Wasilah dan Uslub (Metode) Manhaj Salaf dalam Berdakwah

Posted: April 10, 2012 in Manhaj
Tag:,

Oleh; Asy Syaikh Fawwaz bin Hulayil bin Rabah As Suhaimi
.

# BAGIAN PERTAMA

USLUB AL HIKMAH
Siapa yang Berhak Diajak Dengan Uslub Ini ?

• Pengertian hikmah secara bahasa dan istilah

Kata al hikmah kadang dimutlakkan kepada pengertian ilmu dan pemahaman (fiqh). termasuk apa yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

“Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak” (Maryam: 12)

Orang-orang arab mengatakan; “Hakamtu, Ahkamtu, dan Hakkamtu sama maknanya dengan mana’tu dan radadtu (menolak, mencegah). Dari pengertian ini dikatakanlah orang yang memutuskan perkara di antara manusia sebagai hakim.
[Tahdzibul Lughah (4/110-111)]

Kadang juga dimutlakkan dengan makna adil. Dikatakan juga: Ahkamul Amru yang artinya Atqanah (mengokohkannya), dan al hakiim artinya al mutqin lil umur (kuat dalam mengurus suatu perkara).

Sebetulnya tidak ada perbedaan pada masing-masing makna ini. Semuanya menuju pada satu titik persoalan yang sama. karena adanya ilmu dan fiqih dalam masalah agama akan mencegah pemiliknya dari hal-hal yang menyimpang dari agama dan muruah (harga diri). Kedua hal ini akan mendorong pemiliknya untuk kokoh dalam menghadapi suatu persoalan. jadi, tidak ada yang bertentangan dalam makna-makna ini.

• Makna hikmah secara istilah dan siapa yang berhak dengan wasilah ini

Dasar dari pembahasan ini ialah firman Allah Subahanhu wata’ala,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An Nahl: 125)

Dan firman Allah Subahanhu wata’ala,

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا

“Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak.” (Al Baqarah: 269)

Dalam tafsirnya, para ulama menerangkan pengertian kalimat ini sebagai berikut:

“Arti hikmah di sini ialah memahami Al Quran; nasikh mansukh-nya, muhkam dan mutasyabih-nya, muqaddam dan muakhkhar-nya, halal dan haram-nya, serta tamtsil-tamtsil-nya.”

Imam Mujahid menerangkan bahwa arti hikmah dalam ayat ini ialah tepat dalam berbicara.

Dari Ibnu mas’ud Radhiallahu’anhu beliau mengatakan;
“hikmah ialah Al Quran dan pemahaman”.

Adapula yang mengatakan hanya pemahamanan.

Ada yang mengatakan hikmah itu ialah As Sunnah, dan ada yang mengatakan akal.

Imam At thabari mengatakan:
“Firman Allah bil hikmah (dengan hikmah) artinya ialah dengan wahyu Allah yang diwahyukan-Nya kepadamu (hai Muhammad) serta kitab-Nya yang diturunkan-Nya kepadamu.”

Berdasarkan hal ini, maka hikmah yang dimaksud dalam pembahasan ini ialah sebagaimana keterangan yang dipaparkan oleh Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, “Adapun hikmah dalam Al Quran artinya ialah pemahaman terhadap al haq (kebenaran), berbicara dan mengamalkannya. Maka hati yang empunyai pemahaman dan niat atau tujuan, diajak dengan hikmah.”

Di dalam uraian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ini terdapat keterangan tentang pengertian hikmah dan siapa yang berhak dihadapi dengan uslub hikmah ini.

Dan siapa yang membutuhkan keterangan tentang al haq, diajak dengan beberapa pengantar yang benar agar memudahkan memahami dan mengikuti al haq tersebut.

Berkaitan dengan pengertian hikmah ini, Syaikh Al Allamah Abdul Aziz bin baz mengatakan;
“yang dimaksud dengan hikmah di sini ialah dalil-dalil yang jelas dan diakui yang dapat menunjukkan dan membantah kebathilan.”

Menurut beliau juga;
“hikmah itu ialah pendapat yang jelas dan tepat sesuai dengan al haq dari ayat Al Quran dan hadits-hadits.”

Jadi, hikmah adalah menerangkan al haq kepada orang yang jahil sehingga hal ini tertanam dalam dirinya dan menjadi manhajnya dalam setiap ucapan dan perbuatannya.

Ditegakan pula oleh Syaikh Al Allamah Shalih Al Fauzan ketika menerangkan perihal mad’u (obyek dakwah);
“Di mana dia adalah orang yang jahil terhadap al haq, dan jika diterangkan kepadanya tentu dia akan menerimanya. Maka mad’u yang seperti ini keadannya diajak dengan cara yang penuh hikmah.”

Jadi jelaslah bagi siapapun yang memperhatikan keterangan para ulama dalam masalah ini akan melihat bahwa hikmah itu dibangun di atas pemahaman terhadap al haq, mendakwahkannya, dan menerangkan serta menjelasannya apa yang Allah Ta’ala perintahkan kepadanya.
Ini tidak berlaku kecuali bagi orang-orang yang jahil (sama sekali tidak mengerti) tentang kebenaran. Maka dia diajak untuk memahami dengan hikmah sehingga dapat menerima al haq tersebut.

Ibnul Qayyim Rahimahullah ketika menjelaskan tentang orang-orang yang berhak diajak dengan cara hikmah ini mengatakan;
“yaitu hati yang telah tunduk kepada Rabbnya dan taat kepada perintah-Nya, tidak ada lagi tersisa sikap menentang dan menolak perintah dan semua yang diberitakan-Nya.”

• Kesimpulan

Hikmah itu menghimpun seluruh uslub dakwah, dalam hal ini nasihat, perdebatan, kekuatan hujjah, membantah pengakuan lawan, istidlal, dan lain-lain. Karena maknanya yang lengkap mencakup berbagai disiplin ilmu.
Dari sinilah sesungguhnya sifat para nabi Shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim.
Sebab mereka menggunakan semua uslub dakwah yang Allah Subahanhu wata’ala perintahkan.

Berdasarkan hal ini, maka hikmah itu ialah pemahaman terhadap apa yang datang dari nabi Shallallahu’alaihi wasallam, baik Al Quran dan As Sunnah serta hal-hal yang berkaitan dengan ilmu-ilmu syari’at. Maka dakwah dengan hikmah melalui pintu-pintu yang terkait padanya mencukupi seorang da’i dari apapun selain keduanya. Karena syari’at Islam sama sekali tidak menyisakan perkara apapun, besar maupun kecil melainkan telah diterangkan dengan sejalas-jelasnya.

Ada makna lain dari hikmah ini yang berkaitan dengan makna secara bahasa, yaitu apa yang diterangkan Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan;
“Jadi, hikmah itu ialah melakukan suatu perbuatan yang sepantasnya menurut aturannya dan pada waktu yang tepat.”

Inilah keterangan Ibnul Qayyim Rahimahullah yang merupakan inti dari itqan (kekokohan) dan ijadah (ketepatan) yang merupakan hikmah itu sendiri dan pengertiannya. Sebab, hikmah itu kadang disebutkan secara mutlak kepada makna itqan dan ijadah suatu perkara.

Hikmah menuntut seorang da’i untuk memperhatikan kedudukan dan keadaan setiap manusia. Hingga dia dapat menggunakan uslub yang sesuai dengan keadaan dan kedudukannya. Tidak semua orang mempunyai tingkat pemahaman dan pengetahuan yang sama. Juga dalam hal kelembutan dan kekasaran. Bahkan juga sikap tawadhu terhadap al haq (mudah menerima kebenaran).

Maka hendaklah dia menggauli setiap orang sesuai dengan keadaan orang tersebut, agar lebih mudah diterima dan diikuti.
Sesungguhnya inilah contoh dakwah manusia mengajak manusia kembali kepada Allah dengan hikmah.

Oleh karena itu wajib atas setiap da’i berbuat dengan satu kepastian (kokoh) dalam urusannya dan dakwahnya serta memberikan setiap orang haknya yang sesuai bagi masing-masing mereka.

Landasan jalan hikmah itu ialah Al Quran dan As Sunnah, yang marah ketika datang kepadanya seseorang yang berkata, “Saya terlambat shalat Shubuh karena si Fulan memanjangkan (bacaan) sholatnya terhadap kami.” Beliau marah dengan kemarahan yang belum pernah terjadi sebelum itu dan berkata, “Hai manusia, sesungguhnya di antara kalian ada orang-orang yang membuat lari manusia dari agama.”

Dan orang-orang yang betul-betul berdiri pada posisi ini (berdakwah dengan hikmah) ialah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sendiri, di mana Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulami Radhiallahu’anhu ketika kaum Muslimin menoleh kepadanya dan mengingkari doanya terhadap orang yang bersin di dalam sholat, Mu’awiyah berkata; ”
Ibu bapakku tebusan beliau. Saya belum pernah melihat pendidik sebelum beliau atau sesudahnya yang paling baik didikannya dibandingkan beliau. Demi Allah, beliau tidak pernah menghardikku, memukulku, atau mencercaku.”
(HR. Muslim Kitab Al Masajid)

Kesalahan besar adalah ketika memahami makna hikmah ini tidak menurut pemahaman yang benar. Yaitu dengan memperlebar lingkup hikmah itu sehingga sikap kasar yang ditampilkan oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah kepada Ahlul Bid’ah dianggap menafikan (mengurangi, meruntuhkan) hikmah. Oleh karena itu perlu dipahami makna hikmah ini dengan pemahaman yang jauh dari sikap ifrath (ekstrim) dan tafrith (meremehkan), karena memang sangat dibutuhkan adanya sikap seimbang (adil) dalam permasalahan ini.

Sebagaimana sikap lembut itu dibutuhkan, maka demikian pula, pada suatu ketika, tatkala kemungkaran tidak bisa dirubah kecuali dengan sikap keras, maka tidak apa-apa menggunakannya, meskipun yang dihadapi adalah kaum Muslimin. Bukankah sudah jelas bahwa Allah Subhanahu wata’ala mengijinkan berperang untuk mengatasi hal itu, dan tidak ada lagi sikap keras yang lebih hebat darpada peperangan. Allah berfirman,

فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الأخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ

“Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah.” (Al Hujuraat: 9)

Kadang-kadang seorang Muslim sangat hebat pengingkarannya terhadap (kemungkaran) saudaranya dibandingkan dengan musuhnya. Lihatlah bagaimana Musa Alaihis salam bersikap lembut terhadap Fir’aun, dan tegas terhadap saudaranya Harun Alaihis salam sampai kejadian yang Allah terangkan dalam firman-Nya,

وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ

“dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya.” (Al A’raaf: 150)

Perhatikan sikap tersebut, yang juga telah diuraikan dari sebagian nabi Shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim, bagaimana perbedaan antara sikap keras dan tegas dengan kelembutan sesuai dengan tuntunan hikmah dalam berdakwah. pada satu keadaan seorang da’i dituntut untuk lemah lembut, ketika melihat kelembutan itu bermanfaat bagi mad’u. Pada keadaan lain, dia berdakwah dengan keras dan tegas ketika melihat hal itu lebih sesuai. Maka hikmah berperan menggiring pemiliknya untuk senantiasa bersikap adil. Tidak ekstrim sehingga membuat lari manusia dari dakwah, dan tidak meremehkan sehingga bermudah-mudahan atau menggampangkan.

Demikianlah perjalanan salaful ummah dalam bab ini. Di mana mereka senantiasa berada di tengah dan sikap adil dalam menjelaskan dan mentahdzir. Mereka punya garis batas yang tegas antara da’i yang mengajak kepada bid’ah dan yang bukan da’i. Atau antara orang yang jahil dengan orang yang menentang. Masing-masing jenis manusia ini dihadapi dengan cara khusus yang sesuai.

Mereka juga memisahkan antara orang yang dikenal mempunya suatu kebid’ahan dengan orang yang mempunyai pemahaman keliru dalam satu masalah dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. terhadap dua keadaan ini, perlu dijelaskan kesalahan masing-masing. Akan tetapi umat harus dijauhkan dari orang yang pertama. Sebaliknya dengan orang yang dikenal melalui kedudukannya yang tinggi, ilmu, keutamaan, dan sikap ittiba’nya kepada As Sunnah, maka disikapi dengan tawaqquf terhadap kesalahannya. Karena al haq (kebenaran) itu lebih berhak untuk diikuti, namun tidak boleh disikapi seperti terhadap orang yang pertama.

Penjelasan tentang sikap adil di kalangan ulama salaf dan yang mengikuti jalan mereka, kita lihat dari pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang di dalamnya terdapat sikap keras yang syar’i dan juga kelembutan yang sesuai dengan syari’at pada tempatnya masing-masing. Kata beliau dari kalangan Ahlul Bid’ah:

“Adapun membunuh da’i yang mengajak kepada bid’ah, bisa jadi dia dibunuh untuk mencegah bahaya yang ditimbulkannya terhadap kaum Muslimin. Sebagaimana dibunuhnya orang yang memerangi meskipun dia bukan seorang yang kafir.”

Jika kita membaca uraian ini dengan sikap keras yang syar’i padanya, yang ternyata didorong beberapa alasan tertentu. Perhatikan keterangan beliau yang lain tentang kelembutan, di mana beliau mengatakan:

“Kebanyakan mujtahid salaf dan khalaf pernah mengucapkan bahkan melakukan kebid’ahan dalam keadaan tidak mengetahui bahwa itu bid’ah.
Mungkin karena hadits-hadts lemah yang dikiranya shahih, atau ayat-ayat yang dipahaminya bukan sebagaimana yang dimaksud oleh ayat itu, atau karena mengikuti satu pendapat sedangkan dalam masalah tersebut ada nash (dalil), tetapi belum sampai kepadanya.”

Maka hendaklah seorang da’i memperhatikan kedua pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ini, yang di dalamnya terkandung sikap adil, seimbang, dan hikmah untuk menjalankan dakwahnya. Tidaklah sikap ini keluar dari beliau sebagai suatu kebathilan dan bertentangan. Bahkan itulah sesungguhnya inti hikmah, keadilan dan langkah yang seirama dengan Al Quran dan As Sunnah.

Apa yang dibutuhkan sebagian mad’u (obyek dakwah), boleh jadi tidak dibutuhkan oleh yang lain. Masing-masing mempunyai bagiannya, dengan tetap mengharapkan hidayah bagi manusia kepada kebenaran dan mendekatkan mereka kepadanya.

Berdasarkan hal ini, wajib bagi para penuntut ilmu Salafiyun agar berdakwah kepada kebenaran dengan uslub yang syar’i tanpa ifrath dan tafrith sehingga kemaslahatan betul-betul terwujud dalam dakwahnya, yaitu memberi manfaat kepada mad’u dan hidayah kepada mereka.

Perhatikan pula uraian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berikut ini:
“Kadang seseorang atau satu kelompok berbuat dosa, sedangkan yang lain diam (tidak perduli), tidak melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar, sehingga menjadi dosa bagi mereka. Adapula yang mengingkari tapi dengan cara yang justru dilarang, inipun menjadi dosa bagi mereka, akhirnya timbul perpecahan, perselisihan, dan keburukan….. Barangsiapa yang memperhatikan fitnah yang terjadi tentu melihat sebabnya adalah tindakan tersebut.”

Maka jika seorang da’i menempuh jalan yang telah dilalui oleh para salafus shalih dalam bab ini atau yang lainnya, niscaya dia memperoleh kebaikan bagi dirinya sendiri pertama kali, tetap istiqamah di jalan Rabbnya, sehingga pantas untuk diterima dakwah dan bimbingannya kepada manusia menuju al haq. Dan sangat layak baginya untuk menyampaikan agama Allah ini, menegakkan hujjah terhadap manusia, dan menerangkan jalan kebaikan kepada mereka agar mengikutinya serta jalan-jalan kesesatan dan kejahatan agar mereka menjauhinya.

# BAGIAN KEDUA

USLUB AL MAU’IZHAH
Siapa yang Berhak Diajak Dengan Uslub Ini

• Pengertian mau’izhah secara bahasa dan istilah

Al ‘Izhah, Al Mau’izhah, dan Al Wa’zhu, juga dalam bentuk susunan Ar Rajulu yatta’izh jika dia menerima nasihat ketika diingatkan kepada kebaikan dan hal-hal lain yang melunakkan hatinya.

Jadi, kalimat ini artinya adalah nasihat, peringatan dengan (menerangkan) akibat (perbuatannya), dan hal-hal yang dapat menjadikan hati seseorang menjadi lembut, apakah dengan menyebutkan adanya pahala atau hukuman yang diterimanya akibat perbuatan atau sikapnya.

Maka jelaslah melalui pengertian secara bahasa, bahwa makna istilah kalimat ini ialah bimbingan dan nasihat serta pengarahan dengan segala sesuatu yang dapat membuat lembut hati seseorang, misalnya dengan mengingatkannya kepada hukuman atau pahala yang akan diterimanya akibat sikap dan perbuatannya.

Dan pengertian menurut istilah ini jelas berkaitan erat dengan pengertian secara bahasa, dari sisi dalalah yang pertama (pengertian bahasa) kepada yang kedua (istilah).

• Siapa yang Berhak Diajak Dengan Uslub Ini

Dasar pembahasan ini ialah ayat yang sering kita paparkan, yaitu firman Allah Subhanahu wata’ala,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An Nahl: 125)

Ibnu Qayyim dalam menerangkan pengertian mau’izhah ini mengatakan;
“yaitu semua perintah dan larangan di dalam Al Quran melalui targhiib dan tarhiib.”

Semakna dengan ini pula keterangan Syaikh As Sa’di Rahimahullah dalam tafsir beliau. Siapapun yang memperhatikan ayat ini akan melihat urutan-urutan metode dakwah yang diterapkan kepada mad’u (obyek dakwah). Sebab ada di antara mad’u itu yang jahil tidak mengenal al haq (kebenaran), dan ini seperti yang telah diuraikan, diajak dengan hikmah, yaitu menjelaskan al haq kepadanya dari Al Quran dan As Sunnah.

Adapun orang yang sudah menbetahui al haq dengan jelas, namun tidak mau mengamalkannya, atau tidak berbuat dengan (dasar) al haq tersebut, mungkin karena kelalaiannya, maka haknya untuk diajak dengan mau’izhah dan peringatan melalui upaya mengingatkan dia akan pahala dan hukuman yang akan diterimanya akibat sikap dan perbuatannya itu, sampai hatinya lembut dan tunduk untuk senantiasa mengamalkan al haq yang diketahuinya.

Al Allamah Syaikh Ibnu Baz Rahimahullah menerangkan;
“apabila seorang mad’u mempunyai sikap kaku dan berpaling (menolak), maka dia diajak dengan mau’izhah yang baik, dengan menyebutkan ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits yang di dalamnya terkandung pelajaran atau nasihat dan targhiib.”

Mau’izhah dapat dilakukan dengan menyebutkan ayat-ayat Al Quran dan hadits-nadkts, atau perumpamaan (tamtsil) yang ada di dalam Al Quran. Atau dengan menerangkan pahala dan hukuman yang akan diterimanya, atau akibat dari sikap dan perbuatannya. Di mana semua itu diharapkan melunakkan hatinya sehingga dia tidak lalai dalam mengingat Allah Subhanahu wata’ala.

Siapapun yang mempelajari Al Quranul Karim dan Sunnah nabi Shallallahu’alaihi wasallam akan melihat pada keduanya berbagai pelajaran untuk mengingatkan hati manusia yang lalai. Di antaranya berupa kisah umat-umat terdahulu, atau hal-hal yang dapat disaksikan dalam kehidupan sehari-hari seperti makhluk-makhluk ciptaan Allah ini, di langit dan di bumi.

Perhatikan keadaan Abu Bakar As Shiddiq Radhiallahu’anhu yang memiliki hati yang jujur dan selamat, bersih; bersumpah tidak akan memberi nafkah lagi kepada Misthoh bin utsatsah karena ucapannya terhadap ‘Aisyah dalam peristiwa Haditsul Ifk (berita dusta), yaitu ketika turun ayat yang mulia, di mana Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An Nuur: 22)

Abu Bakar Radhiallahu’anhu menangis sambil mengatakan, “Tentu, demi Allah, saya sangat suka kalau Allah mengampuniku.”
(HR. Bukhari dari ‘Aisyah)

Jelaslah bahwa mau’izhah itu sangat berpengaruh ke dalam jiwa seseorang yang beriman dan tenang. Yaitu jiwa yang telah mengenal al haq dan siap beramal dengannya atau siap mengamalkan al haq tersebut. Dari sini, tampak bahwa mau’izhah itu hanya diperlukan oleh mereka yang telah mengenal al haq, namun ditimpa oleh berbagai hal yang menyebabkan dia tidak mengamalkannya seperti kelalaian dan sejenisnya.

Di antara kekeliruan yang terjadi ialah adanya penempatan mau’izhah ini sebagai uslub atau cara yang tidak pernah ada di masa Salafus Shalih. Seperti adanya sekelompok orang yang tidak pernah dikenal mempunyai ilmu ataupun pemahamaan untuk masuk ke dalam masalah mau’izhah ini atau menekuninya. Hal itu berdasarkan anggapan akan meruntuhkan rambu-rambu atau petunjuk yang lainnya, maka wajib dijadikan sebagai jalan atau cara yang pertama. Akan engkau lihat salah seorang di antara mereka lebih memperhatikan hal-hal seperti Fadha’ilul A’mal sebagai bahasan dakwah dan bimbingannya; tetapi tidak di atas sunnah dan kebenaran, bahkan justru di atas bid’ah dan pemalsuan. Maka seorang da’i harus tetap di atas ilmu tentang petunjuk yang ada di dalam Al Quran dan As Sunnah, memahami agama ini sesuai dengan apa yang dipahami oleh pemberi nasihat atau pelajaran yang terdahulu (yakni Salafus Shalih).

Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Jauzi;
“Para pemberi pelajaran atau nasihat pada masa lalu terdiri dari para ulama dan ahli fiqih.”

Adanya sekelompok orang yang menekuni jalan para Qushshash (tukang cerita) bukan (jalan) para ulama dan penuntut ilmu, menjadikannya sebagai tanda terhadap orang-orang tertentu, sama sekali tidak pernah ada pada jaman Salafus Shalih, sebagaimana dikatakan oleh Ath Thurthusi, “Para ulama kami (maliki) mengatakan: Tidak pernah ada orang yang menyampaikan kisah pada jaman nabi Shallallahu’alaihi wasallam, Abu Bakr, apalagi Umar Radhiallahu’anhum ajma’in.”

Kenyataan ini cukup membuktikan bathilnya metode yang ditempuh oleh tukang-tukang cerita dalam memberikan pelajaran atau nasihat mereka, lantas, bagaimana kalau untuk itu harus dikumpulkan manusia dari berbagai penjuru, tentunya menambah jelas kebathilan perkara ini.

Jadi jelaslah, menuntun manusia dan membimbing mereka harus berdasarkan cahaya Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah karena kaduanya sangat lengkap dan mencukupi.

# BAGIAN KETIGA

USLUB MUJADALAH (BERDEBAT)
Siapa yang Berhak Diajak Dengan Uslub Ini

• Makna mujadalah secara bahasa

Sebuah ungkapan innahu lajadilun, jika dia keras dalam berdebat, juga ungkapan wa innahu lamijdalun.
Al Jadal artinya menghadapi hujjah (argumentasi) dengan hujjah pula.
Al Mujadalah artinya berdebat atau berbantah-bantahan. Dan yang dimaksud di dalam hadits adalah mendebat atau membantah kebathilan. Berusaha untuk menang dan menampilkan al haq (kebenaran), karena hal itu terpuji.

• Pengertian mujadalah menurut istilah dan yang berhak dihadapi dengan uslub ini

Al Jadal artinya menghadapi hujjah dengan hujjah pula. Atau menyingkap syubhat (kerancuan) yang ada pada mad’u (obyek dakwah). Hal ini jelas dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An Nahl: 125)

Dan firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik”. (Al Ankabut: 46)

Menyingkap syubhat, membeberkan dalil-dalil dan hujjah yang akurat dan mematahkan lawan serta mendekatkannya kepada al haq itulah inti al jadal. Syaikh As Sa’di Rahimahullah mengatakan,

“Maka apabila mad’u melihat bahwa yang diyakininya adalah kebenaran, atau dia adalah seorang da’i yang mengajak kepada kesesatan, dia harus dibantah dengan cara yang baik. Dan inilah cara yang lebih tepat agar diterima, baik menurut akal maupun naqli (penukilan riwayat). Di antaranya dengan menerangkan hujjah kepadanya melalui dalil yang diyakininya karena hal ini lebih dekat untuk tercapainya tujuan.”

Sehingga seorang da’i yang berhadapan dengan golongan ini, harus siap berdebat dan mematahkan argumentasinya sesuai dengan syubhat yang ada pada mad’u tersebut.

Syaikh Allamah Ibnu Baz Rahimahullah mengatakan;
“Maka apabila mad’u menyimpan syubhat, debatlah dia dengan cara yang baik, tidak bersikap keras kepadanya, tapi bersabar, tidak tergesa-gesa, dan tidak menghardiknya. Namun berupaya keras menyingkap syubhat itu serta menjelaskan dalil-dalil yang ada dengan cara yang baik.”

Dengan demikian, di antara hikmah dan bashirah seorang da’i, dia menghadapi mad’u dalam keadaan memahami tipe-tipe mad’u tersebut.
Dari tipe yang bagaimana mad’u tersebut?..

Maka jika (1) mad’u termasuk golongan (yang berhak diajak) dengan cara hikmah, maka diterangkan kepadanya ilmu, pengetahuan, dan sebagainya untuk mengeluarkannya dari kebodohannya.
Dan apabila (2) mad’u telah mengerti al haq tapi tidak mengamalkannya karena kelalaiannya, maka perlu diajak dengan memberikan mau’izhah dan tadzkiir (peringatan) kepadanya.
Sedangkan jika (3) Dia menyimpan syubhat yang mencegahnya mengamalkan al haq atau menghalanginya untuk merasa cukup dengan al haq, maka digunakan cara debat yang baik, untuk menjelaskan kepadanya kedudukan al haq dan keburukan yang ada pada kebathilan tersebut.

Hal-hal yang sepantasnya dipahami dalam bab ini, kadang-kadang syubhat itu mendatanginya, di mana adanya larangan berdebat dalam sejumlah ayat Al Quran dan Al Hadits, sehingga ketika da’i menerangkan hakikat al haq kepada manusia, orang-orang sesat membantahnya dengan alasan berdebat. Kalimat ini benar tapi yang dituju dengannya adalah kebathilan.

Untuk membatalkan syubhat ini, perhatikan penjelasan Ibnul Qayyim Rahimahullah tentang firman Allah,

قَالَ كَلا فَاذْهَبَا بِآيَاتِنَا إِنَّا مَعَكُمْ مُسْتَمِعُونَ

“Allah berfirman: “Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat); sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan),”
(Asy Syuuraa: 15)

(Ibnul Qoyyim berkata;)
“Bukanlah yang dimaksud dalam ayat ini menafikan hujjah dari kedua pihak sebagaimana dugaan mereka yang tidak tahu apa yang dia ucapkan. Dan (menganggap) agama ini tidak ada debat di dalamnya. Bagaimana mungkin, padahal Al Quran dari awal hingga akhirnya adalah hujjah dan bukti. Tidak mungkin ada perdebatan kecuali dengan hujjah dan membantah argumentasi lawan.”

Ibnu Baththoh Rahimahullah mengatakan;
“Maka wajib seorang Muslim di majelis dan perdebatan mereka dalam masalah fiqih atau hukum meluruskan niat dengan saling menasihati serta bersikap jujur, adil, dan memang menginginkan al haq (kebenaran) yang dengan al haq itulah tegaknya langit dan bumi.”

Sungguh ucapan yang sangat tepat, apalagi di dalamnya terdapat keterangan yang jelas tentang disyariatkannya jidal (perdebatan) mengenai kebenaran dan tujuan yang lurus yaitu menampakkan kebenaran itu serta mengajak manusia kepadanya. Juga untuk membungkam kebathilan yang selalu berusaha menentang al haq dan menghalangi manusia dari jalan al haq yang membawa mereka kepada Jannah (Surga).

Di samping itu juga, karena Al Quran seluruhnya berisi perdebatan menghadapi orang-orang yang tenggelam dalam kebathilan, menegakkan hujjah dan bukti yang nyata untuk memuaskan manusia. Adapun ayat dan hadits tentang larangan debat ini harus dipahami bahwa yang dimaksud adalah larangan dari berdebat tentang kebathilan dan kesesatan. Atau sesuatu yang tujuannya untuk menolak al haq. Tentu saja bedebat untuk menolak al haq sangat tercela, demikian pula jidal (debat) yang bertujuan untuk menentukan siapa yang menang siapa yang kalah, bukan bertujuan memberikan nasihat atau faidah.

***
[Dinukil dari kitab Usus Manhajus Salaf fii Da’wati Ilallah Edisi Indonesia Manhaj Dakwah Salafiyyah, Penulis Asy Syaikh Fawwaz bin Hulayil bin Rabah As Suhaimi, Penerbit Pustaka Al Haura, hal 219-222]

___________________
Artikel: http://www.sunniy.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s