Tanda Hitam di Dahi (Apakah Merupakan Tanda Niat Yang Tidak Ikhlas ?)

Posted: Agustus 8, 2011 in Adab
Tag:,

TANYA:
Ada seorang teman mengatakan bahwa tanda hitam di dahi merupakan suatu cela dan pertanda niat yang tidak ikhlash. Dikatakan, bahwa tidak ada satu pun shahabat yang mempunyai tanda hitam itu. Begitu juga Nabi. Bagaimana pendapat Anda ?

JAWAB:
Sebaik-baik perkataan adalah yang pertengahan.

Pertama
Adalah perkataan yang salah jika ada orang yang mengatakan bahwa tanda hitam di dahi merupakan ciri-ciri pasti orang yang shaalih. Tidak ada satu pun riwayat shahih yang menyatakan demikian – sepengetahuan saya – , baik dari kalangan shahabat radliyallaahu ‘anhum, para ulama, apalagi dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, orang-orang Khawaarij – yang notabene termasuk katagori golongan sesat – pun mempunyai tanda ini.

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، ثنا عَفَّانُ، ثنا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ بِلالِ بْنِ بُقْطُرٍ، عَنْ أَبِي بَكْرَةَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِدَنَانِيرَ، فَقَسَمَهَا، فَكُلَّمَا قَبَضَ قَبْضَةً نَظَرَ عَنْ يَمِينِهِ كَأَنَّهُ يُؤَامِرُ أَحَدًا، وَقَالَ حَمَّادٌ: وَعِنْدَهُ رَجُلٌ أَسْوَدُ مَطْمُومُ الشَّعْرِ، عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَبْيَضَانِ، بَيْنَ عَيْنَيْهِ أَثَرُ السُّجُودِ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، مَا عَدَلْتَ مُنْذُ الْيَوْمِ فِي الْقِسْمَةِ، قَالَ: فَغَضِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: ” مَنْ يَعْدِلُ عَلَيْكُمْ بَعْدِي؟ “، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلا نَقْتُلُهُ؟ قَالَ: ” لا، إِنَّ هَذَا وَأَصْحَابَهُ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لا يَتَعَلَّقُونَ مِنَ الإِسْلامِ بِشَيْءٍ “
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr : Telah menceritakan kepada kami ‘Affaan : telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari ‘Athaa’ bin As-Saaib, dari Bilaal bin Yuqthur, dari Abu Bakrah : Bahwasannya didatangkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sejumlah uang dinar, lalu beliau membagi-bagikannya. Setiap orang segenggam-segenggam. Lalu beliau melihat ke samping kanannya seakan-akan hendak menyuruh seseorang. – Hammad berkata – : Di samping beliau ada seorang laki-laki berkulit hitam, berambut lebat, memakai dua pakaian putih, dan di antara kedua matanya terdapat tanda bekas sujud. Lalu ia berkata : “Wahai Muhammad, engkau tidak adil sejak hari ini dalam pembagian”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam marah dan bersabda : “Lantas, siapakah yang akan berbuat adil kepada kalian sepeninggalku nanti ?”. Para shahabat berkata : “Wahai Rasulullah, tidakkah kami bunuh saja ia ?”. Beliau menjawab : “Jangan. Sesungguhnya orang ini dan teman-temannya kelak akan keluar dari dien (agama Islam) seperti keluarnya anak panah dari busurnya, mereka tidak termasuk dari golongan Islam sama sekali” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘aashim dalam As-Sunnah no. 927; shahih lighairihi].

Allah ta’ala tidaklah menjadikan ciri fisik seseorang sebagai satu kemutlakan tanda bagi keimanan, karena Allah hanya akan melihat kepada keikhlashan dan keshalihan amal. Allah ta’ala berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” [QS. Al-Bayyinah : 5].

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya” [QS. Al-Kahfiy : 110].

حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ، حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ هِشَامٍ، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ بُرْقَانَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْأَصَمِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ، وَأَعْمَالِكُمْ “
Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Naaqid : Telah menceritakan kepada kami Katsiir bin Hisyaam : Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Burqaan, dari Yaziid bin Al-Asham, dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allah tidaklah melihat pada rupa-rupa dan harta-harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati-hati kalian dan amal-amal kalian” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2564].

Bahkan, telah diriwayatkan dari sebagian salaf yang membenci keberadaan tanda/bekas hitam di dahi.

حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ، عَنْ أَشْعَثَ بْنِ أَبِي الشَّعْثَاءِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: كُنْتُ قَاعِدًا عِنْدَ ابْنِ عُمَرَ فَرَأَى رَجُلًا قَدْ أَثَّرَ السُّجُودُ فِي وَجْهِهِ، فَقَالَ: ” إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ فَلَا يَشِينُ أَحَدُكُمْ صُورَتَهُ “
Telah menceritakan kepada kami Abul-Ahwash, dari Asy’ats bin Abisy-Sya’tsaa’, dari ayahnya, ia berkata : Aku pernah berdiri di samping Ibnu ‘Umar, lalu ia melihat seorang laki-laki yang mempunyai tanda bekas sujud di wajahnya. Ibnu ‘Umar berkata : “Sesungguhnya rupa seorang laki-laki itu ada di wajahnya. Maka, janganlah salah seorang di antara kalian memburukkan rupanya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 1/308; shahih].

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ ثَوْرٍ، عَنْ أَبِي عَوْنٍ الْأَعْوَرِ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ أَنَّهُ رَأَى امْرَأَةً بَيْنَ عَيْنَيْهَا مثل ثَفِنَةِ الشَّاةِ، فَقَالَ: ” أَمَا إِنَّ هَذَا لَوْ لَمْ يَكُنْ بَيْنَ عَيْنَيْكَ كَانَ خَيْرًا لَكَ
Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Tsaur, dari Abu ‘Aun Al-A’war, dari Abud-Dardaa’, bahwasannya ia pernah melihat seorang wanita yang di antara dua matanya ada tanda seperti tsafinatusy-syaah (kulit keras yang ada di lutut kambing = ‘kapalan’). Maka ia berkata : “Sesungguhnya tanda ini, jika tidak ada di antara dua matamu, niscaya lebih baik bagimu” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 1/308; lemah karena Abu ‘Aun seorang perawi yang maqbuul, dan ada kekhawatiran keterputusan (inqitha’) antara Abu ‘Aun (thabaqah kelima) dengan Abud-Dardaa’ (thabaqah pertama)].

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، قَالَ: ” لَيْسَ بِهَذَا الأَثَرِ الَّذِي فِي الْوَجْهِ، وَلَكِنَّهَا الْخُشُوعُ “
Telah menceritakan kepada Sufyaan, dari manshuur, dari Mujaahid, ia berkata : “Bukanlah dengan tanda yang ada di wajah ini (yang dimaksudkan dalam ayat ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’), akan tetapi ia adalah kekhusyukan” [Az-Zuhd oleh Wakii’ bin Al-Jarraah no. 137; shahih].

Kedua
Begitu juga sikap yang salah jika kita mengedepankan su’udhdhan, bahkan sampai terlontar kata-kata, bahwa orang yang mempunyai bekas/tanda hitam di dahinya merupakan orang yang tidak ikhlash dalam beramal.
Apakah ada nash dari Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang shahih bahwasannya tanda hitam di dahi merupakan tanda kemunafikan lagi ketidakikhlashan ?. Apakah ada malaikat yang membisiki yang memberitahukannya bahwa orang itu tidak ikhlash dalam beramal, sementara keikhlashan itu merupakan amal hati ?.

Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa” [QS. Al-Hujuraat : 12].

Bahkan ada riwayat shahih dari ‘Ikrimah bahwa ia menafsirkan ayat : ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ (QS. Al-Fath : 29) adalah dhahir tanda yang melekat di wajah/dahi.

حَدَّثَنَا ابْنُ مَرْزُوقٍ، حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ إسْمَاعِيلَ الْخَزَّازُ، عَنِ ابْنِ الْمُبَارَكِ، عَنْ مَالِكِ بْنِ دِينَارٍ قَالَ: سَمِعْتُ عِكْرِمَةَ، وَسُئِلَ ” سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ، قَالَ: أَثَرُ التُّرَابِ “
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Marzuuq : Telah menceritakan kepada kami Haaruun bin Ismaa’iil Al-Khazzaaz, dari Ibnul-Mubaarak, dari Maalik bin Diinaar, ia berkata : Aku pernah mendengar ‘Ikrimah ditanya tentang ayat : ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’, maka dia menjawab : ‘Bekas tanah/debu (yang ada di dahi)” [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Musykilul-Aatsaar no. 305; shahih].

Maksudnya, orang yang banyak melakukan shalat, maka akan ada di dahinya bekas tanah dari tempat ia sujud. Dan sebagian salaf kita mempunyai tanda tersebut.

فَحَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ، قال: حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ عَمْرٍو، قَالَ: ” رَأَيْتُ فِي جَبْهَةِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ أَثَرَ السُّجُودِ “
Telah menceritakan kepada kami Al-Hakam bin Naafi’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Shafwaan bin ‘Amru, ia berkata : “Aku pernah melihat dahi ‘Abdullah bin Busr ada tanda/bekas sujud” [Diriwayatkan oleh Abu Zur’ah dalam At-Taariikh no. 178; shahih].

‘Abdullah bin Busr adalah salah seorang shahabat kecil (shighaarush-shahaabah).

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ مَالِكٍ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ. ح وَحَدَّثَنَا أَبُو حَامِدِ بْنُ جَبَلَةَ، وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، ثنا الْوَلِيدُ بْنُ شُجَاعٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، ثنا الْعَلاءُ بْنُ عَبْدِ الْكَرِيمِ الأَيَامِيُّ، قَالَ: ” كُنَّا نَأْتِي مُرَّةَ الْهَمْدَانِيَّ، فَيَخْرُجُ إِلَيْنَا، فَنَرَى أَثَرَ السُّجُودِ فِي جَبْهَتِهِ وَكَفَّيْهِ وَرُكْبَتَيْهِ وَقَدَمَيْهِ……
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Maalik : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Haamid bin Habalah, dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ishaaq : telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Syujaa’ : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepada kami Al-‘Alaa’ bin ‘Abdil-Kariim Al-Ayaamiy, ia berkata : “Kami pernah mendatangi Murrah Al-Hamdaaniy, lalu ia pun keluar menemui kami. Kami melihat bekas sujud di dahinya, kedua telapak tangannya, kedua lututnya, dan kedua kakinya….” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 4/162; shahih].

Murrah bin Syaraahiil Al-Hamdaaniy, seorang ulama dari kalangan kibaarut-taabi’iin.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَعْدٍ، قَالَ: أخبرنا مَعْنُ بْنُ عِيسَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا بِلالُ بْنُ أَبِي مُسْلِمٍ، قَالَ: ” رَأَيْتُ أَبَانَ بْنَ عُثْمَانَ بَيْنَ عَيْنَيْهِ أَثَرُ السُّجُودِ قَلِيلا “
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’d, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Ma’n bin ‘Iisaa, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Bilaal bin Muslim, ia berkata : “Aku melihat Abaan ‘Utsmaan, di antara kedua matanya terdapat sedikit bekas sujud” [Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Al-Kubraa, 5/78; namun sanadnya dla’iif karena Bilaal bin Abi Muslim, seorang yang majhuul].

قَالَ أَبُو الْيَمَانِ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: ” رَأَيْتُ فِيَ جَبْهَةِ حَكِيمِ بْنِ عُمَيْرٍ أَثَرَ السُّجُودِ “
Telah berkata Abul-Yamaan, dari Shafwaan bin ‘Amru ia berkata : “Aku melihat di dahi Hakiim bin ‘Umair ada bekas/tanda sujud” [Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Al-Kubraa, 7/212; shahih].

Al-Hakiim bin ‘Umair Al-Ahwash Al-‘Ansiy adalah seorang ulama generasi taabi’iin pertengahan.

قَالَ أَبُو الْيَمَانِ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: ” رَأَيْتُ فِيَ جَبْهَةِ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ أَثَرَ السُّجُودِ “
Telah berkata Abul-Yamaan, dari Shafwaan bin ‘Amru, ia berkata : “Aku melihat di dahi Khaalid bin Ma’daan terdapat bekas/tanda sujud” [Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Al-Kubraa, 7/214; shahih].

Khaalid bin Ma’daan Asy-Syaamiy Al-Himshiy, seorang ulama ahli ibadah dari generasi taabi’iin pertengahan.

Dan yang lainnya…..

Ikhwah,…. dapat kita lihat perbedaan di kalangan salaf dalam hal ini. Di antara mereka ada yang membencinya, di antara mereka ada pula yang membolehkannya. Oleh karena itu, Al-Imaam Ibnu Abi Syaibah membuat dua bab dalam Al-Mushannaf yang memuat ulama-ulama yang membenci dan membolehkannya [Al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah : 1/308].

Tentu saja, ulama kita yang membolehkan harus dipahami bahwa tanda sujud tersebut merupakan satu hal yang kadang ‘tidak bisa dihindari’ bagi mereka yang giat dalam ibadah shahalatnya. Dan itu tercermin dari riwayat-riwayat sebagaimana di atas. Selain terkait banyaknya aktifitas shalat, tanda/bekas ini juga terkait sensitifitas kulit masing-masing orang. Orang yang sedikit shalat, kadang muncul tandanya hitam itu karena kulitnya tipis, dan sebaliknya kadang orang yang banyak shalat dan sujudnya lama tidak muncul tanda hitam ini karena keadaan kulitnya berbeda.

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya : Apakah tanda bekas sujud di dahi merupakan tanpa bagi orang yang shaalih ?, maka beliau menjawab :

ليس هذا من علامات الصالحين ، وإنما هو النور الذي يكون في الوجه ، وانشراح الصدر ، وحسن الخلق . . . وما أشبه ذلك ، أما الأثر الذي يسببه السجود في الوجه فقد تظهر في وجوه من لا يصلون إلا الفرائض لرقة الجلد ، وقد لا تظهر في وجه من يصلي كثيراً ويطيل السجود .
“Ini bukan (mutlak) tanda-tanda orang yang shaalih. Hanya saja ini yang dimaksud adalah cahaya yang nampak pada wajah, lapang dada, dan akhlak yang baik….dan yang semisal dengannya….. Adapun bekas tanda akibat sujud pada wajah maka bisa juga tampak pada orang tidak sholat kecuali sholat wajib saja. Karena jenis kulit yang tipis. Dan terkadang juga tidak muncul pada orang yang banyak sholat serta sujudnya lama….”.
•dikutip dari: http://salafyitb.wordpress.com/2007/01/11/simahum-fii-wujuhihim-min-atsaris-sujud/

Namun apapun itu, lebih utama bagi kita mengedepankan sikap husnudhdhan kepada saudara-saudara kita yang muslim. Jika kita melihat mereka yang mempunyai tanda/bekas hitam di dahi, kita positif thinking bahwa itu muncul karena ia rajin beribadah kepada Allah ta’ala, sehingga dapat memicu kita untuk menirunya, berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita berdoa agar Allah ta’ala memperbanyak orang seperti dia, dan berharap agar amalnya (dan juga amal kita) diterima.

Dan bagi pribadi, kita tidak perlu effort untuk mengada-adakan tanda/bekas sujud itu di dahi kita. Hendaknya kita ingat akan hadits tentang tiga jenis orang yang pertama kali dihisab di hari kiamat yang didustakan oleh Allah atas sanjungan manusia akan amal ibadah palsu mereka di dunia. Riya’ tidak akan membuahkan apa-apa kecuali kerugian dan penyesalan.

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” [QS. Al-Furqaan : 23].

Hati ini sangat lemah sehingga keikhlashan seringkali tercampuri, bahkan akhirnya tertutupi, dengan riya’.

اللَّهُمَّ إناَّ نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ, وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُه
“Ya, Allah! Sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui. Dan kami memohon ampunan kepada-Mu dari dosa (syirik) yang kami tidak mengetahuinya.”.

Itu saja yang dapat dijawab.

Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
.

***
Sumber:
http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/03/apakah-tanda-hitam-di-dahi-merupakan.html?m=0

* * * * *

TAFSIR AYAT:

سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ
“Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud”

Allahu ta’ala berfirman:

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”
[Al-Fath : 29]

Firman Allah ta’ala:

سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ
“Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud”

Al-Imam Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah berkata: ”Tanda-tanda mereka di wajah-wajah mereka dari bekas-bekas sholat mereka”

Ahli tafsir berbeda pandangan dalam menafsirkan makna “As-Sima” (tanda-tanda) yang Allah ta’ala maksudkan dalam ayat ini;

Pendapat pertama:
Tanda yang dimaksud adalah tanda-tanda yang Allah jadikan di wajah-wajah kaum mukminin dihari kiamat kelak, mereka dikenali karena bekas sujudnya di dunia.

Diantara yang berpendapat dengan pendapat diatas diantaranya adalah sebagai berikut:

1. حدثني محمد بن سعد , قال : ثني أبي , قال : ثني عمي , قال : ثني أبي , عن أبيه , عن ابن عباس { سيماهم في وجوههم من أثر السجود } قال : صلاتهم تبدو في وجوههم يوم القيامة
Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu, beliau berkata mengenai ayat “Simahum fi wujuhihim min atsaris sujud”: Sholat mereka yang nampak pada wajah-wajah mereka di hari kiamat.

2. عن خالد الحنفي , قوله : { سيماهم في وجوههم من أثر السجود } قال : يعرف ذلك يوم القيامة في وجوههم من أثر سجودهم في الدنيا , وهو كقوله : { تعرف في وجوههم نضرة النعيم }
Khalid Al-Hanafiy,
dia berkata bahwa mereka dikenal dihari kiamat pada wajah-wajah mereka dari bekas sujud didunia.
Ini seperti ucapan Allah “ta’rifu fi wujuhihim nadhrotan na’im” (Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan-Al-Muthoffifin 24)

3. حدثني عبيد بن أسباط بن محمد , قال : ثنا أبي , عن فضيل بن مرزوق , عن عطية , في قوله : { سيماهم في وجوههم من أثر السجود } قال : مواضع السجود من وجوههم يوم القيامة أشد وجوههم بياضا
Dari ‘Athiyah, dia menjelaskan maksudnya: ”Tempat-tempat sujud di wajah-wajah mereka di hari kiamat sangat putih”

4. حدثنا ابن عبد الأعلى , قال : ثنا المعتمر , قال : سمعت شبيبا يقول عن مقاتل بن حيان , قال : { سيماهم في وجوههم من أثر السجود } قال : النور يوم القيامة
Dari Muqotil bin Hayan, beliau menafsirkan: “Cahaya di hari kiamat”

5. حدثنا ابن سنان القزاز , قال : ثنا هارون بن إسماعيل , قال : قال علي بن المبارك : سمعت غير واحد عن الحسن , في قوله : { سيماهم في وجوههم من أثر السجود } قال : بياضا في وجوههم يوم القيامة .
Al-Hasan
menjelaskan maksudnya: ”Putihnya wajah-wajah mereka dihari kiamat”. Pendapat ini pula yang dinisbatkan kepada Ibnu Zubair (lihat penjelasan imam al-Qurtubi dalam tafsirnya). Tapi Al-Hasan juga disebutkan dalam Tafsir Imam Quthubi mengatakan “Idza roaytahum hasibtahum mardho wa ma hum bi mardho” (Jika engkau melihatnya akan kau kira mereka sedang sakit, padahal mereka tidak sakit).

Pendapat kedua.
Tanda yang dimaksud adalah tanda-tanda keislaman, kekhusyu’an dan bisa saja dapat dilihat didunia.

Diantara yang berpendapat demikian diantaranya:

1. حدثنا علي , قال : ثنا أبو صالح , قال : ثني معاوية , عن علي , عن ابن عباس , في قوله : { سيماهم في وجوههم } قال : السمت الحسن
Perkataan Ibnu Abbas
yang lain, beliau mengatakan maksud “simahum fi wujuhihim” yakni samt (penanda) yang baik.
Ini bisa diliat juga dalam tafsir Ibn Katsir.

2. حدثنا ابن بشار , قال : ثنا أبو عامر , قال : ثنا سفيان , عن حميد الأعرج , عن مجاهد { سيماهم في وجوههم من أثر السجود } قال : الخشوع والتواضع
Dari Mujahid beliau berkata tentang ayat ini, maksudnya khusyu’ dan tawadhu’.
Mujahid juga pernah ditanya sebagaiamana disebutkan dalam tafsir Imam Qurthubi, apakah tanda ini yang nampak pada diantara kedua bagian mata seorang lelaki, kata beliau bukan tetapi kadang bisa saja ada tanda itu, sesungguhnya adalah cahaya pada wajah-wajah mereka karena khusyu’.

3. حدثنا ابن حميد , قال : ثنا جرير , عن منصور , عن مجاهد , في قوله : { سيماهم في وجوههم من أثر السجود } قال : هو الخشوع , فقلت : هو أثر السجود , فقال : إنه يكون بين عينيه مثل ركبة العنز , وهو كما شاء الله
Dari Ibnu Humaid, dari Mujahid, maksud dari “Simahum fi wujuhihim min atsaris sujud” adalah Khusyu’.
[Bisa dilihat juga di Tafsir Ibn Katsir]

4. وقال شهر بن حوشب : يكون موضع السجود من وجوههم كالقمر ليلة البدر
Berkata Syahr bin Hawsyab: Adalah tempat sujud dari wajah-wajah mereka seperti bulan malam purnama.

5. قال شمر بن عطية : هو صفرة الوجه من قيام الليل
Berkata Syamr bin ‘Athiyah, yakni kuning wajahnya akibat qiyamul lail.
Ad-Dhohak juga berkata semisal ini.

Berkaitan dengan pendapat kedua ini, dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan pula akan hubungan ini. Kata beliau rahimahullah, sebagian salaf mengatakan “Man katsuro sholatuhu bil lail hasuna wajhuhu bin nahar” (siapa yang banyak sholat malam, akan nampak wajahnya yang bagus di siang harinya). Bahkan ucapan ini adalah hadist mauquf oleh Imam Ibnu Majah dalam sunannya.

Sebagian salaf juga mengatakan “innal lil hasanah nuuron fil qolbi, wa dhiya’ a fil wajhi wa si’atan fir rizqi wa mahabatan fi qulubin naas” (sesungguhnya bagi kebaikan itu ada cahaya di hati, cerah di wajah, kelapangan rezeki, serta rasa cinta di hati-hati manusia).

Pendapat ketiga
Tanda yang dimaksud adalah tanda sujud pada wajah bekas debu tanah.

Diantara yang berpendapat ini antara lain pendapat Ikrimah:

حدثنا ابن سنان القزاز , قال : ثنا هارون بن إسماعيل , قال : ثنا علي بن المبارك , قال : ثنا مالك بن دينار , قال : سمعت عكرمة يقول : { سيماهم في وجوههم من أثر السجود } قال : هو أثر التراب
Kata beliau maksudnya adalah jejak tanda tanah (debu).
Pendapat hampir serupa ini dinisbatkan pada Said bin Zubair.

Yang rajih dalam pandangan mengenai makna “simahum fi wujuhihim min atsar as-sujud” adalah pendapat yang mengatakan bahwa ini cahaya ketaatan dan ibadah.

Adapun tanda yang bisa saja muncul bukanlah tanda mutlak keshalehan seseorang atau keikhlasannya. Bukan pula dalil bagi yang tidak memiliki tanda ini sebagai orang yang kurang dalam keshalehan atau keikhlasannya. Karena ini hanya Allah ta’ala yang mengetahuinya.

Sebagaimana Pendapat Al-Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah ta’ala yang telah ternukil dipembahasan diatas.

***
Sumber:
http://salafyitb.wordpress.com/2007/01/11/simahum-fii-wujuhihim-min-atsaris-sujud/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s