MENEPIS SYUBHAT PEMBELA TAWASSUL YANG HARAM (Bagian Akhir)

Posted: April 25, 2013 in Aqidah
Tag:,

LANJUTAN..

SYUBHAT 9

Hadits orang buta yang bertawassul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam;

عن عثمان بن حنيف أن رجلاً ضريراً أتى النبي ( فقال : أدع الله أن يعافيني فقال : إن شئت دعوت وإن شئت صبرت وهو خير قال : فادعه فأمره أن يتوضأ فيحسن وضوءه ويدعو بهذا الدعاء : اللهم إني أسألك بنبيك محمد نبي الرحمة يا محمد إني أتوجه بك إلى ربي في حاجتي لتقضي اللهم شفعه في . فعاد وقد أبصر  .
Dari Utsman bin Hanif bahwa ada seorang laki-laki buta datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Berdo’alah kepada Allah agar menyembuhkanku”. Beliau bersabda: “Jika kamu mau aku akan berdo’a dan jika kamu mau bersabar itu lebih baik”. Ia berkata: “Do’akanlah”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruhnya berwudlu dan membaguskan wudlunya dan berdo’a dengan do’a ini: “Ya Allah, aku memohon kepadaMu melalui NabiMu Nabi rahmat, wahai Muhammad aku menghadap kepada Rabbku melalui kamu agar hajatku dipenuhi, ya Allah berilah syafa’at untuknya terhadapku”. Maka penglihatannyapun kembali seperti semula”.

JAWABAN

Sesungguhnya hadits ini hanya menunjukkan kepada tawassul yang disyari’atkan, yaitu bertawassul melalui orang shalih yang masih hidup dan hadir, karena orang buta ini datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam semasa hidupnya, dan tidak pernah datang kepada beliau setelah matinya, kalaulah tujuan orang buta ini bertawassul kepada Nabi saja, tentu tidak perlu ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, cukup ia berdo’a di rumahnya saja. Jadi hadits ini sama sekali tidak menunjukkan bolehnya tawassul kepada Nabi setelah wafatnya.

Adapun tambahan: “Jika ada hajat, lakukanlah seperti itu lagi”. Tambahan ini diriwayatkan oleh Hammad bin Salamah, walaupun ia perawi yang tsiqah, namun menyelisihi periwayatan perawi yang lebih tsiqah darinya, yaitu Syu’bah bin Al Hajjaj yang meriwayatkan dengan tanpa tambahan tersebut. Dan Syu’bah jauh lebih tsiqah dari Hammad bin Salamah sehingga tambahan tersebut dihukumi syadz yaitu periwayatan perawi yang tsiqah yang berlawanan dengan periwayatan perawi lain yang lebih tsiqah dan syadz adalah salah satu macam hadits lemah.
.

SYUBHAT 10

Hadits seorang laki-laki yang mempunyai kebutuhan di sisi Utsman bin Affan.

روى الطبراني والبيهقي :كان يختلف إلى عثمان بن عفان رجل في زمن خلافته في حاجة … فكان لا يلتفت ولا ينظر إليه في حاجته . فشكا ذلك لعثمان بن حنيف فقال له : إئت الميضأة فتوضأ ثم ائت المسجد فصل ثم قل : اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبيك محمد نبي الرحمة يا محمد إني أتوجه بك إلى ربي في حاجتي لتقضي وتذكر حاجتك فانطلق الرجل فصنع ذلك ثم أتى باب عثمان فجاء البواب فأخذ بيده فأدخله على عثمان فأجلسه معه وقال له اذكر حاجتك فذكر حاجته فقضاها ثم قال : ما كان لك من حاجة فاذكرها ثم خرج من عنده فلقي ابن حنيف فقال له جزاك الله خيراً ما كان ينظر لحاجتي حتى كلمته لي فقال ابن حنيف : والله ما كلمته ولكن شهدت رسول الله ( وأتاه ضرير فشكا إليه ذهاب بصره إلى أخر الحديث المتقدم أي ( حديث الأعمى ) .
Ath Thabrani dan Al Baihaqi meriwayatkan: Dahulu di zaman Utsman bin Affan ada seorang laki-laki yang suka mondar-mandir kepada Utsman bi Affan di zaman kekhilafahannya untuk suatu kebutuhannya, namun Utsman tidak memperdulikan dan tidak memperhatikannya. Maka laki-laki itu mengadu kepada Utsman bin Hanif, dan beliau berkata kepadanya: “Pergilah ke tempat wudlu dan berwudlulah lalu pergilah ke masjid dan shalatlah kemudian ucapkan: “Ya Allah, aku memohon kepadaMu melalui NabiMu Nabi rahmat, wahai Muhammad aku menghadap kepada Rabbku melalui kamu agar hajatku dipenuhi”. Lalu sebutkan hajatmu. Laki-laki itupun pergi dan melaksanakan titahnya, setelah itu ia mendatangi rumah utsman bin Affan. Maka datanglah penjaga pintu dan memasukkannya kepada Utsman, dan utsman mendudukkan ia di sisinya dan berkata: “Sebutkan hajatmu!”, ia pun menyebutkannya dan Utsman pun memenuhi kebutuhannya, dan berkata: “Bila kamu ada kebutuhan lagi, sebutkan saja”. Lalu laki-laki itu pergi dan bertemu dengan Utsman bin Hanif, laki-laki itu berkata: “Jazakallahu khaira, Utsman memenuhi kebutuhanku karena kamu berbicara kepadanya untukku”. Utsman berkata: “Demi Allah, aku tidak berbicara dengannya, namun aku pernah melihat Rasulullah di datangi oleh seorang laki-laki buta dan meminta agar di do’akan kesembuhan.. lalu beliau menyebutkan hadits di atas.

JAWABAN

Kisah ini diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Al Mu’jamul Kabiir (9/30) dan shagirnya (1/306) dari jalan Abdullah bin Wahb dari Syabib bin Sa’id Al Makki dari Ruuh bin Al Qasim dari Abu Ja’far Al Khuthami Al madani dari Abu Umamah bin Sahl bin Hanif dari pamannya Utsman bin Haniif.

Dan periwayatan Abdullah bin Wahb dari Syabiib adalah lemah sebagaimana dikatakan oleh ibnu Adi dalam Al Kamil (4/31) beliau berkata: “Ibnu Wahb meriwayatkan dari Syabiib hadits-hadits yang munkar”. Oleh karena itu Al Hafidz ibnu Hajar berkata dalam Taqribnya: “La ba’sa haditsnya dari riwayat anaknya Ahmad darinya bukan dari riwayat ibnu Wahb”.

Namun ibnu Wahb dimutaba’ah oleh Isma’il dan Ahmad anak dari Syabiib bin Sa’id dari ayahnya Syabib bin Sa’id dari Ruh bin Al Qasim..dan seterusnya, diriwayatkan oleh Al baihaqi sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam ibnu Taimiyah.
[Majmu’ fatawa 1/319-320 secara
ringkas]

Akan tetapi jalan ini tidak dapat diterima karena tiga alasan:

Pertama:
Syabiib bin Sa’id ini periwayatannya diterima dengan dua syarat: (1)  Bila perawi darinya adalah anaknya yang bernama Ahmad bin Syabiib dan (2) Ia (Syabib) meriwayatkan dari Yunus, Ibnu Adi berkata dalam Al kamil (4/31): “Syabib, apabila anaknya yang bernama Ahmad bin Syabib meriwayatkan darinya naskah Yunus dari Az Zuhri, maka hadits-haditsnya mustaqim (lurus)”. Dan kepada ini lah dibawa perkataan para ulama yang menganggapnya tsiqah, karena kaidah mengatakan: “Apabila perkataan yang mutlaq bertemu dengan perkataan yang muqayyad, maka yang mutlak dibawa kepada yang muqayyad”. Dan ini ditunjukkan juga oleh perbuatan imam Al Bukhari dalam shahihnya, dimana beliau hanya mengeluarkan periwayatan Syabib bin Sa’id bila ia meriwayatkan dari Yunus dan yang meriwayatkan darinya adalah anaknya yang bernama Ahmad bin Syabiib. Di sini ia meriwayatkan dari Ruh bin Al Qasim sehingga periwayatannya tetap lemah.

Kedua:
‘Aun bin ‘Imarah meriwayatkan dari Ruh bin Al Qasim dari Abu ja’far Al Kuthami.. dst, dengan tanpa kisah laki-laki yang mengadu kepada Utsman bin Hanif, sebagaimana diriwayatkan oleh Al Hakim dalam mustadraknya, dan ‘Aun bin ‘Imarah ini lemah akan tetapi periwayatannya sesuai dengan periwayatan Syu’bah bin Al hajjaj dari Abu Ja’far Al Khuthami tanpa kisah tersebut, sehingga periwayatan ‘Aun lebih diunggulkan dari periwayatan Syabib, terlebih telah kita jelaskan bahwa periwayatan Syabib ini juga lemah karena meriwayatkan dari selain yunus.

Ketiga:
Ibnu Sunni meriwayatkan dalam kitab ‘Amalul Yaum Wallailah dan Al Hakim dalam mustadraknya dari tiga jalan.
[Majmu’ fatawa 27/126]
Dari Ahmad bin Syabib dengan tanpa kisah itu juga, sehingga ini semakin menunjukkan bahwa kisah tersebut adalah merupakan wahm dari Syabib bin Sa’id. Wallahu a’lam.
.

SYUBHAT 11

Hadits:

إذا سألتم الله فسلوه بجاهي فإن جاهي عند الله عظيم

“Apabila kamu memohon kepada Allah, maka mintalah dengan melalui kedudukanku, karena kedudukanku di sisi Allah agung”.

JAWABAN

Hadits ini batil tidak ada asalnya, karena tidak pernah ditemukan dalam kitab-kitab hadits manapun.

Syaikhul Islam Ahmad bin Taimiyah Rahimahullah berkata: “Sebagian orang bodoh meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila kalian memohon kepada Allah, maka mohonlah melalui kedudukanku, karena sesungguhnya kedudukanku di sisi Allah adalah agung”.
Hadits ini adalah dusta, tidak ditemukan dalam kitab-kitab kaum muslimin yang menjadi sandaran ahli hadits, tidak pula disebutkan oleh para ulama hadits seorangpun.

Dan kedudukan Rasulullah di sisi Allah paling agung dibandingkan kedudukan seluruh nabi dan rasul.. beliau pelaku syafa’at pada hari kiamat disaat Nabi Adam dan ulu ‘azmi tidak sanggup melakukannya, beliau adalah pemuka anak Adam, dan imam para Nabi.

Namun kedudukan makhluk di sisi Khaliq tidak sama dengan kedudukan makhluk di sisi makhluk, karena tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah kecuali dengan idzinNya.. adapun makhluk, ia memberi syafa’at di sisi makhluk walaupun tanpa idzinnya, sehingga ia menjadi sekutu baginya untuk meraih yang diinginkan, sedangkan Allah tidak ada sekutu bagiNya. FirmanNya yang artinya:
“Katakanlah: ”serulah mereka yang kamu anggap (sebagai Tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.
Dan Tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu..” (Saba : 22-23).
[Majmu’ fatawa 1/319-320 secara ringkas]

Syaikhul islam juga berkata: “Dan yang diriwayatkan oleh sebagian orang awam: “Apabila kalian memohon kepada Allah, maka mohonlah melalui kedudukanku, karena sesungguhnya kedudukanku di sisi Allah adalah agung”. Hadits ini adalah dusta dan palsu, tidak ada seorangpun ahli ilmu yang meriwayatkannya, tidak juga ada dalam kitab-kitab kaum muslimin yang dijadikan sandaran dalam agama. Jikalau mayat itu mempunyai keutamaan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam adalah orang yang paling berhak untuk mendapat semua keutamaan, dan para shahabatnya setelahnya. Kalaulah orang yang hidup dapat mengambil manfaat dari orang yang telah mati, maka para shahabat adalah orang yang paling berhak mendapat manfaat dari Nabi baik masih hidup maupun telah mati, sehingga dapat diketahui bahwa pendapat tersebut adalah sesat, walaupun sebagian syuyukh ada yang berpendapat demikian, namun itu adalah sebuah kesalahan, dan Allah akan mengampuni dosa mujtahid yang salah, dan ia bukan Nabi yang wajib diikuti pendapatnya, tidak juga ma’shum (terpelihara dari kesalahan) dalam perintah dan larangannya, sedangkan Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.(An Nisaa : 59).
[Majmu’ fatawa 27/126]
.

SYUBHAT 12

Kabar:

إذا أعيتكم الأمور فعليكم بأصحاب القبور
“Apabila kamu ditimpa urusan yang payah maka hendaklah datang ke penghuni kubur”.

JAWABAN

Khabar ini disebutkan oleh Al ‘Ajluuni dalam Kasyful khofaa (1/85) dan beliau menisbatkannya kepada kitab Al Arba’in karya ibnu kamal Basya, dan khabar ini batil tidak ada asalnya, tidak pernah diriwayatkan oleh para ulama hadits dalam kitab-kitab yang dapat dijadikan sandaran.

Syaikhul islam Ahmad bin Taimiyah rahimahullah berkata: “Sebagian orang dari masyayikh yang diikuti ada yang berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila kamu ditimpa urusan yang payah maka hendaklah datang ke penghuni kubur”. Dalam riwayat lain: “Hendaklah minta bantuan kepada penghuni kubur”. Padahal hadits ini dusta dan dipalsukan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan ijma’ (kesepakatan) orang-orang yang memahami hadits, dan tidak ada seorang ulamapun yang meriwayatkannya, dan tidak ditemukan dalam kitab hadits manapun yang dijadikan sandaran”.
[Majmu’ fatawa 1/356]
.

SYUBHAT 13

Hadits Bilal bin Al Harts yang beristisqa setelah wafatnya Rasulullah.

روى البيهقي وابن أبي شيبة :أن الناس أصابهم قحط في خلافة عمر ( فجاء بلال بن الحرث وكان من أصحاب النبي إلى قبر النبي وقال يا رسول الله : استسق لأمتك فإنهم هلكوا فأتاه رسول الله في المنام وأخبره أنهم سيسقون .
Al Baihaqi dan ibnu Abi Syaibah meriwayatkan bahwa manusia di zaman kekhilafahan Umar di timpa kekeringan, maka Bilal bin Al Harits salah seorang shahabat Nabi datang ke kuburan Nabi dan berkata: “Wahai Rasulullah, mintakanlah hujan untuk umatmu, karena mereka telah binasa”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya dalam tidurnya dan mengabarkan bahwa mereka akan diberikan hujan”.

JAWABAN

Kabar ini diriwayatkan dari jalan Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Abu Shalih dari Malik Ad Daar bahwa ia berkata: “Kekeringan melanda manusia di zaman Umar, lalu datanglah seseorang ke kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, mintakanlah hujan untuk umatmu, karena sesungguhnya mereka telah binasa”. Lalu orang itu didatangi di dalam tidurnya dan dikatakan kepadanya: “Datanglah kepada Umar dan sampaikan salam untuknya dan kabarkan kepadanya bahwa kalian akan diberikan hujan, dan katakan kepadanya: “Hendaklah kamu menggunakan aqal dan kedermawanan”. Lalu Umar dikabarkan, dan beliau berkata: “Ya Rabb, Aku terus berusaha kecuali yang aku tidak mampu”.

Berdalil dengan kisah ini untuk memperbolehkan tawassul kepada orang shalih yang telah mati atau berdo’a kepada mayat adalah tidak benar dari beberapa sisi:

Pertama:
Orang yang datang ke kuburan Nabi tersebut adalah majhul (tidak diketahui siapa ia), adapun perkataan Al Hafidz ibnu Hajar dalam fathul baari bahwa ia bernama Bilaal bin Al Harits sebagaimana dalam riwayat Saif bin Umar adalah tertolak, karena Saif bin Umar ini disepakati oleh para ulama hadits kelemahannya, bahkan ibnu Hibban berkata: “Ia suka meriwayat hadits-hadits maudlu’ (palsu) dari perawi yang tsiqat, dan mereka berkata bahwa ia suka memalsukan hadits, bahkan ibnu Hibban dan Al Hakim menuduhnya zindiq.
[Tahdzibuttahdzib 4/296]

Bila ada yang berkata: “Akan tetapi Saif bin Umar dapat dipercaya periwayatannya dalam tarikh, sebagaimana yang dikatakan oleh Adz Dzahabi: “Ia (Saif) sama dengan Al Waqidi”. Yaitu dapat dipercaya dalam sejarah, dan itu juga yang dikatakan oleh Al Hafidz ibnu Hajar dalam dalam taqribnya, beliau berkata: “Dla’if dalam hadits dan umdah (sandaran) dalam tarikh (sejarah)”. Dan penyebutan nama adalah termasuk sejarah.

Dijawab: Bahwa Al Hafidz tidak menyebutkan dari siapa Saif meriwayatkan riwayat tersebut, terlebih Saif bin Umar meriwayatkan dari perawi-perawi yang banyak yang majhul sebagaimana dikatakan oleh Adz Dzahabi dalam Mizannya, sehingga inipun tidak dapat dijadikan sandaran, dan tidak dapat memberi kepastian tentang siapa nama laki-laki yang datang ke kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kedua: Bila memang yang melakukannya adalah Bilal bin Al Harits, maka perbuatan beliau ini bertentangan dengan perbuatan para shahabat lainnya, karena Umar dan para shahabat tidak datang ke kuburan Rasulullah, namun datang kepada Al ‘Abbas bin Abdil Muthalib dan menyuruhnya agar berdo’a kepada Allah Ta’ala. Dan perbuatan seorang shahabat bila bertentangan dengan perbuatan shahabat lainnya tidak dapat dijadikan hujjah, bagaimana bila bertentangan dengan dalil?!

Bila dikatakan: Di dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa ia menceritakannya kepada Umar, dan ternyata Umar tidak mengingkarinya.

Dijawab: Bahwa yang ia ceritakan adalah perihal mimpinya bertemu Rasulullah, dan bukan perihal datangnya ia ke kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, buktinya umar hanya mengomentari perkataan Rasulullah dalam mimpi tersebut. Dan kalaulah datang ke kuburan Rasulullah untuk memohon do’a Rasulullah diperbolehkan, tentu para shahabat akan datang ke kuburan Rasulullah dalam perkara-perkara yang lebih besar dari itu, seperti peperangan yang terjadi diantara para shahabat dan kejadian-kejadian lainnya.

Ketiga: Malik Ad Daar perawi dalam kisah itu adalah majhul hal yaitu perawi yang meriwayatkan darinya dua orang atau lebih dan tidak ada yang mentsiqahkan tidak juga menjarhnya, dan periwayatan majhul hal adalah tertolak.

Bila dikatakan: Akan tetapi disebutkan dalam riwayat lain bahwa Malik Ad Daar ini Bendahara Umar, dan tidak mungkin Umar mengangkat seseorang sebagai bendahara kecuali orang yang ‘adil dan dapat dipercaya.

Dijawab: Bahwa seorang yang dipercaya sebagai bendahara belum tentu dipercaya dalam periwayatan hadits, karena berbeda antara dua perkara tersebut, sebagaimana banyak perawi-perawi yang dipercaya menjadi qadli, namun dalam periwayatan haditsnya tertolak, sehingga alasan seperti ini adalah lemah dan tidak dapat diterima.

Keempat: Kalaupun misalnya kisah ini shahih, maka tidak dapat dijadikan hujjah, karena perbuatan shahabat yang bertentangan dengan shahabat bahkan mayoritas shahabat adalah bukan hujjah, bagaimana bila bertentangan dengan dalil? Sebagaimana telah kita sebutkan, oleh karena itu imam Al Bukhari dalam Tarikhnya hanya mengeluarkan perkataan Umar saja: “Ya Rabb, Aku terus berusaha kecuali yang aku tidak mampu”. Dan tidak menyebutkan kisah tersebut, seakan kisah tersebut tidak sah di sisi beliau. Wallahu a’lam.

Al Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik:

 أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قُحِطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ : اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا -صلى الله عليه وسلم- فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ الْيَوْمَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا -صلى الله عليه وسلم- فَاسْقِنَا فَيُسْقَوْنَ.
Sesungguhnya Umar bin Al Khathab apabila di landa kekeringan beristisqa melalui Al Abbas bin Abdul Muthalib dan berkata: “Ya Allah, dahulu kami bertawassul kepadaMu melalui NabiMu, dan Engkaupun memberi kami hujan, dan sekarang aku bertawassul kepadaMu melalui paman NabiMu, maka berikanlah kami hujan”. Lalu merekapun di beri hujan.

Riwayat ini menegaskan bahwa para shahabat tidak datang ke kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk minta diturunkan hujan, namun mereka pergi kepada Al ‘Abbas dan menyuruhnya berdo’a agar Allah menurunkan hujan, dan ini adalah tawassul yang disyari’atkan.
.

SYUBHAT 14

Hadits tahun fatq :

روى الدارمي في مسنده عن أبي الجوزاء قال : قحط أهل المدينة قحطاً شديداً فشكوا إلى عائشة رضي الله عنها : فقال انظروا إلى قبر رسول الله فاجعلوا منه كوة إلى السماء حتى لا يكون بينه وبين السماء سقف ففعلوا فمطروا حتى نبت العشب وسمنت الإبل حتى تفتقت من الشحم فسمي عام الفتق .
Ad Darimi meriwayatkan dalam musnadnya dari Abul Jauzaa, ia berkata: “Penduduk kota Madinah ditimpa kekeringan, lalu mereka mengadu kepada Aisyah radliyallahu ‘anha, maka ia berkata: “Lihatlah ke kuburan Rasulullah, jadikanlah darinya kuwwah (lubang) menuju ke langit sehingga tidak ada yang menghalangi antara langit dan kuburan beliau”. Merekapun melaksanakannya, maka hujanpun turun sampai-sampai rerumputan tumbuh dan unta-unta menjadi gemuk dan banyak gajihnya, maka dinamailah tahun itu dengan tahun al fatq”.

JAWABAN

Kita jawab hadits ini dari sisi matan dan sanadnya:

Adapun sanad, maka hadits ini dikeluarkan oleh Ad darimi dalam sunannya (1/43-44): haddatsana Abun Nu’maan haddatsana Sa’id bin Zaid haddatsana Amru bin Malik An Nukri haddatsana Abul Jauza Aus bin Abdillah..dan seterusnya.

Dalam sanad hadits ini terdapat Abun Nu’maan Muhammad bin Al Fadll As Saduusi yang dikenal dengan gelar ‘Arim, walaupun ia seorang perawi yang tsiqah, namun para ulama menyatakan bahwa ia berubah hafalannya (mukhtalith) pada tahun 216H sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Dawud, dan imam Ad Darimi tidak diketahui apakah ia termasuk yang meriwayatkan darinya setelah berubah hafalannya ataukah sebelumnya, sehingga masih menghasilkan keraguan.

Dalam sanadnya juga terdapat Amru bin Malik An Nukri, ibnu Adi berkata tentangnya: “Mungkarul hadits dari perawi-perawi tsiqaat, dan suka mencuri hadits”.
[Al Kamil 5/150]

Dan Abu Ya’la menganggapnya dla’if.
[Adl Dlu’afaa wal matrukin 2/231 karya ibnul Jauzi].

Dan ini adalah jarh yang mufassar dan jarh yang mufassar lebih didahulukan dari ta’dil yang mubham seperti perbuatan ibnu Hibban yang memasukkannya dalam kitab tsiqatnya dan mengatakan bahwa haditsnya dapat dijadikan i’tibar dari selain periwayatan anaknya darinya, dan ibnu Hibban termasuk ulama mutasahil (longgar) dalam tautsiq.

Dan bila kita menerima perkataan ibnu Hibban ini, maka makna dapat dijadikan i’tibar artinya bila ia tidak sendirian, dan bila bersendirian maka haditsnya tertolak, dan disini ia bersendirian. Dan Al Hafidz ibnu Hajar dalam tahdzibnya tidak menyebutkan perkataan ibnu Adi tadi dan pendla’ifan Abu Ya’la, sehingga menghasilkan vonis bahwa ia perawi yang shaduq lahu auham, bila beliau menemukan perkataan ibnu Adi yang menjarhnya dengan jarh mufassar tentu hukumnya akan berubah, karena kaidah berkata: “Jarh mufassar lebih di dahulukan dari ta’dil yang mubham”. Jadi kesimpulannya Amru bin Malik An Nukri ini seorang perawi yang lemah.

Adapun dari sisi matannya, maka terdapat banyak kejanggalan, dari beberapa sisi, yaitu:

Pertama: Semasa hidup Aisyah, kamar beliau sebagiannya tertutup dan sebagiannya terbuka, dan cahaya matahari masuk ke dalam kamar beliau, sebagaimana dalam Shahihain dari Aisyah:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُصَلِّى الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ فِى حُجْرَتِهَا لَمْ يَظْهَرِ الْفَىْءُ فِى حُجْرَتِهَا.
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat ashar, sementara (sinar) matahari di kamarnya, dan belum tampak bayangan di kamarnya”.

Maka tidak butuh lagi dibuat kuwwah. Dan kamar Aisyah tidak berubah sampai dimasukan ke dalam masjid di masa Al Walid bin Abdul Malik.

Kedua:
Bila dikatakan, boleh jadi atap rumah Aisyah dibongkar semuanya, jawabnya: konsekwensi perkataan ini adalah bahwa Aisyah tinggal di dalam rumah tersebut tanpa atap, dan ini menunjukkan kedustaan kabar tersebut.

Ketiga: Kalaulah terbukanya kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebab utama turunnya hujan, maka seharusnya kuburan itu selalu terbuka agar hujan senantiasa turun, dan para shahabatpun tidak perlu lagi shalat istisqa’ dan bertawassul melalui Al ‘Abbas radliyallahu ‘anhu.
.

SYUBHAT 15

Hadits tawassulnya seorang arab badawi kepada Rasul setelah beliau wafat tiga hari.

روى أبو الحسن علي بن إبراهيم بن عبدالله بن عبد الرحمن الكرخي عن علي بن محمد بن علي حدثنا أحمد بن محمد بن الهيثم الطائي حدثنا أبي عن أبيه عن سلمة بن كهيل عن أبي صادق عن علي بن أبي طالب قال : قدم علينا أعرابي بعدما دفنا رسول الله بثلاثة أيام فرمى نفسه على قبر النبي وحثى على رأسه من ترابه وقال : يا رسول الله قلت فسمعنا قولك ووعيت من الله عز وجل ما وعينا عنك وكان فيما أنزل الله تبارك وتعالى عليك ( ولو أنهم إذ ظلموا أنفسهم جاؤوك فاستغفروا الله واستغفر لهم الرسول لوجدوا الله تواباُ رحيماً ). وقد ظلمت نفسي وجئتك لتستغفر لي فنودي من القبر أنه غفر لك .
Abul hasan Ali bin Ibrahim bin Abdullah bin Abdurrahman Al Karkhi meriwayatkan dari Ali bin Muhammad bin Ali haddatsana Ahmad bin Muhammad bin Al Haitsam Ath Thaai haddatsana ayahku dari ayahnya dari Salamah bin Kuhail dari Abu Shadiq dari Ali bin Abi Thalib ia berkata: “Datang kepada kami seorang arab badawi setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat tiga hari, lalu ia melemparkan dirinya di atas kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menaburkan tanah ke kepalanya dari kuburan Nabi, dan berkata: “Wahai Rasulullah, engkau berkata dan kami mendengarkan perkataanmu, engkau memahami dari Allah apa yang kami fahami darimu, dan diantara ayat yang Allah Tabaraka wa Ta’ala turunkan kepadamu (yang artinya):
Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (An Nisaa: 64).
Dan aku telah menzalimi diriku dan datang kepadamu agar engkau memohonkan ampun untukku, lalu diseru dari kuburan bahwa ia telah diampuni”.

JAWABAN

Ibnu Abdil Haadi rahimahullah berkata: “Kabar ini mungkar dan maudlu’ (palsu), tidak boleh dijadikan sandaran dan pegangan, dan sanadnya kegelapan di atas kegelapan, Al Haitsam kakek dari Ahmad berat dugaan saya adalah bin Adi Ath Thaai, jika memang dia maka ia adalah perawi yang matruk dan kadzaab (tukang dusta), dan jika bukan dia maka majhul, karena Al haitsam bin Adi dilahirkan di Kuufah dan mendapati zaman Salamah bin Kuhail, kemudian pindah ke Baghdad dan tinggal di sana.

Abbas Ad Duuri berkata: “Aku mendengar Yahya bin Ma’in berkata: “Al Haitsam bin Adi adalah orang Kufah, ia tidak tsiqah dan suka berdusta”. Abu Dawud berkata: “Kadzaab (tukang berdusta)”. Abu Hatim Ar Razi, An Nasai, Ad Duulaabi dan Al Azdi berkata: “Matruk haditsnya”. Al Bukhari berkata: “sakatuu ‘anhu (mereka mendiamkannya)”. Artinya mereka meninggalkannya. Ibnu Hibban berkata: “Ia ulama dalam sejarah dan hari-hari manusia dan kabar arab, akan tetapi ia meriwayatkan dari perawi tsiqat kabar-kabar yang seakan-akan palsu, dan saya menduga ia mentadlisnya”. Al ‘Abbas bin Muhammad berkata: “Sebagian sahabat kami berkata: “Budak wanita Al Haitsam berkata: “Majikanku suka shalat semalam suntuk, dan di pagi hari ia duduk untuk berdusta”.
.

SYUBHAT 16

Al Baihaqi meriwayatkan dari Anas bahwa ada orang arab badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk istisqa, dan ia melantunkan bait-bait sya’ir, diantaranya:

وليس لنا إلا إليك فرارنا

وأنى فرار الخلق إلا إلى الرسل

فلم ينكر عليه ( هذا البيت بل قال أنس : لما أنشد الأعرابي قام ( يجر رداءه حتى رقى المنبر فخطب ودعا لهم فلم ينزل يدعو حتى أمطرت السماء .

Kami tidak mempunyai tempat lari kecuali kepadamu.

Dan adakah tempat lari para makhluk kecuali kepada para Rasul?

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari bait-bait ini, bahkan Anas berkata: “Ketika orang arab badui ini telah melantunkan sya’irnya, beliau berdiri menyeret pakaian atasnya sampai menaiki mimbar dan mendo’akan mereka, dan beliau belum turun ternyata langit telah menurunkan hujan”.

JAWABAN


Pertama:
Hadits ini jika shahih tidak menunjukkan bolehnya bertawassul kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau wafat, karena orang arab badui ini datang kepada Rasulullah semasa hidup beliau, lalu beliaupun berdo’a kepada Allah Ta’ala, dan ini adalah termasuk tawassul yang syari’atkan, yaitu bertawassul kepada orang shalih yang masih hidup dan hadir dan tawassul seperti ini diperbolehkan.

Kedua: Di dalam sanad hadits ini terdapat perawi yang sangat lemah yang bernama Muslim bin Kaisaan Adl Dabbi Al Kuufi Al Mulaai, Al Fallaas berkata: “Matruk haditsnya”. Ahmad berkata: “Tidak boleh ditulis haditsnya”. Yahya bin Ma’in berkata: “Laisa bi tsiqah”.
(Laisa bi tsiqah di sisi ibnu Ma’in adalah lafadz yang menunjukkan jarh yang berat atau haditsnya sedikit, namun makna pertama itu yang sesuai dengan vonis ulama lainnya).
An Nasai berkata: “Matruk”.
[Mizanul i’tidal (4/106-107)]

Sehingga hadits ini sangat lemah dan tidak dapat dijadikan hujjah.
.

SYUBHAT 17

Hadits dalam shahih Bukhari:

لما جاء الأعرابي وشكا للنبي ( القحط فدعا الله فانجابت السماء بالمطر ( : لو كان أبو طالب حياً لقرت عيناه . من ينشدنا قوله ؟ فقال علي ( : يا رسول الله : كأنك أردت قوله :

وأبيض يستسقى الغمام بوجهه

ثمال اليتامى عصمة للأرامل

فتهلل وجه الرسول ( ولم ينكر إنشاد البيت ولا قوله يستسقى الغمام بوجهه ولو كان ذلك حراماً أو شركاً لأنكره ولم يطلب إنشاده .

Ketika datang orang arab badui dan mengadukan kekeringan kepada Nabi, beliau berdo’a kepada Allah, maka langitpun menurunkan hujan, beliau bersabda: “kalaulah Abu thalib masih hidup tentu ia akan gembira, siapakah yang bisa melantunkan sya’irnya?” Ali berkata: “Wahai Rasulullah, tampaknya engkau menginginkan sya’irnya :

Dan si putih yang dimintai hujan melalui wajahnya

Pemberi makan anak yatim dan pelindung para janda.

Maka wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallampun berseri-seri”.

Di sini Nabi tidak mengingkari pelantunan sya’ir tersebut tidak juga mengingkari perkataannya: “Dimintai hujan melalui wajahnya”. Kalaulah itu haram atau syirik tentu beliau akan mengingkarinya dan tidak minta dilantunkan sya’irnya.

JAWABAN

Pertama:
Yang ada dalam shahih Al bukhari adalah dengan lafadz:

حدثنا عمرو بن علي قال حدثنا أبو قتيبة قال حدثنا عبد الرحمن بن عبد الله بن دينار عن أبيه قال : سمعت ابن عمر يتمثل بشعر أبي طالب

 وأبيض يستسقى الغمام بوجهه * ثمال اليتامى عصمة للأرامل

 وقال عمر بن حمزة حدثنا سالم عن أبيه ربما ذكرت قول الشاعر وأنا أنظر إلى وجه النبي صلى الله عليه و سلم يستسقي فما ينزل حتى يجيش كل ميزاب

 وأبيض يستسقى الغمام بوجهه * ثمال اليتامى عصمة للأرامل

 وهو قول أبي طالب

Haddatsana Amru bin Ali haddatsana Abu Qutaibah haddatsana Abdurrahman bin Abdillah bin Dinar dari ayahnya berkata: Aku mendengar ibnu Umar mengkisahkan sya’ir Abu Thalib:

Dan si putih yang dimintai hujan melalui wajahnya

Pemberi makan anak yatim dan pelindung para janda.

Dan Umar bin Hamzah berkata: Haddatsana Salim dari ayahnya berkata: “Barangkali aku ingat perkataan seorang penya’ir, sementara aku melihat kepada wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang istisqa (meminta hujan), tidaklah beliau turun dari mimbarnya sampai setiap selokan mengalirkan air:

Dan si putih yang dimintai hujan melalui wajahnya

Pemberi makan anak yatim dan pelindung para janda.

Ia adalah perkataan Abu thalib.

Dalam kisah ini tidak disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta agar dilantunkan sya’ir Abu Thalib, namun sebatas ibnu Umar mengingat sya’ir tersebut ketika melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beristisqa, sehingga sama sekali tidak ada dalil yang menunjukkan boleh bertawassul kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah matinya.

Kedua: Adapun datangnya arab badui yang meminta agar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta hujan, diriwayatkan oleh Al Bukhari dari hadits Anas ia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَتْ الْمَوَاشِي وَانْقَطَعَتْ السُّبُلُ فَادْعُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمُطِرْنَا مِنْ الْجُمُعَةِ إِلَى الْجُمُعَةِ فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَهَدَّمَتْ الْبُيُوتُ وَانْقَطَعَتْ السُّبُلُ وَهَلَكَتْ الْمَوَاشِي فَقَالَ  اللهم على الآكام والظراب والأودية ومنابت الشجر  فَانْجَابَتْ عَنْ الْمَدِينَةِ انْجِيَابَ الثَّوْبِ
“Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, telah binasa binatang ternak dan jalan-jalan telah terputus, maka berdo’alah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berdo’a, kamipun di beri hujan dari jum’at ke jum’at lagi. Lalu orang itu datang lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, Rumah-rumah telah roboh, jalan-jalan terputus dan binatang ternak telah mati”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun berdo’a: “Ya Allah, (pindahkan hujan itu) ke bukit-bukit, gunung, lembah-lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan”. Maka hujan pun sedikit-demi sedikit berhenti seperti baju yang dilepas sedikit-demi sedikit”.

Dan Al Bukhari meriwayatkan hadits Anas ini dalam shahihnya dari beberapa jalan, dan tidak ada satupun disebutkan sabda Rasulullah: “Kalaulah Abu thalib masih hidup tentu ia akan gembira, siapakah yang bisa melantunkan sya’irnya?” Ali berkata: “Wahai Rasulullah, tampaknya engkau menginginkan sya’irnya :

Dan si putih yang dimintai hujan melalui wajahnya

Pemberi makan anak yatim dan pelindung para janda.

Maka wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallampun berseri-seri”.

Lafadz ini tidak diriwayatkan oleh Al Bukhari sama sekali, namun diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam kitab Dalail Nubuwwah dari jalan Muslim Al Mulaai dari Anas, dan Muslim Al Mulaai ini adalah perawi yang sangat lemah sebagaimana telah kita jelaskan dalam bantahan syubhat yang ke 16.

Ketiga: Bila ada yang berkata: “Ibnu Umar teringat sya’ir itu dan tidak mengingkarinya, dan ini menunjukkan bolehnya bertawassul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam”.

Dijawab: “Bahwa ibnu Umar mengingat sya’ir tersebut ketika melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beristiqa’ semasa hidupnya, dan kejadian seperti ini tidak bisa dijadikan dalil untuk membolehkan tawassul kepada Rasulullah setelah matinya, karena ibnu Umar tidak pernah bertawassul kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kalaulah pemahaman seperti ini benar, tentu ibnu Umar yang pertama kali melakukannya.
.

SYUBHAT 18

Hadits Sawad bin Qarib:

روى الطبراني في الكبير أن سواد بن قارب ( أنشد الرسول ( قصيدته التي فيها التوسل ، ( يقول الدحلان ) : ولم ينكر الرسول عليه ومنها قوله :

وأشهد أن الله لا رب غيره

وأنك أدنى المرسلين وسيلة

فمرنا بما يأتيك يا خير مرسل

وكن لي شفيعاً يوم لا ذو شفاعة

At Thabrani meriwayatkan dalam mu’jam kabirnya bahwa Sawad bin Qarib melantunkan qashidah di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang di dalamnya terdapat tawassul dan ternyata Nabi tidak mengingkarinya:

Aku bersaksi bahwa Allah tidak ada Rabb selainNya.

Dan sesungguhnya engkau adalah rasul yang paling dekat wasilahnya.

Maka perintahkan dengan apa yang datang kepadamu wahai sebaik-baiknya rasul.

Dan jadilah pemberi syafaat kepadaku pada hari tidak ada yang mempunyai syafaat.

JAWABAN


Pertama:
Hadits ini bila shahih, sama sekali tidak menunjukkan kepada bolehnya tawassul melalui Rasulullah setelah beliau wafat, karena shahabat ini datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semasa hidupnya. Dan sesuatu yang tidak diragukan lagi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan memberi syafa’at untuk umatnya pada hari kiamat dengan idzin Allah Ta’ala.

Kedua: Sanad hadits ini lemah dari seluruh jalannya, penjelasannya sebagai berikut:

1. Riwayat Al Baihaqi dalam Dalaail An Nubuwwah, di dalam sanadnya terdapat Ziyad bin Yazid, dan Muhammad bin Tarras Al Kuufi, Adz Dzahabi berkata: “Hadits ini sangat mungkar, Muhammad bin Tarras dan Ziyad adalah majhul dan periwayatannya tidak diterima”. Beliau menambahkan: “Aku khawatir bila hadits ini dipalsukan atas Abu bakar bin Ayyasy.

2. Riwayat Abu Ya’la, dan disebutkan oleh ibnu Katsir dalam siyarnya, dan beliau berkata: “Sanad ini terputus dari jalan ini”. Dan Adz Dzahabi dalam Tarikhnya menjelaskan: “Abu Abdirrahman namanya Utsman bin Abdurrahman Al Waqqashi, ia disepekati oleh para ulama untuk ditinggalkan (matruk), dan Ali bin Manshur majhul, selain haditsnya juga terputus.

3. Riwayat ibnu Adi, Adz Dzahabi berkata: “Di dalamnya ada Sa’id, ia berkata: “Mengabarkan kepadaku Sawad bin Qarib, dan antara keduanya terputus. Dan Abbad laisa bi tsiqah dan membawa bencana”.

4. Riwayat Muhammad bin As Saib Al Kalbi, ibnu Katsir berkata dalam sirahnya: “Muhammad bin As Saib Al Kalbi tertuduh berdusta, dan dituduh sebagai rafidlah”. Sebagaimana juga disebutkan dalam At Taqrib.

5. Riwayat Al Fadll bin Isa Al Qurasyi dari Al ‘Alaa bin Yaziid, As Suuthi dalam kitab syarah Syawahid Al Mughni berkata: “Al ‘Alaa bin Yazid dikatakan oleh Al Madiini: “Ia suka memalsukan hadits”. Al Bukhari dan lainnya berkata: “Munkar haditsnya”. Ibnu Hibban berkata: “Ia meriwayat naskah yang palsu”. Dan Adz Dzahabi menyebutkan dalam Al mizan beberapa kemungkarannya.

6. Riwayat Al Hasan bin Sufyan dalam Musnadnya dari Jalan Al Hasan bin ‘Imaarah, As Suyuthi dalam syarah syawahid Al Mughni berkata: “Al Hasan bin ‘Imarah sangat lemah”. Al Hafidz ibnu Hajar berkata: “Matruk”.
[At Tawashul ila haqiqatit Tawassul 1/271-272]
.

SYUBHAT 19

Hadits yang disebutkan oleh imam An Nawawi dalam kitab al adzkar:

أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر أن يقول العبد بعد ركعتي الفجر ثلاثاً : اللهم رب جبرائيل وميكائيل وإسرافيل ومحمد أجرني من النار .
Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh setelah shalat dua rakaat fajar untuk membaca tiga kali: Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, Israfil, dan Muhammad, lindungi aku dari Neraka”.

JAWABAN

Hadits ini tidak menunjukkan kepada tawassul melalui Jibril, Mikail, Israfil, dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Nabi berdo’a langsung kepada Allah Rabb semesta alam, karena Allah adalah Rabb Jibril, Mikail, Israfil, dan Muhammad, seperti halnya bila kita berkata: “Ya Allah Rabb Langit dan Bumi, Rabb seluruh manusia dan Jinn”. Apakah berarti kita bertawassul dengan langit dan bumi dan seluruh manusia?!
Tentu tidak.
.

SYUBHAT 20

Hadits Abu Hurairah secara marfu’:

لولا عباد ركع وبهائم رتع لصب عليكم العذاب صباً .
“kalau bukan karena para hamba yang ruku’ dan binatang-binatang ternak, tentu Allah akan menimpakan adzab kepada kamu”. (HR Al Baihaqi).

JAWABAN


Pertama:
Hadits ini jika shahih tidak menunjukkan kepada tawassul sama sekali, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya mengabarkan bahwa adzab itu terhindar karena adanya para hamba yang ta’at dan binatang-binatang yang berdo’a.
Kedua:
Hadits ini adalah hadits yang lemah, penjelasannya sebagai berikut:

Hadits ini dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam sunannya (3/345) dari jalan Ibrahim bin Khutsaim yakni ibnu ‘Arrak bin Malik dari ayahnya dari kakeknya dari Abu Hurairah dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.. alhadits.

Namun ibnu At Turkumani mengomentari: “Di Dalam sanadnya terdapat ibnu Khutsaim, Al Baihaqi berkata: “Ghairu qawiyy (tidak kuat)”. Dan para pakar ilmu ini mengomentarinya dengan nada keras, An Nasai berkata: “Matruk”. Abul Fath Al Azdi berkata: “Kadzaab (tukang berdusta)”..

Tetapi hadits ini mempunyai jalan lain, dikeluarkan oleh Ath Thabrani dalam Al Mu’jamul Kabiir (22/309), dan juga Al Baihaqi dalam sunannya (3/345) dari jalan Abdurrahman bin Sa’ad Al Muadzin dari malik bin Ubaidah Ad Diili dari ayahnya dari kakeknya secara marfu’.

Namun sanadnya lemah, karena Malik bin Ubaidah dikatakan oleh Yahya bin Ma’in: “Aku tidak mengenalnya”.
[Mukhtashar Al Kamil fidl Dlu’afa 1/727]

Dan Abdurrahman bin Sa’ad Al muadzin di dla’ifkan oleh ibnu Ma’in dan Al Hafidz ibnu hajar berkata dalam taqribnya: “Dla’if”. Dan jalan ini tidak dapat menguatkan jalan sebelumnya karena sangat lemah sehingga tidak dapat mengangkat derajatnya.
.

SYUBHAT 21

Hadits Abu Bakar Ash Shiddiq:

يروى عن عبد الملك بن هارون بن عنترة عن أبيه عن جده أن أبا بكر الصديق أتى النبي فقال : إني أتعلم القرآن ويتفلت مني فقال له رسول الله : قل اللهم إني أسألك بمحمد نبيك وإبراهيم خليلك وبموسى نبيك وعيسى روحك وكلمتك وبتوراة موسى وإنجيل عيسى وزبور داود وفرقان محمد بكل وحي أوحيته وقضاء قضيته .
Diriwayatkan dari Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah dari ayahnya dari kakeknya bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Sesungguhnya aku mempelajari Al Qur’an namun mudah lepas dari (hafalan)ku”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: katakanlah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon melalui Muhammad NabiMu, dan Ibrahim kekasihMu, dan dengan melalui Musa NabiMu dan Isa ruhMu dan kalimatmu, dan melalui taurat Musa, injil Isa, Zabur Dawud, dan furqan Muhammad dengan seluruh wahyu yang Engkau wahyukan, dan kebutuhan yang Engkau penuhi”.

JAWABAN

Hadits ini berasal dari periwayatan Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah dari ayahnya, Ad Daraquthni berkata: “Keduanya dla’if”. Yahya bin Ma’in berkata: “Kadzaab (Tukang berdusta)”. Abu Hatim berkata: “Matruk dzahib hadits”. Ibnu Hibban berkata: “Suka memalsukan hadits”.
[Lisanul Mizan 4/71]

Bila keadaannya demikian maka hadits ini adalah hadits yang palsu, dan dinyatakan kepalsuannya oleh syaikhul islam dalam Majmu fatawa (1/525).
.

SYUBHAT 22

Hadits do’a menghafal Al Qur’an:

ذكره موسى بن عبد الرحمن الصنعاني صاحب التفسير بإسناده عن ابن عباس مرفوعاً أنه قال : من سره أن يوعيه الله حفظ القرآن وحفظ أصناف العلم فليكتب هذا الدعاء في إناء نظيف في صحف قوارير بعسل وزعفران وماء مطر وليشربه على الريق وليصم ثلاثة أيام وليكن إفطاره عليه ويدعو به في أداء صلواته : اللهم إني أسألك بأنك مسؤول لم يسأل مثلك ولا يسأل وأسألك بحق محمد نبيك وإبراهيم خليلك وموسى روحك وكلمتك ووجيهك … وذكر تمام الدعاء .
Disebutkan oleh Musa bin Abdurrahman Ash Shan’ani pemilik kitab tafsir dengan sanadnya dari ibnu Abbas secara marfu’ bahwa ia berkata: “Barang siapa yang ingin dimudahkan oleh Allah untuk menghafal Al Qur’an dan menghafal berbagai macam ilmu, hendaklah ia menulis do’a berikut ini dalam bejana yang bersih, dalam lembaran botol dengan dicampur madu, za’faran, dan air hujan untuk diminum dan hendaklah ia berpuasa tiga hari, dah hendaklah ia berbuka dengannya dan ketika shalat ia berdo’a dengannya: Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu bahwasannya Engkaulah yang berhak diminta, tidak dimintai sesuatu sepertiMu, aku memohon kepadamu melalui hak muhammad NabiMu, dan Musa RuhMu, kalimatMu dan wajihMu… sampai akhir do’a.

JAWABAN

Musa bin Abdurrahman Ash Shan’ani adalah penyakit kabar ini, ibnu Hibban berkata: “Dia Dajjal dan memalsukan hadits atas ibnu Juraij dari ‘Athaa dari ibnu Abbas sebuah kitab dalam tafsir yang ia kumpulkan dari perkataan Al Kalbi dan Muqatil”.
[Al Majruhin 2/242]

Dan As Suyuthi menganggapnya sebagai hadits yang palsu dan memasukkannya dalam kitab Al Laali al Mashnuu’ah (2/356), juga dinyatakan kepalsuannya oleh ibnu ‘Arraaq dalam kitab Tanzih Asy Syari’ah (2/322).
.

SYUBHAT 23

Kisah kaum Yahudi yang bertawassul dengan Nabi Muhamad untuk mengalahkan kaum musyrikin:

يروي عن عبد الملك بن هارون بن عنترة عن أبيه عن سعيد بن جبير عن ابن عباس قال : كانت يهود خيبر تقاتل غطفان فكلما التقوا هزمت يهود فعاذت بهذا الدعاء : اللهم إنا نسألك بحق محمد النبي الأمي الذي وعدتنا أن تخرجه لنا آخر الزمان إلا نصرتنا عليهم فكانوا إذا دعوا بهذا الدعاء هزموا غطفان فلما بعث النبي ( كفروا به فأنزل الله تعالى : ( وكانوا من قبل يستفتحون على الذين كفروا …)
Diriwayatkan dari Abdul Malik bin Harun bin’Antarah dari ayahnya dari Sa’id bin Jubair dari ibnu Abbas, ia berkata: “Dahulu, kaum Yahudi perang melawan ghathafan dan selalu kalah dalam peperangan, maka mereka berlindung dengan do’a ini: “Ya Allah, sesungguhnya Kami memohon kepadaMu dengan melalui hak Muhammad Nabi yang Ummiy yang Engkau janjikan kepada kami di akhir zaman, agar Engkau menangkan kami atas mereka. Dan mereka apabila berdo’a dengan do’a ini dapat mengalahkan ghathafan, namun ketika Nabi diutus, mereka kafir kepadanya, maka Allah turunkan ayat ini: “Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir..

JAWABAN

Hadits ini berasal dari periwayatan Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah dari ayahnya, dan telah kita jelaskan pada bantahan terhadap syubhat yang ke 21 bahwa ia adalah perawi yang suka bedusta, sehingga kabar ini adalah palsu dan Al Hakim dalam Al madkhal berkata: “Abdul malik bin Harun bin ‘Antarah Asy Syaibani meriwayatkan dari ayahnya hadits-hadits palsu”.

Dan di antara bukti yang menunjukkan kepalsuan kabar ini juga adalah bahwa ayat ini turun untuk Yahudi yang berada di madinah, dan Yahudi tidak pernah berperang melawan Ghathafan sekalipun.

Dan kalaupun misalnya kisah ini shahih, maka perbuatan Yahudi bukan dalil, justru kita jadikan dalil bahwa tawassul seperti ini adalah perbuatan kaum Yahudi yang dimurkai oleh Allah Ta’ala.
.

SYUBHAT 24

Hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh At tirmidzi, ia berkata:

سألت أن يشفع لي يوم القيامة فقال : ( أنا فاعل ).
“Aku meminta (kepada Rasulullah) agar memberikan syafaat kepadaku pada hari kiamat”. Beliau bersabda: “Aku akan melakukannya”.

JAWABAN

Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu bukan sedang bertawassul kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah matinya, namun Anas datang kepada beliau semasa hidupnya dan memohon agar beliau memberi syafa’at kepadanya pada hari kiamat kelak. Dan sabda Rasulullah: “Aku akan melakukannya”. Tentunya dengan idzin Allah dan keridlaanNya, dan para shahabat adalah generasi yang paling berhak mendapatkan syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, disebabkan oleh keimanan dan tauhid mereka yang amat kokoh, dan syafa’at Rasulullah hanya di dapat oleh orang yang tidak pernah mempersekutukan Allah, sebagaimana dalam hadits:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصَةً مِنْ قِبَلِ نَفْسِه
“Orang yang paling berbahagia mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan penuh keikhlasan dari dirinya”. (HR Bukhari).

Maka hadits ini sama sekali tidak menunjukkan kepada bolehnya bertawassul kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau wafat.
.

SYUBHAT 25

Puisi Shafiyah bintu Abdil Muthalib.

ألا يا رسول الله أنت رجاؤنا

وكنت بنا براً ولم تك جافياً

ففيها النداء بعد وفاته مع قولها ( وأنت رجاؤنا ) وسمع تلك المرثية الصحابة ( فلم ينكر عليها أحد قولها : يا رسول الله أنت رجاؤنا .

Engkaulah wahai Rasulullah harapan kami

Yang selalu berbuat baik dan tidak bersikap dingin kepada kami

Mereka berkata: “Tidak ada satupun shahabat yang mengingkari perkataan Shafiyyah yang mengatakan: “Engkaulah wahai Rasulullah harapan kami”.

JAWABAN

Dalam sya’ir di atas terdapat perubahan fatal, karena imam Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (9/39) dengan lafadz:

ألا يا رسول الله كنت رجاؤنا

وكنت بنا براً ولم تك جافياً

Wahai Rasulullah dahulu engkau
harapan kami

Yang selalu berbuat baik dan tidak bersikap dingin kepada kami

Dan ini lafadz yang benar, dan lafadz yang benar ini justru menjadi dalil bahwa Shafiyyah membedakan antara masa hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan setelah mati beliau, karena kata:“Kunta” menunjukkan kepada kejadian yang telah berlalu, namun mereka (para pembela tawassul syirik) kemudian merubahnya dengan lafadz “anta” agar lafadz tersebut dapat dipakai dalil bolehnya tawassul dengan Rasulullah setelah wafatnya. Demikianlah hawa nafsu bila berbicara, akan merusak agama.
.

SYUBHAT 26

Mimpi Imam At Tirmidzi.

ذكر طاهر بن هاشم با علوي في كتابه المسمى (( مجمع الأحباب )) في ترجمة الإمام أبي عيسى الترمذي صاحب السنن أنه رأى في المنام رب العزة فسأله عما يحفظ عليه الإيمان حتى يتوفاه عليه قال : فقال لي : قل : إلهي بحرمة الحسن وأخيه وجده وبنيه وأمه وأبيه نجني من الغم الذي أنا فيه يا حي يا قيوم يا ذا الجلال والإكرام أسألك أن تحيي قلبي بنور معرفتك يا الله يا الله يا أرحم الراحمين.
Thahir bin Hasyim Ba’alwi menyebutkan dalam kitabnya “Majma’ul ahbaab” dalam biografi Abi Isa At Tirmidzi penulis kitab sunan, bahwa ia bermimpi bertemu dengan Allah, dan bertanya kepadaNya tentang sesuatu yang dapat menjaga keimanannya sampai wafat, maka Dia berkata: “Katakanlah: “Ilahi, dengan melalui kehormatan Al Hasan, saudaranya, kakeknya, anak-anaknya, ibu dan ayahnya, selamatkan aku dari kegundahan yang sedang menimpaku, wahai yang Maha hidup lagi berdiri sendiri, wahai yang mempunyai keagungan dan kemuliaan, aku memohon kepadaMu agar menghidupkan hatiku dengan cahaya ma’rifatmu, ya Allah ya Allah ya arhamarrahimiin”.

JAWABAN

Pertama:
Kisah ini tidak ditemukan padanya sanad yang shahih sampai kepada Imam At Tirmidzi, besar kemungkinan kisah ini dibuat oleh orang-orang sufi yang tidak bertanggung jawab.

Kedua:
Mimpi bukanlah dalil untuk dijadikan sandaran dalam menentukan hukum syari’at, karena sandaran kita adalah Al Qur’an dan hadits yang shahih.
.

SYUBHAT 27

Tawassul imam Asy Syafi’i melalui Abu Hanifah di sisi kuburannya.

قال ابن حجر المكي في كتابه المسمى ( بالخيرات الحسان ) في مناقب أبي حنيفة النعمان في الفصل الخامس والعشرين أن الإمام الشافعي أيام هو ببغداد كان يتوسل بالإمام أبي حنيفة ( يجيء إلى ضريحه يزور فيسلم عليه ثم يتوسل إلى الله به في قضاء حاجاته .
Ibnu Hajar Al Makki dalam kitabnya “Al Khairaatul hisaan” menyebutkan manaqib Abu Hanifah pada fasal 25, bahwa Imam Asy Syafi’i ketika berada di baghdad bertawassul melalui imam Abu Hanifah, beliau mendatangi kuburannya dan mengucapkan salam kemudian bertawassul kepada Allah dengannya untuk memenuhi kebutuhannya.

JAWABAN

Pertama: Kisah ini diriwayatkan oleh Al khathiib Al Baghdadi dalam ‘Tarikh Baghdad’ dari jalan Umar bin Ishaq bin Ibrahim, memberitahukan kepada kami Ali bin Maimun, aku mendengar Asy Syafi’i berkata: “Aku suka bertabarruk dengan kuburan Abu Hanifah, aku mendatangi kuburannya setiap hari, apabila ada kebutuhan aku shalat dua raka’at dan mendatangi kuburannya, lalu aku memohon kepada Allah hajatku di sisinya, tak lama setelah itu hajatku dipenuhi”.

Dalam sanadnya terdapat Umar bin Ishaq bin Ibrahim, tidak diketahui siapa ia, dan tidak juga disebutkan beografinya dalam kitab-kitab rijaal.
[Silsilah dla’ifah 1/78]

Sehingga kisah ini adalah kisah yang lemah bahkan batil.

Kedua: Syaikhul islam rahimahullah berkata dalam kitab iqtidla ash shirathil mustaqim (1/343-344): “Ini adalah kedustaan yang nyata, orang yang mempunyai pengetahuan yang rendah saja dapat memastikan kedustaannya, karena Asy Syafi’i ketika datang ke kota Baghdad, tidak ada di kota Baghdad kuburan yang selalu dikunjungi untuk berdo’a di sisinya, bahkan di zaman imam Asy Syafi’i perbuatan tersebut tidak dikenal, padahal imam Asy Syafi’i telah melihat di Hijaz, Yaman, Syam, Iraq dan Mesir kuburan para Nabi, para shahabat dan para Tabi’in yang menurut kaum muslimin lebih utama dari Abu Hanifah dan ulama yang selevel dengannya, lalu ada apa imam Asy Syafi’i hanya berdo’a di sisi kuburan Abu hanifah saja?!

Kemudian shahabat-shahabat Abu Hanifah yang bertemu dengannya seperti Abu Yusuf, Muhammad, Zufar, Al Hasan bin Ziyad, dan lainnya tidak pernah berdo’a di sisi kuburan Abu Hanifah, tidak juga kuburan lainnya. Terlebih imam Asy Syafi’i mengharamkan mengagungkan kuburan makhluk karena khawatir akan menimbulkan fitnah terhadap kuburan. Orang yang membuat kisah ini hanyalah orang yang dangkal ilmu dan agamanya, atau dinukil dari orang yang tidak dikenal siapa ia”.
.

SYUBHAT 28

Tawassul imam Asy Syafi’i dengan ahlul bait.

ذكر ابن حجر المكي في كتابه المسمى : بالصواعق المحرقة لإخوان الضلال والزندقة أن الإمام الشافعي ( توسل بأهل البيت النبوي حيث قال :

آل النبي ذريعتي

أرجو بهم أعطي غداً

وهم إليه وسيلتي

بيدي اليمين صحيفتي

Ibnu hajar Al Makki menyebutkan dalam kitabnya “Ash Shawa’iq Al Muhriqah” bahwa imam Asy Syafi’i bertawassul dengan ahli bait Nabi, ia berkata:

Keluarga Nabi pengantarku

Aku berharap besok melalui mereka diberi

Dan merekalah wasilahku kepadaNya

Di tangan kananku shahifahku.

JAWABAN


Pertama:
Kisah ini termasuk jenis kisah di atas, dan tidak diketahui sanad yang shahih kepada imam Asy Syafi’i, sehingga tidak mungkin dipastikan bahwa ini adalah perkataan imam Asy Syafi’i rahimahullah, boleh jadi kisah ini dibuat kaum sufi untuk menguatkan pendapatnya, dengan cara berdusta terhadap imam Asy Syafi’i. Dan yang kita ketahui dari imam Asy Syafi’i, beliau adalah imam yang sangat kuat berpegang kepada sunnah, sampai-sampai para ulama di zamannya memberikan beliau julukan: pembela sunnah, jadi sangat mustahil perkataan ini berasal dari perkataan beliau.

Kedua: Imam Asy Syafi’i bukanlah dalil yang menjadi sandaran dalam menentukan hukum syari’at, akan tetapi sandaran kita adalah Al Qur’an dan sunnah.
.

SYUBHAT 29

Atsar ibnu Umar dan ibnu Abbas.

Ibnu Sunni meriwayatkan dengan sanadnya kepada Abu Syu’bah ia berkata: “Aku pernah berjalan dengan ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma, ternyata kaki beliau terasa berat dan beliaupun duduk, lalu ada seseorang berkata: “Sebutlah nama orang yang paling kamu sukai”. Ibnu Umar berkata: “Wahai Muhammad”. Maka beliau langsung bangkit dan berjalan.

Dan riwayat ibnu Abbas bahwa ada seorang laki-laki yang kakinya terasa berat, lalu ibnu Abbas berkata: “Sebutlah nama orang yang paling kamu cintai”. Ia berkata: “Muhammad”. Ternyata penyakitnya langsung hilang.

JAWABAN


Pertama:
Atsar ini bila shahih, tidak menunjukkan bolehnya bertawassul dengan Rasulullah setelah beliau wafat. Berkata Fadllullah Al Jiilaani: “Panggilan nama (Muhammad) yang ada pada sebagian Riwayat tidak menunjukkan untuk isti’anah (meminta pertolongan) atau istighatsah, akan tetapi maksudnya adalah memperlihatkan kerinduan dan menyalakan api cinta, karena mengingat orang yang tercinta dapat menghangatkan hati dan memberikan dorongan semangat, sehingga dapat menghilangkan darah yang membeku dan melancarkan aliran darah, dan inilah yang dinamakan kegembiraan”.
[Fadllullah Ash Shomad 4/422]

Kedua: Atsar ini bermakna umum, yaitu menyebut orang yang paling dicintai, maka bila misalnya seorang lelaki atau wanita yang sedang jatuh cinta kepada seseorang, kemudian ia menyebut nama orang tersebut walaupun fasiq, apakah ini menunjukkan bolehnya bertawassul dengan orang tersebut, tentu tidak !!

Ketiga: Atsar ibnu Umar dan ibnu Abbas ini adalah atsar yang lemah, penjelasannya sebagai berikut:

Adapun atsar ibnu Umar, berporos kepada Abu ishaq As Sabii’i, walaupun ia perawi tsiqah namun ia adalah mudallis, dan di sini ia meriwayatkan dengan lafadz ‘an, sedangkan perawi mudallis bila meriwayatkan dengan lafadz ‘an tidak diterima. Dan sanadnya juga mudltharib (guncang), karena Abu Ishaq terkadang meriwayatkan dari Al Haitsam bin Hanasy seorang perawi majhul dari ibnu Umar, terkadang ia meriwayatkan dari Abdurrahman bin Sa’ad Al Qurasyi dari ibnu Umar, terkadang ia meriwayatkan dari Abu Sa’id perawi yang tidak dikenal dari ibnu Umar, terkadang ia meriwayatkan dari seseorang yang mendengar dari ibnu Umar dan tidak menyebut namanya. Dan jalan-jalan ini tidak dapat dirajihkan karena para perawinya sama-sama kuat seperti Syu’bah, Sufyan Ats Tsauri, Israil dan Zuhair bin Mu’awiyah. Dan keguncangan ini berasal dari Abu Ishaq, karena ia perawi yang mukhthalith (berubah hafalannya).

Adapun atsar ibnu Abbas adalah palsu karena di dalam sanadnya terdapat Ghiyats bin Ibrahim, Abu Dawud berkata: “Kadzaab (tukang dusta)”. Ibnu Ma’in berkata: “Kadzaab khobiits (tukang dusta yang buruk)”.
[Tajriid At Tauhid hal. 136-137 karya Faishal bin Qazar Al Jasim]
.

SYUBHAT 30

Qiyas dengan makhluk.

Mereka berkata: “Apabila kita ada kebutuhan kepada penguasa, tentu kita pergi kepada ajudannya terlebih dahulu, lalu dia menyampaikan pengaduan kita kepada penguasa. Demikian juga kami kepada Allah, kami bertawassul melalui para Nabi, para wali dan orang-orang pilihanNya, agar mereka menyampaikan kebutuhan kami kepadaNya.

JAWABAN

Pernyataan seperti ini bila kita perhatikan, sebetulnya adalah penghinaan terhadap Allah Ta’ala, karena:

Pertama:
Allah tidak serupa dengan hambaNya, hamba adalah lemah sehingga membutuhkan ajudan, sedangkan Allah Maha sempurna tidak membutuhkan ajudan.

Kedua:
Raja yang membutuhkan ajudan menunjukkan ia tidak mengetahui keadaan orang yang datang kepadanya, sehingga ia butuh ajudan atau pemberi syafa’at ketika minta bantuan kepadanya. Sedangkan Allah Maha tahu keadaan hamba-hambaNya sehingga tidak perlu kepada ajudan dan tidak pula seseorang dapat memberi syafa’at kecuali dengan idzinNya.

Ketiga:
Raja yang membutuhkan ajudan menunjukkan kelemahannya untuk menolak orang yang ingin bermakar dan menzaliminya, sedangkan Allah Maha kuat dan Maha mengetahui makar orang-orang yang ingin bermakar kepadanya.

Keempat: Seseorang dapat memberi syafa’at di sisi Raja tanpa harus dengan idzin raja, sedangkan Allah adalah pemilik syafa’at dan tidak ada yang dapat memberi syafa’at kecuali dengan idzinNya.

Kelima: Raja yang membutuhkan ajudan menunjukkan ia tidak mempunyai keinginan untuk memberikan manfaat kepada rakyatnya kecuali bila ada yang menggerakkannya dari ajudan atau orang-orang yang dekat dengannya.

Dan lima perkara ini menjelaskan kepada kita rusaknya analogi tersebut, bahkan mengandung penghinaan terhadap Allah yang tidak serupa dengan makhluk-makhlukNya.
.

– SELESAI –

________
Sumber:
http://www.cintasunnah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s