Do’a dan Dzikir Setelah Membaca Al-Qur’an

Posted: Juli 22, 2013 in Adab, Fiqh
Tag:, ,

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
أما بعد: فإنَّ إحياء السنن النبوية من أعظم القربات إلى الله

Sesungguhnya menghidupkan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah termasuk amal yang sangat bernilai untuk mendekatkan diri kepada Allah.

فَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ، قَالَ: (( مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا )) [رواه مسلم]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mengajak orang lain kepada kebaikan maka baginya pahala semua orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” (HR Muslim).

:فإليكم أحبتي في الله، هذه السُّنة التي غفل عنها كثيرٌ من الناس

Saudaraku, berikut ini adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah dilalaikan oleh banyak orang.

:يُسْتَحَبُّ بعد الانتهاء من تلاوة القرآن أن يُقال
((سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ،لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ))

Setelah selesai membaca al Qur’an dianjurkan untuk mengucapkan bacaan berikut ini: Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika. Yang artinya: maha suci Engkau ya Allah sambil memuji-Mu. Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.

الدليل: عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ : مَا جَلَسَ رَسُولُ اللهِ مَجْلِسًا قَطُّ، وَلاَ تَلاَ قُرْآناً، وَلاَ صَلَّى صَلاَةً إِلاَّ خَتَمَ ذَلِكَ بِكَلِمَاتٍ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَرَاكَ مَا تَجْلِسُ مَجْلِساً، وَلاَ تَتْلُو قُرْآنًا، وَلاَ تُصَلِّي صَلاَةً إِلاَّ خَتَمْتَ بِهَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ ؟
قَالَ: (( نَعَمْ، مَنْ قَالَ خَيْراً خُتِمَ لَهُ طَابَعٌ عَلَى ذَلِكَ الْخَيْرِ، وَمَنْ قَالَ شَرّاً كُنَّ لَهُ كَفَّارَةً: سُبْحَانَكَ [اللَّهُمَّ] وَبِحَمْدِكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ))

Dalilnya, dari Aisyah beliau berkata, “Tidaklah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- duduk di suatu tempat atau membaca al Qur’an ataupun melaksanakan shalat kecuali beliau akhiri dengan membaca beberapa kalimat”. Akupun bertanya kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Ya Rasulullah, tidaklah anda duduk di suatu tempat, membaca al Qur’an ataupun mengerjakan shalat melainkan anda akhiri dengan beberapa kalimat?” Jawaban beliau, “Betul, barang siapa yang mengucapkan kebaikan maka dengan kalimat tersebut amal tadi akan dipatri dengan kebaikan. Barang siapa yang mengucapkan kejelekan maka kalimat tersebut berfungsi untuk menghapus dosa. Itulah ucapan Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika.”

إسناده صحيح: أخرجه النسائي في “السنن الكبرى” (9/123/10067)، والطبراني في “الدعاء” (رقم1912)، والسمعاني في “أدب الإملاء والاستملاء” (ص75)، وابن ناصر الدين في “خاتمة توضيح المشتبه” (9/282)

Hadits di atas sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Nasai dalam Sunan Kubro 9/123/1006, Thabrani dalam ad Du-a no 1912, Sam’ani dalam Adab al Imla’ wa al Istimla’ hal 75 dan Ibnu Nashiruddin dalam Khatimah Taudhih al Musytabih 9/282.

وقال الحافظ ابن حجر في “النكت” (2/733): [إسناده صحيح]، وقال الشيخ الألباني في “الصحيحة” (7/495): [هذا إسنادٌ صحيحٌ أيضاً على شرط مسلم]، وقال الشيخ مُقْبِل الوادعي في “الجامع الصحيح مما ليس في الصحيحين” (2/12: [هذا حديثٌ صحيحٌ]

Al Hafizh Ibnu Hajar dalam an Nukat 2/733 mengatakan, “Sanadnya shahih”. Syaikh al Albani dalam Shahihah 7/495 mengatakan, “Sanad ini adalah sanad yang juga shahih menurut kriteria Muslim”. Syaikh Muqbil al Wadi’I dalam al Jami’ al Shahih mimma laisa fi al Shahihain 2/12 mengatakan, “Hadits ini adalah hadits yang shahih”.

وقد بَوَّبَ الإمام النسائي على هذا الحديث بقوله: [ما تُختم به تلاوة القرآن].

Hadits ini diberi judul bab oleh Nasai dengan judul “Bacaan penutup setelah membaca al Qur’an”.


Sumber:
http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=18477

Catatan:
Realita menunjukkan bahwa ketika banyak orang meninggalkan amalan yang sesuai dengan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka muncullah amalan yang mengada-ada.
Banyak orang mengganti bacaan yang sesuai sunah Nabi di atas dengan bacaan tashdiq yaitu ucapan Shadaqallahul ‘adzhim yang tidak ada dalilnya.


Artikel:
http://www.ustadzaris.com
http://ustadzaris.com/sunnah-yang-hilang-bacaan-setelah-membaca-al-quran


Ucapan ‘Shadaqallahul ‘adzhim’ Setelah Membaca Al-qur’an

Kita sepakat, shadaqallahul ‘adzhim adalah kalimat yang benar maknanya. Karena Allah adalah Al-Haq, Dzat Yang Maha Benar. Namun syariat juga mengajarkan agar kalimat yang benar, diposisikan di tempat yang benar, agar menghasilkan amalan yang benar. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan berbagai doa untuk berbagai kesempatan yang berbeda. Beliau mengajarkan doa makan, memakai pakaian, masuk toilet, keluar toilet, hendak tidur, bangun tidur, keluar rumah, masuk rumah, setelah bersin, dst. Dan lafalnya berbeda-beda.

Tentu saja kita tidak akan membaca doa ini di posisi yang tidak diajarkan. Kita tidak akan membaca doa memakai pakaian ketika mau makan, atau membaca doa makan ketika hendak masuk toilet, atau membaca doa keluar rumah ketika masuk rumah, dst. Meskipun semua makna doa itu baik. Karena sekali lagi, kalimat doa semua maknanya baik, dan harus ditempatkan pada posisi yang benar.

Salah satu contoh yang menunjukkan prinsip ini adalah sikap Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ رَجُلاً عَطَسَ إِلَى جَنْبِ ابْنِ عُمَرَ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ. قَالَ ابْنُ عُمَرَ وَأَنَا أَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَلَيْسَ هَكَذَا عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَّمَنَا أَنْ نَقُولَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ.

Dari Nafi, ada seorang yang bersin di dekat Ibnu Umar lalu dia berucap, “Alhamdulillah wassalam ‘ala rasulillah”. Mendengar ucapan orang tersebut, Ibnu Umar mengatakan, “Saya juga mengucapkan kalimat Alhamdulillah was salam ‘ala rasulillah, namun tidak seperti itu yang diajarkan oleh Rasulullah kepada kami. Beliau mengajari kami untuk mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal” ketika bersin.” (HR Tirmidzi no 2738, dihasankan Albani).

Ibnu Umar tidak mengingkari kalimat “Alhamdulillah wassalam ‘ala rasulillah”, karena kalimat ini baik, Ibnu Umar pun mengakuinya, namun yang menjadi masalah, ketika kalimat ini dibaca seusai bersin, itu menjadi tidak tepat. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan untuk membaca kalimat ini ketika bersin.

Jawaban Ibnu Umar juga berlaku untuk kasus bacaan shadaqallahul ‘adzim. Kalimat ini benar, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak pernah mengajarkannya untuk dibaca seusai membaca Al-Quran.

Ini berbeda ketika kita mengucapkan shadaqallah ‘Maha Benar Allah’ karena suasana hati untuk membenarkan apa yang Allah sampaikan. Meskipun kita tidak sedang membaca Al-Quran. Kalimat ini kita baca ketika kita melihat sebuah realita di hadapan kita yang sesuai dengan keterangan dalam Al-Quran. Semacam inilah salah satu kesempatan, di mana dzikir shadaqallah layak untuk kita ucapkan. Sebagai representasi pengakuan hati kita akan kebenaran firman Allah.

Hal ini pernah dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadis dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

Ada seorang yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengadukan keadaan saudaranya,

“Saudaraku sakit perut.” Ucap sahabat.

“Beri minum madu.” Saran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah pulang dan memberinya madu, ternyata sakitnya belum kunjung sembuh. Orang inipun datang lagi dengan keluhan yang sama. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menyarankan, “Beri minum madu.” Sampai akhirnya yang keempat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap meyakinkan orang ini melalui sabdanya,

«صَدَقَ اللَّهُ، وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيكَ، اسْقِهِ عَسَلًا» فَسَقَاهُ فَبَرَأَ

“(Shadaqallah) Allah Maha Benar, dan perut saudaramu yang dusta. Beri minum madu.”

Orang inipun memberinya madu untuk kesekian kalinya, kemudian sembuh. (HR. Bukhari 5684 dan Muslim 2217)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan kalimat itu padahal beliau tidak sedang membaca Al-Quran. Beliau sampaikan itu karena suasana hati beliau untuk membenarkan firman Allah tentang khasiat madu,

يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An-Nahl: 69).

Kejadian yang lain, dalam hadis dari Buraidah bin Hashib radhiyallahu ‘anhu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah di atas mimbar, tiba-tiba datangan dua cucu beliau yang lucu: Al-Hasan dan Al-Husain, putra Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum. Hasan & Husain kecil dengan lucunya mengenakan gamis warna merah, keduanya berjalan tertatih-tatih memakai bajunya yang menawan. Melihat dua cucunya, beliaupun turun dari mimbarnya dan memotong khutbahnya, lalu beliau menggendong keduanya dan kembali ke mimbar, kemudian mengatakan:

صَدَقَ اللَّهُ: {إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ}، رَأَيْتُ هَذَيْنِ يَعْثُرَانِ فِي قَمِيصَيْهِمَا، فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى قَطَعْتُ كَلَامِي فَحَمَلْتُهُمَا

“(Shadaqallah) Maha benar Alloh dalam firman-Nya: ‘Sungguh harta-harta dan anak-anak kalian itu adalah fitnah (cobaan)’, aku melihat kedua anak ini tertatih-tatih dengan bajunya, akupun tidak sabar, hingga aku memotong khutbahku, lalu aku menggendong keduanya.” (HR. An-Nasai 1413, Abu Daud 1109, dan dishahihkan Al-Albani)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan kalimat itu karena membenarkan sabda firman Allah di surat at-Taghabun ayat 15. Pada ayat itu, Allah menjelaskan bahwa harta dan anak adalah fitnah. Tak terkecuali beliau sebagai salah satu hamba Allah. Melihat dua cucunya yang sangat menawan hati beliau, membuat beliau harus memotong khutbahnya agar bisa menggendong cucunya.

Berbeda dengan Mereka..

Kita bisa memastikan apa yang dipraktekkan oleh mereka yang terbiasa mengucapkan shadaqallahul adzim jelas berbeda dengan praktek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengucapkan kalimat ini.

Mereka mengucapkan shadaqallahul adzim setiap kesempatan selesai membaca Al-quran, sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mempraktekkan hal ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan shadaqallah ketika melihat kejadian sesuai dengan yang Allah firmankan. Sedangkan mereka, jangankan membaca shadaqallah, makna ayatnya saja, mereka tidak paham.

Karena itu, praktek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, jelas tidak bisa dijadikan dalil untuk membenarkan praktek mereka yang merutinkan bacaan shadaqallahul adzim setiap usai membaca Al-Quran.

Lalu.. Bolehkah berdo’a setelah membaca Al-Qur’an ?

Keterangan di atas tidaklah melarang anda untuk berdoa setelah membaca Al-Quran. Keterangan di atas menjelaskan bahwa tidak ada doa atau bacaan khusus seusai membaca Al-Quran. Namun Anda boleh berdoa dengan permohonan apapun yang baik seusai membaca Al-Quran, terutama setelah mengkhatamkan Al-Quran. Sebagaimana yang pernah dikupas dalam artikel Doa Khatam Quran. Karena membaca Al-Quran termasuk amal shaleh, dan salah satu doa yang mustajab adalah doa yang kita panjatkan setelah melakukan amal shaleh. Di saat itu kita sedang dekat dengan Allah. Di saat itu, kita bisa memanfaatkan kesempatan untuk memohon sesuatu kepada Allah.

Allahu a’lam


Dinukil dari Artikel:
http://www.konsultasisyariah.com
http://www.konsultasisyariah.com/doa-setelah-membaca-alquran/

Komentar ditutup.