Qowa’idul Fiqhiyyah (Setiap yang Dilarang itu Boleh jika Dalam Keadaan Darurat)

Posted: Mei 8, 2012 in Qowa'idul Fiqhiyyah
Tag:

Oleh: Sulaiman Abu Syaikhah

وكل محظور مع الضرورة بقدر ما تحتاجه الضرورة

Wa kullu mahthurin ma’ad dhorurohi bi qodri maa tahtaajuhu ad dhorurotu

Artinya setiap hal yang dilarang itu di bolehkan jika dalam kondisi yang darurat, tetapi sesuai dengan kadar yang dibolehkan saja untuk menghilangkan darurat itu.

في هذا البيت شرط من شروط القاعدة السابقة، وهو أنه لا يتناول من المحظور إلا بالمقدار الذي تندفع به الضرورة، ودليل هذا قول الله – عز وجل – { فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ } (سورة البقرة آية : 173) اشترط عدم البغي، وعدم العدوان، والعدوان: الزيادة في مقدار الواجب، في المقدار، فمن زاد فإنه يلحقه الإثم، هذا دليل القاعدة .

Bait qoidah ini merupakan salah satu syarat dari qaidah yang lalu (ke enam bait kedua: لا مُحَرَّم مع اضطرا   maknanya adalah : tidak boleh mengambil hak yang diharamkan kecuali sesuai kadar kebutuhan yang bisa menghilangkan kondisi darurat / bahaya tersebut (dan tidak boleh lebih pent.) 

Adapun dalilnya adalah firman ALLAH (سبحانه وتعالى) dalam QS albaqoroh:173

{ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ } (سورة البقرة آية : 173)

Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. (al baqoroh : 173)

Dalam ayat ini ada syarat: tidak ada keinginan terhadapnya, dan tidak pula melampaui batas,

Makna al udwan : terus menambah hinga melampaui batas yang di wajibkan, maka barang siapa yang melampui batas tersebut maka dia mendapatkan dosa, dan inilah dalil dari qaidah ini.

وقوله: “غير باغ” استدل العلماء بهذا اللفظ، على أن الرُّخص لا تناط بالمعاصي، وأن من سافر سفر معصية، لم يجز له أن يترخص برخص السفر، من الفطر أو جمع الصلاتين أو القصر، وكذلك جميع الرخص، إلا إذا كان مضطرًا إليها.وهنا مسألة متعلقة بقواعد الضرورة، وهي: هل الضرورة تبطل حق الغير؟ إذا اضطررتُ إلى مال غيري وتناولته، هل يحق للغير أن يطالب بضمان هذا المال؟ أو لا يحق؟ هذا فيه تفصيل، نقول: ننظر هل الضرورة نشأت من حق الغير؟ فإن كانت الضرورة نشأت من حق الغير، فإنه حينئذ لا حق لذلك الغير.
مثاله: إنسان هاج عليه جمل، فاضطر إلى قتله؛ دفاعا عن نفسه، هنا مضطر. هل يحق لصاحب الجمل أن يأتي إليه ويقول: أعطني قيمة الجمل؟ نقول: لا، لا يحق له؛ لماذا؟ لأن الاضطرار هنا ناشئ من ملك الغير، ناشئ من ذات المملوك، فحينئذ لا يجب الضمان.

Adapun firmanya : “غير باغ” 
para ulama mengambil dalil dari lafadh ini , bahwasannya keringanan berlaku jika ada maksiyat, misalnya; barang siapa yang bepergian jauh (safar)  dalam rangka maksiyat, maka tidak boleh baginya mendapatkan keringanan sebagaimana keringanan dalam safar, seperti : tidak berpuasa, atau menjamak 2 sholat ataupun qosor (meringkas sholat 4 rakaat menjadi 2), dan begitu juga keringanan-keringanan yang lainya, kecuali memang dalam keadaan dhoruroh dan terpaksa dan butuh akan keringanan tersebut.

Ada masalah lain yang berhubungan dengan kaidah
darurat ini, yaitu : apakah kondisi darurat membatalkan hak orang lainnya?
Atau jika kondisinya darurat dan harus mengambil (menghilangkan) harta orang lain, apakah yang punya hak boleh menuntuk untuk menganti harta tersebut ?
dalam masalah ini ada perinciannya.

1.   apakah bahaya/kondisi darurat itu di timbulkan oleh hak milik orang lain atau bukan ? jika kondisi itu di timbulkan oleh hak milik orang lain maka, yang punya hak tidak boleh menuntutnya untuk mengganti rugi hak yang hilang tersebut.
Misalnya : seseorang tiba-tiba di serang onta (sapi) sampai membahayakan dirinya, maka orang tersebut  melawannya hingga terbunuh onta/sapi tersebut karena membela diri, disini ada kondisi darurat (membela diri), maka apakah boleh sang pemilik onta/ sapi datang kepadanya dan mengatakan: berikan ganti rugi seharga onta/ sapi tersebut ?,
maka kami (para ulama) katakan: tidak ada hak bagi sang pemilik, kenapa ?,karena bahaya/kondisi gawat tersebut di timbulkan karena kelalailan sang pemilik, dia lupa menjaga hak miliknya, maka jika yang demikian itu tidak ada garansi (ganti rugi).

أما إذا كان الاضطرار ليس ناشئا عنه، مثال ذلك: مضطر جائع، لم يجد إلا جملا مملوكا لغيره، فذبحه وأكله. فحينئذ الاضطرار ليس ناشئا عن ملك الغير، ومن ثَم فإنه يضمن ذلك الملك. وعبروا عنه بقولهم: الاضطرار لا يبطل حق الغير. مرادهم إذا لم يكن ناشئا عنه.
مثال آخر، يتضح به هذا التقسيم: إنسان في السفينة، ألقى بعض المتاع في البحر؛ لأنه مضطر إلى إلقائه. فهنا هل يجب الضمان؟ أو لا يجب؟ نقول: ننظر لماذا ألقى ذلك المتاع؟ فإن كان قد ألقاه لضرر ناشئ من المتاع، كأن يكون الرجل في جانب السفينة، فسقط عليه بعض المتاع، فخشي على نفسه الهلاك، فألقى بالمتاع في البحر. فهنا الاضطرار ناشئ من ملك الغير، فلا يجب عليه الضمان .
لكن لو كان الاضطرار ليس ناشئا من ذلك المتاع، بأن تكون السفينة حمولتها كثيرة، ويخشى عليها من الغرق، فقال القائمون على السفينة: لا بد من إلقاء بعض المتاع، فأخذ بعض المتاع فألقي، فحينئذ هل يُضمن؟ نقول: نعم يُضمن؛ لأن هذا الاضطرار ليس ناشئا من ذات المتاع، وإنما هو ناشئ من جميع مَن في السفينة. فحينئذ يقال لجميع من في السفينة: اضمنوا هذا المتاع، ويضرب عليهم قيمته أو مثله، بحسب أعدادهم .

2. adapun jika kondisi darurat (bahaya) tersebut tidak ditimbulkan karena hak miliknya (berhubungan dengan) orang lain maka wajib mengantinya jika mengambil (menghilangkan hak milik  tersebut) misalnya: seseorang sangat kelaparan, dan dia tidak mendapati makanan apapun kecuali onta milik (hak) orang lain kemudian orang ini menyembelihnya dan memakannya, maka dalam kondisi darurat (bahaya) ini ada dan terjadi tanpa ada hubungannya dan bukan karena hak orang lain, maka sang pemilik onta boleh menuntut ganti rugi  dari onta yang dimakan orang tersebut, maka para ulama mengambil kaidah dari hal ini :

الاضطرار لا يبطل حق الغير
(al idhirar laa yubtilu haqol ghoiri ) kondisi bahaya tidak menghalalkan (membatalkan) hak orang lain, dengan catatan kondisi darurat (bahaya) tersebut timbul bukan disebabkan hak miliknya.

Contoh lainnya yang lebih terperinci  :   
para penumpang  dalam kapal, membuang sebagian barang milik penumpang lain kelautan, karena bisa menyebakan bahaya jika tidak membuangnya, masalahnya apakah orang yang membuang barang tersebut harus menganti barang tersebut apa tidak ? maka kita lihat sebabnya:  jika dia membuangnya karena kelalain sang pemilik barang, misalnya orang tersebut tinggal dibawah barang tersebut di letakkan , dan sebagian barang tersebut sering menjatuhinya, dan bisa membahayakannya, terus dia membuangnya kelautan barang tersebut, maka bahaya tersebut timbul karena kelalaian sang pemilik barang maka, tidak wajib baginya menganti barang tersebut, namun jika kondisi bahaya tersebut bukan ditimbulkan dari hak (barang) orang lain, misal kapal tersebut kelebihan barang dan muatan, dan bisa menyebabkan kapal tersebut tenggelam sehingga pemilik/kapten kapal mengatakan: “kita harus membuang sebagian barang kelaut”, dan diambillah sebagian barang tersebut dan dibuang kelaut, maka apakah ada garansi (ganti rugi) barang tersebut, kita katakan : iya ada garansi, karena bahaya tersebut tidak ditimbulkan dari barang itu sendiri atau kelalaian pemilik barang namun timbul karena kelalaian semua orang dalam kapal, sehingga di katakan kepada semua yang ada di kapal: beri ganti rugi  barang tersebut, dan di bagi rata setiap penumpang hingga terkumpul seharga barang tersebut, tergantung jumlah dan harganya.

***

_______
MARAJI:

• قواعد القواعد لشيـــخ صالح بن عبد العزيز آل الشيخ

• منظومة القواعد الفقهية  للعلامة عبد الرحمن بن ناصر السعدي رحمه الله

• رسالة لطيفة في أصول الفقه للعلامة عبد الرحمن بن ناصر السعدي رحمه الله

• ملخص القواعد الفقهية إعداد أبو حميد عبد الله بن حميد الفلاسي

• مذكرة أصول الفقه على روضة الناظر للعلامة ابن قدامة رحمه الله  تأليف الشيخ محمد الأمين بن المختار الشنقيطي رحمه الله صاحب أضواء البيان

• منظومة القواعد لشيخ صالح العثيمن

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s