Hukum Alkohol Dalam Obat dan Parfum

Posted: April 3, 2013 in Fiqh
Tag:,

Banyak pertanyaan seputar hukum alkohol yang kaitannya dengan obat, kosmetika, atau pun lainnya. Berikut ini penjelasan Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari :

Alhamdulillah, para ulama besar abad ini telah berbicara tentang permasalahan alkohol [1], maka di sini kita nukilkan fatwa-fatwa mereka sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
Terdapat perbedaan ijtihad di antara mereka dalam memandang permasalahan ini. Asy-Syaikh Ibnu Baz rohimahulloh berpendapat bahwa sesuatu yang telah bercampur dengan alkohol tidak boleh dimanfaatkan, meskipun kadar alkoholnya rendah, dalam arti tidak mengubahnya menjadi sesuatu yang memabukkan.
Karena hal ini tetap masuk dalam hadits ;

مَا أَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ
“Sesuatu yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnyapun haram.” [2]

Ketika beliau ditanya tentang obat-obatan yang sebagiannya mengandung bahan pembius dan sebagian lainnya mengandung alkohol, dengan perbandingan kadar campuran yang beraneka ragam, maka beliau menjawab:
“Obat-obatan yang memberi rasa lega dan mengurangi rasa sakit penderita, tidak mengapa digunakan sebelum dan sesudah operasi. Kecuali jika diketahui bahwa obat-obatan tersebut dari ‘Sesuatu yang banyaknya memabukkan’ maka tidak boleh digunakan berdasarkan sabda Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam:

مَا أَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ
“Sesuatu yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnyapun haram.”

Adapun jika obat-obatan itu tidak memabukkan dan banyaknya pun tidak memabukkan, hanya saja berefek membius (menghilangkan rasa) untuk mengurangi beban rasa sakit penderita maka yang seperti ini tidak mengapa.”(Majmu’ Fatawa, 6/18)

Juga ketika beliau ditanya tentang parfum yang disebut الْكُلُوْنِيَا(cologne), beliau berkata: “Parfum الْكُلُوْنِيَا (cologne) yang mengandung alkohol tidak boleh (haram) untuk digunakan. Karena telah tetap (jelas) di sisi kami berdasarkan keterangan para dokter yang ahli di bidang ini bahwa parfum jenis tersebut memabukkan karena mengandung “spiritus” yang dikenal. Oleh sebab itu, haram bagi kaum lelaki dan wanita untuk menggunakan parfum jenis tersebut…
Kalau ada parfum jenis cologne yang tidak memabukkan maka tidak haram menggunakannya. Karena hukum itu berputar sesuai dengan ‘illah-nya [3], ada atau tidaknya ‘illah tersebut (kalau ‘illah itu ada pada suatu perkara maka perkara itu memiliki hukum tersebut, kalau tidak ada maka hukum itu tidak berlaku padanya).” (Majmu’ Fatawa , 6/396 dan 10/38-39)

Dan yang lebih jelas lagi adalah jawaban beliau pada Majmu’ Fatawa (5/382, dan 10/41) beliau berkata:
”Pada asalnya segala jenis parfum dan minyak wangi yang beredar di khalayak manusia hukumnya halal. Kecuali yang diketahui mengandung sesuatu yang merupakan penghalang untuk menggunakannya, karena ‘sesuatu’ itu memabukkan atau banyaknya memabukkan atau karena ‘sesuatu’ itu adalah najis, dan yang semacamnya…
Jadi, jika seseorang mengetahui ada parfum yang mengandung ‘sesuatu’ berupa bahan memabukkan atau benda najis yang menjadi penghalang untuk menggunakannya, maka diapun meninggalkannya (tidak menggunakanya) seperti cologne. Karena telah tetap (jelas) di sisi kami berdasarkan persaksian para dokter (yang ahli di bidang ini) bahwa parfum ini tidak terbebas dari bahan memabukkan karena mengandung ‘spiritus’ berkadar tinggi, yang merupakan bahan memabukkan, sehingga wajib untuk ditinggalkan (tidak digunakan). Kecuali jika ditemukan ada parfum jenis ini yang terbebas dari bahan memabukkan (maka tentunya tidak mengapa untuk digunakan). Dan jenis-jenis parfum yang lain sebagai gantinya, sekian banyak yang dihalalkan oleh Allah ta’ala, walhamdulillah.
Demikian pula halnya, segala macam minuman dan makanan yang mengandung bahan memabukkan, wajib untuk ditinggalkan.
Kaidahnya adalah: “Sesuatu yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram”, sebagaimana sabda Rasulullah shollallohu ‘alayhi wasallam;

مَا أَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ
“Sesuatu yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnyapun haram.”

Dan hanya Allah Subhaanahu wa Ta’ala lah yang memberi taufik.”

Demikian pula yang terpahami dari fatwa guru kami Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rohimahulloh (dalam Ijabatus Sa`il hal. 697) bahwa pendapat beliau sama dengan pendapat gurunya yaitu Asy-Syaikh Ibnu Baz rohimahulloh ketika ditanya tentang cologne. Beliau menjawab (tanpa rincian) bahwa tidak boleh menggunakannya dan tidak boleh memperjualbelikannya,
berdasarkan hadits Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu:

لـَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَمْرِ عَشَرَةً : عَاصِرُهَا وَمُعْتَصِرُهَا وَشَارِبُهَا وَحَامِلُهَا وَالْمَحْمُولَةُ إِلَيْهِ وَسَاقِيْهَا وَبَائِعُهَا وَآكِلُ ثَمَنِهَا وَالْمُشْتَرِي لَهَا وَالْمُشْتَرَاةُ لَهُ
“Rasulullah shollallohu ‘alayhi wasallam melaknat 10 jenis orang karena khamr: yang memprosesnya (membuatnya), yang minta dibuatkan, yang meminumnya, yang membawanya, yang dibawakan untuknya, yang menghidangkannya, yang menjualnya, yang makan (menikmati) harga penjualannya, yang membelinya dan yang dibelikan untuknya.” [4]
*

Sementara itu, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahulloh dan Asy-Syaikh Al-Albani Rohimahulloh berpendapat bahwa pada permasalahan ini ada rincian, sebagaimana yang akan kita simak dengan jelas dari fatwa keduanya.

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahulloh dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/178) cetakan Darul Atsar, berkata:
“Bagaimana menurut kalian tentang sebagian obat-obatan yang ada pada masa ini yang mengandung alkohol, terkadang digunakan pada kondisi darurat?
Kami nyatakan: Menurut kami, obat-obatan ini tidak memabukkan seperti mabuk yang diakibatkan oleh khamr, melainkan hanya berefek mengurangi kesadaran penderita dan mengurangi rasa sakitnya. Jadi ini mirip dengan obat bius yang berefek menghilangkan rasa sakit (sehingga penderita tidak merasakan sakit sama sekali) tanpa disertai rasa nikmat dan terbuai.
Telah diketahui bahwa hukum yang bergantung pada suatu ‘illah [5], jika ‘illah tersebut tidak ada maka hukumnya pun tidak ada. Nah, selama ‘illah suatu perkara dihukumi khamr adalah “memabukkan”, sedangkan obat-obatan ini tidak memabukkan, berarti tidak termasuk kategori khamr yang haram. Wallahu a’lam. Wajib bagi kita untuk mengetahui perbedaan antara pernyataan: “Sesuatu yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram” dengan pernyataan: “Sesuatu yang memabukkan dan dicampur dengan bahan yang lain maka haram.” Karena pernyataan yang pertama artinya minuman itu sendiri (adalah merupakan khamr), apabila anda minum banyak tentu anda mabuk, dan apabila anda minum sedikit maka anda tidak mabuk, namun Rasulullah shollallohu ‘alayhi wasallam mengatakan; “Sedikitnyapun haram.” (Kenapa demikian padahal yang sedikit tersebut tidak memabukkan?) Karena itu merupakan dzari’ah (artinya bahwa yang sedikit itu merupakan wasilah/ perantara yang akan menyeret pelakunya sampai akhirnya dia minum banyak, sehingga diharamkan). Adapun mencampur dengan bahan lain dengan perbandingan kadar alkoholnya sedikit sehingga tidak menjadikan bahan tersebut memabukkan maka yang seperti ini tidak mengubah bahan tersebut menjadi khamr (yang haram). Jadi ibaratnya seperti benda najis yang jatuh ke dalam air (tapi kadar najisnya sedikit) dan tidak menajisi (merusak kesucian) air tersebut (karena warna, bau, ataupun rasanya tidak berubah) maka air tersebut tidak menjadi najis karenanya (tetap suci dan mensucikan).”

Asy-Syaikh Al-Albani Rohimahulloh ketika ditanya tentang berbagai parfum atau minyak wangi yang mengandung alkohol, maka beliau menjawab:
“Apabila kadar alkohol yang terkandung di dalamnya menjadikan parfum-parfum yang harum itu sebagai cairan yang memabukkan, dalam arti kalau diminum oleh seorang pecandu khamr dan ternyata memberi pengaruh seperti pengaruh khamr (yaitu mengakibatkan dia mabuk, maka parfum-parfum tersebut hukumnya tidak boleh (haram untuk digunakan). Adapun jika kadar alkoholnya sedikit (dalam arti tidak mengubah parfum-parfum tersebut menjadi memabukkan) maka hukumnya boleh. (Kaset Silsilatul Huda wan Nur)

Kemudian kita akhiri pembahasan ini dengan fatwa Asy-Syaikh Al-Albani Rohimahulloh yang sangat rinci. Beliau berkata:
“Untuk memahami makna hadits :

مَا أَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ
“Sesuatu yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram.”

Mari kita mendatangkan contoh: Kalau ada 1 liter air yang mengandung 50 gram bahan memabukkan yang kita namakan alkohol, maka cairan ini –yang tersusun dari air dan alkohol– berubah menjadi memabukkan. Namun jika seseorang minum sedikit maka dia tidak akan mabuk. Lain halnya jika dia minum dengan kadar yang lazim diminum oleh seseorang maka dia akan mabuk, dengan demikian menjadilah yang sedikit tadi haram. Sebaliknya, kalau ada 1 liter air mengandung 5 gram alkohol (misalnya). Jika seseorang minum 1 liter air tersebut sampai habis dia tidak mabuk, maka yang seperti ini halal untuk diminum.
Selanjutnya, apakah boleh bagi seorang muslim mengambil 1 liter air kemudian menumpahkan 5 gram alkohol ke dalamnya dengan alasan bahwa 5 gram alkohol tersebut tidak mengubah 1 liter air yang ada menjadi memabukkan?
Jawabannya: Tidak boleh.
Kenapa tidak boleh?
Karena tidak boleh bagimu untuk memiliki bahan yang memabukkan yang merupakan inti dari khamr, yaitu alkohol. Jadi kegiatan mencampur alkohol dengan bahan lain tidak boleh dalam syariat Islam…

Telah kami nyatakan bahwa obat-obatan yang ada di apotek-apotek pada masa ini –bahkan boleh jadi kebanyakannya– mengandung alkohol, atau tertera padanya tulisan perbandingan kadar alkoholnya; 5gram, 10gram…
Apakah kita mengatakan bahwa obat-obatan ini jika diminum seorang sehat ataupun sakit dengan kadar yang banyak dan ternyata dia mabuk, berarti tidak boleh digunakan karena memabukkan, meskipun dia hanya menelan 1 sendok saja? Inilah yang dimaksudkan dengan hadits “Sesuatu yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram.” Adapun jika perbandingan alkoholnya sedikit –dalam arti berapapun yang dia minum tidak menjadikannya mabuk– maka boleh menggunakannya, meskipun dia minum banyak.
Namun perkara lain (yang penting untuk diingat) sama dengan apa yang telah saya sebutkan sebelumnya, bahwa obat-obatan yang mengandung alkohol dengan perbandingan yang tidak melanggar syariat sesuai dengan rincian yang disebutkan, tidak boleh bagi seorang apoteker muslim untuk meracik obat yang seperti itu. Karena tidak boleh ada alkohol di rumah seorang muslim ataupun di tempat kerjanya. Haram baginya untuk membelinya atau membuatnya sendiri. Dan ini perkara yang jelas karena Rasulullah shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda:

لَعَنَ اللهُ فِي الْخَمْرِ عَشَرَةً…
“Allah melaknat 10 jenis orang karena khamr…” [6]

Seorang apoteker yang hendak meracik obat dan mencampurnya dengan alkohol yang memabukkan itu, baik dengan cara membuat alkohol sendiri (dengan proses pembuatan tertentu) atau membeli alkohol yang sudah jadi, termasuk dalam salah satu dari 10 jenis orang yang dilaknat dalam hadits tersebut. Lain halnya apabila seseorang membeli obat yang sudah jadi, dengan kadar alkohol yang rendah yang tidak menjadikan banyaknya obat tersebut memabukkan, maka ini boleh.” (Kaset Silsilatul Huda wan Nur).

Dan kami memandang bahwa pendapat Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsamin dan Asy-Syaikh Al-Albani Rohimahumalloh, lebih dekat kepada kebenaran.
Wallahu a’lam.
*

___________
Catatan kaki :

[1 ]Perlu diketahui bahwa alkohol (alkanol) ada beberapa golongan. Di antaranya etanol (inilah yang dijadikan sebagai zat pelarut, bahan bakar, atau zat asal untuk preparat-preparat farmasi, dan sebagian besar digunakan untuk minuman keras), spiritus, dsb., sebagaimana diterangkan dalam buku-buku kimia dan farmasi.

[2] Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dari Jabir bin Abdillah c. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i dalam Ash-Shahihul Musnad (1/160-161). Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani, dan beliau menshahihkannya dengan syawahidnya dari beberapa shahabat yang lain (Al-Irwa‘, 8/42-43).

[3] ‘Illah suatu hukum adalah sebab penentu suatu perkara memiliki hukum tersebut.

[4] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (1318) dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil v dalam kitabnya Ash-Shahihul Musnad (1/57) dan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi. Hadits yang semakna dengan hadits ini juga diriwayatkan dengan lafadz لَعَنَ اللهُ … (Allah melaknat…) dari Ibnu ‘Umar Radhiallaahu ‘anhuma, oleh Ath-Thahawi, Al-Hakim, dan yang lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dengan keseluruhan jalan-jalannya dalam Al-Irwa` (5/365-367).

[5] Lihat catatan kaki no. 3

[6] Lihat haditsnya secara lengkap pada fatwa Asy-Syaikh Muqbil di halaman sebelumnya.

***
Sumber : http://asysyariah.com/print.php?id_online=312

_____________________________

HUKUM OBAT BERAKOHOL
(Fatwa Syaikh Ibnu Jibrin rahimahullah)

بعض الأدوية يكون فيها نسبة من الكحول فما حكمها
Sebagian obat mengandung alkohol dalam prosentase tertentu. Apa hukumnya?

س: بعض الأدوية يكون فيها نسبة من الكحول فما حكم استعمالها ؟ وإذا كان لا بد في تركيبها من هذه الكحول. أفيدونا؟
PERTANYAAN:
“Sebagian obat mengandung alkohol dalam prosentase tertentu. Apa hukum mengkomsumsi obat semacam itu? Jika suatu obat itu harus mengandung alkohol, apa status hukumnya?

ج: أرى أنه يجوز استعمالها عند الحاجة والضرورة،
JAWABAN (Syaikh Ibnu Jibrin):
“Kami berpandangan bolehnya mengonsumsi obat semacam itu ketika memang dibutuhkan atau dalam kondisi terpaksa.

وذلك لأن هذه النسبة قليلة فيها،
Alasannya adalah sebagai berikut:
Pertama, prosentase alkohol dalam obat tersebut rendah (sehingga pengaruh alkohol dalam obat tersebut tidak ada, pent)

ثم هي مستهلكة في ذلك الدواء كالنبيذ الذي صب عليه ماء كثير أزال تأثيره،
Kedua, alkohol dalam obat tersebut sudah mengalami proses istihlak (hilangnya pengaruh dan ciri fisik suatu materi karena telah bercampur dengan materi yang lain, pent). Alkohol dalam hal ini tidaklah berbeda dengan nabiz (khamar yang berasal dari buah-buahan) yang dicampuri dengan air dalam jumlah besar sehingga pengaruh nabiz tersebut hilang (sedangkan para ahli fikih menilai bahwa nabiz dalam kondisi semisal ini tidak lagi dinilai sebagai khamr, pent).

ولأن الأدوية علاج أمراض لا تؤكل ولا تشرب، والوعيد في الخمر ورد على الشرب،
Ketiga, obat yang beralkohol dikomsumsi untuk terapi penyakit bukan untuk dinikmati dengan dimakan atau diminum. Sedangkan ancaman keras terkait dengan khamr adalah menikmati khamar dengan meminumnya.

ولأنها في هذه الحال لا تتصف بالإسكار، ولو كانت تخدر العضو أو الجسم فهي كالبنج ونحوه،
Keempat, alkohol dalam kondisi di atas tidaklah memiliki sifat memabukkan. Andai alkohol tersebut mematikan rasa pada satu bagian anggota badan ataupun keseluruhan badan maka statusnya sebagaimana obat bius (yang menghilangkan kesadaran namun tidak dinilai sebagai khamr, pent).

ولأنها لا يتلذذ بها بخلاف المسكرات فإنها تشرب للتلذذ وتهواها النفوس وتطرب لها، ويحصل بها نشوة وارتياح والتذاذ، وليس كذلك هذه الأدوية التي تجعل فيها هذه المادة حتى تحفظ عليها وظيفتها وتمنعها من التعفن والتغير،
Kelima, obat yang bercampur alkohol tersebut tidaklah dinilai ‘nikmat’ berbeda dengan minuman memabukkan yang diminum untuk ‘kenikmatan’, jiwa pun menyukainya dan peminumnya bisa merasa ‘fly’. Lain keadaannya dengan obat yang mengandung unsur alkohol yang fungsi terapi dari obat tersebut tetap terjaga (meski mengandung alkohol) juga terjaga dari perubahan sifat fisiknya (sehingga berubah menjadi memabukan).

فإن وجد ما يقوم مقامها غيرها، فلا أرى استعمالها إلا عند الضرورة، والله أعلم.
Namun jika ada obat yang bersih dari alkohol dan bisa menggantikan fungsi obat yang beralkohol maka kami berpandangan bahwa obat yang beralkohol tersebut tidak boleh dikonsumsi kecuali dalam kondisi darurat”.

الفتاوى الشرعية في المسائل الطبية (الجزء الأول) ص26-
Demikian fatwa Ibnu Jibrin sebagaimana termaktub dalam buku al Fatawa al Syar’iyyah fi al Masail al Thibbiyyah jilid 1 hal 26

Sumber: http://www.ibn-jebreen.com/book.php?cat=6&book=49&toc=2158&page=1994&subid=17414
*
________
CATATAN:

Fatwa di atas menunjukan bahwa ada istilah darurat dalam pengobatan. Artinya materi yang haram atau mengandung unsur yang haram itu boleh dikonsumsi sebagai obat dalam kondisi darurat.
Khamr adalah semua materi yang memiliki sifat iskar (memabukkan). Sesuatu itu dinilai memiliki sifat iskar jika memenuhi dua kriteria:
a) menghilangkan kesadaran
b) menimbulkan rasa nikmat.

Oleh karena itu, obat bius untuk kepentingan operasi itu tidak termasuk khamr meski obat tersebut memiliki sifat menghilangkan kesadaran. Akan tetapi karena kriteria kedua tidak terpenuhi maka obat bius tidaklah tergolong khamr yang diharamkan untuk dikonsumsi.
Demikian pula obat yang beralkohol, tidak ada padanya dua kriteria di atas sehingga tidak bisa digolongkan sebagai khamr.

Di antara kaedah penting terkait najis dan kehalalan suatu produk pangan adalah istihlak yang definisinya telah saya sampaikan dalam terjemah fatwa di atas. Ketika ada suatu najis yang masuk ke dalam air sehingga sifat fisik air berubah kemudian air tersebut ditambahi air dalam jumlah yang sangat banyak sehingga pengaruh najis tersebut hilang maka air tersebut kembali berstatus sebagai air yang suci.
Demikian ketika khamar atau alkohol dimasukkan dalam suatu materi lalu dimasukkan ke dalamnya berbagai materi yang lain sehingga sifat khamr yaitu memabukkan itu hilang dan tidak bersisa sama sekali maka materi tersebut berstatus halal.

***
Artikel http://www.ustadzaris.com
Sumber : http://ustadzaris.com/hukum-obat-beralkohol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s