Qowa’idul Fiqhiyyah (Niat adalah Syarat bagi Semua Amalan)

Posted: April 14, 2012 in Qowa'idul Fiqhiyyah
Tag:

Oleh: Sulaiman Abu Syaikhah
.

النية شرط لسائر العمل بها الصلاح والفساد للعمل
(An niyatu sartun lisairil ‘amal biha sholahu wal fasadu lil’amal)

Artinya :
Niat itu adalah syarat bagi semua amalan dalam ibadah dengan niat akan diketahui baik & buruknya amalan.

وقد عبر بعض العلماء عن هذه القاعدة بعنوان آخر فقالوا: لا ثواب إلا بنية،
Ada sebagian ulama’ mengemukakan qaidah ini dengan lafad & siya’ (susunan kata) yang berbeda, yaitu :

La sowaba illa binniyat
(Tidak sah suatu amalan kecuali dengan niat)

Atau redaksi yang lain mengatakan (jumhur ulama’):

  الأمور بمقاصدها
Al umuru bimaqosidiha
“Segala sesuatu amalan tergantung niat & tujuannya”

• Penjelasan secara ringkas :

ذكر المؤلف هنا أن النية شرط لتصحيح العمل، والمراد بالنية القصد- يقال: نوى كذا بمعنى قصده، ويراد بالنية في الاصطلاح العزم على الفعل، فمن عزم على فعل من الأفعال قيل بأنه قد نواه، وبعض العلماء يعرف النية بأنها قصد التقرب لله – عز وجل – وهذا لا يصح؛ لأن النية على نوعين: نية صحيحة بقصد التقرب لله – عز وجل – ونية التقرب لغيره، وهذه أيضا من أنواع النيات، ولكل حكمه.

Pengarang (Asy syeikh abdurrahman as sa’di) menyebutkan di sini :

Bahwasanya niat merupakan syarat sah tidaknya suatu amalan, adapun yang di maksud niat adalah: a’qosdu (tujuan & keinginan), jika di katakan; nawa kadha, artinya : maksud & tujuannya), adapun makna niat secara istilah :

“al azmu ‘alal fi’il
( Pberkeinginan kuat untuk mengerjakan suatu amalan)
Maka barang siapa yang memiliki keinginan kuat untuk berbuat suatu amalan maka sudah di katakan itu dia telah berniat, dan sebagian ulama’ menjelaskan arti niat maknanya :
“Berkeinginan & bertujuan mendekatkan diri kepada Allåh”, dan ini kurang tepat, karena disana ada dua kemungkinan:
(1) Niat yang benar untuk mendekatkan diri kepada Allah dan ada pula (2) Niat untuk mendekatkan diri kepada selain Allah, dan ini juga termasuk niat, dan semuanya ada hukum dan perinciannya.

Dari kaidah ini ada 2 penjelasan yang pertama :
1. Dalil niat merupakan syarat amalan.
2. Kedudukan dan fungsi niat.

Dalilnya dari hadist Umar ibnu Khottob (رضي الله عنه):

 وعن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب  قال: سمعت رسول الله  يقول:  إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه( متفق عليـــه)
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob (رضي الله عنه), dia berkata:
“Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : ‘Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan’”.

[Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang]

وهذا الحديث حديث عظيم حتى قال طائفة من السلف، ومن علماء الملة: ينبغي أن يكون هذا الحديث في أول كل كتاب من كتب العلم؛ ولهذا بدأ به البخاري -رحمه الله- صحيحه، فجعله أول حديث فيه حديث  إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى بحسب اللفظ الذي أورده في أوله.
وهذا الحديث أصل من أصول الدين، وقد قال الإمام أحمد: ثلاثة أحاديث يدور عليها الإسلام:
حديث عمر: إنما الأعمال بالنيات   .
وحديث عائشة: من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد.
وحديث النعمان بن بشير: الحلال بين والحرام بين 
Hadist ini merupakan hadist yang amat agung sehingga sebagian ulama’ salaf berkata:
“Hendaknya hadist ini diletakkan diawal kitab dari kitab-kitab ilmu agama, karena itulah imam bukhari memulai menulis hadist dalam kitab shohihnya dengan hadist ini (inamal a’malu binniyat) sesuai lafad yang kami camtumkan diatas.

Dan hadist ini merupakan salah satu usul (pondasi) dari sekian pondasi agama, dan telah berkata Imam Ahmad :
“Tiga hadist yang berputar & di bangun di atasnya islam yaitu :

1. Hadist Umar (رضي الله عنه) ini : inamal a’malu binniyat. (sesungguhnya amalan tergantung niyatnya)

2. Yang kedua hadistnya Aisyah (رضي الله عنها) :
“Barang siapa mengada-ada (berbuat bid’ah) suatu amalan dalam agama kami (islam) yang tidak ada contohnya dari Råsulullåh (صلى الله عليه وسلم) maka amalanya tertolak.”
(lihat arbain nawawi hadist ke 5).

3. Hadistnya Nu’man bin Basyir :
“Sesunggunya halal telah jelas dan haram sudah jelas.”
(lihat arbain nawawi hadist ke 6)
 
• Adapun kedudukan & fungsi Niat adalah :

– Kedudukan niat adalah didalam hati tidak ada tuntunan dari Rasulullah untuk melafadkan niat & menjahrkannya (melafadzkan), kecuali ibadah haji /umrah.

– Fungsi niat adalah :
1.   Untuk membedakan amalan itu ibadah ataupun adat dan perbuatan biasa.
Misal : mandi , mandi ini adalah hal biasa, namun jika dilakukan dengan niat ibadah , maka mandi ini akan bernilai ibadah, misal mandi wajib, mandi sebelum ihram, mandi sebelum sholat jum’at, begitu juga orang berkumur-kumur  kemudian mencuci muka dan tangan dan mengusap kepala serta kaki, kalo dilakukan setelah bangun tidur dengan tujuan supaya bersih maka ini adalah hal biasa bukan ibadah, namun jika di lakukan dengan niat wudhu maka inilah ibadah dsb.
2.   Untuk membedakan amalan satu dengan yang lainnya, Misalnya: orang menjamak sholat dhuhur dan ashar, keduanya dilakukan dalam satu waktu & sama-sama 4raka’at, maka untuk membedakan ini sholat dhuhur & itu sholat ashar adalah dengan niat, atau misalnya : kita masuk masjid kemudian kita sholat 2 raka’at, ada kemunkinan kita melakukan sholat tahiyatal masjid atau sholat sunnah qobliyah (sunnah rawatib) untuk membedakannya adalah dengan niat dsb.

Dan dengan niat akan diketahui benar salahnya amalan itu, karena syarat ibadah selain niat adalah iklash dan mutaba’ah (mengikuti sunnah nabi) dan ibadah apapun harus memenuhi syarat ini, sedang ikhlas ataupun tidak amalan tersebut juga tergantung niatnya, kalo niatnya ikhlas maka ibadahnya benar tapi kalo niatnya riya’ maka ibadahnya salah.

Maka dari sini ada 4 kemungkinan dalam ibadah :
1.   iklash yang sesui dengan syariat
2.   iklash namun tidak sesuai syariat
3.   sesuai syariat tetapi tidak iklash
4.   tidak iklash dan tidak sesuai dengan syariat,

Dan dari 4 kemungkinan ini hanya yang iklas & sesuai syariat-lah ibadahnya yang di benar.

Sebagian Ayat dan hadist yang berhubungan dengan niat :

Allåh (سبحانه وتعالى) telah berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ( سورة البينة :5)
“Dan tidaklah mereka  disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.”
(al bayyinah : 5)

{ مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا (18) وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا (19) سورة الإسراء آية : 18-19 7:
“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.
Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.”
(Al isra’: 18-19)

{ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا (سورة النساء آية : 114)
“Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.”
(an nisa: 114)

Råsulullåh (صلى الله عليه وسلم) telah bersabda :

 حديث معاذ – رضي الله عنه – أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ” من غزا يريد عقالا، فإنما له ما نوى “
Hadistnya Mu’adz (رضي الله عنه) sesunguhnya Råsulullåh (صلى الله عليه وسلم) telah bersabda :
“Barang siapa yang berperang karena ghonimah maka baginya niat tersebut (artinya: dia tidak mendapat pahala karena niatnya untuk mendapat harta rampasan perang pent.)

 وجاء في المسند أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ” رب قتيل بين الصفين الله أعلم بنيته “
حكم  الحافظ -رحمه الله- بأن الحديث ممن وثق رجاله، قال: رجاله موثقون،
Dan dalam Musnad sesungguhnya Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) bersabda :
“Sesungguhnya antara 2 kelompok yang berperang (saling membunuh) Allah lah yang tahu niat dalam hatinya.”

[Al hafidh ibnu hajar menghukumi bahwasannya hadist ini rawinya terpercaya sebagaiamana  beliau berkata : rijaluhu mausuqun]

وجاء في الحديث الآخر أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ” ثم يبعث الله الناس على نياتهم
Dalam hadist lain dikatakan :
“Kemudian Allah membangkitkan manusia sesuai dengan niatnya.”

***

_______
MARAJI:

• قواعد القواعد لشيـــخ صالح بن عبد العزيز آل الشيخ

• منظومة القواعد الفقهية  للعلامة عبد الرحمن بن ناصر السعدي رحمه الله

• رسالة لطيفة في أصول الفقه للعلامة عبد الرحمن بن ناصر السعدي رحمه الله

• ملخص القواعد الفقهية إعداد أبو حميد عبد الله بن حميد الفلاسي

• مذكرة أصول الفقه على روضة الناظر للعلامة ابن قدامة رحمه الله  تأليف الشيخ محمد الأمين بن المختار الشنقيطي رحمه الله صاحب أضواء البيان

• منظومة القواعد لشيخ صالح العثيمن

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s