PANDUAN RINGKAS PUASA ROMADHON

Posted: Juni 22, 2013 in Fiqh
Tag:,

KEUTAMAAN BULAN ROMADHON

Allah ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الّذِيَ أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لّلنّاسِ وَبَيّنَاتٍ مّنَ الْهُدَىَ وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadlan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” (QS. Al-Baqarah : 185).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka:

أتاكم شهر رمضان شهر بركة، ينزل الله فيه الرحمة، ويحط الخطايا، ويستجيب الدعاء، ويباهي الله بكم ملائكته ، فأروا الله من أنفسكم خيرا ؛ فإن الشقي من حرم فيه رحمة الله
Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh barakah. Allah menurunkan padanya rahmah, menghapus kesalahan-kesalahan, mengabulkan do’a, dan Allah membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya, maka perlihatkanlah kepada Allah kebaikan dari diri-diri kalian, sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang diharamkan padanya rahmat Allah.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabir)

Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam bersabda:

إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة وغلقت أبواب النار وصفدت الشياطين
“Jika bulan Ramadlan tiba, maka pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan pun dibelenggu”.
(HR. Muslim no. 1079).


HUKUM PUASA ROMADHON WAJIB BAGI SETIAP MUSLIM

Allah Ta’ala berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al Baqoroh: 183)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ ، وَحَجِّ البَيْتِ
”Islam dibangun di atas lima perkara: persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan haji ke Baitullah.” (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)


ORANG-ORANG YANG TIDAK DI WAJIBKAN BERPUASA

Allah ta’ala berfirman:

فَمَن كَانَ مِنكُم مّرِيضاً أَوْ عَلَىَ سَفَرٍ فَعِدّةٌ مّنْ أَيّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
“Barangsiapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (ia wajib mengganti) sejumlah hari yang ia tinggalkan pada hari-hari lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak puasa) membayar fidyah yaitu memberi makan seorang miskin” (QS. Al-Baqarah : 184).

1. Musafir (orang yang dalam perjalanan jauh)

أن حمزة بن عمرو الأسلمي قال للنبي صلى الله عليه وسلم أأصوم في السفر وكان كثير الصيام فقال إن شئت فصم وإن شئت فأفطر
Bahwasannya Hamzah bin ‘Amr Al-Aslami pernah bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Apakah saya berpuasa di waktu safar?” – ia (hamzah bin Amr) adalah seorang yang banyak melakukan puasa – . Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Puasalah jika kamu mau dan berbukalah jika kamu mau”
(HR. Al-Bukhari no. 1943 dan Muslim no. 1121).

Note:
Jarak safar (perjalanan jauh) adalah jarak yang dianggap oleh adat (urf) atau masyarakat setempat sebagai safar.
(Majmu’ Fataawaa, 34/40-50, 19/243)

2. Orang yang sakit

Sakit yang dimaksud adalah sakit yang jika ia berpuasa dalam keadaan tersebut akan membahayakan dirinya, menambah sakitnya, atau dikhawatirkan menyebabkan lambatnya kesembuhan.
(Lihat Fathul-Baari 8/179, Syarhul-Umdah Kitab Shiyaam karya Ibnu Taimiyyah 1/208-209, Shifat Shaumin-Nabi hal. 59).

3. Wanita haidh atau nifas

Diriwayatkan dari Mu’adzah ia berkata:

سألت عائشة فقلت ما بال الحائض تقضي الصوم ولا تقضي الصلاة فقالت أحرورية أنت قلت لست بحرورية ولكني أسأل قالت كان يصيبنا ذلك فنؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاة
Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah. Aku katakan,”Bagaimana dengan wanita haidl, ia mengqadla puasa namun tidak mengqadla shalat?”. Aisyah menjawab; ”Apakah kamu seorang Haruriyyah (Khawarij)?”. Aku menjawab; ”Aku bukan Haruriyyah, tapi aku sekedar bertanya”.
Aisyah berkata; ”Kami pernah mengalami begitu. Lalu kami diperintahkan untuk mengqadla puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqadla shalat”
(HR. Muslim no. 335).

Note:
Para ulama’ sepakat bahwa wanita yang sedang haidl atau nifas tidak boleh berpuasa, dan keduanya harus berbuka dan mengqadla’ (mengganti)nya di hari yang lain. Dan bila keduanya berpuasa, maka puasanya tersebut tidak sah.

4. Orang yang Lanjut Usia dan Lemah

Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma mengatakan:

هو الشيخ الكبير الذي لا يستطيع الصيام فيفطر ويطعم عن كل يوم مسكينا نصف صاع من حنطة
”Dia adalah orang tua yang sudah tidak mampu berpuasa. Maka ia berbuka dan memberi makan kepada orang miskin setiap hari sebanyak setengah sha’ gandum”
(HR. Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya 3/198 no. 2386 dengan sanad shahih).

» Takaran jumlah fidyah adalah setengah sha’ atau kurang lebih 1,5 kg per jiwa. Dan pendapat inilah yang dipilih oleh Asy-Syaikh Abdulaziz bin Baaz dan Lajnah Fatwa Saudi Arabia (Fataawaa Ramadlan 2/554-555 dan 604).

5. Wanita hamil dan menyusui

Dari Anas bin Malik , seorang laki-laki dari Bani Abdillah bin Ka’b radliyallaahu ‘anhu ia berkata :

أغارت علينا خيل رسول الله صلى الله عليه وسلم فأتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فوجدته يتغدى فقال ادن فكل فقلت إني صائم فقال ادن أحدثك عن الصوم أو الصيام إن الله تعالى وضع عن المسافر الصوم وشطر الصلاة وعن الحامل أو المرضع الصوم أو الصيام والله لقد قالهما النبي صلى الله عليه وسلم كلتيهما أو إحداهما فيا لهف نفسي أن لا أكون طعمت من طعام النبي صلى الله عليه وسلم
Datang kuda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada kami. Lalu aku mendatangi beliau, dan ternyata aku mendapatkan beliau sedang makan. Kemudian beliau bersabda; ”Mendekatlah dan makanlah”. Aku menjawab; ”Aku sedang puasa”. Beliau bersabda; ”Mendekatlah, akan aku ceritakan kepadamu tentang puasa. Sesungguhnya Allah ta’ala memberikan keringanan dari setengah shalat bagi seorang musafir, dan memberikan keringanan dari beban puasa bagi wanita hamil dan menyusui”. Demi Allah, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam benar-benar telah mengucapkan keduanya atau salah satunya, dan aku benar-benar berselera untuk makan makanan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam”
(HR. At-Tirmidzi no. 715, Shahih Sunan Ibnu Majah 2/64-65 no. 1361).

Ibnu ‘Abbas kepada seorang budak wanita yang hamil atau menyusui:

أنت بمنزلة الذي لا يطيق ، عليك أن تطعمي مكان كل يوم مسكينا ولا قضاء عليك
“Engkau, kedudukanmu seperti yang tidak mampu. Kewajibanmu memberi makan satu orang miskin untuk setiap harinya dan tidak ada kewajiban qadla atasmu”
(Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dengan sanad yang dikatakan Syaikh Al-Albani shahih sesuai dengan syarat Muslim – Irwaaul-Ghalil 4/19).

Juga perkataan Sa’id bin Jubair bahwa Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhum mengatakan kepada budaknya yang hamil atau menyusui :

أنت من الذين لا يطيقون الصيام عليك الجزاء وليس عليك القضاء
“Engkau termasuk tidak mampu, kewajibanmu memberi makan, bukan qadla”
(Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya 3/196 dan ia berkata: sanadnya shahih).

Juga perkataan Ibnu ‘Umar atas pertanyaan seorang wanita hamil :

أفطري وأطعمي عن كل يوم مسكينا ولا تقضي
“Berbukalah dan berilah makan satu orang miskin sebagai ganti setiap harinya dan jangan kamu mengqadla” (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya 3/198 no. 2388. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa sanadnya bagus – Irwaaul-Ghalil 4/20).

Note:
Ada perbedaan pendapat ulama terkait ganti puasa bagi wanita hamil dan menyusui, pendapat pertama; wajib qadla’ tanpa membayar fidyah, pendapat kedua; wajib qadla’ dan membayar fidyah, pendapat ketiga; cukup membayar fidyah tanpa mengqadla’, dan inilah yang raajih (kuat).
Baca penjelasan di: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/08/puasa-bagi-wanita-hamil-dan-menyusui-di.html?m=0

6. Anak-anak yang belum baligh tidak diwajibkan berpuasa, namun dianjurkan untuk melatih mereka berpuasa.

عن الربيع بنت معوذ قالت أرسل النبي صلى الله عليه وسلم غداة عاشوراء إلى قرى الأنصار من أصبح مفطرا فليتم بقية يومه ومن أصبح صائما فليصم قالت فكنا نصومه بعد ونصوم صبياننا ونجعل لهم اللعبة من العهن فإذا بكى أحدهم على الطعام أعطيناه ذاك حتى يكون عند الإفطار
Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengirim utusan di suatu pagi hari ‘Asyuura (10 Muharram) di pedesaan kaum Anshar. Ia berkata : Barangsiapa di waktu pagi tidak berpuasa, maka hendaklah ia berpuasa pada sisa harinya. Dan barangsiapa di waktu pagi berpuasa, maka teruskanlah puasanya itu”.
Maka Rubayyi’ berkata : “Kami pun berpuasa dan menyuruh anak-anak kami berpuasa. Kami memberikan boneka-boneka dari wol apabila mereka menangis karena lapar dan haus. Hal itu terus berlangsung hingga waktu berbuka tiba”
(HR. Al-Bukhari no. 1859).


KEUTAMAAAN PUASA ROMADHON

Allah ta’ala berfirman:

وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لّكُمْ إِن كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah : 184)

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadlan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, niscaya akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosanya yang telah lalu”.
(HR. Al-Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 759).

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

الصلاة الخمس والجمعة إلى الجمعة كفارة لما بينهن ما لم تغش الكبائر
“Shalat yang lima waktu, antara Jum’at ke Jum’at berikutnya, antara Ramadlan ke Ramadlan berikutnya; bisa menghapuskan dosa-dosa yang terjadi diantaranya, jika dosa-dosa besar dihindari” (HR. Muslim no. 233).

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : Telah berfirman Allah ta’ala (merupakan hadits qudsi):

كل عمل بن آدم له إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به والصيام جنة فإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث يومئذ ولا يسخب فإن سابه أحد أو قاتله فليقل إني امرؤ صائم والذي نفس محمد بيده لخلوف فم الصائم أطيب عند الله يوم القيامة من ريح المسك وللصائم فرحتان يفرحهما إذا أفطر فرح بفطره وإذا لقي ربه فرح بصومه
“Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberi pahala atasnya. Puasa itu adalah perisai, maka pada saat berpuasa hendaknya seseorang diantara kamu tidak melakukan rafats (yaitu : berjima’ dan berbicara keji – Pent.) dan tidak juga membuat kegaduhan. Jika ada orang yang mencacinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan,”Sesungguhnya aku berpuasa”. Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi di hari kiamat. Dan bagi orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan, yaitu ketika berbuka dan ketika berjumpa dengan Rabbnya, ia gembira dengan puasanya” (HR. Al-Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

الصيام والقرآن يشفعان للعبد يوم القيامة يقول الصيام أي رب منعته الطعام والشهوات بالنهار فشفعني فيه ويقول القرآن منعته النوم بالليل فشفعني فيه قال فيشفعان
“Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti.
Puasa akan berkata : “Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat di waktu siang, karenanya perkenankanlah aku untuk memberikan syafa’at kepadanya”.
Dan Al-Qur’an berkata : “Saya telah melarangnya dari tidur di malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya”. Beliau bersabda,”Maka syafa’at keduanya diperkenankan”.
(HR. Ahmad 2/174, Al-Hakim no. 2088, dan Abu Nu’aim 8/161 dari Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma ; hasan shahih. Lihat Shahihul-Jaami’ no. 3882)

Rasulullah shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda:

إن في الجنة بابا يقال له الريان يدخل منه الصائمون يوم القيامة لا يدخل معهم أحد غيرهم يقال أين الصائمون فيدخلون منه فإذا دخل آخرهم أغلق فلم يدخل منه أحد (من دخل شرب ومن شرب لم يظمأ أبدا)
“Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat satu pintu yang diberi nama Ar-Rayyaan. Dari pintu tersebut orang-orang yang berpuasa akan masuk di hari kiamat nanti dan tidak seorang pun yang masuk ke pintu tersebut kecuali orang-orang yang berpuasa.
Dikatakan kepada mereka : “Dimana orang-orang yang berpuasa ?”.
Maka mereka pun masuk melaluinya. Dan apabila orang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu tersebut ditutup sehingga tidak ada seorangpun yang masuk melalui pintu tersebut. (Barangsiapa yang masuk, maka ia akan minum minuman surga. Dan barangsiapa yang minum minuman surga, maka ia tidak akan haus selamanya)”. (HR. Al-Bukhari no. 1896 dan Muslim 1152, Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya no. 1902)


BERPUASA ROMADHON DENGAN MELIHAT HILAL

Dari Ibnu ’Umar rodhiyallohu’anhuma, bahwasannya Rasulullah shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda :

الشهر تسع وعشرون ليلة فلا تصوموا حتى تروه فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين
”Bulan itu ada 29 malam (hari). Janganlah kalian mulai berpuasa hingga melihat bulan. Apabila ia tertutup dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah hitungan hari (dalam satu bulan) menjadi 30 hari”.
(HR. Al-Bukhari no. 1907).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين
“Berpuasalah jika kalian telah melihat bulan, dan berbukalah jika kalian melihatnya pula. Dan apabila bulan tertutup (awan) dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari”.
(HR. Al-Bukhari no. 1909)

Note:
Dalam Islam hanya mengenal metode Ru’yatul-Hilal (melihat bulan) pada malam hari tanggal 29. Bila ternyata bulan tidak terlihat, maka hitungan bulan disempurnakan menjadi 30 hari. Adapun metode hisab adalah metode baru (bid’ah) dan selayaknya untuk dihindari oleh umat Islam.

» Berpuasa bersama jama’ah/ pemerintah kaum muslimin, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda;

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ.
“Hari berpuasa adalah adalah hari di mana kalian semua berpuasa, dan hari ‘Idul Fithri kalian adalah hari di mana kalian semua melaksanakan ‘Idul Fihtri, begitu juga hari ‘Idul Adha kalian adalah hari di mana kalian semua melakukan ‘Idul Adha.”
(Al-Silsilah ash-Shahihah no. 224)

Abul Hasan as-Sindi rahimahullah menjelaskan;

والظاهر أن معناه أن هذه الأمور ليس للآحاد فيها دخل، وليس لهم التفرد فيها، بل الأمر فيها إلى الإمام والجماعة، ويجب على الآحاد اتباعهم للإمام والجماعة، وعلى هذا، فإذا رأى أحد الهلال، ورد الإمام شهادته ينبغي أن لا يثبت في حقه شيء من هذه الأمور، ويجب عليه أن يتبع الجماعة في ذلك
“Zhahir hadits, maknanya  menunjukkan bahwa perkara ini (ibadah jama’i seperti; puasa, hari raya, dll) bukanlah perkara yang bisa dilakukan oleh setiap individu (golongan). Tidak boleh bagi masing-masing pribadi untuk menyendiri dalam hal ini. Perkaranya kembali kepada Imam (pemimpin) dan jama’ah (kaum muslimin). Wajib bagi setiap individu untuk mengikuti imam dan jamaa’ah. Atas dasar ini, jika seseorang melihat hilal, dan Imam menolak persaksiannya, maka dia tidak boleh menentukan sikap sendiri, dan wajib bagi dia untuk mengikuti jama’ah dalam hal tersebut.”
(Dinukil dari ash-Shahiihah, 1/443)

Syaikh Al-Albaniy berkata;
“Sampai nanti negeri-negeri Islam bisa bersatu di atas hal itu (puasa & hari raya), maka sesungguhnya sekarang aku memandang wajib bagi rakyat di setiap negara untuk berpuasa bersama negara (pemerintah)nya; tidak berpuasa sendiri-sendiri, yang akhirnya sebagian rakyat berpuasa bersama negara (pemerintah)nya, dan sebagian lagi puasa bersama negara lain,..” (Tamam Al-Minnah hal. 398-399)


RUKUN PUASA ROMADHON


1. Niat

Dari ‘Umar bin Al Khotthob, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

ﺇﻧﻤﺎ ﺍﻷﻋﻤﺎﻝ ﺑﺎﻟﻨﻴﺔ ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻻﻣﺮﺉ ﻣﺎ ﻧﻮﻯ ، ﻓﻤﻦ ﻛﺎﻧﺖ ﻫﺠﺮﺗﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﻓﻬﺠﺮﺗﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ، ﻭﻣﻦ ﻛﺎﻧﺖ ﻫﺠﺮﺗﻪ ﺇﻟﻰ ﺩﻧﻴﺎ ﻳﺼﻴﺒﻬﺎ ﺃﻭ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻳﺘﺰﻭﺟﻬﺎ ، ﻓﻬﺠﺮﺗﻪ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﻫﺎﺟﺮ ﺇﻟﻴﻪ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan..” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).

Niat harus dilakukan setiap malam sebelum terbit fajar, Rasulullah shollallohu ‘alayhi wasallam:

من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له
“Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum terbit fajar, maka tidak sah puasa baginya”
(Shahih Sunan Abi Dawud 3/82).

Note:
Niat itu tempatnya di dalam hati, tidak di lafadzkan dengan lisan karena makna niat adalah tujuan,

Imam Nawawi rahimahullah berkata;
“Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Rowdhotuth Tholibin 1/268)

Syaikhul islam ibnu Taimiyyah berkata;
“Niat adalah maksud dan kehendak, sedangkan maksud dan kehendak tempatnya adalah di hati, bukan di lidah, berdasarkan kesepakatan orang-orang yang berakal. Walaupun dia berniat dengan hatinya (tanpa memantapkannya dengan ucapan, pen.), Maka niatnya syah menurut Imam Empat dan menurut seluruh imam kaum muslimin baik yang terdahulu maupun yang belakangan.” (Majmu’ Al-Fatawa 22/236-237)

Maka sekedar bangunnya seseorang di akhir malam untuk makan sahur -padahal dia tidak biasa bangun di akhir malam-, itu sudah menunjukkan dia mempunyai maksud dan kehendak -dan itulah niat- untuk berpuasa.

2. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.

Allah ta’ala telah berfirman :

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتّىَ يَتَبَيّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
“Dan makan minumlah kamu hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” (QS. Al-Baqarah : 187).

Rasulullah shollallohu ‘alayhi wasallam telah bersabda :

إذا أقبل الليل من ها هنا وأدبر النهار من ها هنا وغربت الشمس فقد أفطر الصائم
“Apabila malam telah tiba dari arah sini dan siang telah berlalu dari arah sini serta matahari pun terbenam, maka orang yang berpuasa sudah boleh berbuka” (HR. Al-Bukhari no. 1954).


BERKAH DAN SUNNAHNYA MENGAKHIRKAN SAHUR

Dari Anas bin Malik rodhiyallohu’anhu bahwasannya Rasulullah shollallohu ‘alayhi wasallam pernah bersabda:

تسحروا فإن في السحور بركة
“Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat barakah”
(HR. Al-Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

السحور أكله بركة فلا تدعوه ولو أن يجرع أحدكم جرعة من ماء فإن الله عز وجل وملائكته يصلون على المتسحرين
“Sahur adalah makanan yang penuh barakah. Maka janganlah kalian meninggalkannya sekalipun salah seorang diantara kalian hanya minum seteguk air. Karena sesungguhnya Allah ’azza wa jalla dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur”
(HR. Ahmad no. 11101; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ish-Shaghiir no. 3683).

Diriwayatkan dari Anas radliyallaahu ‘anhu dari Zaid bin Tsabit bahwa dia pernah berkata :

تسحرنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ثم قام إلى الصلاة قلت كم كان بين الأذان والسحور قال قدر خمسين آية
”Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian kami berangkat shalat (shubuh). Maka aku (Anas) berkata : “Berapa lama jarak antara adzan dan makan sahur? Ia (Zaid) menjawab : خمسين آية (kira-kira bacaan lima puluh ayat dari Al-Qur’an)” (HR. Bukhari no. 1921).

Note:
Adapun perbuatan mengumandangkan waktu imsak sebelum waktu shubuh, para ulama (seperti Al-Hafidh Ibnu Hajar) menganggap sebagai perbuatan bid’ah yang mungkar,

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إذا سمع أحدكم النداء والإناء على يده فلا يضعه حتى يقضي حاجته منه
“Jika salah seorang kalian mendengar panggilan (adzan) sedangkan bejana (minumnya) ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya hingga menunaikan keinginannya dari bejana (tersebut)” (Ahmad 10637 dan Abu Dawud 2350, sanad hasan; lihat Al-Jaami’ush-Shahiih 2/418-419 oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i)

Penjelasan lengakap baca di: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/08/imsak-imsak-saatnya-berhenti-makan.html?m=0


HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA


1. Makan dan minum dengan sengaja

Allah ta’ala telah berfirman:

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتّىَ يَتَبَيّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمّ أَتِمّواْ الصّيَامَ إِلَى الّليْلِ
“Dan makan minumlah kamu hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”
(QS. Al-Baqarah : 187).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

من نسي وهو صائم فأكل أو شرب فليتم صومه فإنما أطعمه الله وسقاه
“Barangsiapa yang berpuasa, kemudian ia lupa makan dan minum, hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Sesungguhnya Allah ta’ala telah memberikan makan dan minum kepadanya”
(HR. Muslim no. 1155).

Note:
Dalam hadits ini Nabi shollallohu ‘alayhi wasallam memerintahkan untuk menyempurnakan puasa dan tidak mengqadha`, ini menunjukkan puasanya syah. Demikian keterangan Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Ash-Shiyam (1/457-458)

» Terkait muntah, terdapat silang pendapat diantara ulama, yang rojih muntah bukanlah pembatal puasa secara mutlak.[1]

2. Haid dan nifas

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تمكث الليالي ما تصلي وتفطر في رمضان فهذا نقصان الدين
“Dia (wanita) berdiam diri beberapa malam tidak shalat, dan berbuka puasa Ramadlan (karena haidl), maka inilah kekurangan agamanya” (HR. Muslim 79).

Aisyah radhiyallaahu’anha berkata;

كان يصيبنا ذلك فنؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاة
”Kami pernah mengalami begitu. Lalu kami diperintahkan untuk mengqadla puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqadla shalat” (HR. Muslim no. 335).

3. Jima’ (hubungan suami istri)

Allah Ta’ala berfirman:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ .البقرة/187
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (Al-Baqarah : 187).

Allah ta’ala berfirman dalam hadits qudsiy:

ﻳﺘﺮﻙ ﻃﻌﺎﻣﻪ، ﻭﺷﺮﺍﺑﻪ، ﻭﺷﻬﻮﺗﻪ ﻣﻦ ﺃﺟﻠﻲ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﻟﻲ
“…Ia meninggalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya dikarenakan puasanya untuk-Ku…” (Al-Bukhaariy no.1894 & 7492, Muslim no.1151 dan lainnya).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu :

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال هلكت يا رسول الله قال وما أهلكك قال وقعت على امرأتي في رمضان قال هل تجد ما تعتق رقبة قال لا قال فهل تستطيع أن تصوم شهرين متتابعين قال لا قال فهل تجد ما تطعم ستين مسكينا قال لا قال ثم جلس فأتي النبي صلى الله عليه وسلم بعرق فيه تمر فقال تصدق بهذا قال أفقر منا فما بين لابتيها أهل بيت أحوج إليه منا فضحك النبي صلى الله عليه وسلم حتى بدت أنيابه ثم قال اذهب فأطعمه أهلك
Seseorang pernah datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam seraya berkata; ”Aku telah binasa wahai Rasulullah”.
Beliau bertanya; ”Apa yang telah membinasakanmu?”.
Ia menjawab; ”Aku telah menggauli istriku di (siang hari) bulan Ramadlan”.
Beliau bertanya lagi; ”Apakah engkau mampu memerdekakan budak?”.
Ia menjawab; ”Tidak”.
Beliau bertanya lagi; ”Apakah engkau mampu berpuasa selama dua bulan berturut-turut?”.
Ia menjawab; ”Tidak”.
Beliau bertanya lagi; ”Apakah engkau mampu memberi makan enam puluh orang miskin?”.
Ia menjawab; ”Tidak”. Orang itu pun duduk. Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dibawakan satu wadah kurma kemudian beliau bersabda; ”Sedekahkanlah dengan kurma ini”.
Ia berkata; ”Kepada orang yang lebih miskin dari kami ? Tidak ada satu keluarga di tempat ini yang lebih membutuhkan daripada kami”. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tertawa hingga nampak gigi taringnya. Beliau bersabda; ”Ambillah, dan berikanlah sebagai makanan untuk keluargamu” (HR. Muslim no. 1111).

Note:
Orang yang melakukannya wajib untuk membayar kaffaroh: Memerdekakan budak jika punya, jika tidak maka berpuasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu maka memberi makan 60 orang miskin.

Imam An-Nawawi berkata: “Melakukan jima’ dengan zina atau yang semacamnya, atau nikah fasid, atau melakukannya dengan budaknya atau saudarinya atau anaknya, wanita kafir, dan wanita lainnya, semuanya sama dalam hal membatalkan puasa, wajibnya qadha, kaffaroh, dan menahan diri pada sisa siangnya. Dan ini tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya.” (Al-
Majmu’ 6/341)

» Terkait onani, terdapat silang pendapat diantara para ulama[2] dan yang lebih kuat adalah tidak membatalkan puasa, namun berdosa sehingga sehingga merusak/ hilangnya pahala puasa.
Adapun dalil yang dipakai hujjah oleh mayoritas ulama (yang berpendapat onani termasuk pembatal puasa) ialah hadits qudsiy;

ﻳﺘﺮﻙ ﻃﻌﺎﻣﻪ، ﻭﺷﺮﺍﺑﻪ، ﻭﺷﻬﻮﺗﻪ ﻣﻦ ﺃﺟﻠﻲ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﻟﻲ
“…Ia meninggalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya dikarenakan puasanya untuk-Ku…” (Al-Bukhaariy no.1894 & 7492, Muslim no.1151 dan lainnya)

Namun yang dimaksud syahwat dalam hadits diatas adalah jima’, sebagaimana riwayat lain;

ﻋﻦ ﺣﻜﻴﻢ ﺑﻦ ﻋﻘﺎﻝ، ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ: ﺳﺄﻟﺖ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ ” ﻣﺎ ﻳﺤﺮﻡ ﻋﻠﻲ ﻣﻦ ﺍﻣﺮﺃﺗﻲ ﻭﺃﻧﺎ ﺻﺎﺋﻢ ؟ ﻗﺎﻟﺖ: ﻓﺮﺟﻬﺎ ”
Dari Hakiim bin ‘Iqaal; Bahwasannya ia pernah bertanya kepada ‘Aisyah radliyallaahu‘anha; Apa yang diharamkan dari istriku sedangkan aku berpuasa?”, Ia menjawab : “Farji (kemaluan)nya”. (Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar no.2190; sanadnya shahih)

Juga hadits:

ﻋﻦ ﻣﻌﻤﺮ، ﻋﻦ ﺃﻳﻮﺏ، ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻗﻼﺑﺔ، ﻋﻦ ﻣﺴﺮﻭﻕ، ﻗﺎﻝ: ﺳﺄﻟﺖ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﻣﺎ ﻳﺤﻞ ﻟﻠﺮﺟﻞ ﻣﻦ ﺍﻣﺮﺃﺗﻪ ﺻﺎﺋﻤﺎ؟ ﻗﺎﻟﺖ: ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﺇﻻ ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ”
Dari Ma’mar, dari Ayyuub, dari Abu Qilaabah, dari Masruuq, ia berkata; Aku bertanya kepada ‘Aaisyah tentang apa yang dihalalkan bagi seorang laki-laki yang berpuasa terhadap istrinya. Ia menjawab : “Semua hal, kecuali jima’” (Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 8439)
Riwayat ini diperbincangkan oleh sebagian ahli hadits, namun dikuatkan oleh riwayat sebelumnya sehingga shahih.

Sehingga mengqiyaskan hukum jima’ kepada onani adalah tidak tepat, Imam Ash-Shan’aniy berkata:

ﺍﻷﻇﻬﺮ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻗﻀﺎﺀ ﻭﻻ ﻛﻔﺎﺭﺓ ﺇﻻ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺟﺎﻣﻊ ﻭﺇﻟﺤﺎﻕ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﺠﺎﻣﻊ ﺑﻪ ﺑﻌﻴﺪ.
“Tapi pendapat yang paling benar adalah tidak perlu qadla’ dan tidak perlu kaffarat, kecuali bagi orang yang melakukan jima’. Dan menyamakan sebab lain dengan jima’ adalah tidak benar” (Subulus-Salaam oleh
Ash-Shan’aniy, 2/226; Daarul-Hadiits, Cet. Thn. 1425)

Baca penjelasan di: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2012/07/onani-membatalkan-puasa_30.html?m=0


HAL-HAL YANG HARUS DITINGGALKAN OLEH ORANG YANG BERPUASA

1. Perkataan dusta

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak memerlukan (puasa orang itu yang) meninggalkan makan dan minumnya”
(HR. Bukhari no. 1903).

2. Pembicaraan yang Tidak Bermanfaat dan Kata-Kata Kotor

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

ليس الصيام من الأكل والشرب إنما الصيام من اللغو والرفث فإن سابك أحد أو جهل عليك فلتقل إني صائم إني صائم
“Puasa itu bukan hanya dari makan dan minum saja, tetapi puasa itu (menahan diri) dari kata-kata tidak bermanfaat dan kata-kata kotor. Oleh karena itu jika ada orang yang mencacimu atau membodohimu, maka katakanlah kepadanya : “Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa”
(HR. Ibnu Khuzaimah no. 1996).

Note:
Termasuk didalamnya yang lebih berat dari hal diatas adalah ghibah (menggunjing/ngerumpi, namimah/ mengadu domba dan semisal).

3. Mengumbar syahwat

كُتِبَ عَلَى ابْنِ أدَمَ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌُ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الْإِسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
”Telah dituliskan atas Bani Adam bagian dari zina yang pasti ia melakukannya, tidak bisa tidak. Maka, zina kedua mata adalah melihat (yang diharamkan), zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan), zina lisan adalah berkata-kata (yang diharamkan), zina tangan adalah memegang (yang diharamkan), zina kaki adalah melangkah (ke tempat yang diharamkan), hati berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluan membenarkan itu semua atau mendustakannya” (HR. Muslim no. 2657)

Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر
“Berapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa haus dan lapar dari puasanya”
(Shahih Sunan Ibni Majah 2/81 no. 1380 : Hasan shahih).


HAL-HAL YANG DIPERBOLEHKAN BAGI ORANG YANG BERPUASA


1. Bersiwak

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لولا أن أشق على أمتي أو على الناس لأمرتهم بالسواك مع كل صلاة
“Jika aku tidak takut menyulitkan umatku – atau menyulitkan manusia – , niscaya akan kuperintahkan mereka bersiwak setiap hendak shalat”
(HR. Al-Bukhari no. 887 dan Muslim no. 252; ini adalah lafadh Al-Bukhari).

Note:
Anjuran bersiwak bersifat umum ketika tidak berpuasa maupun sedang berpuasa, dan terdapat kaidah baroo’ah ashliyyah (seseorang terbebas dari suatu hukum sampai ada dalil), Seandainya perkara-perkara itu termasuk perkara yang diharamkan ketika berpuasa niscaya Alloh dan Rosul-Nya akan menjelaskannya, Alloh berfirman,
وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيّاً
“Dan tidaklah Robb kalian itu lupa.” (QS. Maryam: 64)

2. Masuk Waktu Fajar dalam Keadaan Junub (Belum Mandi).

عن عائشة وأم سلمة – رضي الله عنهما- : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يدركه الفجر وهو جنب من أهله ثم يغتسل ويصوم
“Dari Aisyah dan Ummu Salamah radliyallaahu ‘anhuma bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah mendapati fajar telah terbit dan ketika itu beliau dalam keadaan junub setelah bercampur dengan istrinya. Kemudian beliau mandi dan berpuasa”
(HR. Al-Bukhari no. 1926).

3. Berkumur dan Memasukkan Air ke dalam Hidung ketika Wudlu’ (namun tidak berlebihan)

Laqith bin Shabirah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائماً
“Dan bersungguh-sungguhlah kalian dalam ber-istinsyaaq (memasukkan air ke dalam hidung saat berwudlu’) kecuali bila kalian berpuasa”
(HR. At-Tirmidzi no. 788, Irwaa’ul-Ghalil no. 935).

4. Bercumbu dan Berciuman Bagi Suami Istri yang Sedang Berpuasa (bagi yang mampu menguasai nafsu syahwatnya)

عن عائشة رضى الله تعالى عنها قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقبل وهو صائم ويباشر وهو صائم ولكنه أملككم لإربه
Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa bahwasannya ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah mencium dan bercumbu pada saat beliau sedang berpuasa. Namun beliau adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya diantara kalian”
(HR. Muslim no. 1106).

Note:
Hal itu dimakruhkan bagi orang yang masih muda dan tidak bagi yang sudah tua (mampu menahan nafsunya),
Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radliyallaahu ‘anhuma ia berkata :

كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم فجاء شاب فقال يا رسول الله أقبل وأنا صائم قال لا فجاء شيخ فقال أقبل وأنا صائم قال نعم قال فنظر بعضنا إلى بعض فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم قد علمت لم نظر بعضكم إلى بعض ان الشيخ يملك نفسه
Kami pernah bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba seorang pemuda mendekati beliau seraya berkata,”Wahai Rasulullah, bolehkah aku mencium istriku sedangkan aku dalam kondisi berpuasa?”.
Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab,”Tidak boleh”.
Kemudian datang seorang yang telah tua seraya berkata,”Apakah aku boleh mencium (istriku) sedangkan aku dalam kondisi berpuasa?”.
Beliau menjawab,”Boleh”.
Abdullah berkata,”Lalu kami saling berpandangan, kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya orang yang sudah tua tersebut mampu untuk menahan nafsunya”
(HR. Ahmad 2/185 dan 2/220, Silsilah Ash-Shahiihah no. 1606).

» Sebagian ulama seperti Imam Asy Syafi’i dan Ats Tsauri berpendapat boleh secara umum bagi orang tua maupun muda asalkan mampu menguasai nafsunya, karna nafsu syahwat bersifat nisbi, tidak ada hubungannya dengan umur, terkadang ada orang tua yang syahwatnya lebih besar daripada pemuda dan sebaliknya.
Baca: http://al-atsariyyah.com/pembatal-puasa-yang-diperselisihkan-1.html

5. Tranfusi Darah dan Suntikan yang Tidak Dimaksudkan Sebagai Makanan.

Syaikh Ibnu ’Utsaimin pernah ditanya tentang hukum suntikan untuk pengobatan yang dilakukan di siang hari bulan Ramadlan bagi orang yang berpuasa, maka beliau menjawab :
”Suntikan pengobatan ada dua : pertama, suntikan infus dimana dengan suntikan ini bisa mencukupi kebutuhan makan dan minum. Maka dalam hal ini orang yang melakukannya termasuk dalam orang yang telah berbuka (batal puasanya). Nash-nash syar’i bertemu dengan satu makna yang mencakup satu bentuk dari keumuman bentuk-bentuk hukum dalam nash, maka hal itu dihukumi dengan nash tersebut. Adapun jenis yang kedua adalah suntikan yang tidak mengandung makanan dan minuman. Maka orang yang melakukannya ini bukan termasuk orang yang berbuka (tidak batal puasanya). Hal itu disebabkan karena suntikan tersebut tidak tercakup dalam konteks nash secara lafadh maupun makna. Ia bukanlah termasuk cakupan makan dan minum. Bukan pula sesuatu yang mempunyai makna makan dan minum. Hukum asal (seseorang yang melakukan puasa) adalah sah puasanya hingga tetap adanya sesuatu yang menyebabkan rusaknya berdasarkan dalil syar’i”
(Fataawaa Ash-Shiyaam oleh Ibnu ’Utsaimin, hal. 58).

6. Berbekam

Pada awalnya berbekam termasuk perkara yang membatalkan puasa sebagaimana hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

أفطر الحاجم والمحجوم
“Telah berbuka (batal puasa) orang yang berbekam dan yang dibekam”
(HR. Abu Dawud no. 2367, Shahih Sunan Abi Dawud 2/68).

Kemudian jumhur ulama mengatakan bahwa hukum ini di-mansukh (dihapuskan) sehingga berbekam tidaklah membatalkan puasa.

عن بن عباس رضى الله تعالى عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم احتجم وهو محرم واحتجم وهو صائم
Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu anhuma bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berbekam saat beliau dalam keadaan ihram (haji) dan pernah berbekam dalam keadaan berpuasa
(HR. Bukhari no. 1938, 1939).

عن أبي سعيد الخدري قال : رخص للصائم في الحجامة والقبلة
Dari Abu Sa’id Al-Khudri ia berkata : ”Telah diberikan keringanan bagi orang yang berpuasa untuk berbekam dan mencium istrinya (tidak menyebabkan batal)”
(HR. Ibnu Khuzaimah no. 1969, Shahih Ibni Khuzaimah).

Note:
Sebagian ulama menjama’ dua hadits yang terlihat bertentangan diatas, sehingga hukumnya menjadi makruh jika khawatir dirinya menjadi lemah. (Lihat penjelasan Asy-Syaukani dalam Nailul-Authaar 4/228)

» Hukumnya sama dengan donor darah, Jika orang yang ingin mendonorkan darahnya merasa khawatir menjadi lemas maka tidak boleh mendonorkan darah ketika siang hari kecuali sangat dibutuhkan.

7. Mencicipi makanan asal tidak tertelan

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma:

لا باس أن يذوق الخل ، أو الشيء ما لم يدخل حلقه وهو صائم
“Tidak ada masalah untuk mencicipi cuka atau yang lainnya selama tidak dimasukkan ke dalam kerongkongannya, sedangkan dia dalam keadaan berpuasa” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 9369 dengan sanad hasan).

8. Memakai Celak, obat tetes mata, dan semisal

Imam Bukhari berkata dalam Shahih-nya:

ولم ير أنس والحسن وإبراهيم بالكحل للصائم بأسا
”Anas, Al-Hasan, dan Ibrahim tidak mempermasalahkan celak mata bagi orang yang berpuasa”
(HR. Al-Bukhari 2/39 secara mu’allaq).

9. Membasahi kepala dengan air dingin dan mandi

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصب الماء على رأسه من الحر وهو صائم
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah menyiramkan air di atas kepalanya, sedang dia berpuasa karena kepanasan”
(HR. Abu Dawud no. 2365, Shahih Sunan Abi Dawud 2/61).

Al-Bukhari dalam Shahih-nya bab Ightisal Ash-Shaaim;
”Ibnu Umar membasahi baju (dengan air) lalu memakainya, sedang dia berpuasa. Asy-Sya’bi masuk ke kamar mandi, sedang dia berpuasa. Al-Hasan berkata; ”Tidak ada masalah dengan berkumur-kumur dan mendinginkan (badan) bagi orang yang berpuasa”. (Lihat Mukhtashar Shahih Al-Bukhari 1/560).


HAL-HAL YANG DISUNNAHKAN DI BULAN ROMADHON

1. Memperbanyak membaca al-Qur’an

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma:

وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيدارسه القرآن
“Jibril biasa menemui beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam setiap malam di bulan Ramadlan untuk bertadarus Al-Qur’an”
(HR. Bukhari no. 6).

2. Memperbanyak shadaqah

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيدارسه القرآن فلرسول الله صلى الله عليه وسلم أجود بالخير من الريح المرسلة
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan. Beliau lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadlan pada saat Jibril menemui beliau. Jibril biasa menemui beliau di setiap malam di bulan Ramadlan untuk bertadarus Al-Qur’an. Maka pada saat itu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus” (HR. Al-Bukhari no. 6).

3. Memperbanyak do’a

Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

ثلاث دعوات مستجابات : دعوة الصائم ودعوة المظلوم ودعوة المسافر
“Ada tiga doa yang dikabulkan: Doa orang yang berpuasa, doa orang yang dianiaya, dan doa orang yang bepergian (musafir)”
(HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul-Iman no. 3324; Ash-Shahiihah no. 1797).

4. I’tikaf (berdiam diri di masjid untuk beribadah) di 10 malam terakhir

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعتكف العشر الأواخر من رمضان
Dari ‘Abdillah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma ia berkata: “Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan i’tikaf apabila masuk malam-malam sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadlan”
(HR. Al-Bukhari no. 2025 dan Muslim no. 1171).

» Meraih ampunan di malam Lailatul Qodar ,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻣﻦ ﻗﺎﻡ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺇﻳﻤﺎﻧﺎ ﻭ ﺍﺣﺘﺴﺎﺑﺎ ﻏﻔﺮ ﻟﻪ ﻣﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﻣﻦ ﺫﻧﺒﻪ
“Barangsiapa yang mengerjakan qiyamullail pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

ﺗﺤﺮﻭﺍ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻓﻰ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ
“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, berkata;

ﻗﻠﺖ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺭﺃﻳﺖ ﺇﻥ ﻋﻠﻤﺖ ﺃﻯ ﻟﻴﻠﺔ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻣﺎ ﺃﻗﻮﻝ ﻓﻴﻬﺎ ﻗﺎﻝ » ﻗﻮﻟﻰ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺇﻧﻚ ﻋﻔﻮ ﺗﺤﺐ ﺍﻟﻌﻔﻮ ﻓﺎﻋﻒ ﻋﻨﻰ »
“Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, “Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun
tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anniy’ (artinya ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, Silisilah Ash Shahihah)

5. Melakukan ‘umrah

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata kepada seorang wanita Anshar yang tidak sempat berhaji bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

فإذا جاء رمضان فاعتمري فإن عمرة فيه تعدل حجة
“Apabila datang bulan Ramadlan, maka ber-umrah-lah kamu, sesungguhnya ‘umrah di bulan Ramadlan itu nilainya sama dengan ibadah haji” (HR. Muslim no. 1256).


ADAB BERBUKA PUASA

1. Waktu Berbuka adalah ketika tenggelamnya matahari

Allah ta’ala berfirman:

ثُمّ أَتِمّواْ الصّيَامَ إِلَى الّليْلِ
“Kemudian sempurnakanlah puasa itu hingga (datang) malam”
(QS. Al-Baqarah : 187).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda sambil mengisyaratkan tangannya:

إذا أقبل الليل من ها هنا وأدبر النهار من ها هنا وغربت الشمس فقد أفطر الصائم
“Apabila malam telah tiba dari arah sini dan siang telah berlalu dari arah sini serta matahari pun terbenam, maka orang yang berpuasa sudah boleh berbuka” (HR. Al-Bukhari no. 1954).

Dalam hadits yang lain:

إذا رأيتم الليل أقبل من ها هنا فقد أفطر الصائم
“Apabila engkau melihat malam telah tiba dari arah sini, maka sungguh orang yang berpuasa telah berbuka”
(HR. Al-Bukhari no. 1941).

2. Menyegerakan berbuka puasa

Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر
“Manusia senantiasa berada di dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (HR. Al-Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098).

لا تزال أمتى على سنتى ما لم تنتظر بفطرها النجوم
“Umatku senantiasa berada di atas sunnahku, selagi mereka tidak menunggu munculnya bintang ketika berbuka puasa” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 2061, Shahih Ibni Khuzaimah).

لا يزال الدين ظاهرا ما عجل الناس الفطر لأن اليهود والنصارى يؤخرون
“Agama senantiasa kokoh selama manusia menyegerakan berbuka; karena Yahudi dan Nashrani mengakhirkannya (menundanya)” (HR. Abu Dawud no. 2353, Shahih Sunan Abi Dawud 2/58).

3. Berbuka puasa dengan ruthab (kurma segar) atau tamr (kurma kering) atau air

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفطر على رطبات قبل أن يصلي فإن لم تكن رطبات فعلى تمرات فإن لم تكن حسا حسوات من ماء
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berbuka dengan ruthab sebelum melaksanakan shalat (Maghrib), maka jika tidak ada ruthab (beliau berbuka) dengan tamr. Jika tidak ada (tamr) maka beliau berbuka dengan meneguk air” (HR. Abu Dawud no. 2356, Shahih Sunan Abi Dawud 2/59 no. 2356).

4. Berdo’a berbuka puasa

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radliyallaahu ‘anhuma, ia berkata; Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila berbuka beliau mengatakan :

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ اْلعُرُوقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ
[Dzahabadzh-dzhoma-u wab-talatil-‘uruuqu wa tsabatal-ajru insya Allooh]

“Rasa haus telah pergi dan urat-urat telah terbasahi serta telah ditetapkan pahala insya Allah” (HR. Abu Dawud no. 2357, Al-Hakim no. 1536, Ad-Daruquthni 3/156 no. 2279, dan yang lainnya; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaaul-Ghalil 4/39 no. 920).

Note:
Doa ini dibaca setelah selesai menyantap makanan berbuka (perhatikan arti doa tersebut).
Adapun doa yang sering dibaca oleh sebagian kaum muslimin seperti : Allaahumma laka shumtu…dst. dan yang lain-lain; maka doa tersebut berasal dari hadits-hadits berstatus dl’aif. Sudah selayaknya kita hanya memilih doa yang tsabit (tetap) berasal dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

5. Memberi makanan orang yang berbuka puasa

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

من فطر صائما كان له مثل أجرهم من غير أن ينقص من أجورهم شيئا
“Barangsiapa yang memberi makanan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti yang diperoleh orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun juga”
(HR. Ibnu Majah no. 1746; Shahih Sunan Ibni Majah 2/85 no. 1428).


DISYARIATKAN SHOLAT TARAWIH

عَنْ أَبي ذَرٍ رضي الله عنه قَالَ: صُمْنَا معَ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بنا شَيءٌ مِنَ الشَّهرِ حَتَّى بَقيَ سَبعٌ فَقَام بنا حتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيلِ، فلمَّا كَانتْ السَّادسَةُ لم يَقُم بِنَا، فلمَّا كانت الخَامِسَةُ قام بِنَا حتَّى ذَهَبَ شطْرُ اللَّيلِ فَقُلتُ: يا رَسُولَ الله، لو نَفَلْتَنَا قِيَامَ هذهِ اللَّيلةِ، قَالَ: فَقَالَ: إنَّ الرَّجُلَ إذا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنصَرِفَ حُسِبَ له قِيَامُ لَيلَةٍ، قالَ: فلمَّا كانَت الرَّابِعَةُ لم يَقُمْ، فلمَّا كانت الثَّالثَةُ جَمَعَ أَهْلَهُ ونِسَاءَهُ والنَّاسَ فقَامَ بنَا حتَّى خَشِينَا أن يَفُوتَنَا الفَلاحُ. قَالَ: قُلتُ: مَا الفَلاحُ؟ قَالَ: السَّحُورُ، ثمَّ لم يَقُم بنَا بَقِيَّة الشَّهر
رواه الأربعة وصححه الترمذي.
Dari Abu Dzarr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Kami pernah berpuasa bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pada bulan Ramadlan. Tidaklah beliau shalat tarawih bersama kami hingga tersisa tujuh hari dari bulan tersebut. Saat itu baru beliau shalat bersama kami hingga berakhir/selesai pada sepertiga malam (yang terakhir pertama). Pada saat malam tersisa enam hari lagi, beliau kembali tidak shalat bersama kami. Ketika malam tersisa lima hari lagi, maka beliau shalat bersama kami hingga berakhir/selesai pada waktu tengah malam. Aku berkata : “Wahai Rasulullah, seandainya kita shalat kembali pada (sisa) malam ini ?”. Maka beliau menjawab : ”Sesungguhnya, seseorang yang shalat bersama imam hingga selesai, maka dihitung baginya shalat semalam suntuk”. Ketika malam tersisa empat hari lagi, beliau tidak shalat bersama kami. Namun ketika malam tinggal tersisa tiga hari, beliau mengumpulkan keluarganya, istri-istrinya, dan orang-orang yang ada; kemudian shalat bersama kami hingga kami khawatir tertinggal waktu falah. Aku pernah bertanya : ”Apa makna falah itu ?”. Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab : ”Waktu sahur”. Kemudian beliau kembali tidak shalat bersama kami pada sisa malam di bulan Ramadlan tersebut.
(Diriwayatkan oleh empat imam, dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi, Shahih Sunan Abi Dawud 1/379-380)

Hadits ‘Aisyah radliyallaahu’anhaa :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج من جوف الليل فصلى في المسجد فصلى رجال بصلاته فأصبح الناس يتحدثون بذلك فاجتمع أكثر منهم فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم في الليلة الثانية فصلوا بصلاته فأصبح الناس يذكرون ذلك فكثر أهل المسجد من الليلة الثالثة فخرج فصلوا بصلاته فلما كانت الليلة الرابعة عجز المسجد عن أهله فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم فطفق رجال منهم يقولون الصلاة فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى خرج لصلاة الفجر فلما قضى الفجر أقبل على الناس ثم تشهد فقال أما بعد فإنه لم يخف علي شأنكم الليلة ولكني خشيت أن تفرض عليكم صلاة الليل فتعجزوا عنها
“Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam keluar pada waktu tengah malam, lalu beliau shalat di masjid. Lalu shalatlah beberapa orang bersama beliau. Di pagi hari, orang-orang memperbincangkannya. Maka berkumpullah kebanyakan dari mereka. Ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat di malam kedua, mereka pun shalat bersama beliau. Di pagi hari berikutnya, orang-orang memperbincangkannya kembali. Di malam ketiga, jumlah jama’ah yang ada di masjid bertambah banyak. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam keluar dan melaksanakan shalatnya. Pada malam keempat, masjid tidak mampu lagi menampung jama’ahnya, dan beliau tidak keluar melaksanakan shalat malam sebagaimana sebelumnya kecuali beliau hanya melaksanakan shalat shubuh. Ketika telah selesai melaksanakan shalat Shubuh, beliau menghadap kepada jama’ah kaum muslimin, kemudian membaca syahadat, dan bersabda : Amma ba’du, sesungguhnya keadaan kalian tidaklah samar bagiku di malam tersebut (= yaitu iman dan semangat kalian dalam beribadah), akan tetapi aku merasa khawatir (ibadah ini) akan diwajibkan kepada kalian, lalu kalian tidak sanggup melakukannya”.
(HR.Al-Bukhari no. 924 dan Muslim no. 761).

Note:
Beberapa istilah sholat lail (malam) yang berbeda sifatnya;
• Shalat Lail adalah shalat sunnah yang dilakukan pada waktu malam hari setelah shalat ‘isya’ sampai dengan sebelum fajar shadiq muncul.
• Shalat Tahajjud adalah Shalat Lail yang didahului dengan tidur malam.
• Shalat Tarawih adalah Shalat Lail yang dilakukan pada bulan Ramadlan.

1. Keutamaan shalat tarawih

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)

2. Sunnah dan keutamaan sholat tarawih berjama’ah

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

إنه من قام مع الامام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة
“Sesungguhnya barangsiapa shalat tarawih bersama imam (berjama’ah) sampai selesai, maka ditulis baginya sama dengan shalat semalam suntuk”.
(HR. Abu Dawud no. 1375, Shahih Sunan Abi Dawud 1/379-380)

3. Jumlah roka’at shalat tarawih

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa:

ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة……
“Tidaklah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melebihkan (jumlah raka’at) pada bulan Ramadlan dan tidak pula pada selain bulan Ramadlan dari 11 raka’at”.
(HR. Al-Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 736).

Note:
Terkait sholat tarawih 23 roka’at terdapat dalam beberapa riwayat yang lemah, namun sebagian ulama berpendapat bolehnya; baca penjelasannya di http://muslim.or.id/ramadhan/dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html

4. Bentuk shalat tarawih 11 raka’at

عن أبي سلمة بن عبد الرحمن أنه سأل عائشة كيف كانت صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم في رمضان قالت ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي ثلاثا
Dari Abu Salamah bin Abdirrahman bertanya kepada ‘Aisyah : “Bagaimana shalat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadlan ?”. Aisyah menjawab : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak pernah shalat di bulan Ramadlan maupun di bulan selainnya lebih dari sebelas raka’at. Beliau shalat empat raka’at, kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya. Setelah itu shalat empat raka’at dan kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat (witir) tiga raka’at”.
(HR. Al-Bukhari no. 2013).

عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي فيما بين أن يفرغ من صلاة العشاء وهي التي يدعو الناس العتمة إلى الفجر إحدى عشرة ركعة يسلم بين كل ركعتين ويوتر بواحدة فإذا سكت المؤذن من صلاة الفجر وتبين له الفجر وجاءه المؤذن قام فركع ركعتين خفيفتين ثم اضطجع على شقه الأيمن حتى يأتيه المؤذن للإقامة
Dari ‘Aisyah istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ia berkata : “Biasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat setelah isya’ – yang oleh orang-orang dinamakan dengan shalat ‘atamah – sampai menjelang fajar sebanyak sebelas raka’at, salam pada setiap dua raka’at dan witir satu raka’at. Apabila mu’adzin telah mengumandangkan adzan fajar, dan fajar telah nampak jelas dan muadzinpun telah hadir, maka beliau shalat dua raka’at ringan (yaitu shalat sunnah fajar) kemudian berbaring di sisi badan yang kanan sehingga muadzin datang mengumandangkan iqamat”. (HR. Muslim no. 736).

Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى
“Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at.” (HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749)

Note:
Yang dimaksud empat raka’at dalam hadits pertama adalah 2 raka’at salam 2 raka’at salam sebagaimana hadits yang lain; dalam riwayat lain dari ‘Aisyah, beliau berkata;

كان رسول الله  – صلى الله عليه وسلم –  يصلى بالليل إحدى عشرة ركعة بالوتر، يسلم بين كل ركعتين.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam sebanyak 11 raka’at dan sudah termasuk witir dan beliau salam setiap dua raka’at.”

Sebagian ulama menafsirkan perkataan Aisyah, maksudnya bahwa Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam melakukan istirahat setelah menyelesaikan empat rakaat karena shalat beliau adalah shalat yang panjang, sebagaimana dalam riwayat;

كان يصلى ثم ينام قدر ما صلى، ثم يصلى قدر ما نام، ثم ينام قدر ما صلى، ثم يقوم فيوتر.
“Beliau shalat kemudian beliau tidur selama waktu ia shalat tadi. Kemudian beliau shalat lagi selama waktu ia tidur tadi. Lalu beliau tidur kembali selama waktu beliau shalat. Lalu beliau berdiri untuk melaksanakan witir.” (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, Asy Syamilah, 5/155)

Sehingga shalat tarawih 11 raka’at adalah dengan pola 2-2-2-2-3, untuk witir yang 3 bisa dilakukan dengan 2 raka’at salam plus 1 raka’at salam, atau 3 raka’at sekaligus salam.

Selengkapnya baca penjelasan di http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3159-shalat-tarawih-tiap-4-rakaat-salam.html

5. Disunnahkan membaca qunut dalam shalat witir

Diriwayatkan oleh Al-Hasan bin ‘Ali : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepadaku beberapa kata yang selalu kuucapkan pada waktu witir :

اللّهُـمَّ اهْـدِنـِيْ فِـيْمَنْ هَـدَيْـت، وَعَـافِنـِيْ فِـيْمَنْ عَافَـيْت، وَتَوَلَّـنِيْ فِـيْمَنْ تَوَلَّـيْت ، وَبَارِكْ لـِيْ فِـيْمَا أَعْطَـيْت، وَقِـنِيْ شَرَّ مَا قَضَـيْت، فَإِنَّـكَ تَقْـضِيْ وَلا يُقْـضَى عَلَـيْك ، إِنَّـهُ لا يَـذِلُّ مَنْ والَـيْت، [ وَلا يَعِـزُّ مَن عَـادَيْت ]، تَبَـارَكْـتَ رَبَّـنَا وَتَعَـالَـيْت
“Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku perlindungan (dari penyakit dan apa yang tidak disukai) sebagaimana orang yang telah Engkau lindungi, sayangilah aku sebagaimana orang yang telah Engkau sayangi. Berikanlah berkah terhadap apa-apa yang telah Engkau berikan kepadaku, jauhkanlah aku dari kejelekan apa yang telah Engkau telah taqdirkan. Sesungguhnya Engkau yang menjatuhkan hukum, dan tidak ada orang yang memberikan hukuman kepada-Mu. Sesungguhnya orang yang Engkau bela tidak akan terhina, dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Suci Engkau, wahai Rabb kami yang Maha Tinggi”.
(HR. Empat imam, Ahmad no. 1/200, dan Al-Baihaqi no. 4637; shahih. Lihat Irwaaul-Ghalil 2/172).

Note:
• Ulama berbeda pendapat terkait apakah qunut witir dilakukan sepanjang tahun atau pada setengah bulan romadhon, imam At-Tirmidziy rahimahullah berkata:
“Para ulama berbeda pendapat tentang qunut yang dilakukan pada shalat witir. ‘Abdullah bin Mas’uud berpendapat bahwa qunut pada shalat witir sepanjang tahun, dan ia memilih qunut tersebut dilakukan sebelum rukuk. Itu merupakan pendapat sebagian ulama. Itulah pendapat yang dipegang oleh Sufyaan Ats-Tsauriy, Ibnul-Mubaarak, Ishaaq, dan penduduk Kuufah. Dan telah diriwayatkan dari ‘Aliy bin Abi Thaalib bahwasannya ia tidak melakukan qunut kecuali pada setengah akhir bulan Rmadlaan, yang dilakukan setelah rukuk. Sebagian ulama berpendapat dengan ini. Inilah pendapat yang dipegang oleh Asy-Syaafi’iy dan Ahmad”. (Sunan At-Tirmidziy, 1/479-480)

Penjelasan baca di http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/08/apakah-qunut-witir-hanya-dilakukan-pada.html?m=0

• Di syariatkan bagi makmum mengangkat tangan dan mengaminkannya;
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah qunut (nazilah) pada waktu shalat Dhuhur, ‘Asar, Maghrib, ‘Isya’, dan Shubuh di akhir shalat; dan ketika mengucapkan Sami’alloohu liman hamidah pada raka’at terakhir, beliau mendoakan kecelakaan atas Bani Sulaim, yaitu suku Ri’l, Dzakwaan, dan Ushayyah. Sementara orang-orang di belakang beliau mengaminkannya”.
(HR. Abu Dawud no. 1443, Shahih Sunan Abi Dawud 1/397).

• Adapun do’a setelah shalat witir, diriwayatkan dari ‘Ali bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam biasa mengucapkan di akhir witirnya :

اللّهُـمَّ إِنِّـيْ أَعُـوْذُ بِرِضَـاكَ مِنْ سَخَطِـك، وَبِمُعَـافَاتِـكَ مِنْ عُقُوْبَـتِك، وَأَعُـوْذُ بِكَ مِنْـكَ، لا أُحْصِـيْ ثَنـَاءً عَلَـيْك، أَنْـتَ كَمَـا أَثْنَـيْتَ عَلَـى نَفْسـِك
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dengan keridlaan-Mu dari kemarahan-Mu, dengan keselamatan-Mu dari siksa-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari diri-Mu. Tidak dapat kuhitung pujian kepada diri-Mu, sebagaimana yang dapat Engkau lakukan terhadap diri-Mu sendiri” (HR. Abu Dawud no. 1427, Shahih Sunan Abi Dawud 1/393).

سُـبْحانَ اْلمَلِكِ اْلقُدُّوس سُـبْحانَ اْلمَلِكِ اْلقُدُّوس سُـبْحانَ اْلمَلِكِ القُدُّوس
[رَبِّ اْلمَلائِكَةِ وَالرُّوْح]
“Maha Suci Allah Raja Yang Suci, Maha Suci Allah Raja Yang Suci, Maha Suci Allah Raja Yang Suci” [Nabi mengangkat suara dan memanjangkannya pada saat yang ketiga] Rabbnya para malaikat dan ruh” (HR. Abu Dawud no. 1430, Shahih Sunan Abi Dawud 1/393).


~ selesai ~


Footnote:

[1] Terkait ‘muntah’ mayoritas ulama berpendapat bahwa hal tersebut membatalkan puasa, berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah secara marfu’:

مَنْ ذَرَعَهُ اَلْقَيْءُ فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ, وَمَنْ اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ اَلْقَضَاءُ
“Barangsiapa yang didesak oleh muntah maka tidak ada kewajiban qadha` atasnya. Dan barangsiapa yang sengaja membuat dirinya muntah maka wajib qadha` atasnya.” (HR Ahmad: 2/498, Abu Daud no. 2380, An-Nasai dalam Al-Kubra: 2/215, At-Tirmizi no. 720, dan Ibnu Majah no. 1676)

» Sanad hadits ini lahiriahnya shahih, akan tetapi sejumlah ulama menyatakan hadits ini memiliki cacat, di antara mereka: Ahmad, Al-Bukhari, Ad-Darimi, Abu Ali Ath-Thusi dan selainnya. (Lihat At-Talkhish dan Nashbur Royah)

Mereka juga berdalil dengan hadits Tsauban bahwa “Rasulullah shollallohu ‘alayhi wasallam muntah lalu beliau berbuka.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)
Hadits ini dishahihkan oleh Al-Wadi’i dalam Ash-Shahihul Musnad.
Hadits ini juga diriwayatkan dengan lafazh; “Beliau muntah dengan sengaja,” akan tetapi riwayatnya syadz.

Dalil yang lain adalah hadits Fadholah bin Ubaid dia berkata; “Rasulullah shollallohu alayhi wasallam pernah berpuasa lalu beliau muntah kemudian beliau berbuka. Maka hal itu ditanyakan kepada beliau, dan beliau bersabda, “Sesungguhnya saya tadi muntah”.” (HR. Ahmad no. 23963 dengan sanad yang hasan)

Ini adalah pendapat pertama dari shahabat Ibnu Umar, dan dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Baz dan Ibnu Al-Utsaimin -rahimahumallah-.

Pendapat kedua adalah pendapat Abu Hurairah, Ikrimah, Robi’ah dan salah satu riwayat dari Malik. Mereka menyatakan bahwa muntah tidak membatalkan puasa, baik dia sengaja melakukannya maupun tidak. Mereka berdalil dengan hukum asal puasa.
Mereka menjawab dalil pendapat pertama sebagai berikut:

1.    Telah berlalu bahwa hadits Abu Hurairah telah dihukumi cacat oleh sejumlah ulama.

2.    Hadits Tsauban tidak menunjukkan adanya perbedaan hukum antara yang sengaja muntah dengan yang tidak, Karenanya Ath-Thahawi berkata; “Tidak ada dalam hadits ini keterangan bahwa muntah itu yang membuat beliau berbuka, karena yang tersebut di situ hanya bahwa beliau muntah lalu beliau berbuka setelah itu.”
At-Tirmidzi menyebutkan dari sebagian ulama bahwa makna hadits ini adalah; “Beliau muntah lalu menjadi lemah sehingga beliau berbuka.”

3.    Jawaban atas hadits Fadholah sama seperti jawaban kepada hadits Tsauban,
Kami katakan; Tatkala hadits Tsauban dan hadits Fadholah hanya menunjukkan bahwa Nabi muntah lalu beliau berbuka, maka kalau memang muntah yang membatalkan puasa beliau, maka kita tanyakan kepada mayoritas ulama; Apakah Nabi muntah dengan sengaja atau tidak, karena dalam hadits tersebut tidak ada keterangan?
Jika mereka menjawab; Nabi muntah dengan tidak sengaja, maka kita katakan; Seharusnya Nabi tidak perlu berbuka -berdasarkan mazhab kalian-, akan tetapi kenapa beliau berbuka kalau memang muntah adalah pembatal puasa?
Jika mereka menjawab beliau muntah dengan sengaja, maka kita katakan; Subhanallah, apakah beliau sengaja membatalkan puasanya dengan sengaja muntah? Karena muntah dengan sengaja adalah pembatal puasa menurut kalian.

Karenanya yang benar adalah pendapat yang kedua dan bahwa yang menyebabkan beliau berbuka puasa adalah karena lemah setelah muntah sebagaimana yang dinukil oleh At-Tirmizi dari sebagian ulama. wallahu a’lam. (Al-Fath no. 1938, An-Nail: 4/204, Al-Majmu’: 6/320, As-Subul: 4/140, dan Kitab Ash-Shiyam: 1/395-403)
Sumber: http://al-atsariyyah.com/pembatal-puasa-yang-diperselisihkan-2.html

[2] Imam Empat dan mayoritas ulama berpendapat bahwa onani membatalkan puasa, karena dia dihukumi tidak meninggalkan syahwatnya. Ini yang dikuatkan oleh Asy-Syaukani, Syaikh Ibnu Baz, dan Syaikh Ibnu Al-Utsaimin.
Sementara Ibnu Hazm berpendapat bahwa onani tidak membatalkan puasa karena tidak adanya dalil yang menunjukkan batalnya, pendapat ini dikuatkan oleh Ash-Shan’ani dan Syaikh Al-Albani -rahimahumullah-.


Sumber:

http://www.abul-jauzaa.blogspot.com
http://www.al-atsariyyah.com
http://www.rumaysho.com
http://www.muslim.or.id
http://www.yufid.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s