Seputar Al-Fatihah (Kesalahan Pengamalan)

Posted: Februari 4, 2013 in Fiqh, Manhaj
Tag:

۞ Untuknya Kukirim al-Fatihah

(Oleh: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi –hafizhahullah-)

.

Pada suatu acara, seorang tokoh dengan serius mengatakan: “Sebelum acara ini kita mulai, marilah kita membukanya dengan bacaan al-Fatihah..” Serempak, para hadirin pun tunduk dan khusyuk membacanya bersama-sama.

Di penghujung acara, seorang tokoh diminta menutup acara dengan doa, maka dia pun menghadiahkan doanya untuk para wali yang telah meninggal dunia, lalu mengatakan: “Al-Fatihah ala hadhroti syaikhina wa waliyyina..”

Kasus-kasus serupa mungkin sering kita jumpai dimasyarakat. Namun, pernahkah kita berfikir bahwa semua itu adalah tata cara beragama yang tidak ada contohnya dan diingkari oleh oleh para ulama?! Marilah kita kaji bersama masalah ini dengan lapang dada.

• Teks Hadits

الْفَا تِحَةُ لِمَا قُرِ ئَتْ لَهُ

Al-Faatihatu limaa quriat lahu

“Al-Fatihah itu sesuai untuk apa yang dibaca.”

TIDAK ADA ASALNYA. Yakni dengan lafadz ini, demikian juga kebanyakan keutamaan-keutamaan surat yang disebutkan oleh sebagian  ahli tafsir. Demikian dikatakan oleh Syaikh Ali al-Qori. [1]

Jadi hadits dengan lafadz ini tidak ada asalnya dalam kitab-kitab hadits. Cukuplah bagi kita keutamaan-keutamaan surat al-Fatihah yang shohih [2] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah sabda beliau:

“Tidak ada sholat bagi orang yang tidak membaca induk al-Qur’an (al-Fatihah).

• Mengkritisi Matan

Hadits ini dijadikan dasar oleh sebagian kalangan untuk memulai segala hajat dengan membaca “al-Fatihah..”

Oleh karena itulah, Syaikh Ali al-Qori rahimahullah berkata: “Hadits ini merupakan landasan amalan manusia yang sudah menjadi adapt yaitu membaca al-fatihah untuk mendapatkan kebutuhan mereka.” [4] Namun hal ini belum cukup untuk sebagai dasar karena harus diteliti terlebih dahulu derajat hadits tersebut.[5] Dan ternyata telah terbukti bahwa hadits tersebut adalah tidak ada asalnya sehingga tidak bisa dijadikan dasar dalam agama.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga berkata setelah menjelaskan keutamaan-keutamaan surat al-Fatihah yang shohih: “Dinamakan al-Fatihah (pembukaan) karena surat ini adalah pembuka dalam mushaf al-Qur’an dan bacaan pembuka dalam shalat, namun bukan berarti segala sesuatu dibuka dengan bacaan al-Fatihah.

Sebagian manusia pada zaman sekarang telah membuat suatu hal baru dalam agama tentang surat ini, mereka menutup doa dengannya dan memulai khutbah serta acara dengan mengatakan “al-Fatihah”!! Maka ini adalah suatu kesalahan, sebab agama ini dibangun di atas dalil dan ittiba’ (mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Syaikh Amr bin Abdul Mun’im hafizhahulah tatkala menyebutkan bid’ah-bid’ah seputar al-Qur’an yakni bacaan al-Fatihah ketika akad nikah atau pembukaan acara dan sebagainya, katanya: “Bid’ah ini begitu menyebar sekali sehingga masuk ke setiap negeri Islam, bahkan ada yang berkeyakinan bahwa akad-akad ini tidak akan mendapatkan berkah bila tidak dibuka terlebih dahulu dengan al-Fatihah, padahal semua itu tidak ada asalnya dalam syariat. Tetapi yang disyariatkan adalah membuka acara dengan khutbah hajah.” [7]

.

• KIRIM PAHALA BACAAN AL-FATIHAH

Menghadiahkan bacaan al-Qur’an untuk yang sudah meninggal dunia tidak pernah di nukil dari  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat radhiyallahu ‘anhum, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan juga tidak seorang pun dari  imam kaum muslimin. Seandainya hal itu baik, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat adalah orang yang terdepan mengamalkannya.

Banyak para ulama yang menegaskan bid’ahnya budaya kirim al-Fatihah kepara ruh fulan dan sebagainya [8]. Berikut beberapa nukilan, di antaranya:

– al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani rahimahullah berkata: “Do’a ini dibuat-buat, tidak ada asalnya dalam sunnah.”[9]

– al-Hafizh as-Sakhowi rahimahullah berkata: “Saya ditanya tentang kebiasaan manusia usai sholat. Mereka membaca al-Fatihah dan menghadiahkannya kepada kaum muslimin yang hidup dan mati, maka saya jawab: “Cara seperti ini tidak ada contohnya, bahkan ini termasuk kebid’ahan dalam agama.”[10]

– Ad-Dirdir rahimahullah berkata: “Sebagian umam kami (madzhab Malikiyyah) menegaskan bahwa membaca al-Fatihah dan menghadiahkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumnya di benci. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan: “Ini adalah do’a yang dibuat-buat oleh para pembaca al-Qur’an belakangan dan saya tidak mengetahui salaf yang mendahului mereka.”[11]

– Syaikh Muhammad Rosyid Ridho rahimahullah berkata: “Ketahuilah bahwa apa yang populer di kampung dan kota berupa bacaan al-Fatihah untuk orang-orang yang sudah meninggal dunia tidak ada haditsnya yang shohih maupun dho’if. Bahkan hal itu termasuk kebid’ahan yang sesat berdasarkan dalil-dalil yang telah lalu. Hanya saja karena orang-orang yang dianggap alim diam maka seakan-akan menjadi perkara yang sunnah muakkad atau bahkan wajib.”[12]

– Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Adapun menghadiahkan al-Fatihah atau selainnya kepada orang-orang yang mati maka tidak ada dalilnya. Hendaknya hal itu ditinggalkan karena tidak dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Namun disyariatkan berdo’a, shodaqoh, haji, umroh, membayar hutang dan sebagainya bagi yang telah meninggal yang telah jelas dalilnya bahwa hal itu bermanfaat bagi mayit.”[15]

• Sampaikah Kiriman Pahalanya?

Masalah ini diperselisihkan oleh ulama. Namun pendapat yang kuat dalam masalah ini bahwa pahala kiriman tersebut tidak sampai[14], sebab tidak ada dalil yang mengatakan sampainya. Karena ibadah itu dibangun di atas dalil, bukan logika dan analogi. Ini merupakan madzhab Syafi’i. Imam Ibnu Katsir berkata ketika menjelaskan surat an-Najm ayat 38:

“(Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” [QS.an-Najm/53: 38]

“Yakni sebagaimana dia tidak memikul dosa orang lain, dia juga tidak akan mendapatkan pahala kecuali apa yang dia usahakan sendiri. Dari ayat inilah imam Syafi’i rahimahullah dan para pengikutnya beristinbath (mengambil hukum) bahwa pahala hadiah bacaan al-Qur’an tidak sampai kepada si mayit, karena hal itu bukan dari amalan dan usahanya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencontohkan kepada umatnya, dan tidak menganjurkan serta menyuruh umatnya baik secara nash (dalil yang jelas) maupun secara isyarat. Perbuatan ini juga tidak dinukil dari seorang sahabat pun. Seandainya perbuatan itu baik,  tentu mereka adalah orang yang terdepan mempraktekkannya. Masalah ibadah hanyalah berdasar pada dalil, bukan akal pikiran dan pendapat manusia. Adapun doa dan sedekah maka hal itu telah menjadi kesepakatan akan sampainya pahala tersebut kepada mereka.” [15]

• Jangan Salah Sangka ?!

Perlu kami tegaskan disini bahwa tulisan ini bukan bermaksud melarang memabca surat al-Fatihah atau merendahkan al-Qur’an. Demi Allah azza wa jalla, bukan demikian maksudnya, tetapi tujuan kami hanyalah ingin meluruskan hal-hal yang tidak ada ajarannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga ibadah kita sesuai dengan tuntunan beliau.

Maka janganlah engkau tertipu dengan silat lidah ahli bid’ah yang menuduh ahli sunnah tatkala mengingkari ritual seperti ini dengan ucapan mereka: “Mereka adalah Wahhabi!! Melarang manusia dari dzikir dan membaca al-Qur’an! Tidak suka bacaan al-Qur’an dan Sholawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam!!”

Dari Said bin Musayyib, ia melihat seorang laki-laki menunaikan sholat setelah fajar lebih dari dua roka’at. Ia memanjangkan ruku dan sujudnya. Akhirnya Said bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata: “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah azza wa jalla akan menyiksaku dengan sebab sholat? Beliau menjawab: “Tidak, tetapi Allah azza wa jalla akan menyiksamu karena menyelisihi as Sunnah.”[16]

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah mengomentari atsar ini: “Ini adalah jawaban Said bin Musayyib yang sangat indah. Dan merupakan senjata pamungkas terhadap ahlul bid’ah yang menganggap baik kebanyakan bid’ah dengan alasan dzikir dan sholat, kemudian membantai ahlus sunnah dan menuduh mereka (Ahlus Sunnah) mengingkari dzikir dan sholat! Padahal sebenarnya yang mereka ingkari adalah penyelewengan ahlu bid’ah dari tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dzikir, sholat dan lain-lain.” [17]

Demikianlah penjelasan singkat masalah ini. Semoga bermanfaat. Amin.

*Footnote:

[1] al-Mashnu’ fi Ma’rifatil Hadits al-Maudhu’ oleh Mula Ali al-Qori hal.127. Dan apa yang beliau katakan bahwa kebanyakan fadhilah (keutamaan) surat al-Qur’an adalah lemah memang benar. Lihat ad-Durr al-Multaqoth fi Tabyin al-Golath, karya ash-Shoghoni hal.51 dan al-Mughni ‘anil Hifdzi wal Kitab karya al-Mushili hal.121-122

[2] Lihat ad-Duror min Shohihi Fadhoilil Ayat wa Suwar oleh Dr.Fakhruddin bin Zubair al-Muhassi cet.Dar Atsariyah

[3] Mutawatir, sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Bukhari dalam Juz’ul Qiro’ah hal.4 dan al-Kattani dalam Nadhmul Mutanatsir hal.103

[4] Al-Asror al-Marfu’ah hal.252

[5] Lihat Ta’liq Syaikh Muhammad bin Lutfhi as-Sobbagh atas al-Asror al-Marfu’ah hal.252

[6] Tafsir al-Qur’an al-Karim ¼ dan Syarh Mumti’ 3/61

[7] as-Sunan wal Mubtada’at fil Ibadat hal.227

[8] Kami hanya menukil komentar ulama yang berkaitan khusus tentang kirim bacaan al-Fatihah. Adapun budaya kirim pahala secara umam, maka banyak sekali nukilan komentar mereka, Lihatlah dalam Muqoddiman Syaikh Syaukat bin Rifqi terhadap kitab Majmu’ Rosail Fi Hukmil Ihda’ Tsawabi Qiro’atil Qur’an Lil Amwat, cet. Dar Atsariyyah.

[9] Al-Fatawa al-Haditsiyyah hal.23 oleh al-Haitsami

[10] Al-Ajwibah al-Mardhiyyah 2/721

[11] Asy-Syarh Kabir 2/10

[12] Tafsir al-Manar Surat al-An’am hal.164

[13] Majalah al Buhuts al-Islamiyyah edisi 28 hal.108

[14] Lihat masalah ini secara luas dalam Hukmul al-Qiro’ah lil Amwat hal Yashilu Tsawabuha Ilaihim? Karya Syaikh Muhammad Ahmad Abdussalam, ta’liq oleh Abdul Aziz al-Juhani. Syaikh Mushtofa al-Adawi berkata tentang kitab ini: “Departemen agama Mesir telah menerbitkan sebuah risalah berharga yang disusun oleh  Muhammad Ahmad Abdussalam, beliau telah mengumpulkan perkataan para ulama ahli tafsir, hadits, fiqih, ushul, dan madzhab. Kemudian menyimpulkan bahwa bacaan al-Qur’an tidak sampai pahalanya kepada si mayit. Beliau juga mengikis habis beberapa argument yang rapuh dalam masalah ini.” [Ash-Shohihul Musnad Min Adzmaril yaum wa Lailah hal.331]

[15] Tafsir al-Qur’anil Adzim surat an-Najm hal.38

[16] Dikeluarkan oleh Baihaqi dalam Sunan Kubro 2/466 dishohihkan al-Albani dalam Irwaul Gholil 2/236

[17] Irwaul Gholil 2/236

Sumber: Disalin ulang dari Majalah al Furqon Edisi 10 Tahun Kesembilan Jumadil Ula 1431 [April/Mei 2010] Hal.14-16

http://bit.ly/Yu1T64

—————————

.

۞ Apa-Apa Al-Fatihah Dahulu

(Oleh: Abu Ukasyah Ustadz Aris Munandar)

قال العلامة الإمام الفقيه محمد بن صالح العثيمين – رحمه الله تعالى – في ( شرح بلوغ المرام ) :

Ketika menjelaskan kitab Bulughul Maram, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin mengatakan

واما ما يفعله بعض العوام من انه كلما أرادوا شيئا قالوا : الفاتحة ؛ وهذا والحمد لله لا يوجد عندنا ؛ لكن يوجد عند إخواننا الذين يفدون إلي البلاد ؛ كل شيء الفاتحة ؛ عند عقد النكاح الفاتحة ، وعند الصلح ، وعند أي شيء ، وهذا بدعة ؛ ولا يجوز ؛

“Adalah kebiasaan sebagian orang awam setiap kali hendak melakukan sesuatu mengatakan ‘alfatihah’. Alhamdulillah perilaku semacam ini tidak dilakukan oleh orang Saudi namun sebagian saudara kita kaum muslimin yang berada di Saudi itu apa apa al fatihah. Ketika akad nikah alfatihah, ketika berunding untuk damai alfatihah. Pokoknya apa apa serba alfatihah. Sikap semacam ini adalah bid’ah yang tidak boleh dilakukan.

لانه لو كانت خيرا لكان أول من يفعلها الرسول صلى الله عليه وسلم وأصحابه لكنها بدعة ، وليست مشروعة .

Alasannya jika perbuatan semacam ini adalah kebaikan tentu saja yang pertama kali melakukannya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Karena mereka tidak pernah melakukannya maka amalan seperti ini adalah bid’ah dan tidak dituntunkan”.

Sumber:

http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?p=113402#post113402

http://bit.ly/12kdoBV

—————————-

.

۞ Hukum Mengirimkan Bacaan Al Fatihah Untuk Mayit

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah ditanya :

هل يجوز قراءة الفاتحة على الموتى وهل تصل إليهم؟.

Apakah boleh membacakan al fatihah untuk mayit dan apakah pahalanya sampai kepadanya ?

Syaikh rahimahullah menjawab :

 جواب السؤال قراءة الفاتحة على الموتى لا أعلم فيها نصاً من السنة وعلى هذا فلا تُقرأ لأن الأصل في العبادات الحظر والمنع حتى يقوم دليل على ثبوتها وأنها من شرع الله ــ عز وجل ــ

Tentang dasar disyariatkannya membacakan al fatihah untuk mayit maka saya tidak mengetahui dalil dari sunnah. Oleh karena itu janganlah membacakan al fatihah untuk mayit, karena hukum asal dari ibadah adalah terlarang sampai ada dalil yang menetapkannya bahwa ibadah tersebut disyariatkan oleh Allah azza wa jalla.

ودليل ذلك أن الله أنكر على من شرعوا في دين الله ما لم يأذن به الله، فقال ــ تعالى ــ: (أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله). الشورى:21)). وثبت عن النبي، صلى الله عليه وسلم، أنه قال: ((من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد)).وإذا كان مردوداً كان باطلاً وعبثاً يُنَزه الله عز وجل أن يُتقرب به إليه.

Dalil yang menyatakan bahwa hukum asal ibadah itu terlarang adalah bahwa Allah mengingkari orang yang membuat syariat dalam agama Allah dengan syariat yang tidak Allah izinkan. Allah ta’ala berfirman :

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” [Asy syuara : 21]

Demikian pula terdapat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami maka amalannya tertolak.”

Jika amalan tersebut tertolak maka amalan tersebut batal dan sia-sia. Allah disucikan dari amalan taqarrub yang demikian.

 وأما استئجار قارئ يقرأ القرآن ليكون ثوابه للميت فإنه حرام ولا يصح أخذ الأجرة على قراءة القرآن ومن أخذ أجرة على قراءة القرآن فهو آثم ولا ثواب له

Adapun tentang menyewa seseorang untuk membaca Al Qur’an supaya pahala bacaan tersebut sampai kepada mayit, hukumnya adalah haram. Tidak sah mengambil balasan/upah dari bacaan Al Qur’an tersebut dan barangsiapa yang mengambil upah karena bacaan Al Qur’an maka dia telah berdosa dan tidak ada pahala baginya.

لأن قراءة القرآن عبادة ولا يجوز أن تكون العبادة وسيلة إلى شيئ من الدنيا قال الله ـ تعالى ـ ( من كان يريد الحياة الدنيا وزينتها نوف إليهم أعمالهم فيها وهم فيها لا يبخسون). ] هود: 15

Karena membaca Al Qur’an merupakan ibadah dan yang namanya ibadah tidak boleh dijadikan sarana untuk memperoleh bagian dari dunia. Allah ta’ala berfirman :

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.”  [Hud : 15]

Sumber : http://islamancient.com/play.php?catsmktba=5116

http://bit.ly/UhGcZE

—————————-

.

۞ Hukum Membaca Al-Fatihah Setelah Shalat Fardhu

(Ustadz Abdullah Roy. Lc)

.

Tanya:

Assalamu’alaikum warahmatullah ustadz,

ana sangat penasaran mengapa banyak orang setelah selesai shalat, salah satu bacaannya adalah surat Al-Fatihah, demikian pula ketika awal berdoa atau diakhirnya membaca alfatihah, ana mempunyai dugaan kuat bahwa itu tidak ada tuntunannya sama sekali, cuma masih dugaan, apakah memang ada haditsnya (meskipun lemah atau palsu), atau sama sekali tidak ada dasarnya? mohon penjelasannya ustadz. Barakallahu fiik.

(abu yusuf)

Jawab:

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh. Wa fiika barakallahu.

Al-Fatihah adalah surat yang paling utama di dalam Al-Quran namun tidak boleh kita mengkhususkan membaca surat ini pada waktu tertentu atau maksud tertentu kecuali yang ada dalilnya.

Dan saya tidak mengetahui dalil yang menunjukkan bahwa surat ini disunnahkan dibaca setelah shalat fardhu. Sampai hadist yang lemah atau palsupun saya belum mendapatkan.

Berkata Syeikh Shalih bin Fauzan:

أمَّا قراءتها أدبار الصَّلوات؛ فلا أعلم له دليلاً من سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم، وإنما الذي ورد هو قراءة آية الكرسي ، و { قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ } ، و { قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ } ، و { قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ }؛ وردت الأحاديث بقراءة هذه السُّور بعد الصَّلوات الخمس، وأمَّا الفاتحة؛ فلا أعلم دليلاً على مشروعيَّة قراءتها بعد الصَّلاة .

“Adapun membacanya (yaitu Al-Fatihah) setelah shalat fardhu maka saya tidak mengetahui dalilnya dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang ada dalilnya adalah ayat kursy, qul huwallahu ahad, dan qul a’udzu birabbil falaq, dan qul a’udzu birabbinnas. Telah datang hadist-hadist yang menunjukkan disyari’atkannya membaca surat-surat ini setelah shalat lima waktu, adapun Al-Fatihah maka saya tidak mengetahui dalil yang menunjukkan disyariatkannya untuk dibaca setelah shalat.” (Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan no: 133)

Demikian pula membaca Al-Fatihah sebelum dan setelah berdoa saya tidak mengetahui dalilnya.

Yang disunnahkan sebelum berdoa adalah memuji Allah dan membaca shalawat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا صلى أحدكم فليبدأ بتحميد الله والثناء عليه ثم ليصل على النبي صلى الله عليه و سلم ثم ليدع بعد بما يشاء

“Apabila salah seorang dari kalian berdoa maka hendaklah memulai dengan memuji Allah dan memujaNya, kemudian hendaknya membaca shalawat atas nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian berdoa setelah itu dengan apa yang dia inginkan.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzy, Dari Fadhalah bin Ubaid dan dishahihkan Syeikh Al-Albany)

Berkata Al-Lajnah Ad-Daimah:

لم يثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه كان يقرأ الفاتحة بعد الدعاء فيما نعلم، فقراءتها بعد الدعاء بدعة.

“Tidak datang dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau membaca Al-Fatihah setelah berdoa sebatas pengetahuan kami, oleh karena itu membacanya setelah berdoa adalah bid’ah.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 2/528).

Wallahu a’lam.

Sumber:

http://bit.ly/YMBl3Q

—————————

Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    saya yang haus ilmu ini hanya ingin mengajak supaya tida jadi perdebatan maka ngaji lah perdalamlah ilmu agama secara kaafah.. sehingga mana yg jadi perdebatan akan sirna,, dan bagi yang masih mengandalkan buku dan ustadz yg tidak bersanad mending tidak ikut berdebat karna tidak akan menemukan penyelesian melainkan pertengkaran.. terimakasih.

  2. Anonim mengatakan:

    oh iy dan masalah bid’ah juga ada bid’ah yg baik dan buruk… contoh bid’ah yang baik adalah Al-Qur’an yang baru ada setelah Nabi Sholallohualaihi wasalam wafat… jadi tidak semua bid’ah itu haram seperti yang disebutkan,, maaf jika berbeda namun ada baiknya tida mendengar kan sesuatu hal dari satu sudut.. ,, terimakasih.. wassalam.

  3. Anonim mengatakan:

    Kalo memang tidak ada dalilnya mendoa kan yg mati pahalanya tdk sampai ke si mayit..! Buat apa gunanya doa anak yg soleh untuk kedua orang tuanya yg sdh meninggal

  4. Moh. Suyatno mengatakan:

    Ini situs… amalkan sesuai apa yg diajarkan gurumu, bid’ah atau tdk, klo dihadapkan dgn hadist yg lain itu tdk pernah ada ujung pangkailnya maaf sy ga mungkin ungkap smua hadist, sy hanya berharap kalao menyebarkan akidah jangan melalui situs karena sy kawatir ini dpt merusak ukuwah islam dan memecah belah NKRI..

  5. Moh. Suyatno mengatakan:

    Acara ritual yasin & tahlil mutlak ini ajaran para wali.. Klo ini dinyatakan bid’ah tolong dikaji dulu kalao akidah anda berbeda, jangan cuma sebar via situs.. Tapi Coba anda tekankan kepada seluruh pondok pesantren se INDONESIA di negeri ini agar tidak mengajarkan kpd para santrinya ttg segala yg menurut anda bid’ah. Sekalian usul ke DEPAG Agar membuat RUU yg menurut anda ttg sesuatu yg anggap anda bid’ah.. Wslm.. Cinta damai dunia akhirat
    ..

  6. Anonim mengatakan:

    Amalan Thariqat qadiriah wa naqsyabandiyyah yang diajarkan kepada Santri2nya di Ponpes Suryalaya-Tasik oleh Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin ( Abah Anom ) yang juga telah diteliti oleh K.H. Zezen ZA Bazul Asyhab (Peneliti bidang Ilmu dan Da’wah) misalnya mengamalkan Dzikir harian, khataman, tawassul dan silsilhan.
    Yang saya tanya : Apakah belajar mengajar tersebut diatas ada unsur BID’AH…

  7. trinyata mengatakan:

    untuk yang menulis diatas kayaknya anda salah ngaji,salah tempat belajar awalnya.

  8. alif mengatakan:

    Setiap orang /golongan punya dalil masing ” ,biarkn lh jgn so paling benar,justru yg kaya begini nih yg nm x bid,ah mempropokasi umat,ini baru gk ada dr nabinya…

  9. Anonim mengatakan:

    gmana kalau naik haji pake pesawat tidak ada diajarkan nabi

  10. Anonim mengatakan:

    saya mau nanya gan dizaman nabi kita juga ngk ada dicontohkan mebaca al qur an berupa kitap dan tidak ada hadis dan dahlil yg bilang ada cetakan al quran kalau yg laikatanya bidah papa yg tidak diperbuat papa yg tidak dilaku kan nabi gmana kalau naik haji org skrg naik pesawat pa ngk bidah

  11. Anonim mengatakan:

    Amalkan saja sesuai hati nurani sendiri agar tidak terjadi pertentangan, yang pernah saya dengar dari beberapa ustad dan guru agama islam bahwa ada 3 perkara pahala yang tidak putus selama kita telah meninggal diantaranya: 1. ShodaqohJariah, 2. Ilmu yang bermanfaat dan ke 3. Do’a-do’a dari anak kita yang Shaleh/Shalehah. Intinya gak usah kita amalkan yang menurut kita gak baik titik.

  12. Muhammad mulyadi mengatakan:

    Jaman nabi belum ada mushaf. Apakah brarti mrmbaca mushaf adalah bid’ah? Apakah Nabi yang meletakkan AlFateha di awal mushaf? Mulai kapan anda jadi panitia amal yang langsung saja memvonis salah dan benar seseorang. Siapa yang bisa menjamin bahwa segala yang anda lakukan telah lepas dari bi’dah?

  13. Tanpa nama mengatakan:

    Yang setahu saya memang tidak ada penutup doa membaca al fatihah yang ada doa kedua orang tua dan doa dunia dan akhirat, jika ingin membacakan doa buat org sudah meninggal bukan al fatiha tpi baca surat yasin

  14. abu mengatakan:

    Jazakumullah akhi atas tulisannya walau
    Komentar2nya byk yg kontra.
    Sedikit komen sy thd testi yg ada.
    Berbakti kpd ortu itu mendoakan dan smaksimal mungkin berbuat baik(bg yg msh hidup) . Doa kpd ortu telah diajarkan, allahummaghfirli waliwalidayya.. …,ilmu yg benar yg diajarkannya dan kita amalkan maka itu pula ya mjd sungai pahala bg keduanya.
    Sebagai contoh, bila kita sering mengaji dan belajar ngajinya kita krn diajarkan oleh ortu,maka spanjang kita terus mengaji pahalanya akan terus mengalir utk ortu.
    Jadi mari kita sama2 perbanyak mengaji,baca quran, pahami dan amalkan, Insya Allah, bila Allah merahmati, akan datang byk petunjuk dariNya yg membuat kita akan semakin mendekat kepadaNya

  15. hamba 4llah mengatakan:

    Trim’s atas infonya.tp sebagai umat…..malah bingung.di masyarakat rutin sprti itu.tapi kok salah?lebih2 hidup di kampung bisa jadi dianggap sesat oleh masyarakat karena mengubah kebiasaan.mohon solusinya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s