Memberontak kepada Penguasa dengan hujjah ijtihad para Salaf

Posted: November 1, 2015 in Aqidah, Manhaj

MASALAH:
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa para salaf menasehati penguasa di depan khalayak ramai, bahkan sebagiannya memberontak atas penguasa yang sah, kenapa kami dilarang ?

PENJELASAN:
Apa yang dilakukan oleh sejumlah ulama salaf tersebut adalah salah satu bentuk amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengingkari kemunkaran yang dilakukan oleh sebagian penguasa, namun tidak merongrong kekuasaan mereka, ini bedanya. Dan mereka melakukannya di depan penguasa, bukan di belakangnya (seperti yang dilakukan oleh harokiyyin dan takfiriyyin), kalau amar ma’ruf tadi disampaikan di depan penguasa dengan tujuan nasehat dan hisbah, maka ini dibolehkan walaupun dilakukan di depan khalayak ramai, kalau memang tidak ada kesempatan lain. Tetapi yang lebih baik ialah menasehatinya empat mata, baik dengan mengunjunginya atau menyuratinya, dsb.
Adapun pemberontakan kepada penguasa zhalim atau adil yang dilakukan oleh sebagian salaf, seperti mereka yang turut serta dalam perang Jamal dan Siffin, demikian pula Al Husein bin Ali, Abdullah bin Zubair, Abdurrahman bin Asy’ats (Radliyallaahu’anhum), warga Madinah dalam tragedi Al Harrah, dan semisalnya; adalah madzhab lawas yang dahulu dianut oleh SEBAGIAN salaf, meskipun mayoritas tokoh-tokoh sahabat dan tabi’in lebih memilih untuk tidak terjun dalam fitnah. Itu berangkat dari ijtihad mereka dan mereka semua orang-orang yang shalih. Akan tetapi setelah terbukti bahwa hal tersebut hanya membawa mafsadat yang jauuuh lebih besar dari kemaslahatan yang ditimbulkan, mereka kemudian sepakat untuk tidak memberontak kepada pemimpin yang zhalim selama belum kafir.
Di antara kerusakan yang timbul dalam fitnah-fitnah tersebut ialah: Terbunuhnya kaum muslimin, termasuk di antaranya tokoh-tokoh sahabat, seperti Thalhah, Zubeir, Ibnu Zubeir, Al Husein bin Ali, Ammar bin Yaasir… kemudian pembantaian tentara Syam di bawah komando Muslim bin Uqbah Al Murri terhadap warga madinah yang sangat tragis, hingga disebutkan dalam Al Bidayah wan Nihayah, bahwa jumlah gadis perawan dari Bani Hasyim saja yang terbunuh mencapai seribu… kemudian pemberontakan Abdurrahman Ibnul Asy’ats kepada Hajjaj yang sekaligus hendak melengserkan khalifah saat itu, yaitu Abdul Malik bin Marwan, yang akhirnya berujung kepada kekalahan mereka sehingga terjadi pembunuhan atas pengikutnya Ibnul Asy’ats yang konon jumlahnya mencapai 130 ribu orang, yang paling akhir di antaranya adalah Sa’id bin Jubeir. Kemudian penggulingan Bani Abbas terhadap Bani Umayyah, yang menelan korban jiwa sekitar 600 ribu orang… dst. Ini jelas mafsadat besar yang tidak sebanding dengan kemaslahatannya. Walaupun dilakukan oleh para ulama, sebab perbuatan ulama bukanlah hujjah dengan sendirinya, tapi justru ia membutuhkan hujjah yang mendukungnya.
Kalau Nabi sudah jelas-jelas melarang kita untuk berontak kecuali setelah melihat kekafiran yang nyata –dan para ulama menambahkan syarat lain yaitu: Adanya kemampuan untuk menggulingkan tanpa menimbulkan mafsadat yang lebih besar– maka inilah yg harus kita pegangi, bukan perbuatannya para ulama yang tak lain adalah ijtihad, yang bisa benar dan bisa pula salah.

________
SUMBER:
https://basweidan.wordpress.com/2011/03/17/bagaimana-menasehati-penguasa/

Komentar ditutup.