Asal Muasal Habib di Indonesia

Posted: Mei 21, 2014 in Aqidah, Uncategorized
Tag:, ,

PERTANYAAN:
Assalamualaikum.. saya mau tanya sejarah habaib yang banyak di indonesia, apakah mereka benar-benar mempunyai garis keturunan dengan Rasulullah Shalallahu ‘alahi Wasallam? kebanyakan mereka mendakwahkan kepada kebid’ahan ?! dan apakah agama taqiyah kaum syiah masih dipegang mereka? mohon penjelasannya, Jazakumullah khair.
(Abu Safina)

JAWABAN:
(Ustadz Abu Hudzaifah Al-Atsariy)

Tentang Habaib yang banyak di Indonesia, perlu diketahui bahwa asal-usul mereka adalah dari Hadramaut (Yaman Selatan). Memang sebagian besar dari mereka mengaku keturunan Ali bin Abi Thalib, sebab itulah mereka juga disebut Bani Alawi atau Alawiyyin (sebagaimana yang diakui oleh sdr. Novel Alaydrus dalam bukunya: ‘Jalan nan Lurus’, sekilas pandang tarekat Bani Alawi). Tapi saya tidak berani memastikan apakah semua yang mengaku ‘habib’ berarti keturunannya Ali.

Tentang akidah mereka, menurut penulis kitab Idaamul Quut fi dzikri buldaani Hadramaut, yang juga ‘habib’ namanya Abdurrahman bin Ubeidillah Assegaf (w.1375 H), dalam halaman 897 beliau mengatakan bahwa orang-orang Alawiyyin di Hadramaut terbagi dalam tiga periode:

Periode Pertama,
Sejak leluhur mereka yang bernama Ahmad bin Isa Al Muhajir hingga Al Faqih Al Muqaddam. Al Muhajir yakni yang hijrah dari Irak ke Hadramaut dan menjadi cikal bakal Alawiyyin di sana. periode ini menurut beliau masih berpenampilan seperti para sahabat dan memanggul senjata, singkatnya mereka masih berakidah Ahlussunnah wal jama’ah.

Periode Kedua,
adalah sejak Al Faqih Al Muqaddam ke Al Aydrus. Al Faqih Al Muqaddam adalah tokoh mereka yang pertama kali meletakkan senjata dan menganut tasawuf.

Periode Ketiga,
adalah setelah Al Aydrus hingga abad ketiga belas Hijriyah, yang telah terwarnai dengan tasawuf tulen. Tidak tahu pasti kapan mereka mulai datang ke Indonesia, tapi yang jelas mereka datang setelah terwarnai ajaran sufi, bukan membawa faham Ahlussunnah yang murni, seperti yang diakui juga oleh Novel Alaydrus dalam bukunya tadi. Dan sebagaimana kita ketahui, tasawuf merupakan gerbang dari banyak aliran sesat dan sarat dengan bid’ah khurafat. Oleh karenanya, setiap aliran sesat bisa saja menyusup lewat tasawuf, lewat kedok cinta kepada ahlul bait, dst.. sebagaimana yang dilakukan oleh syi’ah. Apalagi ada kemiripan antara tarekat Bani Alawi dengan syi’ah, yaitu keduanya sama-sama mengajarkan umat untuk cinta kepada Ahlul bait (baca: menyanjung para habaib), dengan cium tangan kepada mereka, menghadiri acara haul mereka ,dsb.. ini jelas suatu kemaslahatan yang akan mereka pertahankan, dan sedikit banyak cocok dengan ajaran syi’ah yang juga mengultuskan ahlul bait. Makanya tidak heran jika banyak dari dedengkot-dedengkot syi’ah baik nasional maupun internasional berasal dari mereka. contohnya Hussein Al Habsyi asal Bangil (dia sudah binasa, bukan yang buta dan pernah dipenjara itu), dia pernah langsung baiat kepada Khomeini, dan pendiri YAPI, salah satu organisasi syiah tertua di Indonesia. Demikian pula Quraisy Shihab, Haidar Bagir, dll. Mereka juga dari kalangan Habaib. Menyedihkan memang, tatkala orang yang mengaku anak cucu Rasulullah justru menjadi musuh ajaran beliau. Bukannya menghidupkan sunnah-sunnah Nabi, namun justru melestarikan bid’ah dan khurafat di masyarakat. Saya rasa sebab dari ini semua adalah hawa nafsu dan kepentingan duniawi.. mereka khawatir kehilangan pamor di masyarakat kalau meninggalkan ajaran leluhurnya, mengingat sikap mereka yang sangat eksklusif dalam menjaga nasab dan tradisi. Bahkan karena eksklusivisme inilah akhirnya berdiri Yayasan Al Irsyad sebagai tandingan atas Jami’at Khair yang mereka dirikan. Al Irsyad berdiri sebagai gerakan pembaharuan atas pemikiran-pemikiran kolot yang mereka tanamkan di masyarakat Indonesia, baik yang pribumi maupun keturunan Arab. Di antara pemikiran tersebut ialah tidak bolehnya seorang wanita ‘alawiyah dinikahi oleh pria yang bukan ‘alawi, walaupun ia orang Arab. Tentu ini bukan ajaran Islam, tapi fanatisme jahiliyah yang harus direformasi, sebab Nabi sendiri menikahkan dua orang puterinya (Ruqayyah & Ummu Kultsum) dengan Utsman bin Affan yang notabene adalah Bani Umayyah, bukan Ahlul Bait, Kemudian Ali bin Abi Thalib menikahkan puterinya yang bernama Ummu Kultsum (yang berasal dari Fatimah Radliyallahu’anha) dengan Umar bin Khatthab yang bukan dari Bani Hasyim, namun dari Bani Adiy, dan masih banyak lagi contoh lainnya. Dari sinilah akhirnya muncul dua kubu: Habaib dan Masyayikh. Habaib dengan tradisi tasawufnya, sedangkan Masyayikh (non Habaib) dengan gerakan pembaharuannya, seperti Al-Irsyad. Memang bisa dibilang 99% dari para habaib tadi yang tinggal di Indonesia adalah penganut tarekat (sufi). Itu karena mereka sangat terikat dengan tradisi keluarga yang kolot tadi. Tapi berbeda dg kondisi mereka yg terpelajar dan -ingin membuka fikirannya. atau mereka yang tinggal di malaysia, saudi, atau negara-negara maju, mereka tidak lagi terikat dengan tradisi kolot tersebut sehingga banyak yang kembali menjadi salafi, atau paling tidak bukan sufi lagi.

Tentang taqiyyah, saya tidak berani memastikan bahwa mereka bertaqiyyah seperti halnya orang syi’ah, karena mayoritas mereka bukan syi’ah namun sufi, dan sufi masih berbeda dengan syi’ah karena kaum sufi masih menghargai para sahabat dan tabi’in, bahkan terkadang mengkeramatkan kuburan mereka. Ini jelas berbeda dengan keyakinan syi’ah yang mengkafirkan para sahabat tadi. Tapi jika sudah diindikasikan syi’ah, ya.. siapa pun orangnya pasti akan bertaqiyyah, terlepas dari habib-kah dia atau bukan.

Demikian penjelasan ana, semoga membantu, wallaahu ta’aala a’lam.
.

[Dikutip dari kolom komentar artikel ‘Hegemoni Syi’ah’]
Sumber: http://www.muslim.or.id/manhaj/hegemoni-syiah.html

Komentar ditutup.