Amalan di Bulan Rajab yang Tidak Ada Syariatnya

Posted: Mei 24, 2012 in Fiqh
Tag:,

Oleh: Sulaiman Abu Syaikhah

Segala puji bagi Allah semata. Shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam penutup kenabian dan keluarga serta sahabatnya hingga hari kiamat. Telah diketahui oleh umat islam bahwa bulan Rajab adalah termasuk asyhurul hurum (bulan haram/ mulia) yang dikatakan Allah dalam firmannya:

(إنَّ عدَّةَ الشُّهورِ عند الله اثنا عَشَرَ شهراً في كتاب الله يوم خَلَقَ السَّمواتِ والأرضَ منها أربْعة حُرُمٌ ذلك الدِّين القَيِّم فلا تظْلِمُوا فيهنَّ أَنْفُسَكمْ). [التوبة: 36].
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, (At-Taubah: 36)
 
Terdapat perbedaan pendapat ulama tentang sebab bulan-bulan ini dinamakan bulan haram. Sebagian mereka mengatakan disebut bulan haram karena besarnya kehormatannya sehingga kebaikan dan amal saleh yang dilakukan pada bulan-bulan tersebut lebih besar pahalanya disbanding bulan-bulan lain sebagaimana dosa yang dilakukan didalamnya juga lebih berat siksaannya. Sebagian lagi mengatakan karena diharamkannya peperangan pada bulan-bulan itu.
.

SEBAB PENAMAAN BULAN RAJAB

Menurut pendapat Imam Ibnu Rajab al-Hanbali :
سمّي رجبٌ رجباً؛ لأنه كان يرجب، أي يُعظَّم، يُقال: رَجَبَ فلانٌ مولاه، أي عظَّمه.
Bulan ini disebut bulan Rajab karena bulan ini diagungkan; karena dalam bahasa arab Rajaba memiliki arti mengagungkan dan memuliakan.
 
Orang-orang arab jahiliyah dulu memuliakan bulan ini apalagi kabilah Mudhar oleh karena itu bulan ini disebut juga Rajab Mudhar. Mereka pada bulan ini melarang perang dan mereka menunggu-nunggu tanggal 10 untuk berdoa atas orang yang zalim, doa mereka pun dikabulkan. Dan mereka pada bulan ini menyembelih hewan sembelihan yang mereka namakan al-‘atirah yaitu seekor kambing yang dipersebahkan untuk berhala-berhala mereka kemudian darahnya disiram ke kepala berhala-berhala tersebut.
 
Menurut kebanyakan ulama kebiasaan ini telah dihilangkan oleh Islam berdasarkan hadits Nabi  yang diriwayatkan dalam as-shahihain:

أن النبي  صلى الله عليه وسلم  قال : لا فَرَعَ ولا عَتِيرَة
Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda:
“Tidak ada lagi fara’-anak unta yang disembelih untuk berhala dan atirah”.
(HR. Bukhari dan Muslim)
 
Diriwayatkan dalam hadits Anas bin Malik rodhiyallohu’anhu bahwa Rasulullah jika telah masuk bulan Rajab bersabda:

اللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانٍ وَبَلِّغْنَا رَمَضَان وإسناده ضعيف.
Ya Allah berkahilan kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”
* hanya saja sanad hadits ini ada kelemahannya.

Sebagian ulama salaf mengatakan:

شهر رجب شهر الزرع، وشعبان شهر السَّقي للزرع، وشهر رمضان حصاد الزرع
“Bulan Rajab bulan menanam, bulan Sya’ban bulan menyiram, bulan Ramadan bulan panen.”
.

AMALAN BARU (BID’AH) DI BULAN RAJAB

Sungguh merupakan hal yang aneh yang dilakukan sebagian orang pada bulan Rajab banyak perbuatan-perbuatan mengada-ada yang tidak pernah diajarkan Allah Ta’alaa dan Rasul-Nya –shalallahu ‘alaihi wasalam-.
Amalan yang megada-ada  ini telah disebutkan para imam dan ulama-ulama dahulu seperti Syekh Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Al-Qayyim, Asy-Syatibi, Ibnu Rajab Al-Hanbali, at-Tharthusyi, dan ibnu Hajar.
Atau ulama-ulama sekarang seperti Syekh Ali Mahfuz, as-Syuqairi, Ibn Baz, al-albani, Ibn Utsaimin -rahimahumullah-, dan Syekh Shalih al-Fauzan.

Sebelumnya apa yang kami sebutkan disini bukan untuk kita amalkan akan tetapi agar kita bisa mengetahui bahwasanya inilah amalan yang tidak ada dasarnya , sehingga kita bisa menjauhinya dan tidak mengamalkannya , seorang penyair berkata :

عَـَرفْتُ الشَّرَّ لا للشَّر  لكنْ لِتَـوَقِّيهِ
 وَمَنْ لا يَعْرِفِ الشَّرَّ  جَدِيرٌ أنْ يقعْ فيه

Aku mengetahui keburukan bukan untuk melakukan keburukan itu
Akan tetapi agar aku bisa menjauhinya,
Dan barang siapa yang tidak mengetahui keburukan itu , maka besar kemungkinan dia akan terjatuh dalam keburukan itu.

Diantara amalan-amalan yang mengada-ada  tersebut adalah:

1. Shalat

Shalat yang mereka lakukan ada bermacam-macam:

–   Shalat alfiyah yang dilakukan pada hari pertama Rajab dan pertengahan sya’ban.

– Shalat Ummi Daud yang dilakukan pada pertengahan Rajab sebagaimana dijelaskan Syekh Islam dalam kitabnya Iqtidhau as-shirathal mustaqim halaman 293

– Shalat Ragha’ib yang juga disebut shalat dua belas yang dilakukan pada malam Jumat pertama bulan Rajab setelah shalat isya atau antara maghrib dan isya sebanyak dua belas rakaat.
Setiap rakaat membaca Alfatihah, surat al-Qadar tiga kali, dan surat al-Ikhlas dua belas kali. Setiap dua rakaat salam. Shalat ini perkara yang baru yang dimunculkan pada abad keempat. Shalat ini dibuat oleh para pendusta.

Tentang hal itu Imam Nawawi berkata : “Itu termasuk perkara baru  yang buruk dan kemungkaran yang besar, maka hendaklah ditolak dan ditinggalkan. Termasuk kemungkaranlah bagi yang mengerjakannya”.

Ibnu Jauzi berkata; “Tidak diragukan lagi bahwa itu merupakan perbuatan yang diada-adakan  yang mungkar dan haditsnya palsu” (al-Maudu’at : 2/124).

Syeikh Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Shalat raghaib merupakan perkara yang diada-adakan berdasarkan kesepakatan para ulama agama seperti Imam Malik, Syafi’i, Abu Hanifah, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Al-Laits dan lainnya. Sedangkan hadits yang diriwayatkan tentang hal itu menurut para ahli hadits adalah suatu kebohongan.

Ibnu Rajab dalam bukunya “Lathaif al-Maarif” hal 140 mengatakan:

… فأما الصلاة فلم يصحّ في شهر رجب صلاة مخصوصة تختصّ به، والأحاديث المروية في فضل صلاة الرَّغائب في أول ليلة جمعة من شهر رجب كذب وباطل لا تصحّ.
“Adapun tentang shalat tidak ada hadits yang shahih tentang shalat tertentu yang dilakukan pada bulan Rajab. Hadits-hadits yang diriwayatkan tentang keutamaan shalat raghaib pada malam jumat pertama bulan Rajab adalah bohong, batil dan tidak sah”.

Dalam kitab yang sama (Lathaif al-Ma’arif ) halaman 228 beliau berkata : Hadits yang diriwayatkan tentang kekhsusuan shalat raghaib di bulan rajab itu adalah kebohongan dan batal. Shalat itu merupakan perkara baru yang diada-adakan  dalam pandangan jumhur ulama… hadits tentang hal itu muncul setelah empat ratus tahun kemudian dan tidak diketahui oleh para pendahulu dan tidak pernah mereka bicarakan.
.

2. Puasa

Puasa yag diada-adakan yang dilakukan orang pada bulan ini bermacam-macam diantaranya:

– Ada yang berpuasa pada hari pertama, kedua, dan ketiga. Mereka mendasari perbuatan tersebut kepada hadits-hadits palsu seperti hadits;

(من صام ثلاثة أيام من شهرٍ حرامٍ الخميس والجمعة والسبت كتب الله له عبادة تسعمائة سنة). وفي لفظ: (ستين سنة).
Barangsiapa berpuasa tiga hari Kamis, Jumat dan Sabtu pada bulan haram Allah akan memberikannya pahala ibadah selama sembilan ratus tahun” dalam lafaz lain “enam puluh tahun”
 
dan riwayat lain mengatakan:
 
(صوم أول يوم من رجب كفارة ثلاث سنين، والثاني كفارة سنتين، ثم كلّ يوم شهراً)
“Puasa hari pertama bulan Rajab menghapus dosa tiga tahun, hari kedua menghapus dua tahun dan hari selanjutnya satu bulan”
       
Juga hadits:

(رجب شهر الله، وشعبان شهري، ورمضان شهر أُمَّتي). وكلُّ ذلك كذب مصنوع.
“Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku dan Ramadhan bulan umatku.”

*Semua hadits diatas palsu dan bohong.

– Ada yang berpuasa pada hari ketujuh saja dan melakukan shalat raghaib pada malam harinya. 
 
Syeikh Islam Ibnu Taimiyah berkata:

( والصواب الذي عليه المحقِّقون من أهل العلم النهي عن إفراد هذا اليوم بالصوم، وعن الصلاة المحدثة، وعن كلَّ ما فيه تعظيم لهذا اليوم من صنعة الأطعمة، وإظهار الزينة ونحو ذلك ).
“Yang benar menurut pendapat para ulama adalah larangan mengkhususkan hari ketujuh dengan puasa dan shalat yang diada-adakan dan seluruh bentuk pemuliaan terhadap hari ini dengan membuat makanan, menampakkan perhiasan dan lain-lain”

– Ada yang melaksanakan puasa sebulan penuh. Ibnu Rajab berkata:
( وأما الصِّيام فلم يصحّ في فضل صوم رجب بخصوصه شيء عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه )
“Tentang puasa tak ada satu pun hadits shahih dari Nabi shallahu ‘alaihi wasalam  atau sahabatnya tentang keutamaan puasa Rajab secara khusus.”

Para ulama salaf melarang puasa Rajab seluruhnya.
Diriwayatkan dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu.

أنه كان يضرب أكفَّ الرِّجال في صوم رجب حتى يضعونها في الطعام ويقول : (ما رجب؟! إنَّ رجباً كان يُعظِّمه أهل الجاهلية، فلما كان الإسلام تُرِكَ).
وفي رواية: كره أن يكون صيامه سُنَّة.
Bahwa ia memukul tangan orang-orang yang puasa Rajab hingga mereka meletakkannya pada makanan (membatalakan puasanya) seraya berkata: “Apakah Rajab itu? Bulan ini dulu dimuliakan orang-orang jahiliyah, setelah Islam datang hal ini ditinggalkan.”

Dalam riwayat lain: “ia tidak suka puasa Rajab dianggap sunnah”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia melarang puasa penuh pada bulan Rajab.

Dari Abu Bakrah, ia melihat keluarganya bersiap-siap untuk puasa Rajab, ia berkata:

(أجعلتم رجب كرمضان! وألقى السِّلال، وكسر الكِيزان)
“Apakah kalian menjadikan Rajab seperti Ramadhan?”.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berpendapat untuk tidak berpuasa beberapa hari pada bulan ini sedangkan Anas bin Malik dan Said bin Jubair dan yang lainnya memakruhkannya.

Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam bukunya “Tabyinul ajab bima warada fi fadhli Rajab” menerangkan:

لم يرد في فضل شهر رجب ولا في صيامه، ولا صيام شيء منه معيَّن، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحُجَّة).
“Tidak ada satu hadits pun yang shahih dan bisa dijadikan hujah tentang keutamaan bulan Rajab, baik puasa seluruhnya, puasa sebagian harinya, atau shalat pada malam tertentu darinya”
.

3. Ziarah Kubur

– Ziarah kubur Rasulullah pada bulan ini

Ziarah masjid Nabi dan kuburannya disyariatkan sepanjang tahun dan hal ini termasuk bentuk ibadah dan ketaatan, tetapi mengkhususkannya pada bulan ini termasuk perkara baru yang diada-adakan yang tidak ada dalilnya. Mengkhususkan suatu amal ibadah pada waktu tertentu yang tidak ditentukan oleh Allah Ta’alaa, dan Rasul-Nya termasuk perkara baru yang dilarang, maka waspadalah !!!.

Syeikh Al-Albani telah menyebutkan hal ini dalam bukunya “Ahkamul Janaiz wa bidauha”.
.

4. Umrah di bulan Rajab

Hadits-hadits menunjukkan bahwa Nabi Muhammad  belum pernah melakukan umrah pada bulan Rajab sebagaimana diriwayatkan dari Mujahid, ia berkata:
“Saya masuk ke masjid nabawi bersama Urwah bin Zubair dan mendapati Abdullah bin Umar duduk dekat kamar Aisyah. Ibnu Umar ditanya: ‘Berapa kali Rasulullah  melaksanakan umrah?’ ia menjawab: ‘Empat kali, salah satunya pada bulan Rajab.’
Kami pun enggan untuk membantahnya. Lalu kami dengar suara Aisyah sedang bersiwak dalam kamarnya,
Urwah pun bertanya: ‘Wahai Ummul Mukminin apakah engkau mendengar apa yang dikatakan Abu Abdurrahman (Abdullah bin Umar)’
Aisyah bertanya: ‘Apa yang dikatakannya?’
ia berkata: ‘Ia mengatakan Rasulullah melakukan umrah empat kali salah satunya di bulan Rajab’ Aisyah berkata: ‘Semoga Allah merahmati Abu Abdurrahman, tidak pernah Rasulullah  melaksanakan umrah kecuali aku ikut dengannya dan ia tidak pernah umrah di bulan Rajab.’”
(Muttafaq alaih).
 
Dalam riwayat Muslim: “Ibnu Umar mendengar –perkataan Aisyah- tapi ia tidak berkata iya atau tidak.” Imam Nawawi berkata: “Diamnya Ibnu Umar atas bantahan Aisyah menunjukkan ia lupa atau ragu-ragu.”

Oleh karena itu termasuk perkara baru yang diada-adakan  di bulan ini mengkhusukannya dengan umrah dan meyakini umrah pada bulan Rajab memiliki keutamaan khusus. Tidak ada nash yang menerangkan hal itu, disamping riwayat bahwa Nabi  umrah pada bulan Rajab tidak benar.

Syeikh Ali bin Ibrahim al-Atthar yang wafat pada tahun 724 H berkata: “Saya mendapat kabar dari penduduk Mekkah –semoga Allah Ta’alaa menambah kemuliaan kepadanya- banyaknya orang yang melaksanakan umrah pada bulan Rajab. Hal ini saya tidak tahu tentang dalilnya. Yang pasti adalah hadits Rasulullah yang mengatakan: “Umrah di bulan Ramadan sama dengan melaksanakan haji.”

Syekh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah berkata dalam fatwa-fatwanya:
“Mengkhususkan sebagian hari bulan Rajab dengan amalan apa saja seperti ziarah dan lainnya tidak ada dalilnya karena Imam Abu syama telah menetapkan dalam kitab Al-Bida’ wal hawadits bahwa tidak seyogyanya mengkhususkan ibadah  dengan waktu-waktu tertentu yang tidak ditentukan syariat, karena suatu waktu tidak memiliki kelebihan dibanding waktu lain kecuali yang telah ditetapkan syariat sesuatu ibadah memiliki nilai lebih pada waktu tertentu atau semua ibadah memiliki kelebihan pada suatu waktu. Oleh karena itu para ulama mengingkari pengkhususan bulan Rajab untuk banyak melakukan umrah.”
Akan tetapi jika sesorang pergi umrah bertepatan pada bulan Rajab tanpa meyakini keutamaan tertentu di dalamnya atau karena kemampuannya pada waktu ini maka tidak apa-apa.
.

5. Perayaan malam Isra Mi’raj pada malam dua puluh Rajab, membaca cerita mi’raj, dan memberi makanan.

Perbuatan ini termasuk perkara baru yang mungkar yang dilakukan banyak orang.
Mereka pada malam dua puluh tujuh ini membaca cerita mi’raj  yang dinisbatkan kepada Ibnu Abbas yang semuanya adalah kebohongan dan dusta.

Perayaan yang mengada-ada ini tidak boleh dilaksanakan karena beberapa sebab:

– Para ulama saling berbeda pendapat dalam penentuan tanggal terjadinya peristiwa mulia ini. Tidak ada dalil yang menentukan malam terjadinya juga bulan terjadinya. ini dijelaskan dalam Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah oleh Ibnu Katsir (2/107) dan kitabMajmu’ul Fatawa (25/298).

– Jika peristiwa itu memang benar terjadi pada malam dua tujuh tidak boleh kita mengadakan perayaan tersebut juga tidak boleh kita mengistimewakannya dengan sesuatu yang tidak disyariatkan Allah dan Rasulnya.

– Pada malam dan perayaan Isra Mi’raj itu terjadi berbagai macam kemungkaran.
Sebagian ulama berkata: “Orang-orang melakukan berbagai macam variasi kemungkaran  dan amalan yang diada-adakan  pada malam ini seperti berkumpul di masjid-masjid, menyalakan lilin dan lampu di dalamnya.”

* Pada tulisan ini saya ingin menyadur perkataan dari Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah, tentang masalah ini. Ia berkata: “Malam dimana terjadi peristiwa Isra Mi’raj tidak ada dalam hadits-hadits sahih waktu penentuannya, tidak pada bulan Rajab juga pada bulan lainnya. Semua hal yang berkait tentang penentuannya tidak ada yang benar menurut ulama hadits.”
 
Tentang hikmah ilahiyah tidak diketahui secara pasti kapan terjadinya peristiwa Isra Mi’raj tersebut syekh Bin Baz berkata:

(ولله الحكمة البالغة في إنساء الناس لها، ولو ثبت تعيينها لم يجزْ للمسلمين أن يخصُّوها بشيء من العبادات، ولم يجزْ لهم أن يحتفلوا بها؛ لأنَّ النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه رضي الله عنهم لم يحتفلوا بها ولم يخصُّوها بشيء، ولو كان الاحتفال بها أمراً مشروعاً لبيَّنه الرَّسول صلى الله عليه وسلم للأُمّة، إما بالقول، وإما بالفعل، ولو وقع شيء من ذلك لعُرفَ واشتهر، ولَنَقَلهُ الصحابة رضي الله عنهم إلينا، فقد نقلوا عن نبيِّهم صلى الله عليه وسلم كلَّ شيء تحتاجه الأُمّة، ولم يُفرِّطوا في شيء من الدين، بل هم السابقون إلى كلِّ خير، ولو كان الاحتفال بهذه الليلة مشروعاً لكانوا أسبق إليه …)
“Allah menjadikan hikmah yang besar ketidaktahuannya manusia secara pasti kapan peristiwa itu terjadi. Meskipun diketahui secara pasti kapan peristiwa itu terjadi tetap tidak boleh bagi umat islam mengkhususkan malam itu dengan ibadah tertentu dan tidak boleh memperingatinya; karena Nabi dan para sahabatnya tidak pernah memperingatinya dan tidak mengkhususkannya dengan amalan apa pun. Seandainya peringatan isra mi’raj itu disyariatkan niscaya Rasulullah  menjelaskannya kepada umatnya dengan pekataan atau perbuatan. Jika hal itu pernah terjadi pada masanya pasti akan diketahui dan dikenal serta diberitakan oleh para sahabatnya kepada kita, karena mereka telah menjelaskan segala apa yang dibutuhkan umat dari Nabi mereka dan mereka tidak pernah lalai dalam menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan agama bahkan mereka adalah orang-orang pertama dalam setiap kebaikan. Jika peringatan malam isra mi’raj ini sesuai dengan syariat pasti mereka telah melaksanakannya dahulu…” dan seterusnya.
.

RINGKASAN

Amalan yang mengada-ada disamping merupakan hal baru yang merubah agama juga merupakan ikatan dan belenggu yang menyia-nyiakan waktu, menghambur-hamburkan harta, dan melelahkan tenaga. La haula wala quwwata illa billah
Sungguh benar ucapan yang mengatakan:

والخـَيْرُ في اتِّبـاع مَنْ سَلَفْ   والشَّرُّ في ابتداعِ مَنْ خلَفْ
Kebaikan berada dalam jejak para salaf (Rasulullah dan para sahabatnya serta pengikut mereka)
Kejelekan berada dalam amalan baru  yang diadakan orang-orang khalaf
 
رزق الله الجميع الإخلاص في عبادته، واتِّباع سنَّة نبيِّه صلى الله عليه وسلم ، والموت على ذلك. وصلى الله على سيِّدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita keikhlasan dalam beramal dan selalu mengikuti sunah Rasulullah  sampai kematian datang menjemput kita. Washallallah ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi washahbihi wasallam.
.

Disadur dan diterjemahkan dari makalah yang berjudul “al-ajab mimma ahdatsannau fi rajab” karya Khalid Ahmad Al-Babtain dan makalh berjudul “Haula syahri rajab”

Sumber: http://www.saaid.net/mktarat/12/7-9.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s