“MEREKA” TIDAK MENDAPATKAN PAHALA SHOLAT SEMALAM SUNTUK

Posted: Juli 13, 2013 in Fiqh
Tag:

عَنْ أَبي ذَرٍ رضي الله عنه قَالَ: صُمْنَا معَ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بنا شَيءٌ مِنَ الشَّهرِ حَتَّى بَقيَ سَبعٌ فَقَام بنا حتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيلِ، فلمَّا كَانتْ السَّادسَةُ لم يَقُم بِنَا، فلمَّا كانت الخَامِسَةُ قام بِنَا حتَّى ذَهَبَ شطْرُ اللَّيلِ فَقُلتُ: يا رَسُولَ الله، لو نَفَلْتَنَا قِيَامَ هذهِ اللَّيلةِ، قَالَ: فَقَالَ: إنَّ الرَّجُلَ إذا صَلَّى مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنصَرِفَ حُسِبَ له قِيَامُ لَيلَةٍ، قالَ: فلمَّا كانَت الرَّابِعَةُ لم يَقُمْ، فلمَّا كانت الثَّالثَةُ جَمَعَ أَهْلَهُ ونِسَاءَهُ والنَّاسَ فقَامَ بنَا حتَّى خَشِينَا أن يَفُوتَنَا الفَلاحُ. قَالَ: قُلتُ: مَا الفَلاحُ؟ قَالَ: السَّحُورُ، ثمَّ لم يَقُم بنَا بَقِيَّة الشَّهر
رواه الأربعة وصححه الترمذي.

Dari Abu Dzarr radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Kami pernah berpuasa bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pada bulan Ramadlan. Tidaklah beliau shalat tarawih bersama kami hingga tersisa tujuh hari dari bulan tersebut. Saat itu baru beliau shalat bersama kami hingga berakhir/selesai pada sepertiga malam (yang terakhir pertama). Pada saat malam tersisa enam hari lagi, beliau kembali tidak shalat bersama kami. Ketika malam tersisa lima hari lagi, maka beliau shalat bersama kami hingga berakhir/selesai pada waktu tengah malam. Aku berkata : “Wahai Rasulullah, seandainya kita shalat kembali pada (sisa) malam ini ?”. Maka beliau menjawab : ”Sesungguhnya, seseorang yang shalat bersama imam hingga selesai, maka dihitung baginya shalat semalam suntuk”. Ketika malam tersisa empat hari lagi, beliau tidak shalat bersama kami. Namun ketika malam tinggal tersisa tiga hari, beliau mengumpulkan keluarganya, istri-istrinya, dan orang-orang yang ada; kemudian shalat bersama kami hingga kami khawatir tertinggal waktu falah. Aku pernah bertanya : ”Apa makna falah itu ?”. Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab : ”Waktu sahur”. Kemudian beliau kembali tidak shalat bersama kami pada sisa malam di bulan Ramadlan tersebut.
(Diriwayatkan oleh empat imam Sunan, dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi, Shahih Sunan Abi Dawud 1/379-380)

Hukum shalat tarawih di bulan Ramadlan adalah disyariatkan, dan disunnahkan dilakukan secara berjama’ah yang ganjarannya akan ditulis sebagai shalat satu malam penuh, dengan syarat shalat bersama imam hingga selesai, sebagaimana konteks hadits;

”Sesungguhnya, seseorang yang shalat bersama imam hingga selesai, maka dihitung baginya shalat semalam suntuk”

Dimaklumi bagi mereka yang tidak menghadiri shalat berjama’ah tidak mendapat bagian dari konteks hadits ini, namun sangat di sayangkan bagi yang menghadiri shalat tarawih berjama’ah terluput mendapatkan pahala tersebut.
Merupakan suatu fenomena ganjil dibeberapa tempat (masjid), sebagian makmum enggan menyempurnakan shalatnya sampai selesai bersama imam dengan beberapa alasan yang bervariasi, namun pembahasan berikut khusus dari dua alasan yang sering terjadi, diantaranya;

Pertama;
Makmum memilih shalat tarawih 11 raka’at, sehingga pada raka’at yang ke-8 memisahkan diri dari jama’ah dan imam yang shalat tarawih 23 raka’at,

Kedua;
Makmum tidak ikut shalat witir bersama imam dengan alasan masih ingin shalat tahajud di akhir malam, mereka beralasan dengan hadits;
“Jadikanlah akhir shalat malam kalian dengan shalat witir” (Riwayat Al Bukhari 998)

Maka berikut sanggahan atas beberapa alasan diatas;


SANGGAHAN ALASAN PERTAMA

Terkait shalat tarawih 20 raka’at (dengan 3 raka’at witir) sama sekali bukanlah bid’ah atau perkara yang dibuat-buat yang tidak ada syariatnya.
Memang benar adanya jika riwayat-riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat tarawih 20 raka’at adalah dla’if (lemah),

Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan:
“Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadlan 20 raka’at ditambah witir, sanad hadits itu adalah lemah (dha’if). Hadits ‘Aisyah yang mengatakan bahwa shalat Nabi tidak lebih dari 11 raka’at juga bertentangan dengan hadits Ibnu Abi Syaibah ini, padahal ‘Aisyah sendiri lebih mengetahui seluk-beluk kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu malam daripada yang lainnya, Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 6/295)

» Hadits ‘Aisyah yang dimaksud ialah;
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)

Namun.. mayoritas ulama terdahulu dan ulama belakangan, mengatakan  bahwa boleh menambah raka’at dari yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan: “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.” (At Tamhid, 21/70)

Dengan dalil sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ
“Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at. Jika engkau khawatir masuk waktu shubuh, lakukanlah shalat witir satu raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagaimana telah diketahui dalam ilmu ushul, bahwa perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengkhususkan ucapan beliau sendiri,

Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “…Barangsiapa yang mengira bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki bilangan raka’at tertentu yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh ditambahi atau dikurangi dari jumlah raka’at yang beliau lakukan, sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)

Dan juga terdapat atsar yang shahih (menurut sebagian ahlul ilmi) bahwa ‘Umar bin Al Khottob pernah mengumpulkan manusia untuk melaksanakan shalat tarawih. Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daari ditunjuk sebagai imam, ketika itu mereka melakukan shalat tarawih sebanyak 21 raka’at. Mereka membaca dalam shalat tersebut ratusan ayat dan shalatnya berakhir ketika mendekati waktu shubuh. (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razaq no. 7730, Ibnul Ja’di no. 2926, Al Baihaqi 2/496. Sanad hadits ini shahih. Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/416)

Penjelasan lebih lengkap baca terkait riwayat shalat tarawih selain 11 rakaat di: http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2670-shalat-tarawih-11-ataukah-23-rakaat.html


Berikut Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz terkait masalah diatas;

Soal:

Jika seseorang shalat tarawih berjama’ah bersama imam yang 23 raka’at, namun orang tersebut hanya shalat 11 raka’at saja. Apakah perbuatan ini sesuai dengan sunnah?

Jawab:

Yang sesuai dengan sunnah adalah tetap mengikuti imam meski ia shalat 23 rakaat. Karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من قام مع الإمام حتى ينصرف كتب الله له قيام ليلة

“Orang yang shalat tarawih mengikuti imam sampai selesai, ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk” (HR. At Tirmidzi, no. 734, Ibnu Majah, no. 1317, Ahmad, no. 20450)

dalam lafazh yang lain:

بقية ليلته

“Ditulis baginya pahala shalat di sisa malamnya” (HR. Ahmad, no. 20474)

Maka yang paling afdhal bagi seorang ma’mum adalah mengikuti imam sampai imam selesai. Baik ia shalat 11 rakaat maupun 23 rakaat, atau jumlah rakaat yang lain. Inilah yang paling baik.

Selain itu, shalat tarawih 23 rakaat pernah dilakukan oleh Umar Radhiallahu’anhu dan sahabat yang lain. Ini bukanlah keburukan, bukan pula kebid’ahan. Bahkan shalat tarawih 23 rakaat adalah sunnah Khulafa Ar Rasyidin. Hal ini memiliki dalil dari hadits Ibnu Umar Radhiallahu’anhuma, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

صلاة الليل مثنى مثنى فإذا خشي أحدكم الصبح صلى واحدة توتر له ما قد صلى

“Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Jika engkau khawatir akan datanya fajar maka shalatlah 1 rakaat agar jumlah rakaatnya ganjil” (Muttafaqun ‘ilaihi)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak membatasi rakaat shalat malam dengan batasan jumlah tertentu, namun yang beliau katakan:

صلاة الليل مثنى مثنى

“Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat”

Namun memang lebih afdhal jika imam mengerjakan shalat tarawih sebanyak 11 rakaat atau 13 rakaat dengan salam setiap 2 rakaat. Karena inilah yang paling sering dipraktekan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada shalat malamnya. Alasan lain, karena shalat tarawih 11 atau 13 rakaat lebih sesuai dengan kondisi kebanyakan orang (tidak terlalu berat, pent) di bulan Ramadhan ataupun di luar bulan Ramadhan. Namun bila ada yang melakukannya lebih dari itu, atau kurang dari itu, tidak masalah. Karena perkara rakaat tarawih adalah perkara yang longgar.

Sumber:
http://www.ibnbaz.org.sa/mat/1028
http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/bolehkah-shalat-tarawih-11-rakaat-padahal-imam-23-rakaat.html


SANGGAHAN ALASAN KEDUA

Terkait alasan yang kedua, apakah diperbolehkan shalat sunnah setelah shalat witir ?, Berikut penjelasannya:

Mengenai masalah ini, ada dua pendapat di antara para ulama.

Pendapat pertama,
mengatakan bahwa boleh melakukan shalat sunnah lagi sesukanya, namun shalat witirnya tidak perlu diulangi.

Pendapat ini adalah yang dipilih oleh mayoritas ulama seperti ulama-ulama Hanafiyah, Malikiyah, Hanabilah, pendapat yang masyhur di kalangan ulama Syafi’iyah dan pendapat ini juga menjadi pendapat An Nakho’i, Al Auza’i dan ‘Alqomah. Mengenai pendapat ini terdapat riwayat dari Abu Bakr, Sa’ad, Ammar, Ibnu ‘Abbas dan ‘Aisyah. Dasar dari pendapat ini adalah sebagai berikut;

Pertama; ‘Aisyah menceritakan mengenai shalat malam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كَانَ يُصَلِّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإِقَامَةِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat 13 raka’at (dalam semalam). Beliau melaksanakan shalat 8 raka’at kemudian beliau berwitir (dengan 1 raka’at). Kemudian setelah berwitir, beliau melaksanakan shalat dua raka’at sambil duduk. Jika ingin melakukan ruku’, beliau berdiri dari ruku’nya dan beliau membungkukkan badan untuk ruku’. Setelah itu di antara waktu adzan shubuh dan iqomahnya, beliau melakukan shalat dua raka’at.” (HR. Muslim no. 738)

Kedua; dari Ummu Salamah, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat dua raka’at sambil duduk setelah melakukan witir (HR. Tirmidzi no. 471. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ketiga; dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ خَافَ مِنْكُمْ أَنْ لاَ يَسْتَيْقِظَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ ثُمَّ لْيَرْقُدْ …
“Barangsiapa di antara kalian yang khawatir tidak bangun di akhir malam, maka berwitirlah di awal malam lalu tidurlah, …” (HR. Tirmidzi no. 1187. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dipahami dari hadits ini bahwa jika orang tersebut bangun di malam hari –sebelumnya sudah berwitiri sebelum tidur-, maka dia masih diperbolehkan untuk shalat.

Adapun dalil yang mengatakan bahwa shalat witirnya tidak perlu diulangi adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ
“Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Tirmidzi no. 470, Abu Daud no. 1439, An Nasa-i no. 1679. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Pendapat kedua:
mengatakan bahwa tidak boleh melakukan shalat sunnah lagi sesudah melakukan shalat witir kecuali membatalkan shalat witirnya yang pertama, kemudian dia shalat dan witir kembali. Maksudnya di sini adalah jika sudah melakukan shalat witir kemudian punya keinginan untuk shalat sunnah lagi sesudah itu, maka shalat sunnah tersebut dibuka dengan mengerjakan shalat sunnah 1 raka’at untuk menggenapkan shalat witir yang pertama tadi. Kemudian setelah itu, dia boleh melakukan shalat sunnah (2 raka’at – 2 raka’at) sesuka dia, lalu dia berwitir kembali.
Inilah pendapat lainnya dari ulama-ulama Syafi’iyah. Mengenai pendapat ini terdapat riwayat dari ‘Utsman, ‘Ali, Usamah, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas. Dasar dari pendapat ini adalah diharuskannya shalat witir sebagai penutup shalat malam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا
“Jadikanlah penutup shalat malam kalian adalah shalat witir.”  (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751)

Pendapat yang Terkuat
Dari dua pendapat di atas, pendapat yang terkuat adalah pendapat pertama dengan beberapa alasan berikut;

Pertama; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah setelah beliau mengerjakan shalat witir. Perbuatan beliau ini menunjukkan bolehnya hal tersebut.

Kedua; pendapat kedua yang membatalkan witir pertama dengan shalat 1 raka’at untuk menggenapkan raka’at, ini adalah pendapat yang lemah ditinjau dari dua sisi.
1. Witir pertama sudah dianggap sah. Witir tersebut tidaklah perlu dibatalkan setelah melakukannya. Dan tidak perlu digenapkan untuk melaksanakan shalat genap setelahnya.
2. Shalat sunnah dengan 1 raka’at untuk menggenapkan shalat witir yang pertama tadi tidaklah dikenal dalam syari’at.
Dengan dua alasan inilah yang menunjukkan lemahnya pendapat kedua.

Kesimpulan

Dari pembahasan ini, ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil :

Pertama; bolehnya melakukan shalat sunnah lagi sesudah shalat witir.

Kedua; diperbolehkannya hal ini juga dengan alasan bahwa shalat malam tidak ada batasan raka’at sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Majmu’ Al Fatawa, 22/272).

Jika kita telah melakukan shalat tarawih ditutup witir bersama imam masjid, maka di malam harinya kita masih bisa melaksanakan shalat sunnah lagi. Sehingga tidak ada alasan untuk meninggalkan imam masjid ketika imam baru melaksanakan shalat tarawih 8 raka’at dengan niatan ingin melaksanakan shalat witir di rumah sebagai penutup ibadah atau shalat malam. Ini tidaklah tepat karena dia sudah merugi karena meninggalkan imam sebelum imam selesai shalat malam. Padahal pahala shalat bersama imam hingga imam selesai shalat malam disebutkan dalam hadits, “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Shahih).

Ketiga; adapun hadits Bukhari-Muslim yang mengatakan “Jadikanlah penutup shalat malam kalian adalah shalat witir”, maka menjadikan shalat witir sebagai penutup shalat malam di sini dihukumi sunnah (dianjurkan) dan bukanlah wajib karena terdapat dalil pemaling dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 395).

Sumber: http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2683-setelah-shalat-witir-bolehkah-shalat-sunnah-lagi.html


HADITS-HADITS SHALAT SUNNAH SETELAH SHALAT WITIR

Sebagai tambahan, berikut riwayat-riwayat lain yang bisa dijadikan hujjah dalam mengamalkan shalat sunnah setelah shalat witir, bahkan amaliyah ini termasuk sunnah yang telah ditinggalkan oleh kebanyakan kaum muslimin, yakni shalat 2 aka’at setelah shalat witir.

1.     Hadits ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa.

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِى عَدِىٍّ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ يَحْيَى عَنْ أَبِى سَلَمَةَ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كَانَ يُصَلِّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَرَكَعَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإِقَامَةِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Adiy : Telah menceritakan kepada kami Hisyaam, dari Yahyaa bin Abi Salamah, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada ‘Aaisyah tentang shalat yang dilakukan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. ‘Aaisyah berkata : “Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat sunnah malam. Beliau shalat delapan raka’at, kemudian mengerjakan witir (tiga raka’at). Setelah itu, beliau shalat dua raka’at dalam keadaan duduk. Apabila hendak rukuk, beliau berdiri lalu rukuk. Setelah itu, beliau shalat dua raka’at antara adzan dan iqamat saat waktu Shubuh tiba” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 738].

أَخْبَرَنَا زَكَرِيَّا بْنُ يَحْيَى، قال: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قال: أَنْبَأَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، قال: حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ الْحَسَنِ، قال: أَخْبَرَنِي سَعْدُ بْنُ هِشَامٍ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهُ سَمِعَهَا تَقُولُ: ” إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِتِسْعِ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ، فَلَمَّا ضَعُفَ أَوْتَرَ بِسَبْعِ رَكَعَاتٍ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ ”

Telah mengkhabarkan kepada kami Zakariyyaa bin Yahyaa, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibraahiim, ia berkata : Telah memberitakan ‘Abdurrazzaaq, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qataadah, dari Al-Hasan, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Sa’d bin Hisyaam, dari ‘Aaisyah, bahwasannya ia (Sa’d) pernah mendengarnya (‘Aaisyah) berkata : “Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa shalat witir sebanyak sembilan raka’at. Lalu setelah itu shalat dua raka’at dalam keadaan duduk. Ketika beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam lemah, maka beliau mengerjakan tujuh raka’at, lalu setelah itu shalat dua raka’at dalam keadaan duduk” [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy no. 1722; shahih].

Note; Hadits ini sekaligus menunjukkan kebolehan shalat sunnah sambil duduk.

2. Hadits Abu Umaamah radliyallaahu ‘anhu.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ، حَدَّثَنِي أَبِي، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي ابْنَ صُهَيْبٍ، عَنْ أَبِي غَالِبٍ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّيهِمَا بَعْدَ الْوِتْرِ وَهُوَ جَالِسٌ يَقْرَأُ فِيهِمَا: إِذَا زُلْزِلَتْ الْأَرْضُ، وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ”

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdush-Shamad : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Shuhaib, dari Abu Ghaalib, dari Abu Umaamah : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat dua raka’at setelah witir, beliau membaca dalam shalat tersebut : Idzaa zulzilatil-ardlu (QS. Al-Zazalah) dan Yaa ayyuhal-kaafiruun (QS. Al-Kaafiruun). [Diriwayatkan oleh Ahmad 5/260; sanadnya lemah dikarenakan Abu Ghaalib, seorang yang shaduuq, namun banyak keliru. Akan tetapi riwayat ini shahih dengan penguat-penguatnya].

3.     Hadits Ummu Salamah radliyallaahu ‘anhaa.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ مَسْعَدَةَ، حَدَّثَنَا مَيْمُونُ بْنُ مُوسَى الْمَرَئِيُّ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ أُمِّهِ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي بَعْدَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyaar : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Mas’adah : Telah menceritakan kepada kami Maimuun bin Muusaa Al-Maraiy, dari Al-Hasan, dari ibunya, dari Ummu Salamah : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa shalat setelah witir sebanyak dua raka’at dalam keadaan duduk [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 1195; sanadnya lemah dikarenakan Maimuun bin Muusaa, seorang mudallis, dan di sini ia membawakan dengan ‘an’anah pada semua jalannya. Namun riwayat ini shahih dengan penguat-penguatnya].

4.     Hadits Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu.

حَدَّثَنَا فَهْدٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عُمَارَةُ بْنُ زَاذَانَ، عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: ” أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْوِتْرِ بِ الرَّحْمَنِ، وَالْوَاقِعَةِ ”

Telah menceritakan kepada kami Fahd, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Ghassaan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Umaarah bin Zaadzaan, dari Tsaabit Al-Bunaaniy, dari Anas radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Ar-Rahmaan dan Al-Waaqi’ah pada dua raka’at setelah witir [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar no. 1270; sanadnya lemah dikarenakan ‘Umaarah bin Zaadzaan, seorang yang shaduuq namun banyak keliru. Riwayat ini menjadi shahih dengan penguat-penguatnya].

5. Hadits Tsaubaan radliyallaahu ‘anhu.

أَخْبَرَنَا ابْنُ قُتَيْبَةَ، حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، عَنْ شُرَيْحٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، عَنْ ثَوْبَانَ، قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ، فَقَالَ: ” إِنَّ هَذَا السَّفَرَ جُهْدٌ وَثُقْلٌ، فَإِذَا أَوْتَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ وَإِلا كَانَتَا لَهُ ”

Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Qutaibah : Telah menceritakan kepada kami Harmalah : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb : Telah menceritakan kepadaku Mu’aawiyyah bin Shaalih, dari Syuraih, dari ‘Abdurrahmaan bin Jubair bin Nufair, dari Tsaubaan, ia berkata : Kami pernah bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam safar. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya perjalanan ini membuat payah dan berat. Apabila salah seorang di antara kalian telah mengerjakan shalat witir, maka rukuklah sebanyak dua rakaat. Apabila dia dapat bangun (dia dapat shalat malam). Kalau tidak, maka dua rakaat tadi cukup baginya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no.2577; terdapat keterputusan antara ‘Abdurrahmaan bin Jubair bin Nufair dan Tsaubaan. Akan tetapi telah diketahui bahwa perantara keduanya adalah ayahnya, yaitu Jubair bin Nufair, sehingga sanadnya qawiy/kuat].

Begitu juga dengan beberapa perbuatan yang ternukil dari sebagian shahabat dan taabi’iin:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ ابْنِ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ الْبَرَاءِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: ” رَأَيْتُهُ يَسْجُدُ بَعْدَ وَتْرِهِ سَجْدَتَيْنِ ”

Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Ibnu Abi ‘Aruubah, dari Abul-‘Aaliyyah Al-Baraa’, dari Ibnu ‘Abbaas, ia (Abul-‘Aaliyyah) berkata : “Aku pernah melihatnya (Ibnu ‘Abbaas) sujud setelah shalat witir dengan dua kali sujud” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 2/283 (4/469); sanadnya shahih].
Maksudnya : mengerjakan shalat sunnah dua raka’at setelah witir.

حَدَّثَنَا حَفْصٌ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: ” مَنْ أَوْتَرَ أَوَّلَ اللَّيْلِ ثُمَّ قَامَ، فَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ ”

Telah menceritakan kepada kami Hafsh, dari Ibnu Juraij, dari ‘Athaa’, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : “Barangsiapa yang mengerjakan shalat witir di awal malam, kemudian ia bangun berdiri (dari tidurnya), hendaklah ia shalat dua raka’at-dua raka’at” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/285 (4/472); sanadnya shahih].

أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الْمُغِيرَةِ، عَنْ زِيَادِ بْنِ كُلَيْبٍ أَبِي مَعْشَرٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: ” كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ السِّوَاكَ بَعْدَ الْوِتْرِ قَبْلَ الرَّكْعَتَيْنِ ”

Telah mengkhabarkan kepada kami Jariir, dari Al-Mughiirah, dari Ziyaad bin Kulaib Abu Ma’syar, dari Ibraahiim, ia berkata : “Mereka (shahabat dan taabi’in) senang bersiwak setelah witir sebelum mengerjakan shalat dua raka’at” [Diriwayatkan oleh Ishaaq bin Rahawaih dalam Musnad-nya no. 2425; sanadnya shahih].

Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2013/04/sunnah-yang-banyak-ditinggalkan-shalat.html?m=0


Di sadur dari sumber :

http://www.rumaysho.com
http://www.muslim.or.id
http://www.abul-jauzaa.blogspot.com

Komentar ditutup.