MALAM NISHFU SYA’BAN DALAM SOROTAN

Posted: Juni 6, 2013 in Fiqh
Tag:,

بسم الله الرحمن الرحيم


Allah ta’ala berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ . فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”.
[QS. Ad-Dukhaan : 3 – 4]

‘Ikrimah -rahimahullah–
berkata menafsirkan firman Allah ta’ala diatas:

أن هذه الليلة هي ليلة النصف من شعبان ، يبرم فيها أمر السنة ، وينسخ الأحياء من الأموات ، ويكتب الحاج فلا يزاد فيهم أحد ، ولا ينقص منهم أحد

”Bahwasannya yang dimaksud malam dalam ayat tersebut adalah malam Nishfu Sya’ban ; dibentangkan padanya perkara sunnah, dihapuskannya kematian dari kehidupan, dan diwajibkannya haji (dari Allah kepada manusia). Maka tidaklah ditambah padanya atau dikurangi darinya seorangpun”.
[Al-Jaami’ li-Ahkaamil-Qur’an oleh Al-Qurthubi 16/126].

Adapun Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat yang sama berkata:

يقول تعالى مخبراً عن القرآن العظيم أنه أنزله في ليلة مباركة ، وهي ليلة القدر كما قال عز وجل :{ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْر}، وكان ذلك في شهر رمضان كما قال تبارك وتعالى :{شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ }.
وقد ذكرنا الأحاديث الواردة في ذلك في سورة البقرة بما أغنى عن إعادته

”Allah ta’ala telah berfirman ketika menjelaskan Al-Qur’an Al-’Adhim bahwasannya Dia menurunkannya di malam yang diberkahi. Malam tersebut adalah Lailatul-Qadar sebagaimana firman Allah ta’ala : ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan”  (QS. Al-Qadr : 1). Malam tersebut berada di bulan Ramadlan sebagaimana firman Allah ta’ala : ”(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an” (QS. Al-Baqarah : 185). Kami telah menyebutkan beberapa hadits yang menjelaskan tentang hal tersebut dalam (pembahasan) QS. Al-Baqarah sehingga telah mencukupi dan tidak perlu diulangi kembali”.
[Tafsir Ibni Katsir 1/215,216].

Beliau (ibnu Katsir) berkata pula:

ومن قال إنها ليلة النصف من شعبان كما روي عن عكرمة فقد أبعد النجعة ، فإن نص القرآن في رمضان ا.هـ .

”Barangsiapa yang berkata bahwasannya malam tersebut adalah malam Nishfu Sya’ban sebagaimana diriwayatkan dari ’Ikrimah, sungguh hal ini sangat jauh (dari pengertian yang benar). Karena Al-Qur’an telah menetapkannya bahwa hal itu terjadi di bulan Ramadlan”.
[Tafsir Ibni Katsir 4/570 – selesai]

Dalam menetapkan makna firman Allah ta’ala : ”pada suatu malam yang diberkahi”, para ulama terbagi menjadi dua pendapat :
1.    Malam dimaksud adalah Lailatul-Qadr – dan ini adalah pendapat jumhur ’ulama’.
2.    Malam dimaksud adalah malam Nishfu Sya’ban – dan ini adalah pendapat ’Ikrimah.

Yang rajih  – wallaahu a’lam – adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa yang dimaksud malam yang diberkahi pada ayat tersebut adalah Lailatul-Qadr. Bukan malam Nishfu Sya’ban. Hal tersebut dikarenakan Allah ta’ala telah menyatakannya dalam bentuk global: ”pada suatu malam yang diberkahi”; dan kemudian menjelaskannya (makna global/umum itu) dalam ayat: ”(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an” ; dan juga firman Allah : ” Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan”.
[lihat Fathul-Qadir  4/137]

Maka dengan ini, anggapan yang menyatakan bahwa malam tersebut adalah malam Nishfu Sya’ban merupakan angapan yang salah yang menyelisihi nash Al-Qur’an yang sharih (jelas). Dan tidak diragukan lagi bahwa segala sesuatu yang menyelisihi kebenaran maka hal itu adalah kebathilan. Adapun beberapa hadits yang menjelaskan bahwa malam dimaksud adalah malam Nishfu Sya’ban, maka hadits tersebut telah menyelisihi kejelasan makna yang ditetapkan Al-Qur’an sehingga tidak berdasar, tidak shahih sanadnya sedikitpun – sebagaimana dijelaskan oleh Al-’Araby dan yang lainnya dari kalangan muhaqqiqiin. Sungguh sangat menakjubkan jika ada seorang yang mengaku muslim menyelisihi nash Al-Qur’an yang sharih tanpa adanya sandaran Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih[1].
[Lihat Adlwaaul-Bayaan 7/319]


MENINJAU HADITS KEUTAMAAN MALAM NISHFU SYA’BAN


Penulis Tuhfatul Ahwadzi (Abul ‘Alaa Al Mubarokfuri)
telah menyebutkan satu per satu hadits yang membicarakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Awalnya beliau berkata, “Ketahuilah bahwa telah terdapat beberapa hadits mengenai keutamaan malam Nishfu Sya’ban, keseluruhannya menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak ada ashl-nya (landasannya).” Lalu beliau merinci satu per satu hadits yang dimaksud.

Pertama: Hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR. Ibnu Majah no. 1390)

Penulis Tuhfatul Ahwadzi berkata, “Hadits ini  munqothi’ (terputus sanadnya).”
[Berarti hadits tersebut dho’if].

Kedua: Hadits ‘Aisyah[2], ia berkata,

قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى فَأَطَالَ السُّجُودَ حَتَّى ظَنَنْت أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ ، فَلَمَّا رَأَيْت ذَلِكَ قُمْت حَتَّى حَرَّكْت إِبْهَامَهُ فَتَحَرَّكَ فَرَجَعَ ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ وَفَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ : ” يَا عَائِشَةُ أَوْ يَا حُمَيْرَاءُ أَظَنَنْت أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ خَاسَ بِك ؟ ” قُلْت : لَا وَاَللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَكِنِّي ظَنَنْت أَنْ قُبِضْت طُولَ سُجُودِك ، قَالَ ” أَتَدْرِي أَيَّ لَيْلَةٍ هَذِهِ ؟ ” قُلْت : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ : ” هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِينَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِينَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ كَمَا هُمْ

“Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam, beliau shalat dan memperlama sujud sampai aku menyangka bahwa beliau telah tiada. Tatkala aku memperhatikan hal itu, aku bangkit sampai aku pun menggerakkan ibu jarinya. Beliau pun bergerak dan kembali. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan merampungkan shalatnya, beliau mengatakan, “Wahai ‘Aisyah (atau Wahai Humairo’), apakah kau sangka bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhianatimu?” Aku menjawab, “Tidak, demi Allah. Wahai Rasulullah, akan tetapi aku sangka engkau telah tiada karena sujudmu yang begitu lama.” Beliau berkata kembali, “Apakah engkau tahu malam apakah ini?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau berkata, “Malam ini adalah malam Nishfu Sya’ban. Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla turun pada hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lantas Dia akan memberi ampunan ampunan pada orang yang meminta ampunan dan akan merahmati orang yang memohon rahmat, Dia akan menjauh dari orang yang pendendam.”

Dikeluarkan oleh Al Baihaqi. Ia katakan bahwa riwayat ini mursal jayyid. Kemungkinan pula bahwa Al ‘Alaa’ mengambilnya dari Makhul.
[Hadits mursal adalah hadits yang dho’if karena terputus sanadnya]

Ketiga: Hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Al Mundziri dalam At Targhib setelah menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan, “Dikeluarkan oleh At Thobroni dalam Al Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al Baihaqi.
Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al Asy’ari. Al Bazzar dan Al Baihaqi mengeluarkan yang semisal dari Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa.”
Demikian perkataan Al Mundziri. Penulis Tuhfatul Ahwadzi lantas mengatakan, “Pada sanad hadits Abu Musa Al Asy’ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat Lahi’ah dan dia dinilai dho’if.”
[Hadits ini adalah hadits yang dho’if]

Keempat: Hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا اِثْنَيْنِ مُشَاحِنٍ وَقَاتِلِ نَفْسٍ

“Allah ‘azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, Dia mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua orang yaitu orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa.”

Al Mundziri mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi yang diberi penilaian negatif/ dijarh, namun haditsnya masih dicatat).”
[Berarti hadits ini bermasalah]


Kelima: Hadits Makhul dari Katsir bin Murroh,
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda di malam Nishfu Sya’ban,

يَغْفِرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِأَهْلِ الْأَرْضِ إِلَّا مُشْرِكٌ أَوْ مُشَاحِنٌ

“Allah ‘azza wa jalla mengampuni penduduk bumi kecuali musyrik dan orang yang bermusuhan”.

Al Mundziri berkata, “Hadits ini dikeluarkan oleh Al Baihaqi, hadits ini mursal jayyid.”
[Berarti dho’if karena haditsnya mursal, ada sanad yang terputus]

Al Mundziri juga berkata, “Dikeluarkan pula oleh Ath Thobroni dan juga Al Baihaqi dari Makhul, dari Abu Tsa’labah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى عِبَادِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَيُمْهِلُ الْكَافِرِينَ وَيَدَعُ أَهْلَ الْحِقْدِ بِحِقْدِهِمْ حَتَّى يَدَعُوهُ

“Allah mendatangi para hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban,
Dia akan mengampuni orang yang beriman dan menangguhkan orang-orang kafir, Dia meninggalkan orang yang pendendam.”

Al Baihaqi mengatakan, “Hadits ini juga antara Makhul dan Abu Tsa’labah adalah mursal jayyid”.
[Berarti hadits ini pun dho’if]

Keenam: Hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَّا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Apabila malam nisfu Sya’ban, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: “Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini, hingga terbit fajar.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan dalam sanadnya terdapat Abu Bakr bin ‘Abdillah bin Muhammad bin Abi Saburoh Al Qurosyi Al ‘Aamiri Al Madani. Ada yang menyebut namanya adalah ‘Abdullah, ada yang mengatakan pula Muhammad. Disandarkan pada kakeknya bahwa ia dituduh memalsukan hadits, sebagaimana disebutkan dalam At Taqrib.
Adz Dzahabi dalam Al Mizan mengatakan, “Imam Al Bukhari dan ulama lainnya mendho’ifkannya”.
Anak Imam Ahmad, ‘Abdullah dan Sholih, mengatakan dari ayahnya, yaitu Imam Ahmad berkata, “Dia adalah orang yang memalsukan hadits.”
An Nasai mengatakan, “Ia adalah perowi yang matruk (dituduh dusta)”.
[Berarti hadits ini di antara maudhu’ dan dho’if]

Penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-riwayat di atas, beliau mengatakan, “Hadits-hadits ini dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang menerangkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Wallahu Ta’ala a’lam.”
[Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 3/365-367]


KETERANGAN ULAMA MENGENAI KELEMAHAN HADITS KEUTAMAAN MALAM NISHFU SYA’BAN

Ibnu Rajab di beberapa tempat dalam kitabnya Lathoif Al Ma’arif memberikan tanggapan tentang hadits-hadits yang membicarakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban.

Pertama: Mengenai hadits ‘Ali tentang keutamaan shalat dan puasa Nishfu Sya’ban, Ibnu Rajab mengatakan bahwa hadits tersebut dho’if.
[Lathoif Al Ma’arif, 245]

Kedua: Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadits yang menjelaskan keutamaan malam Nishfu Sya’ban ada beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Kebanyakan ulama mendhoifkan hadits-hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan sebagian hadits tersebut dan beliau masukkan dalam kitab shahihnya.”
[Lathoif Al Ma’arif, 245]

Note: Tanggapan kami, “Ibnu Hibban adalah di antara ulama yang dikenal mutasahil, yaitu orang yang bergampang-gampangan dalam menshahihkan hadits. Sehingga penshahihan dari sisi Ibnu Hibban perlu dicek kembali.”

Ketiga: Mengenai menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat malam, Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Mengenai shalat malam di malam Nishfu Sya’ban, maka tidak ada satu pun dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya. Namun terdapat riwayat dari sekelompok tabi’in (para ulama negeri Syam) yang menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat.”
[Lathoif Al Ma’arif, 248]

Ada tanggapan bagus pula dari ulama belakangan, yaitu Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, ulama yang pernah menjabat sebagai Ketua Lajnah Ad Da’imah (komisi fatwa di Saudi Arabia). Beliau rahimahullah mengatakan, “Hadits yang menerangkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadits-hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan sandaran. Adapun hadits yang menerangkan mengenai keutamaan shalat pada malam nishfu sya’ban[3] , semuanya adalah berdasarkan hadits palsu (maudhu’) Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh kebanyakan ulama.”
[Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 1/188]

Begitu juga Syaikh Ibnu Baz menjelaskan, “Hadits dhoif barulah bisa diamalkan dalam masalah ibadah, jika memang terdapat penguat atau pendukung dari hadits yang shahih. Adapun untuk hadits tentang menghidupkan malam nishfu sya’ban, tidak ada satu dalil shahih pun yang bisa dijadikan penguat untuk hadits yang lemah tadi.”
[Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 1/188]

Memang sebagian ulama ada yang menshahihkan sebagian hadits yang telah dibahas oleh penulis Tuhfatul Ahwadzi. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah menshahihkan hadits Abu Musa Al Asy’ari di atas. Beliau rahimahullah menyatakan bahwa hadits tersebut shahih[4] karena diriwayatkan dari banyak sahabat dari berbagai jalan yang saling menguatkan, yaitu dari sahabat Mu’adz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al Khusyani, ‘Abdullah bin ‘Amru, Abu Musa Al Asy’ari, Abu Hurairah, Abu Bakr Ash Shifdiq, ‘Auf bin Malik dan ‘Aisyah. Lalu beliau rahimahullah perinci satu per satu masing-masing riwayat.
[Lihat As Silsilah Ash Shohihah, no. 1144]

Namun sebagaimana dijelaskan oleh Abul ‘Alaa Al Mubarakfuri, hadits Abu Musa Al Asy’ari adalah munqothi’ (terputus sanadnya). Hadits yang semisal itu pula tidak lepas dari kedho’ifan. Sehingga kami lebih cenderung pada pendapat yang dipegang oleh penulis Tuhfatul Ahwadzi tersebut. Ini serasa lebih menenangkan karena dipegang oleh kebanyakan ulama. Itulah mengapa beliau, penulis Tuhfatul Ahwadzi memberi kesimpulan terakhir bahwa tidak ada hadits yang shahih yang membicarakan keutamaan bulan Sya’ban. Wallahu a’lam bish showab.


PENDAPAT ULAMA MENGENAI MENGHIDUPKAN MALAM NISHFU SYA’BAN

Mayoritas fuqoha berpendapat dianjurkannya menghidupkan malam nishfu sya’ban. Dasar dari hal ini adalah hadits dho’if yang telah diterangkan di atas, yaitu dari Abu Musa Al Asy’ari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR. Ibnu Majah no. 1390). Dan juga beberapa hadits dho’if lainnya jadi pegangan semacam hadits dari ‘Ali bin Abi Tholib.

Imam Al Ghozali menjelaskan tata cara tertentu dalam menghidupkan malam nishfu sya’ban dengan tata cara yang khusus. Namun ulama Syafi’iyah mengingkari tata cara yang dimaksudkan, ulama Syafi’iyah menganggapnya sebagai bid’ah qobihah (bid’ah yang jelek).

Sedangkan Ats Tsauri mengatakan bahwa shalat Nishfu Sya’ban adalah bid’ah yang dibuat-buat yang qobihah (jelek) dan mungkar.

Mayoritas fuqoha memakruhkan menghidupkan malam nishfu Sya’ban secara berjama’ah. Ada pendapat yang tegas dari ulama Hanafiyah dan Malikiyah dalam hal ini, mereka menganggap menghidupkan malam Nishfu Sya’ban secara berjama’ah adalah bid’ah. Para ulama yang juga melarang hal ini adalah Atho’ ibnu Abi Robbah, dan Ibnu Abi Malikah.

Adapun Al Auza’i, beliau berpendapat bahwa menghidupkan malam nishfu sya’ban secara berjama’ah dengan shalat jama’ah di masjid adalah suatu yang dimakruhkan. Alasannya, menghidupkan dengan berjama’ah semacam ini tidak dinukil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula dari seorang sahabat pun. Sedangkan Kholid bin Mi’dan, Luqman bin ‘Amir, Ishaq bin Rohuyah menyunnahkan menghidupkan malam nishfu sya’ban secara berjama’ah[5].
[Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah (2/594) pada pembahasan “Ihyaul Lail”]

• Apabila kita melihat dari berbagai pendapat di atas, jika ulama tersebut menganggap dianjurkannya menghidupkan malam Nishfu Sya’ban, maka ada dua cara untuk menghidupkannya;

Pertama, dianjurkan menghidupkan secara berjama’ah di masjid dengan melaksanakan shalat, membaca kisah-kisah atau berdo’a. Menghidupkan malam Nishfu Sya’ban semacam ini terlarang menurut mayoritas ulama.

Kedua, dianjurkan menghidupkan malam Nishfu Sya’ban, namun tidak secara berjama’ah, hanya seorang diri. Inilah pendapat salah seorang ulama negeri Syam, yaitu Al Auza’i. Pendapat ini dipilih pula oleh Ibnu Rajab Al Hambali dalam Lathoif Al Ma’arif.
[Lathoif Al Ma’arif, 247-248]

Ibnu Taimiyah ketika ditanya mengenai shalat Nishfu Sya’ban, beliau rahimahullah menjawab, “Jika seseorang shalat pada malam nishfu sya’ban sendiri atau di jama’ah yang khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf, maka itu suatu hal yang baik. Adapun jika dilakukan dengan kumpul-kumpul di masjid untuk melakukan shalat dengan bilangan tertentu, seperti berkumpul dengan mengerjakan shalat 1000 raka’at, dengan membaca surat Al Ikhlas terus menerus sebanyak 1000 kali, ini jelas suatu perkara bid’ah, yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama.”
[Majmu’ Al Fatawa, 23/131]

Ibnu Taimiyah juga mengatakan, “Adapun tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban terdapat beberapa hadits dan atsar, juga ada nukilan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka melaksanakan shalat pada malam tersebut. Jika seseorang melakukan shalat seorang diri ketika itu, maka ini telah ada contohnya di masa lalu dari beberapa ulama salaf. Inilah dijadikan sebagai hujjah sehingga tidak perlu diingkari.”
[Majmu’ Al Fatawa, 23/132]

(Sanggahan):
Setelah menyebutkan perkataan Ibnu Rajab dalam Lathoif Al Ma’arif, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz pun lantas mengomentari pendapat Al Auza’i dan Ibnu Rajab (sebagaimana diatas),
Beliau rahimahullah mengatakan; “Dalam perkataan Ibnu Rajab sendiri terdapat kata tegas bahwa tidak ada satu pun dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang shahih tentang malam Nishfu Sya’ban. Adapun pendapat yang dipilih oleh Al Auza’i rahimahullah mengenai dianjurkannya ibadah sendirian (bukan berjama’ah) dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Rajab, maka ini adalah pendapat yang aneh dan lemah. Karena sesuatu yang tidak ada landasan dalilnya sama sekali, maka tidak boleh bagi seorang muslim mengada-adakan suatu ibadah ketika itu, baik secara sendiri atau berjama’ah, baik pula secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.”
[Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 1/190]


MALAM NISHFU SYA’BAN SEPERTI MALAM LAINNYA

Dalam masalah ini, jika memang kita memilih pendapat mayoritas ulama yang berpendapat bolehnya[6] menghidupkan malam nishfu sya’ban, maka sebaiknya tidak dilakukan secara berjama’ah baik dengan shalat ataupun dengan membaca secara berjama’ah do’a malam nishfu sya’ban. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama.

Sedangkan bagaimanakah menghidupkan malam tersebut secara sendiri-sendiri atau dengan jama’ah tersendiri? Jawabnya, sebagian ulama membolehkan hal ini. Namun yang lebih menenangkan hati kami, tidak perlu malam Nishfu Sya’ban diistimewakan dari malam-malam lainnya. Karena sekali lagi, dasar yang dibangun dalam masalah keutamaan malam nishfu Sya’ban dan shalatnya adalah dalil-dalil yang lemah atau hanya dari riwayat tabi’in saja, tidak ada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atsar sahabat yang shahih yang menerangkan hal ini.

Jadi di sini bukan maksud kami adalah tidak perlu melaksanakan shalat di malam Nishfu Sya’ban, bukan sama sekali. Maksud kami adalah jangan khususkan malam Nishfu Sya’ban lebih dari malam-malam lainnya.
Perkataan yang amat bagus dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, beliau rahimahullah mengatakan:
“Malam Nishfu Sya’ban sebenarnya seperti malam-malam lainnya. Janganlah malam tersebut dikhususkan dengan shalat tertentu. Jangan pula mengkhususkan puasa tertentu ketika itu. Namun catatan yang perlu diperhatikan, kami sama sekali tidak katakan; “Barangsiapa yang biasa bangun shalat malam, janganlah ia bangun pada malam Nishfu Sya’ban. Atau barangsiapa yang biasa berpuasa pada ayyamul biid (tanggal 13, 14, 15 H), janganlah ia berpuasa pada hari Nishfu Sya’ban (15 Hijriyah).” Ingat, yang kami maksudkan adalah janganlah mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat tertentu atau siang harinya dengan puasa tertentu.”.
[Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 115]

Dalam hadits-hadits tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban disebutkan bahwa Allah akan mendatangi hamba-Nya atau akan turun ke langit dunia. Perlu diketahui bahwa turunnya Allah di sini tidak hanya pada malam Nishfu Sya’ban. Sebagaimana disebutkan dalam Bukhari-Muslim[7] bahwa Allah turun ke langit dunia pada setiap 1/3 malam terakhir, bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja. Oleh karenanya, sebenarnya keutamaan malam Nishfu Sya’ban sudah masuk pada keumuman malam, jadi tidak perlu diistimewakan.

‘Abdullah bin Al Mubarok pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam Nishfu Sya’ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja, -pen).”
[Dikeluarkan oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah (92)]

Al ‘Aqili rahimahullah mengatakan, “Mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya itu layyin (menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam Nishfu Sya’ban itu sudah termasuk pada keumuman hadits semacam itu, insya Allah.”
Disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3/29).
[Lihat Fatwa Al Islam Sual wa Jawab, no. 49678]


-SELESAI-

Referensi:

• Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Asy Syamilah.

• Fatawa Al Islam Sual wa Jawab, Syaikh Sholih Al Munajjid, http://www.islamqa.com/ar.

• Lathoif Al Ma’arif fii Maa lii Mawaasimil ‘Aam minal Wazhoif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428 H.

– Liqo’ Al Bab Al Maftuh, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin.

• Majmu’ Al Fatawa, Ahmad Ibnu Taimiyah,Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.

• Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, Mawqi’ Al Ifta’.

• Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri Abul ‘Alaa, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut.

________
Footnote:

[1] Muqoddimah dinukil dari:
http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/08/peringatan-malam-nishfu-syaban.html?m=0

[2] Hadits Aisyah dalam riwayat yang lain;

قالت: فقدت النبي صلى الله عليه وسلم ذات ليلة، فخرجت أطلبه، فإذا هو بالبقيع، رافعًا رأسه إلى السماء. فقال: ((أكنت تخافين أن يحيف الله عليك ورسوله؟)) فقلت: يا رسول الله، ظننت أنك أتيت بعض نسائك. فقال: ((إن الله تبارك وتعالى ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا، فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم بني كلب))

“Aisyah berkata: ‘Aku kehilangan Nabi Shallallahu’alaihi Wasalllam pada suatu malam. Maka aku keluar dan mencarinya. Ternyata beliau ada di Baqi’. Beliau sedang menengadahkan kepalanya ke atas langit, lalu bersabda: Wahai Aisyah, apakah engkau khawatir Allah dan Rasul-Nya berbuat tidak adil terhadapmu?’. Aisyah berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku mengira engkau mendatangi sebagian istri-istrimu’. Beliau lalu bersabda: ‘Sesungguhnya Allah Tabaaraka Wa Ta’ala turun ke langit dunia pada malam nishfu sya’ban. Lalu Allah mengampuni hamba-Nya lebih banyak dari pada jumlah bulu domba kabilah Kalb‘”.

Hadits Riwayat; Ahmad (6/238), At Tirmidzi (239), Ibnu Majah (1389). Hadits dari Yazid bin Harun: Al Hajjaj bin Artha-ah mengabarkan kepadaku: dari Yahya bin Abi Katsir: dari ‘Urwah: dari ‘Aisyah. Al Bukhari berkata: “Yahya bin Abi Katsir tidak pernah mendengar dari Urwah, dan Al Hajjaj tidak pernah mendengar dari Yahya bin Katsir”

At Tirmidzi mengatakan bahwa Al Bukhari mendhaifkan hadits ini.
[Fatawaa Ibnu ‘Uqail (1/527), fatwa no.209]

[3] Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu secara marfu’ :

من صلى ليلة النصف من شعبان ثنتى عشرة ركعة يقرأ في كل ركعة قل هو الله أحد ثلاثين مرة ، لم يخرج حتى يرى مقعده من الجنة ويشفع في عشرة من أهل بيته كلهم وجبت له النار

”Barangsiapa yang melakukan shalat di malam Nishfu Sya’ban sebanyak 12 raka’at, dimana setiap raka’atnya membaca ”Qul Huwallaahu Ahad” sebanyak 30 kali, tidaklah ia keluar hingga ia melihat tempat duduknya di surga dan memberikan syafa’at terhadap 10 orang anggota keluarganya yang telah ditentukan nasibnya di neraka”.

Hadits ini adalah palsu. Dibawakan oleh Ibnul-Jauzai dalam Al-Maudlu’aat 2/129. Sanadnya gelap yang terdiri dari para perawi yang tidak diketahui identitasnya (majhul). Lihat juga Al-Manaarul-Munif karya Ibnul-Qayyim hadits no. 177.

Hadits ’Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ’anhu secara marfu’:

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة النصف من شعبان قام فصلى أربع عشرة ركعة ثم جلس بعد الفراغ فقرأ بأم القرآن أربع عشرة مرة وقل هو الله أحد أربع عشرة مرة وقل أعوذ برب الفلق أربع عشرة مرة وقل أعوذ برب الناس أربع عشرة مرة وآية الكرسي مرة ولقد جاءكم رسول الآية ، فلما فرغ من صلاته سألت عما رأيت من صنيعه فقال : من صنع مثل الذى رأيت كان له كعشرين حجة مبرورة وكصيام عشرين سنة مقبولة ، فإن أصبح في ذلك اليوم صائما كان كصيام ستين سنة ماضية وسنة مستقبلة

”Aku melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pada malam Nishfu Sya’ban. Beliau berdiri dan kemudian shalat sebanyak 14 raka’at. Kemudian beliau duduk setelah selesai dan membaca Al-Fatihah sebanyak 14 kali, Qul- Huwallaahu Ahad sebanyak 14 kali, Qul A’uudzu bi Rabbil-Falaq sebanyak 14 kali, Qul A’uudzu bi Rabbin-Naas sebanyak 14 kali, dan ayat Kursi sekali; sungguh akan mendatangi kalian utusan dari ayat-ayat tadi. Ketika beliau telah menyelesaikan shalatnya, aku bertanya tentang apa yang aku lihat dari yang beliau lakukan. Maka beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab : ”Barangsiapa yang mengerjakan seperti yang yang engkau lihat tadi, maka baginya seperti 20 kali haji mabrur, puasa yang diterima selama 20 tahun. Apabila di keesokan harinya dia berpuasa, maka puasanya itu sama dengan puasa 60 tahun lamanya pada masa lampau atau masa yang akan datang”.
Hadits ini adalah palsu. Dibawakan oleh Ibnul-Jauzi dalam Al-Maudlu’aat 2/131.
Dan yang lainnya dari hadits-hadits lemah dan palsu.

[4] Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah, dalam Silsilah Ash Shahihah (1144) berkata:

حديث صحيح ، روي عن جماعة من الصحابة من طرق مختلفة يشد بعضها بعضا و هم معاذ ابن جبل و أبو ثعلبة الخشني و عبد الله بن عمرو و أبي موسى الأشعري و أبي هريرة و أبي بكر الصديق و عوف ابن مالك و عائشة

“Hadits ini shahih, diriwayatkan dari banyak sahabat dengan jalan yang berbeda-beda yang saling menguatkan. Diantaranya dari Mu’adz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al Khasyani, Abdullah bin ‘Amr, Abu Musa Al Asy’ari, Abu Hurairah, Abu Bakar Ash Shiddiq, ‘Auf bin Malik dan ‘Aisyah”.

[5] Ibnu Rajab berkata: “Dari merekalah (Kholid bin Mi’dan, Luqman bin ‘Amir, Ishaq bin Rohuyah) sebagian ulama meyakini adanya keutamaan malam tersebut dan menghidupkannya. Lalu ada yang mengatakan bahwa pendapat mereka didasari oleh atsar Israiliyyat. Ketika menyebar kabar tersebut, para ulama pun berselisih pendapat mengenai hukumnya. Sebagian ada yang menerima dan menyetujui bahwa boleh menghidupkan malam nishfu sya’ban. Diantaranya beberapa orang ahli ibadah dari kota Bashrah dan beberapa lagi selain mereka. Sebagian lagi, semisal ulama ahlul hijaz mengingkari hal tersebut. Diantaranya, Atha’ bin Abi Mulaikah, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam yang merupakan ulama ahli fiqih dari Madinah. Pendapat ini juga yang dipegang oleh murid-murid Imam Malik dan beberapa para ulama. Mereka berkata: Menghidupkan malam nishfu sya’ban dengan shalat, dzikir dan doa, semuanya adalah bid’ah”.
[Fatawaa Ibnu ‘Uqail (1/527), fatwa no.209]

[6] Sebagian ulama mengatakan bahwa tidak dimakruhkan shalat seseorang di rumahnya atau berjama’ah (di masjid) secara khusus di malam Nishfu Sya’ban sebagaimana pendapat Al-Auza’i, Ibnu Rajab, dan Ibnu Taimiyyah. Kebalikannya, ’Atha’, Ibnu Abi Mulaikah, Abu Syammah Al-Maqdisi, dan jumhur ulama Malikiyyah mengatakan bid’ahnya amalan tersebut di malam Nishfu Sya’ban.
[Al-Bida’ Al-Hauliyyah hal. 148; Maktabah Ash-Shaid]

[7] Hadits Allah ta’ala turun di setiap sepertiga malam:

ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الآخر يقول من يدعوني فأستجيب له من يسألني فأعطيه من يستغفرني فأغفر له

”Rabb kami tabaaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap malam ketika sepertiga malam yang terakhir, seraya berfirman : ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan doanya. Dan barangsiapa yang meminta, maka aku akan memberinya. Dan barangsiapa yang meminta ampunan dari-Ku, maka Aku akan mengampuninya”.
[HR. Al-Bukhari no. 1094 dan Muslim no. 758 dari shahabat Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu]


Dirangkum dari sumber:
http://rumaysho.com/

Tambahan footnote dinukil dari:
http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/08/peringatan-malam-nishfu-syaban.html?m=0

http://kangaswad.wordpress.com/2010/07/14/menghidupkan-malam-nishfu-syaban-bukan-bidah/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s