنها : حديث أم كرز الكعبية عن النبي صلى الله عليه وسلم: أنه أمر أن يُعق عن الغلام بشاتين وعن الأنثى شاة أخرجه الخمسة ، وخرج الترمذي وصحح مثله عن عائشة , وهذا لم يوجه إلى الأب فيعم الولد والأم وغيرهما من أقارب المولود ” انتهى من “مجموع فتاوى الشيخ ابن باز” (26/266) .
“Dan pendapat yang pertama lebih jelas, yaitu dianjurkan ia mengaqiqahi dirinya, karena aqiqah adalah sunnah muakkadah dan orangtuanya telah meninggalkannya, maka disyariatkan kepadanya agar melakukan jika ia mampu, yang demikian itu berdasarkan keumuman beberapa hadits, diantaranya; sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelih atasnya (hewan aqiqahnya) pada hari ke tujuhnya, digunduli kepalanya dan memberikan nama.”
[HR. Ahmad dan para penulis kitab Sunan, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang shahih]

Dan termasuk diantaranya; hadits Ummu Al Kurz Al Ka’biyyah bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ beliau memerintahkan anak lelaki agar diaqiqahi dengan dua ekor kambing dan anak perempuan agar diaqiqahi dengan satu ekor kambing.”
[HR. Imam yang lima dan Tirmidzi menshahihkan]

Riwayat yang semisal yaitu dari riwayat Aisyah dan hadits ini tidak ditujukan kepada siapa-siapa, maka berarti mencakup anak, ibu dan selain keduanya dari para kearabat anak yang terlahir tersebut.”
[Lihat kitab Majmu’ Fatawa Syeikh Ibnu Baz, (26/266)]

Syeikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin rahimahullah berkata:

وذهب بعضهم إلى أن الطفل إذا بلغ سن الرشد سقطت في حقه، ويرى بعض العلماء أنه يعق عن نفسه، ولم يثبت في ذلك دليل صحيح
“Sebagian ulama berpendapat bahwa anak jika sudah mencapai umur rusyd (dewasa) maka gugur (aqiqah) pada haknya dan sebagian ulama berpendapat bahwa ia mengaqiqahi dirinya sendiri dan belum tetap dalam hal itu satu dalil shahihpun.”
•Lihat di http://ar.islamway.net/fatwa/29698

Syeikh Al Fauzan hafizhahullah berkata:

وإذا لم يفعلها الوالد فقد ترك سنة، وإذا لم يعق عنه والده وعق عن نفسه فلا بأس بذلك فيما أرى، والله أعلم .
“…Jika orangtua belum mengerjakannya (aqiqah) maka sungguh ia telah meninggalkan sunnah dan jika orangtuanya belum mengaqiqahinya kemudian ia mengaqiqahi dirinya sendiri, maka hal itu tidak mengapa, sepengetahuan saya, wallahu a’lam.”
[Lihat kitab Al Muntaqa min Fatawa Al Fawzan, (5/84 Asy Syameela)]

Syeikh Al Fawzan hafizhahullah berkata:

الأفضل يوم سابعه، هذا هو الأفضل المنصوص عليه، فإن تأخرت عن ذلك فلا بأس بذلك ولا حد لآخر وقتها إلا أن بعض أهل العلم يقول : إذا كبر المولود يفوت وقتها، فلا يرى العقيقة عن الكبير، والجمهور على أنه لا مانع من ذلك حتى ولو كبر
“Yang utama (aqiqah) dilakukan pada hari ke tujuhnya, ini adalah paling utama yang telah ditegaskan atasnya, maka jika terlambat dari itu tidak mengapa, dan tidak ada batasan untuk akhir waktunya kecuali sebagian para ulama berkata: Jika anak yang lahir sudah besar maka waktu aqiqahnya sudah lewat, maka tidak dianjurkan untuk melakukan aqiqah atas seorang yang sudah besar. Dan (sedangkan) mayoritas ulama berpendapat bahwa tidak ada larangan untuk itu meskipun sudah besar.”
[Lihat kitab Al Muntaqa min Fatawa Al Fawzan, (4/84 Asy Syamela)]

Kesimpulan:
Berdasarkan apa yang sudah dijelaskan, maka tidak mengapa ia mengaqiqahi dirinya sendiri ketika sudah besar, jika ia belum diaqiqahi pada masa kecil. Wallahu a’lam

***
Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Sabtu, 11 Jumadal Ula 1434H, Dammam KSA

Sumber: http://www.dakwahsunnah.com/artikel/fiqhsunnah/312-fatwa-ulama-hukum-aqiqah-sesudah-dewasa

* * * * *

TANYA JAWAB TERKAIT AQIQAH SETELAH DEWASA

Pertanyaan:
Bagaimana hukum aqiqah terhadap anak yang kedua orang tuanya sudah meninggal dan dia telah dewasa?

Jawaban:
Dalam masalah ini, Ulama berselisih menjadi dua pendapat:

1. Orang yang tidak diaqiqahi sewaktu kecil, dianjurkan untuk mengaqiqahi dirinya di waktu dewasa. Ini merupakan pendapat ‘Atha rahimahullah, Hasan al-Bashri rahimahullah, dan Muhammad bin Sirin rahimahullah, al-Hafizh al-Iraqi rahimahullah menyebutkan bahwa Imam Syafi’i rahimahullah berpendapat orang itu diberi pilihan untuk mengaqiqahi dirinya. al-Qaffal asy-Syasyi dari kalangan Syafi’iyyah menganggap baik orang itu mengaqiqahi dirinya diwaktu dewasa. Ini juga satu riwayat dari Imam Ahmad, asy-Syaukani rahimahullah mengakui pendapat ini dengan syarat hadits yang dibawakan dalam bab ini shahih.

2. Orang yang tidak diaqiqahi sewaktu kecil tidak (perlu) mengaqiqahi dirinya. ini merupakan pendapat Malikiyyah. Mereka berkata, “Sesungguhnya aqiqah untuk orang dewasa tidak dikenal di Madinah. Ini juga satu riwayat dari Imam Ahmad. Pendapat ini juga dinisbatkan kepada Imam Syafi’i rahimahullah, akan tetapi penisbatannya dilemahkan oleh Imam Nawawi rahimahullah, al-Hafizh Ibnu Hajar, dan lainnya. Yang benar dari Imam Syafi’i rahimahullah adalah memberikan pilihan sebagaimana disebutkan pada pendapat pertama. (Lihat al-Mughni 9/461, al-Majmu’ 8/431, Fathul Bari 12/12-13, Tharhut Tats-rib 5/209 dll)

Yang rajih (lebih kuat) dalam masalah ini adalah pendapat pertama, berdasarkan hadits berikut ini.

عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدِ مَا بُعِثَ نَبِيًا
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi dirinya sendiri setelah menjadi nabi.

Hadits ini diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu dengan dua jalur riwayat, yang satu sangat dha’if (sangat lemah), dan yang lain hasan sehingga hadits ini bisa dijadikan hujjah (pegangan). Oleh karena itu, banyak ulama Salaf yang berpendapat dengan kandungan hadits ini.

Namun sebagian Ulama dan ustadz yang mulia mendhai’ifkan hadits ini. Hal ini tampaknya, karena mereka baru mendapatkan satu jalur periwayatan hadits yang memang dha’if tersebut. Syaikh al-Albani rahimahullah menjelaskan kedudukan hadits ini dengan panjang lebar dalam Silsilah al-Ahadits as-Shahihah no. 2726. Inilah ringkasan dari penjelasan Syaikh al-Albani rahimahullah.

Hadits ini diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu dengan dua jalur;

1. Dari Abdullah bin Muharrar, dari Qatadah, dari Anas bin Malik.
Diriwayatkan oleh Abdur Rozzaq dalam al-Mushannaf 4/329/7960, Ibnu Hibban dalam adh-Dhu’afa 2/33, al-Bazzar dalam Musnadnya 2/74/1237 Kasyful Astar ; dan Ibnu Adi dalam al-Kamil lembaran ke 209/1. Jalur ini juga disebutkan oleh adz-Dzahabi dalam biografi Abdullah bin Muharrar di dalam kitab al-Mizan. Dalam at-Talkhis (4/147) al-Hafizh ibnu Hajar menisbatkan riwayat ini kepada al-Baihaqi.

Jalur ini sangat dha’if karena perawi yang bernama Abdullah bin Muhrarrar adalah sangat dha’if.

2. Dari al-Haitsam bin Jamil ; dia berkata, Abdullah bin al-Mutsanna bin Anas menuturkan kepada kami, dari Tsumamah bin Anas, dari Anas bin Malik.
Jalan periwayatan ini diriwayatkan oleh ath-Thahawi dalam kitab Musykilul Atsar 1/461, ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath 1/55/2, no. 976 dengan penomoran syaikh al-Albani ; Ibnu Hazm dalam al-Muhalla 8/321, adh-Dhiya al-Maqdisi dalam al-Mukhtarah lembaran 71/1. Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Ini sanadnya hasan. Para perawinya dijadikan hujjah oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahiihnya, selain al-Haitsam bin Jamil, dan dia ini tsiqah (terpercaya) hafizh (ahli hadits), termasuk guru Imam Ahmad”.

Kesimpulannya: Orang yang tidak diaqiqahi sewaktu kecil disunatkan untuk mengaqiqahi dirinya di waktu dewasa.

***
Disalin dari:
majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun IV/1432H/2011M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196
Artikel:
http://www.almanhaj.or.id

* * * * *

FATWA TERKAIT AQIQAH SETELAH DEWASA
(Oleh: Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan alu Salman)

SOAL:
Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan alu Salman ditanya : Hadits bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi dirinya setelah diutus sebagai Nabi dikatakan oleh Nawawi[1] bahwa hadits tersebut munkar karena kesendirian Abdullah bin Muharrar. Bagaimana komentar syaikh tentang perkataan itu?

JAWAB:
Perkataan Nawawi telah didahului sebelumnya oleh perkataan Ibnu Abi Hatim dalam ‘Ilal Hadits. Maka selayaknya seseorang untuk menyandarkan kepada sumber aslinya. Pernyataan bahwa hadits ini munkar adalah perkataan Ibnu Abi Hatim dalam ‘Ilal Hadits menukil dari Abu Zur’ah ar-Razi, bukan dari ayahnya. Syaikh kami telah menanggapi perkataan ini dalam Silsilah as-Shahihah 6/502-506 no. 2726 dan beliau menshahihkan hadits ini. Oleh karena itu, saya kemarin mengatakan tentang hadits ini : “Dishahihkan oleh sebagian ahli hadits”. Itulah yang saya katakan dan saya tahu persis perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang keabsahan dan kelemahannya sekalipun hati saya lebih cenderung untuk mengatakan bahwa hadits ini hasan. Untuk lebih detailnya dapat diperiksa Silsilah as-Shahihah juz 6 hal. 502-506.
.

PERTANYAAN:
Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan alu Salman ditanya : Bolehkah bagi seseorang yang belum mengaqiqahi dirinya untuk melakukannya tatkala sudah dewasa dan bagaimana pendapat syaikh terhadap orang yang membid’ahkannya?

JAWABAN:
Kita tidak mengatakannya bid’ah. Sebagian ahli ilmu telah mengamalkannya[2]. Aqiqah bagi orang dewasa boleh berdasarkan hadits diatas. Dan kapan saja terjadi perbedaan pendapat diantara ahli hadits lebih-lebih dalam masalah-masalah rumit seperti ini, hendaknya penuntut ilmu untuk menghargai perselisihan pendapat. Sehingga dia dapat memahami kapan dia mengingkari dan kapan dia membahas. Merupakan musibah sekarang ini –terutama pemuda dakwah salafiyah- mereka tidak mendalami ilmu syar’i, tetapi ingin menghukumi masalah-masalah rumit seperti ini yang belum ada keterangan yang jelas dari para ulama salaf. Jadi, perdalamlah ilmu syar’i terlebih dahulu dan jangan sibukkan dengan masalah-masalah rumit seperti ini.

(Disarikan dari soal jawab bersama beliau pada acara daurah di Lawang Jawa Timur 24-28 Rabiuts Tsani 1424H dengan beberapa tambahan seperlunya)

Footnote:

[1]. Teks perkataan Nawawi dalam al-Majmu (8/431-432) tentang hadits ini adalah : “Hadits ini bathil”, dan dinukil juga oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam at-Talkhis (4/1498). Barangkali yang benar adalah Imam Baihaqi karena beliu mengatakan tentang hadits ini,”Munkar” sebagaimana dalam at-Talkhis juga.

[2]. Diantaranya adalah Imam Muhammad bin Sirin sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (8/235-236), Hasan al-Bashri sebagaimana diriwayatkan Ibnu Hazm dalam al-Muhalla (8/322). Inilah yang dipilih oleh Imam Ibnu Hazm dan syaikh al-Albani dalam as-Shahihah (no. 2726), bahkan pendapat ini juga dikuatkan oleh Lajnah Daimah yang diketahui oleh samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam fatwanya (11/438,439) dan pada hal. 447 dinyatakan bahwa ini adalah pendapat Hanabilah dan sejumlah para fuqaha. Lantas bagaimana dikatakan bid’ah, fahamilah!
.

Disalin dari: Majalah Al-Furqon, Edisi 12, Tahun ke-II/Th 2003M. Diterbitkan Oleh Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon Al-Islami, Alamat : Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim
Artikel:
http://almanhaj.or.id/content/1287/slash/0/aqiqah-setelah-dewasa/

* * * * *

STUDI HADITS NABI Shollallohu ‘alayhi wasallam MENGAQIQAHI DIRINYA

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَرَّرٍ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَ مَا بُعِثَ بِالنُّبُوَّةِ ”
Dari ‘Abdullah bin Muharrar, dari Qataadah, dari Anas, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi dirinya setelah diutus sebagai Nabi”
[Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 7960].

Diriwayatkan juga oleh Ibnul-Madiiniy dalam Al-‘Ilal hal. 53 no. 58, Al-Bazzaar dalam Al-Bahr 13/478-479 no. 7281 dan dalam Kasyful-Astaar 2/74 no. 1237, Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil 5/214, Ar-Ruuyaaniy dalam Al-Musnad 2/386 no. 1371, Ibnu Hibbaan dalam Al-Majruuhiin 2/23, dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 9/300 (9/505) no. 19273.
Semuanya dari jalan ‘Abdullah bin Muharrar, dari Qataadah, dari Anas secara marfuu’.
Sanad riwayat ini sangat lemah karena faktor ‘Abdullah bin Al-Muharrar (Al-‘Aamiriy Al-Jazriy Al-Harraaniy), seorang yang matruuk.
[Taqriibut-Tahdziib, hal. 540 no. 3598]

Adapun Qataadah bin Di’aamah adalah seorang yang tsiqah lagi tsabt.
[Taqriibut-Tahdziib hal. 798 no. 5553]

‘Abdullah bin Muharrar mempunyai mutaba’ah dari :

1. Ismaa’iil bin Muslim
Sebagaimana dinukil Ibnu Hajar dalam Fathul-Baariy (9/595) dari Abusy-Syaikh. Kami belum mendapati sanad dari Abusy-Syaikh untuk diteliti, akan tetapi Ibnu Hajar berkata bahwa ada kemungkinan Ismaa’iil bin Muslim mencuri hadits dari ‘Abdullah bin Al-Muharrar. Apapun itu, jalur sanad Ismaa’iil bin Muslim ini sama sekali tidak bisa menjadi penguat bagi riwayat Ibnu Muharrar.

2. ‘Abdullah Al-Jurasyiy.
Diriwayatkan oleh Ibnu Syaahiin dalam Al-Khaamis minal-Afraad no. 3 :

حَدَّثَنَا الْقَاسِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْمَحَامِلِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ يَعْقُوبَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو قَتَادَةَ الْحَرَّانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ الْجُرَشِيُّ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَمَا أُنْزِلَتِ الْنُبُوَّةُ
Telah menceritakan kepada kami Al-Qaasim bin Ismaa’iil  Al-Mahaamiliy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Ya’quub, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Qataadah Al-Harraaniy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah Al-Jurasyiy, dari Qataadah, dari Anas secara marfuu’..

Sanad riwayat ini sangat lemah dengan sebab ‘Abdullah bin Waaqid Abu Qataadah Al-Harraaniy, seorang yang matruuk [Taqriibut-Tahdziib, hal. 555 no. 3711].

Qataadah mempunyai mutaba’ah dari Tsumaamah bin ‘Abdillah bin Anas.

Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Musykiilul-Aatsaar 3/78 no. 1053:

مَا حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَنْصُورٍ الْبَالِسِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْهَيْثَمُ بْنُ جَمِيلٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى بْنِ أَنَسٍ، عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَنَسٍ ” أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَمَا جَاءَتْهُ النُّبُوَّةُ “.

Ibnu Abid-Dun-yaa dalam Al-‘Iyaal hal. 208 no. 66;

حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ، حَدَّثَنَا الْهَيْثَمُ بْنُ جَمِيلٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى بْنِ أَنَسٍ، حَدَّثَنِي ثُمَامَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَمَا جَاءَتْهُ النُّبُوَّةُ

Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath no. 994;

حَدَّثَنا أَحْمَدُ، قَالَ: نا الْهَيْثَمُ، قَالَ: نا عَبْدُ اللَّهِ، عَنْ ثُمَامَةَ، عَنْ أَنَسٍ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَ مَا بُعِثَ نَبِيًّا

Dan Adl-Dliyaa’dalam Al-Mukhtarah 5/204-205 no. 1832-1833;

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ نَصْرٍ، بِأَصْبَهَانَ، أَنَّ الْحَسَنَ بْنَ أَحْمَدَ الْحَدَّادَ أَخْبَرَهُمْ، وَهُوَ حَاضِرٌ، أنبا أَبُو نُعَيْمٍ، أنبا سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ الطَّبَرَانِيُّ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ مَسْعُودٍ، هُوَ الْمَقْدِسِيُّ، قثنا الْهَيْثَمُ بْنُ جَمِيلٍ، قثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى، عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَمَا بُعِثَ نَبِيًّا

Penjelasan:
(Beberapa riwayat diatas) dari tiga jalan;
1. Al-Hasan bin ‘Abdillah,
2. ‘Amru bin Naaqid, dan
3. Ahmad Al-Haitsam bin Jamiil,
Ia berkata; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Al-Mutsannaa bin Anas, dari Tsumaamah bin Anas, dari Anas secara marfuu’.

Diriwayatkan juga oleh Ath-Thahawiy dalam Musykiilul-Aatsaar 3/79 no. 1054: 

وَمَا حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ نَصْرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْهَيْثَمُ بْنُ جَمِيلٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى بْنِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي رَجُلٌ، مِنْ آلِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، ثُمَّ ذَكَرَ مِثْلَهُ.
Telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Nashr, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Haitsam bin Jamiil, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Al-Mutsannaa bin Anas bin Maalik, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari keluarga Anas bin Maalik, dari Anas, kemudian ia menyebutkan semisal hadits sebelumnya.

Sanad riwayat ini lemah ‘Abdullah bin Al-Mutsannaa seorang yang shaduuq, namun banyak salah (shaduuq, katsiirul-ghalath) [Taqriibut-Tahdziib, hal. 540 no. 3596].

Ada* yang mengatakan bahwa riwayat ‘Abdullah bin Al-Mutsannaa ini hasan karena ia mengambil riwayat dari pamannya (Tsumaamah bin Anas), dan Al-Bukhaariy berhujjah dengan riwayat mereka dalam kitab Shahiih-nya.

Tahsiin ini tidaklah benar. Sudah ma’ruuf dalam ilmu mushthalah bahwa Al-Bukhaariy meriwayatkan beberapa hadits dalam kitab Shahiih-nya dari beberapa perawi yang lemah. Beliau rahimahullah mencantumkan hadits beberapa perawi lemah tersebut dalam kitab Shahiih-nya karena ada qarinah bahwa hadits tersebut shahih/hasan. Selain itu, Al-Bukhaariy berhujjah dengan riwayat ‘Abdullah bin Al-Mutsannaa dari Tsumaamah hanya dalam mutaba’ah saja, sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar rahimahullah dalam Hadyus-Saariy (1/416).

Di kesempatan lain Ibnu Hajar rahimahullah berkata setelah menyebutkan perkataan beberapa ulama kepada ‘Abdullah bin Al-Mutsannaa :

فهذا من الشيوخ الذين إذا انفرد أحدهم بالحديث لم يكن حجة،
“Orang ini termasuk di antara para syaikh yang jika bersendirian dalam periwayatan hadits tidak bisa dipergunakan sebagai hujjah” [Fathul-Baariy, 9/595].

‘Abdullah bin Al-Mutsannaa ini bersendirian dalam periwayatan dari Tsumaamah. Adapun penguat dari jalur Qataadah, maka kualitasnya sangat lemah.

Walhasil, hadits ini dengan keseluruhan jalannya adalah lemah, tidak dapat dipergunakan sebagai hujjah.

Hadits ini telah dilemahkan oleh Al-Baihaqiy, An-Nawawiy, Ibnu Hajar, dan yang lainnya.
Wallaahu a’lam.

______
Sumber:
http://abul-jauzaa.blogspot.com/2013/03/kelemahan-hadits-nabi-mengaqiqahi.html?m=0

*Note:
Al-Muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani berpendapat lain dalam mengomentari hadits riwayat ‘Abdullah bin Mutsanna diatas sebagaimana yang ternukil dari penjelasan Syaikh Masyhur Hasan alu Salman yang telah lalu, beliau Rahimahullah berkata:

ﻗﻠﺖ : ﻭ ﻫﺬﺍ ﺇﺳﻨﺎﺩ ﺣﺴﻦ ﺭﺟﺎﻟﻪ ﻣﻤﻦ ﺍﺣﺘﺞ ﺑﻬﻢ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻓﻲ ” ﺻﺤﻴﺤﻪ ” ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻬﻴﺜﻢ ﺍﺑﻦ ﺟﻤﻴﻞ ﻭﻫﻮ ﺛﻘﺔ ﺣﺎﻓﻆ ﻣﻦ ﺷﻴﻮﺥ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻢ
Aku berkata: Isnad hadits ini hasan, para perawinya adalah orang-orang yang dijadikan hujjah oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, kecuali Al Haitsam bin Jamil, dia adalah terpercaya, seorang haafizh, dan termasuk guru dari Imam Ahmad.
[As-Silsilah Ash-Shahihah, 6/502]

Sehingga, meskipun sanad hadits riwayat Imam Abdurrazzaq adalah dhaif (karena seorang rawi ‘Abdullah bin Muharrar), Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits tersebut dengan status SHAHIH LI GHAIRIHI, karena beberapa riwayat yang menguatkannya.
[Lihat Silsilah Ash-Shahihah, 6/502]

*

– SELESAI –

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Ada yg bilang, semuanya gk berguna ap bila lewat dr 7 hari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s