Kesempurnaan Islam

Posted: Juli 17, 2013 in Aqidah
Tag:

Alhamdulillah wash sholaatu was salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Amma ba’du:

Sungguh Allah ta’ala telah menyempurnakan agama ini dengan mengutus Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Allah ta’ala menutup pengutusan para Rosul dengan risalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjadikan  syariat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penyempurna terhadap seluruh Syariat-syariat para rosul yang terdahulu. Dan Allah ta’ala mewajibkan kepada seluruh jin dan manusia untuk mengikuti syariat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana Allah Azza wa jalla berfirman: “Pada hari ini Aku telah menyempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridho islam sebagai agama kalian.

Al Imam Ibnu Katsir -rahimahullah- dalam tafsirnya (II/14) berkata: “ini merupakan nikmat Allah Ta’ala yang paling besar atas ummat ini ketika Allah ta’ala telah menyempurnakan agama mereka (islam) maka mereka tidak butuh lagi selain agama mereka (islam) dan tidak butuh lagi kepada seorang nabi selain nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan karenanya Allah ta’ala telah menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penutup para nabi dan mengutusnya kepada seluruh jin dan manusia, maka tidak ada suatu perkara yang halal kecuali apa-apa yang telah beliau halalkan. Dan tidak ada suatu perkara yang haram kecuali apa-apa yang telah beliau haramkan. Dan tidak ada suatu perkara dien (agama) kecuali yang beliau telah syariatkannya, maka dia (Rasulullah) adalah benar dan jujur , tidak ada kedustaan padanya, tidak ada penyelisihan atasnya sebagaimana Allah Ta’ala  telah berfirman: “Telah sempurna kalimat Rabmu dalam keadaan benar dan adil” (Al-An’am 115) yakni jujur dalam penghabaran dan adil dalam perintah-perintah dan larangan-larangan. Maka ketika Allah ta’ala telah menyempurnakan bagi ummat ini agama (islam) maka menjadi sempurnalah nikmat mereka”

Ayat yang mulia ini merupakan ayat yang terakhir yang di turunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada saat  haji wada tepatnya hari arafah. Dan setelah ayat ini maka pintu nubuwah (wahyu) tertutup, tidak ada lagi satu perkara yang halal atau yang haram di turunkan Allah ta’ala kepada Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai beliau wafat. Sebagai mana dalam hadits yang telah di riwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Thoriq Syihab telah berkata: ”Telah datang seorang yahudi kepada Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu maka dia berkata: Wahai Amirul mukminin sungguh kalian membaca suatu ayat di kitab kalian kalaulah ayat itu di turunkan pada kami semua orang yahudi, maka sungguh kami akan menjadikan hari di turunkannya ayat itu sebagai hari raya. Umar berkata: ayat yang mana? Orang yahudi itu menjawab: Firman Allah: (Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian…..) Umar berkata: Demi Allah sungguh saya benar-benar mengetahui hari saat diturunkannya ayat tersebut kepada Rasulullah yakni waktu sore saat di arafah pada hari jum’at”

Berkata Ibnu Jarir dan yang lainnya: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat setelah hari arafah sekitar 81 hari.
[Tafsir Ibnu Katsir II/14]

Dalam ayat yang mulia tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa syariat Allah ta’ala yang diturunkan kepada Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam telah sempurna tidak butuh lagi tambahan atau pengurangan.

Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Al Halabi -hafidhahullah- dalam kitabnya Ilmu Ushul Bid’a hal 18 telah berkata: “maka tidak boleh ada suatu gambaran  (keinginan) pada manusia untuk membuat suatu perkara baru dalam syariat, karena penambahan dalam syariat  termaksud suatu koreksi (pembetulan) terhadap Allah ta’ala dan terisyarat  bahwa syariat ini masih kurang. Hal ini jelas menyelisihi ayat yang ada pada  kitab Allah ta’ala”

Maka orang yang menambah-nambah dalam syariat berarti dia telah menyeru bahwasanya agama yang di bawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam belum sempurna, hal ini merupakan kelancangan yang jelek terhadap Allah ta’ala, karena orang tersebut telah menempatkan dirinya sebagai pembuat syariat juga (padahal penentuan syariat itu hanyalah milik Allah Azza  wa jalla saja). Orang tersebut juga menuduh bahwa masih ada  yang terlupakan bagi Allah ta’ala dan penentuan syariat ini, -maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan- padahal Allah ta’ala telah menafikan bagi dirinya sifat lupa sebagaimana dalam firman-Nya: “………Tidaklah Rabbmu itu lupa”(Maryam: 64)

Dari Abu Dzar Al-Ghiffariy radhiallahuanhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggalkan kami, dan tidaklah suatu burung mengepakkan sayapnya di udara kecuali beliau telah menjelaskan ilmunya kepada kami dari perkara tersebut”

Kemudian Abu Dzar berkata: maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tidak tersisa satu perkara pun yang dapat mendekatkan diri kepada surga dan yang dapat menjauhkan diri dari neraka kecuali sungguh telah di jelaskan bagi kalian”

Hadits yang mulia ini padanya ada penjelasan yang terang lagi jelas bahwa sungguh segala sesuatu yang dapat mendekatkan diri pada surga dan segala sesuatu yang dapat menjauhkan kami dari neraka. Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan pada kami maka setiap perkara baru yang di buat-buat dalam agama (bid’ah) sungguh hal itu hanyalah merupakan koreksi terhadap syariat dan suatu kelancangan yang jelek yang mana pelakunya menganggap bahwa syariat ini belum cukup, dan belum sempurna! Maka masih butuh kepada perkara baru / bid’ah (untuk menyempurnakannya).
[Hadits dan penjelasan di nukil dari Ilmu Ushul Bida hal.29]

Lebih lanjut Syaikh Ali Hasan –hafidhahullah- telah menukil perkataan Ibnu Al Maaja Suniy bahwa dia telah mendengar Imam Malik rahimahullah berkata: “Siapa yang membuat suatu bid’ah dalam Islam yang dia anggap bahwa bid’ah itu adalah hasanah (baik), maka sungguh dia telah menuduh bahwa Rasulullah telah berkhianat dalam menyampaikan risalah karena Allah ta’ala berfirman: …..Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian…..Maka suatu perkara yang tidak menjadi agama pada hari itu (hari di turunkannya ayat itu) maka juga tidak menjadi perkara agama hari ini”
[Ilmu Ushul Bida hal.20]

Hal yang semakna pula tentang larangan membuat-buat/ mengadakan tambahan dalam agama yang telah sempurna ini adalah sebagaimana yang telah shohih yang di riwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiallahuanhu telah berkata: “Telah datang tiga orang (sahabat) kerumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mereka menanyakan tentang ibadah nabi (yang tidak nampak) Ketika di khabarkan tentang ibadahnya Rasulullah, seakan-akan mereka menganggap sedikit (kurang)ibadah tersebut, maka mereka berkata: Dimana kami (jika di bandingkan) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sungguh Allah Azza wajalla telah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Maka salah seorang diantara mereka berkata: Adapun saya maka saya akan shalat sepanjang malam, berkata yang lainnya: saya akan berpuasa sepanjang hari, dan yang lainnya berkata: saya akan menghindari wanita, saya tidak akan kawin selamanya” Maka datang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau berkata: “Kaliankah yang berkata ini dan itu? Demi Allah, adapun saya, saya lebih takut kepada Allah dari kalian, dan saya lebih taqwa kepada Allah dari kalian, akan tetapi sungguh saya berpuasa dan saya berbuka, saya shalat (malam) dan saya juga tidur, saya menikahi wanita, maka barang siapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan golonganku”

Hadits ini mengisyaratkan dengan jelas kepada usaha (kesungguhan) tiga orang sahabat untuk melaksanakan ibadah yang secara asal ibadah tersebut disyariatkan namun tata cara pelaksanaannya tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka secara asal puasa, shalat malam dan menjaga kehormatan itu di sunnahkan, dituntut dan disyariatkan akan tetapi cara dan sifat pelaksanaannya yang akan dilakukan oleh ketiga orang sahabat tersebut, tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak ada nash/dalil yang menunjukkan padanya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingkari mereka dan menolak perbuatan mereka.

Hadits ini juga merupakan penerapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara amaliyah bagi perkataan beliau: “Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang amalan itu tidak ada pada kami (contohnya) maka amalan tersebut tertolak”

Maka amalan-amalan yang akan dilakukan oleh tiga orang sahabat tersebut disyariatkan secara asal namun tata caranya tidak pernah ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka amalan itu tertolak atas pelakunya, tidak diterima amalannya.

Hadits ini juga merupakan peringatan yang lembut sekali bahwahanya dengan niat yang baik tidak akan menjadikan amal sholeh yang diterima disisi Allah ta’ala bahkan amalannya haruslah mencocoki thoriqoh (jalan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Diantara contoh lain lagi seperti adzan pada sholat dua hari raya, adzan pada sholat istisqoh (shalat minta hujan) atau adzan pada shalat jenazah. Adzan secara asal itu disyariatkan akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya tidak pernah mengerjakannya pada waktu sholat dua hari raya, sholat istisqoh, ataupun sholat jenazah.

Maka setiap perkara yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya meninggalkannya (tidak mengerjakannya), merupakan sunnah yang wajib untuk mengikutinya mereka didalamnya (kita meninggalkannya juga).
[Ilmu Ushul Bida hal. 108-110]

Jika kita memperhatikan keadaan kaum muslimin sekarang ini, maka kita akan menyaksikan banyak sekali praktek/amaliyah ibadah yang dibuat-buat dalam anggapan mereka ini adalah perbuatan baik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Misalnya kita melihat sebagian kaum muslimin mengkhususkan pembacaan surat Yasin pada setiap malam Jum’at baik dirumah-rumah maupun dimesjid-mesjid secara bersama-sama yang terkadang dipimpin oleh seorang yang kemudian diikuti oleh semuanya. Coba kita bandingkan amalan ini (pengkhususan bacaan surat Yasin pada setiap malam jum’at) dengan pengingkaran Rasulullah terhadap tiga orang sahabat yang ingin beribadah melampaui ibadah Rasulullah pada hadits tersebut diatas. Maka kita akan mendapatkan jawabannya bahwasanya secara asal membaca Al-Qur’an (surat Yasin) adalah perkara yang disyariatkan dan akan mendapatkan ganjaran/pahala, akan tetapi rasulullah dan para sahabatnya tidak pernah mengkhususkan bacaan surat Yasin tersebut pada tiap malam jum’at, terlebih lagi berkumpul secara bersamaan. Jika demikian amalan tersebut akan tertolak dan tidak akan diterima.

Demikian pula halnya kita menyaksikan sebagian kaum muslimin membaca tasbih, takbir dan tahlil dengan menggunakan biji-bijian tasbih. Secara asal dzikir-dzikir sesudah shalat tersebut disyariatkan namun cara pelaksanaannya menyelisihi tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Padahal cara yang benar dalam hal ini adalah sebagaimana yang telah shohih dari Abdullah bin Umar berkata: “Saya melihat Rasulullah menghitung tasbih dengan (jari-jari) tangan kanannya”. Maka bertasbih dengan jari-jari tangan kanan lebih utama dari bertasbih dengan tangan kiri atau dengan kedua tangan secara bersamaan , dan lebih afdol juga dari bertasbih dengan biji-bijian tasbih . bahkan bertasbih dengan biji-bijian tasbih menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bertasbih dengan jari-jari tangan kanan, karena jari-jari tersebut kelak di hari hisab nanti akan ditanyakan dan akan menjadi saksi-saksi dari dzikir kita.
[Lihat Al-Qaulu Al Mubin Fii Akhtar Al Mushallin Hal. 299 oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman]

Jika demikian halnya hendaknya kita senantiasa memperhatikan amalan-amalan ibadah kita, jangan sampai niat kita yang baik dalam beribadah dirusak dengan sikap berlebih-lebihan dalam cara pelaksanaannya. Bukankah Agama kita islam ini telah sempurna?, tidak butuh lagi kepada tambahan ataupun pengurangan didalamnya.

Semoga Allah azza wajalla senantiasa melimpahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amalan sholeh yang diterima. Amiin. Wallahu ‘alaam wal musta’an


Sumber:
Buletin Darul Huda Kendari
Penulis:
Ustadz Abu Bakar Al Kandariy
Artikel:
http://www.ibnuabbaskendari.wordpress.com

Komentar ditutup.