PASUKAN BERGAJAH PENYERANG KA’BAH

Posted: Juli 17, 2013 in Aqidah
Tag:,

Di antara kejadian besar yang terjadi menjelang kelahiran Rosululloh shalallahu alaihi wa sallam adalah perang gajah yang terjadi pada tahun 571 M. Dikisahkan ada seorang gubernur kerajaan Habasyah (Ethiopia) di Yaman bernama Abrahah bin Al Shobaah melihat orang-orang Arab bersiap-siap di musim haji berangkat ke Mekkah.

Note:
Abrahah adalah pemimpin negeri Yaman. Dia penganut Nashrani yang taat, Menjadi wakil An Najasyi di negeri Yaman.
Dia menyaksikan begitu banyak orang berduyun-duyun menuju Ka’bah, Baitul Haram;
Dia bertanya: ”Kemana mereka pergi?”
Dijawab: “Mereka menuju Ka’bah di Mekkah untuk menunaikan ibadah haji”.
Dia bertanya: ”Ka’bah itu apa?”
Mereka menjawab: ”Rumah yang terbuat dari bebatuan.”
Dia bertanya kembali: ”Apa kain penutupnya?”
Mereka menjawab: ”Kain yang didatangkan dari sini.”
Mendengar penjelasan seperti ini, maka ia bertekad dengan menegaskan: “Aku akan mendirikan bangunan yang lebih baik darinya”.

Lalu ia membangun sebuah gereja besar di kota Shan’a yang diberi nama Al Qullais dengan tujuan ingin memindahkan haji bangsa Arab.

Note:
Dia menitahkan pembangunan kanisah (gereja) besar di Shan’a. Segala nilai seni dan beragam keindahan menghiasinya. Tempat ibadah ini dikenal dengan nama Qullais. Sebuah gereja yang pada zaman itu, kemegahannya tidak ada tandingan di muka bumi.

Ia menulis surat kepada raja Najasyi yang berisi;
“Sungguh saya telah membangun untukmu sebuah gereja yang belum ada tandingannya dan saya tidak berhenti sampai saya memalingkan haji bangsa Arab.”

Note:
Niat busuknya itu sampai ke telinga seseorang dari Bani Kinanah. Maka orang dari Bani Kinanah ini mencoba masuk ke dalamnya saat malam tiba. Dia lumuri arah kiblatnya dengan bekas kotorannya. Tatkala Abrahah mengetahui kejadian itu, emosinya langsung menyala. Dia bersumpah akan mendatangi dan menghancurkan Ka’bah. Abrahah segera menyipakan pasukan dengan berkekuatan beberapa gajah.

Abrahah bersumpah akan menghancurkan Ka’bah dan memberitahu raja Najasyi tentang hal itu, lalu raja Najasyi menghadiahkan seekor gajah besar bernama Mahmuud. Kemudian ia berangkat dengan pasukannya ke Mekkah dan hal ini didengar bangsa Arab.

Note:
Mendengar berita tersebut, orang-orang Arab kebingungan. Mereka mengetahui, kekuatan pasukan Abrahah sama sekali tidak sebanding dengan kekuatan yang mereka miliki. Tetapi bagaimanapun juga, bagi bangsa Arab, melawan pasukan Gajah menjadi kewajiban, karena Abrahah bermaksud menghancurkan Ka’bah Baitullah Al Haram.

Setelah mendengar berita keberangkatan Abrahah menghancurkan Ka’bah, maka keluarlah Dzu Nafar salah seorang kepala kabilah Arab bersama kaumnya melawan Abrahah, namun kalah dan ia pun ditawan.
Sesampainya Abrahah di daerah Khots’am disambut dengan perlawanan Nufail bin Habieb Al Khots’amy dan bangsa Arab yang ada di sana. Namun mereka pun kalah dan Nufail pun ditawan.

Ketika melewati daerah Thoif, Abrahah ditemui Mas’ud bin Mu’tib bersama beberapa tokoh kabilah Tsaqif dan Mas’ud berkata: “Wahai Abrahah, Kami tunduk kepadamu dan kami mengutus Abu Righal menjadi penunjuk jalanmu.”

Lalu Abrahah berangkat kembali menuju Mekkah dengan penunjuk jalan Abu Righol. Sesampainya di Al Mughammas (daerah dekat Makkah di jalan Thoif) Abu Righol mati. Lalu Abrahah mengirim Seorang Habasyi bernama Al Aswad bin Maqshud bersama pasukan berkudanya lalu mengambil ternak orang Mekkah di daerah Al Araak, di antaranya 200 ekor unta milik Abdul Mutholib. Kemudian Abrahah mengutus Hanathoh Al Himyaary kepada ahli Mekkah untuk bertemu dengan pemukanya dan menyatakan bahwa Abrahah hanya ingin menghancurkan Ka’bah kecuali bila mereka melawan maka ia akan menghancurkan mereka. Maka berjumpalah Hanathoh tersebut dengan Abdul Mutholib, dan berkata Abdul Mutholib:
“Kami tidak punya kekuatan, kami akan membiarkan Ka’bah dan apa yang akan terjadi, karena ia adalah Rumah Alloh dan rumah kekasih-Nya Ibrohim. Jika Allah melindunginya maka ia adalah rumah-Nya dan bila membiarkannya maka kami tidak punya kekuatan untuk mencegahnya.”

Lalu Abdul Mutholib mendatangi Abrahah dengan perantara Anies pawang gajah Abrahah, bertemulah Abdul Mutholib dengan Abrahah dan meminta kembali unta-untanya, maka Abrahah berkata melalui penerjemahnya: “Saya tadinya sangat mengagumimu dan sekarang tidak lagi.”
Abdul Mutholib Tanya: “mengapa?”
Ia menjawab: “Saya datang ke rumah yang menjadi agamamu dan agama kakek moyangmu untuk menghancurkannya, lalu kamu tidak bicarakan hal itu sama sekali, malahan kamu hanya membicarakan 200 ekor untamu saja.”
Maka Abdul Mutholib berkata: “Saya pemilik unta tersebut dan Ka’bah punya pemilik yang akan melindunginya darimu.”

Abrahah berkata: “Tidak mungkin mencegahku.”
Abdul Mutholib menjawab: “Terserah kamu.”

Lalu Abrahah menyerahkan untanya dan ia pun pulang dan memerintahkan penduduk Mekkah untuk mengungsi di gunung dan lembah-lembah khawatir terkena akibat peperangan tersebut.

Lalu Abrahah pun bersiap-siap masuk Mekkah dan menunggangi gajahnya dengan berdiri. Ketika ia menggerakkan gajahnya, maka gajahnya berhenti hampir tersungkur di tanah dan menderum, lalu ia pukul kepala gajah tersebut untuk maju dan ia enggan maju dan ketika dihadapkan ke arah lain, gajah tersebut berlari. Kemudian diarahkan lagi ke Mekkah dan ia berhenti lagi. Kemudian Alloh kirim burung Ababiel dari arah laut, setiap burung membawa tiga batu, satu di paruhnya dan dua di kakinya dan melemparkannya kepada pasukan gajah tersebut. Tidak ada seorang pun yang terkena kecuali binasa. Maka porak porandalah pasukan Abrahah dan Abrahah lari terbirit-birit ke Yaman dalam keadaan sakit berat sampai di kota Shan’a kemudian binasa.


[Diringkas dari Mukhtashor Siroh Al Rosul karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Taimi An Najdi hal. 37-40 dan As Siroh An Nabawiyah. Dirosah Tahliliyah karya DR. Muhammad Abdul Qadir Abu Faaris hal. 107-112]

Kisah ini disampaikan dan diabadikan Alloh dalam firman-Nya:

الَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ {1} أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فيِ تَضْلِيلٍ {2} وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ {3} تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ {4} فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ {5}

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu telah bertindak terhadap tentara gajah. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan ka’bah) itu sia-sia, dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS. Al Fiil: 1-5)

Dari kisah ini dapat diambil beberapa hal penting:

1. Kedudukan Ka’bah yang tinggi.
2. Hasad orang Nasrani kepada Ka’bah.
3. Kesucian Ka’bah bukan pada keindahan bangunan tapi pada keagungan dan pengagungan Ka’bah.
4. Alloh akan merendahkan orang yang menghina dan merendahkan Ka’bah.
5. Musyrikin Quraisy beriman kepada Alloh dan kekuasaan-Nya namun mereka berbuat syirik sehingga menjadi kafir.
Iman mereka inilah yang Allah firmankan,
وَمَايُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللهِ إِلاَّ وَهُم مُّشْرِكُونَ
“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 106)
6. Kekuatan dan kebesaran orang kafir tidak akan mampu melawan kekuasaan dan kebesaran Alloh.
7. Alloh tidak memperkenankan Abrahah dan yang lainnya menghancurkan Ka’bah dan melenyapkannya.


Penyusun:
Ustadz Kholid Syamhudi
Artikel:
http://www.muslim.or.id dengan tambahan note dari http://www.almanhaj.or.id


TAMBAHAN:

Pada tahun penyerangan gajah tersebut, lahirlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kisah itu adalah titik awal yang menunjukkan akan datangnya risalah beliau atau itulah tanda kenabian beliau. Falillahil hamdu wasy syukru.

Ada hadits yang menunjukkan bahwa Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dilahirkan pada tahun gajah yaitu hadits dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,

ولد النبي صلى الله عليه و سلم عام الفيل

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun gajah.”
[HR. Ath Thohawi dalam Musykilul Atsar no. 5211, Ath Thobroni dalam Al Kabir no. 12432, Al Hakim dalam mustadroknya no. 4180]

» Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, tetapi keduanya tidak mengeluarkannya. Adz-Dzahabi mengatakan bahwa hadits ini sesuai syarat Muslim. Juga dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah no. 5 dari jalur Ibnu ‘Abbas.
Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah pada hadits no. 3152.

Bahkan ada ijma’ atau kesepakatan para ulama yang mendukung bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dilahirkan pada tahun gajah seperti dikatakan oleh Ibnul Mundzir, di mana ia berkata, “Tidak ragu lagi dari seorang ulama kita bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun gajah. Lalu beliau diangkat jadi Rasul setelah 40 tahun dari tahun gajah.”
[Lihat As Silsilah Ash Shahihah pada hadits no. 3152, 7: 434]

Ketika penyerangan Makkah tersebut, di sana ada orang-orang musyrik yang beribadah pada berhala. Dan agama Nashrani lebih baik daripada agama orang musyrik. Kisah ini menunjukkan bahwa perlindungan Allah pada Ka’bah bukan karena adanya orang-orang musyrik yang ada di sekeliling Ka’bah, namun karena untuk melindungi Ka’bah itu sendiri, atau dikarenakan pada tahun gajah tersebut akan lahir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah, atau karena alasan dua-duanya sehingga Ka’bah dilindungi oleh Allah.
[Ini penjelasan Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Al Jawabush Shohih, 6: 55-57 dinukil dari Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah]


Sumber:
http://rumaysho.com/belajar-islam/tafsir-al-quran/4443-tafsir-surat-al-fiil-pasukan-gajah-yang-menyerang-ka-bah.html

Komentar ditutup.